
Pagi menjelang Jihan sedang menyiapkan sarapannya lalu pergi untuk mandi setelah membangunkan semua orang.
Saat membangunkan Dwi Jihan harus berusaha keras karena Dwi tidak kunjung bangun.
"Dasar kebo" ujar Jihan terus membangunkan Dwi.
Dwi langsung menarik Jihan membuat Jihan jatuh di atas tubuhnya dan langsung memeluk Jihan erat membuat Jihan kaget dan diam seribu bahasa.
"Tidak ingin berontak" tanya Dwi membuat Jihan tersadar.
"Awas deh" ucap Jihan bukannya bangun Dwi justru membalikkan keadaan sekarang dia yang ada di atas tubuh Jihan.
"Kok wangi si udah mandi" tanya Jihan.
"Udah rambut juga udah basah nih" ucap Dwi dengan wajah yang sangat dekat.
"Ya udah sarapan sana gue mau mandi" ucap Jihan.
"Jangan lo gue dong kalau pake lo gue lagi aku kiss" ucap Dwi mencium bibir Jihan.
"Iya iya udah sana" ucap Jihan.
"Gak mau, kiss dulu" ucap Dwi.
"Gue em aku bahkan belum mandi" ucap Jihan namun Dwi langsung menciumnya.
"Kan udah di benerin" ucap Jihan.
Dwi langsung menggendong Jihan ke daalam kamar mandi membuat Jihan bingun dan wajahnya memerah.
"Apa yang kamu lakukan" tanya Jihan.
"Mandi bersama" ucap Dwi langsung menyalakan sower membuat Jihan membatu.
Dwi membuka bajunya membuat Jihan menatapnya tak lama Dwi langsung mencium bibir Jihan di bawah guyuran sower dan perlahan dia membuka kancing baju kimono yang dia pakai saat tidur.
"Apa yang kamu lakukan" ujar Jihan mendorong Dwi keras namun bukannya melepaskan Jihan dia justru tersenyum dan menarik baju Jihan keras membuat tubuh Jihan terexpose.
"Mas " ujar Jihan menundukkan kepalanya.
Dwi senang dengan panggilan Jihan barusan dia kembali menyerang bibir Jihan membuat Jihan menutup matanya melihat Jihan mulai terbuai Dwi mengarahkan tangan nakalnya ke atas gunung kembar Jihan membuat Jihan memberontak.
Dwi terus bermain tanpa melepaskan tautannya dia bermain dengan sangat rakus. Dwi bahkan mengalihkan tautannya ke leher jenjang Jihan dan menyesapnya membuat Jihan memukulnya.
"Sudahlah berhenti" ucap Jihan.
"Kenapa, kamu juga menikmatinya" ujar Dwi sembari mengedipkan matanya.
"Oke gue menikmatinya tapi udah siang nih nanti ketinggalan pesawat" ujar Jihan membuat Dwi menciumnya
"Lo kok nyium si" ucap Jihan.
"Kamu pake lo gue" ujar Dwi tersenyum lalu dia melepaskan semua pakaiannya dan mandi di hadapan Jihan tanpa merasa bersalah.
"Gila" ujar Jihan masuk ke dalam bathtub dan merendam tubuhnya sehingga saat dia melepaskan pakaiannya Dwi tidak melihat tubuhnya.
"Katanya udah mandi" ujar Jihan.
"Karena kamu aku harus mandi lagi" ucap Dwi.
"Siapa suruh" ujar Jihan melihat Dwi saat Dwi sudah memakai handuk di pinggangnya.
"Cepatlah mandi" ujar Dwi mendekati Jihan lalu mencium bibirnya lalu pergi.
Setrlah kepergian Dwi Jihan langsung membersihkan tubuhnya dan tak lama dia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Dia memakai sebuah Dress lalu dia ikut sarapan .
Setelah itu dia langsung mencuci piring dan bersiap dengan mengecek semua barang bawaan anak anaknya.
"Oke guys lets go" ujar Jihan membuat ke dua anaknya semangat..
"Naik taksi" tanya Jovan.
"Ya lah" ucap Jihan.
"Lo gak bawa jet pribadi aja Wi" tanya Jovan.
__ADS_1
"Tenang aja udah ada di atas" ucap Dwi.
"Bawa helli kopter" tanya Jihan.
