
"Iya kenapa" tanya Jihan.
"Abang" rengeknya.
"Gue gak mau urusin semua masalah lo" ucap Zian.
"aduh sakitnya di hianati Abang sendiri" ledek Jihan membuat Zira kembali memukul Jihan dan sayangnya Jihan sedang tak siap membuatnya tersungkur.
"Berani lo" ujar Jihan dengan amarah membara lalu menghajar Zira mereka berduel tanpa ampun mereka saling menghajar membuat semua orang membulatkan matanya Dwi dan Zian lalu berlari ke arak ke duanya untuk melerai ke duanya.
"Lepasin gue" ucap Jihan saat Dwi mencoba merengkuhnya.
"Sabar Ji, lagian lo udah menang kali" ucap Dwi lembut.
"Dia udah buat gue gini gue harus selesaikan ini sekarang juga gue capek sama dia" ucap Jihan.
Zian dan Dwi kemudian melepaskan keduanya membuat Jihan langsung menghajar Zira sampai Zira tak lagi bisa melawan.
"Ji udah buat apa kalian bertengkar gak ada gunanya juga tau Fero bakal jadi milik putri kalian berdua udah kalah" ucap Jovan membuat Jihan menghentikan aktivitasnya dan tumbang di samping Zira.
"Sorry gue gak maksud buat lo gini tapi lo tau kan kalau gue paling gak suka ada orang yang meneteskan darah gue walaupun hanya setetes" ujar Jihan.
"Hm gue juga minta maaf ternyata kita berdua kalah" ujar Zira.
"Iya, eh obatin gue dong" ucap Jihan.
"Ya kali obatin lo seharusnya lo yang obatin gue gue gak bisa ngapa ngapain tau" ucap Zira kesal.
"Terserah gue dong gue yang menang, lagian semua tulang lo masih di tempat" ucap Jihan.
"Jadi rencana lo tadi mau patahin tulang gue" ujar Zira menelisik.
"Tadinya iya tapi gue gak tega takut gue di serbu Abang Abang lo" ucap Jihan.
"Ada takutnya juga lo" ucap Zira.
"Kenapa si lo bodoh banget gitu marahnya sama gue gak marah sama diri sendiri gak bisa ungkapin rasa" ucap Jihan.
"Lo juga bodoh tau kenapa gak ungkapin rasa lo juga" ucap Zira.
"Diem lo, udah kita jalani takdir masing masing" ucap Jihan duduk.
"Masih bisa duduk lo" ujar Zira.
"Ya tulang gue masih berfungsi cuma wajah gue babak belur gara gara lo" ujar Jihan.
"Ya kali babak belur, muka gue nih banyak yang pecah dasar jahanam" ucap Zira ikut duduk di samping Jihan.
"Salah sendiri, udah gue bilang kalau mau pukul gue jangan di muka muka gue terlalu berharga buat lo hancurin" ucap Jihan.
"Muka pasaran juga" ujar Zira.
"Iya tapi mahal" ucap Jihan.
"GR banget lo dasar monyet" ujar Zira.
"Lo bilang gue monyet singa lo" ujar Jihan.
"Kalian bisa gak si jangan berantem" ucap Fero.
"Kita udah selesai kok Ta tenang aja" ucap Jihan.
"Masih pakai panggilan itu" tanya Zira.
"Mau panggil apa lagi, oh ya gue duluan ya nyeri banget nih" ujar Jihan menunjuk ujung bibirnya.
"Eh bentar belum selesai tanya gue" ujar Zira.
"Apa lagi" ucap Jihan malas.
"Lo kok di peluk Bang Dwi diem aja tadi gak protes lo padahal gue tau banget lo paling susah kalau di sentuh cowok" ujar Zira.
"Banyak ngomong lo, emang kenapa gak terima lo" ujar Jihan.
"Gak gitu, tapi aneh aja jangan jangan lo lepasin Fero buat Bang Dwi lagi" ujar Zira.
"Gue harap juga gitu, gue bisa bener bener lupa sama dia" ucap Jihan pergi.
"Gue boleh ambil dia gak" tanya Zira berteriak.
"Boleh kalau lo mau bersaing sama lawan yang lebih kuat" ucap Jihan saat melenggang pergi.
__ADS_1
Zira memikirkan maksud Jihan kemudian berdiri dan duduk di samping Zian, karena kasihan Zian lalu mengobati Zira yang sudah tak berbentuk wajahnya karena amukan Jihan.
"Ceritanya udah baikan nih" tanya Fero.
"Udah percumah juga kita berantem, gak bakal ada yang menang lagian kalau Jihan udah biarin seseorang terlepas berarti dia udah buat dia hancur" ucap Zira.
"Ya gue hancurin dia" ucap Fero.
"Udah lah jangan bahas itu lagi Wi mending lo cari Jihan deh gue takut terjadi hal buruk" ucap Dani.
Dwi lalu bergegas mencari Jihan karena teringat saat terakhir kali dia melihat Jihan jatuh pingsan di hadapannya. Dwi mencari Jihan ke sembarang tempat dan kamarnya tapi dia tak menemukannya sampai suara isakan Jihan terdengar oleh Dwi. Dwi terus mencari Dwi melihat Jihan sedang duduk di balkon kamarnya sembari menangis terisak.
"Are you oke Ji" tanya Dwi.
"Gue gak baik baik aja" ucap Jihan sembari terus menangis.
"Gue obatin ya" ucap Dwi saat melihat kotak P3K di dekat Jihan.
"Gak perlu" ucap Jihan dingin.
"Mau sampai kapan lo dingin gini sama gue Ji" tanya Dwi.
"Sampai lo bener bener sayang sama gue" ucap Jihan menghentikan tangisnya dan menyandarkan diri di dinding balkon.
Dwi terkejut dengan ucapan Jihan Dwi lalu menarik Jihan ke dalam pelukannya membuat Jihan kembali meneteskan air matanya. Dwi merasa sangat sakit saat Jihan kembali meneteskan air matanya Dwi melepaskan pelukannya saat tidak lagi mendengar Jihan menangis.
"Ji" panggilnya.
"Apa" ujar Jihan dingin.
"Kirain pingsan lagi" ucap Dwi.
"Seneng liat gue pingsan" ujar Jihan memukul dada Dwi.
"Gak berat angkatnya" ucap Dwi.
"Jujur banget si lo" ujar Jihan tersenyum membuat hati Dwi berdegup kencang.
Melihat Senyuman hangat yang Jihan berikan Dwi lalu menarik tengkuk Jihan dan menyatukan bibir mereka. Jihan hanya diam karena sudah terbiasa dengan perlakuan Dwi. Setelah lama melakukannya Dwi menyudahinya lalu mengusap bibir Jihan lembut.
"Maaf Ji, gue gak bisa nahan saat sama lo" ucap Dwi.
"Bibirmu bikin candu" ucap Dwi di telinga Jihan lalu berlari pergi.
"Dia yang cium gue dia yang lari" ujar Jihan menggelengkan kepalanya.
Namun tak berapa lama Dwi kembali membuat Jihan menatapnya aneh.
"Kenapa balik lagi" tanya Jihan.
"Lupa kan mau obatin luka lo" ucap Dwi.
"Gue bisa sendiri" ujar Jihan.
"Gak, sama ada yang mau gue omongin" ucap Dwi.
"Oh ya udah duduk ngomong aja" ucap Jihan santai.
"Lo gak sakit tadi pas gue cium lo" tanya Dwi.
"Gak gue udah biasa sama luka gini" ucap Jihan.
"Tapi gue, udahlah sini gue bantu lo obatin gak mungkin lo lihat semua yang luka mana" ucap Dwi.
"Terima kasih" ucap Jihan tersenyum.
Dwi membalas dengan senyuman dan mengobati Jihan dengan sangat hati hati namun saat Dwi mendekatkan wajahnya untuk memeriksa luka kecil di wajah Jihan Jihan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Lo luka" tanya Jihan.
"Gak" ucap dwi yakin.
"Ini apa, bibir lo luka" ucap Jihan.
"Masa sih kok gak sakit ya" ucap Dwi.
"Ya gak sakit makanya masih bisa cium gue" ucap Jihan mengoleskan obat di bibir Dwi.
Mereka berdua sama sama terpaku dengan tindakan mereka masing masing.
"Ngapain gue obatin dia si, mana jantung gue dag dig dug gini lagi" ujar Jihan dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa gue jadi nyaman saat sama dia dan senyumannya yang selalu menari nari di kepala gue dan bahkan walaupun gue lagi sama yang lain wajah dia yang gue ingat" ucap Dwi dalan hati.
Dwi selesai mengobati Jihan namun saat itu juga Jihan jatuh pingsan membuat Dwi panik lalu menggendongnya ke ranjang mereka. Dwi menghubungi Ridwan untuk memeriksa keadaan Jihan namun tanpa memberi tahukan keadaan Jihan kepada semua orang.
"Bang dari mana" tanya Zian kepada Ridwan.
"Dari atas" ucap Ridwan.
"Dwi mana" tanya Jovan.
"Mereka di kamar gak tau lagi ngapain tidur kali" ucap Ridwan.
"Oh, Bang liat luka Zira deh" ucap Zian.
"haha ya masih aja lo manja sama Zian" ucap Ridwan.
"He sorry udah kayak Abang sendiri soalnya" ucap Zira.
"Dia bukan Abang lo" tanya Jovan.
"Dia Abang sepupu gue tapi karena dari kecil sering bareng rasanya kayak Abang kandung" ucap Zira.
"Terus kenapa nama lo Zira Ahmad sama kayak Zian Ahmad" tanya Fero.
"Sebenernya nama gue bukan itu, naman gue Zira Malik Suseno tapi karena papa gak mau gue pakai nama Suseno kalau bukan urusan bisnis tapi om Ahmad minta gue pakai namanya karena bingung nama gue ubah jadi Zira Malik Ahmad" ucap Zira.
"Oh gitu" ucap Fero.
"Fer tadi gue denger Jihan bilang kalau mau dapatin lo harus bersaing sama yang lebih kuat maksudnya apa" tanya Zira.
"Gak tau tanya aja sama Aya" ucap Fero dingin.
"Lo mau nikah" tanya Zira.
"Sepertinya begitu" ucap Fero lesu.
"Kok lo gitu si jawabnya, lo di jodohin ya makanya lo tinggalin Jihan" ucap Zira.
"Jihan yang pergi lebih dulu dari gue" ucap Fero.
"Maksudnya" tanya Zira.
"Maksud gue, Jihan udah nikah sama Kak Dwi terus mau gimana lagi sekeras apapun perjuangan yang udah gue lakuin gue juga gak mau lah jadi perusak rumah tangga orang" ucap Fero.
"Lo masih suka sama Jihan" tanya Zira.
"Emang gampang lupain seseorang yang udah lama di hati yang pernah menjadi yang spesial" ucap Fero.
"Gak si, gue aja masih suka sama lo padahal udah du tahun gak ketemu" ucap Zira.
"Jujur banget lo, tapi percumah lo suka sama gue terlambat lo" ucap Fero.
"Sebenernya si belum terlambat, orang janur kuning udah melengkung juga masih bisa gue rebut asal jangn ijab di ucapkan" ujar Zira.
"Jadi lo mau keluarin gue dari situasi ini" tanya Fero.
"GR banget lo lagian gue bawa lo sejauh yang gue bisa hati lo masih ketinggalan di sini apa untungnya buat gue" ucap Zira.
"Kenapa gak lo coba dulu" ucap Fero.
"Kenapa kesannya jadi lo yang mohon sama gue" ucap Zira.
"Ra lo jadi cewek gak ada malu malunya si" ucap Zian.
"Bukannya dengan gue gini kalian semua tau kalau Jihan sama Fero saling suka" ucap Zira.
"Iya juga, maafin gue Fer gue gak tau kalau ternyata orang yang selama ini berjuang buat adek gue tuh lo" ucap Jovan memeluk Fero.
"Udahlah Bang semua sudah terjadi Fero bakal jadikan ini sebuah pelajaran hidup, Abang gak salah" ucap Fero membalas pelukan Jovan.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komennya ya...
__ADS_1