"Yap" ucap Dwi mencium pipi Jihan.
"Ya kali pake helli kopter bawaan anak kamu aja udah banyak banget gitu" ujar Jihan menunjuk barang bawaan Jenifer yang banyak lain dengan Justine yang hanya satu tas.
"Gak papa ini nanti bawa kita ke bandara aja jadi di bandara kita pindah ke pesawat jet" ujar Dwi.
"Guys, naik taksi aja yuk" ujar Jihan berjalan pergi.
"Sayang jangan gitu dong ini sewa helli kopternya aja harus banyak alasan sama papa" ucap Dwi seperti anak kecil.
"Lalu tiket yang udah gue beli" ucap Jihan mendapat ciuman Dwi
"Apaan si" ujar Jihan.
"Kamu memakai kata terlarang lagi, tiket biar Jovan aja yang pake" ucap Dwi.
"Beli tiga" ucap Jihan.
"Tenang ada Rey nanti juga" ujar Dwi.
"Rey" ujar Jihan menatap aneh.
"Iya dia udah nunggu di atas lagian jarak bandara ke sini gak jauh banget pasti ke kejar tuh pesawat" ucap Dwi.
"Terserah, kalau gitu bawa barang kalian masing masing jangan ada yang tertinggal" ujar Jihan.
Semua mengikuti langkah Dwi ke tas gedung apartemen Jihan dan menaiki hellikopter dan benar Rey sudah ada di sana saat melihat Jihan wjah Rey berubah membuat Jihan tersenyum. Ternyata Rey tidak ada di sana dan pesawat itu langsung ke negara Indonesia tanpa ke bandara lebih dulu membuat Jihan hanya pasrah.
Jihan melihat sekeliling dia mencoba menikmati terbangnya kali ini dia mencoba tersenyun walau terlihat jelas itu sangat terpaksa dia melihat anaknya seperti kelelahan hanya bisa mencoba menyemangatinya.
..."Kok kesini" ujar Jihan dalam.hati saat melihat dia berada di tempat berhenti helli kopter di area mansion Suseno....
"Ada yang harus saya ambil jadi turunlah" ujar Dwi.
"Halah cari alasan" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum dan mengacak rambutnya.
"Ini langkah pertama gue di negara ini dengan tujuan baik semoga di lancarkan semuanya semoga kejadian dulu gak terulang" ujar Jihan menatap ke dua anaknya.
"Mom" ujar Jenifer.
"Ayo ikut kalau mau tau" ujar Dwi menuntun Jenifer sedangkan Justine berjalan berdampingan dengan Jihan.
Saat sudah berada di depan pintu utama Jihan berhenti dan menarik nafasnya panjang Justine yang sangat peka dia langsung menggandeng tangan Mommynya sedangkn Jenifer dia sangat semangat namun dia juga tau kalau ada sesuatu pada Jihan membuat dia menghentikan langkah dan meminta Dwi untung menggandeng Jihan.
Dwi menggandeng Jihan dan ke dua anaknya Jihan sangat berat melangkah saat dia kembali menarik nafasnya panjang tiba tiba seseorang keluar membuat Jihan membatu.
"Mas udah pulang" ujar Klara membuat Jihan hendk melepaskan tangannya namun di tahan Dwi.
"Mama mana" tanya Dwi tidak menyapa balik Klara bahkan saat Klara akan menyalaminya dia tolak.
"Em, ada di dapur lagi siapin sarapan" ujar Klara.
"Panggilkan" ujar Dwi tegas.
Klara pergi memanggil mertuanya itu sedangkan genggaman tangan Jihan semakin kuat bahkan air matanya akan jatuh saat matanya bertatapan langsung dengan Klara membuat Justine menarik nafasnya.
"Mom" ujar Justine.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Sini" ujar Justine meminta Jihan untuk menunduk dan membisikkan sesuatu pada Jihan membuat Jihan memeluknya dan menangis di sana.
"Kamu kenapa" tanya Dwi yang mendengar isakan Jihan.
"Daddy diem deh dasar gak peka" ucap Justine.
"Lebih baik mom" tanya Justine saat Jihan memundurkan badannya.
"Ya boy makasih ya" ujar Jihan mencium pipi Justine hal yang sangat Justine benci sehingga dia menatap tajam Jihan membuat Jihan tertawa.
"Mommy denda lima dolar" ujar Justine.
__ADS_1
"Lalu kalau buat mommy nangis " ujar Jihan.
"Ciuman" ujar Justine.
"Itu tau" ujar Jihan.
"Sayang" ucap Mama Sri datang membuat Jihan menatapnya.
Bukan memeluk Dwi atau menerima uluran tangan Dwi melainkan langsung memeluk Jihan hangat dan erat hanya di balas Jihan dengan senyuman.
"Beneran kamu Ji mama kangen banget sama kamu" ucap Mama Sri.
"Jihan juga kangen sama mama, mama apa kabar" ujar Jihan.
"Mama selalu baik, kamu yang gimana kabarnya menghilang gitu aja lain kali kalau mau pergi tuh bawa uang Dwi yang banyak biar mama gak kepikiran kehidupanmu" ujar Mama Sri kembali memeluk Jihan.
"Em langsung jadi anak tiri gue" ujar Dwi.
"Hehe sini dong" ujar Mama Sri berganti memeluk Dwi.
"Siapa mereka" tanya Mama Sri.
"Bang Je bolehkah" tanya Jihan di angguki ke dua anaknya.
"Mereka anak anak Jihan yang Jihan bawa pergi dulu mah, Bang Je perkenalkan ini ibu dari Daddy kalian" ujar Jihan membuat ke dua anaknya langsung menyalami mama Sri.
"Sini sini kalian kembar, eh Wi liat dia wajah kamu versi ceweknya kalau dia Jihan versi cowok" ujar Mama Sri tertawa.
Dwi dan Jihan tersenyum Dwi langsung menarik pinggang Jihan membuat Jihan menatapnya. Mama Sri langsung membawa ke dua cucunya itu ke ruang makan membuat Papa Suseno menatap lalu tersenyum bahagia.
"Apa kalian punya marga Suseno" tanya papa Seno.
"Saya tidak tau tuan, nama kita hanya ada Putra dan Putri siapa marga keluarga ini" tanya Justine.
"Wah wah sepertinya Jihan mengajarkan mu tau posisi" ujar Papa Seno menatap Jihan hanua di balas senyuman Jihan.
"Saya tuan besar Suseno dia anak saya tuan muda Dwi Putra Suseno dia pemilik DJ Company dia adalah pewaris utama perusahaan Suseno bisa perkenalkan nama kalian" ujar papa Seno membuat semua tersenyum.
"Jeje kira nama Dwi Putra dan Dwi Putri karena kita kembar ternyata nama Daddy" ujar Jenifer menatap Jihan.
"Mommy tidak akan memberikan sembarang nama pada kalian dan Dwi Putra atau Putri itu marga Daddy sekarang Pah mereka anak anak Jihan cucu papa" ujar Jihan.
"Sekarang kalian tau kalau saya kakek kalian jadi berhentilah bicara formal terutama kamu boy" ujar papa Seno.
"Udahlah pah, biarin mereka makan dulu" ujar Mama Sri.
Jihan tersenyum melihat ke dua anaknya bisa beradaptasi dengan cepat apalagi Justine yang tidak sungkan untuk bercanda dengan kakeknya itu.
"Apa dia memang suka bercanda" tanya Dwi.
"Ya tapi dia bisa menjadi sangat dingin pada seseorang" ujar Jihan.
"Lalu kenapa sama saya dingin gitu" tanya Dwi hanya di balas senyuman Jihan.
"Daddy" ujar seorang anak perempuan berlari dari kamarnya sembari merentangkan ke dua tangannya. Dwi bersikap biasa saja dan membalas pelukan anak itu lain dengan Justine yang langsung sangat dingin lain dengan Jenifer sang biasa saja.
"Dia" ujar Jihan mengingat seseorang.
"Ya, karena lo gue harus membunuh ayahnya" ujar Klara penuh penekanan.
Jihan langsung teringat seseorang yang telah melepaskannya dulu yang sangat mirip dengan anak itu seketika kaki Jihan lemas dan terduduk di depan anak ktu sembari menangis.
"Unty kenapa" tanyanya.
"Maafin Aunty ya siapa namamu" tanya Jihan.
"Tidak masalah Aunty walaupun fallen gak tau maksud Mommy atau Auty jangan seperti ini" ujarnya membuat Jihan memeluknya.
"Bangunlah" ujar Dwi menarik Jihan.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys...