
Malam datang, semua orang bersiap untuk makan malam begitupun ke dua orang tua Jihan yang baru saja pulang dari pekerjaannya.
"Woy makan yuk" ucap Jihan.
"Ngomong sama siapa lo" ucap Dwi yang masih serius dengan laptopnya yang ada di pangkuan.
"Sama lo lah emang ada orang lain di sini" ujar Jihan.
"Yang bener panggilnya" ucap Dwi.
"Mau di panggil apa, orang mata masih di laptop" ucap Jihan.
"Sebentar lagi selesai Jihan " ucap Dwi melembut.
Namun bukannya menunggu Dwi menyelesaikan pekerjaannya Jihan menutup laptop Dwi dengan cepat dan menggesernya ke ranjang lalu dia duduk di atas pangkuan Dwi dengan keras.
"Eh" ucap Dwi.
"Kenapa mau marah" ujar Jihan memajukan bibirnya.
"Gak lah, kenapa mau manja manjaan" ujar Dwi dengan mata genit.
"Iz genitnya, laper yuk makan mama papa pulang tuh" ucap Jihan.
"Mau makan apa" tanya Dwi.
"Nasi lah apa lagi laper gue belum makan dari siang" ucap Jihan memelas.
"Pantes badannya kecil jarang makan" ucap Dwi.
"Ini tuh proposional ya, mana ada kecil sexy" ucap Jihan.
"Serah lo, turun lo jangan duduk di situ gue gak mau iman gue runtuh" ucap Dwi.
"Siapa juga yang mau runtuhin iman" ucap Jihan bangun dengan wajh merah.
"Terus kenapa tuh wajah merah" ucap Dwi.
"Gak ada merah, udahlah gue mau makan kalau lo gak mau ya udah" ucap Jihan pergi.
"Siapa yang gak mau bareng dong" ucap Dwi mengejar Jihan lalu menggenggam erat tangan Jihan.
"Gak pake pengang pegang ngapa" ucap Jihan.
"Kita pasutri baru wajar dong" ucap Dwi.
"Cari kesempatan lo" ucap Jihan.
"Bodo amat" ucap Dwi.
"Hai sayang kenapa lama banget si" ucap Mama Anggun.
"Kenapa mama nungguin" ujar Jihan dingin.
"Jangan gitu sama orang tua" ucap Dwi
"Udahlah nak Dwi biarkan saja mari makan" ucap Mama.
Jihan dan Dwi langsung duduk di kursi kosong di meja makan namun sebelum makan ada sebuah kotak kecil di tempat Jihan duduk Jihan menatap sekeliling lalu membiarkan kotak itu.
"Mau makan pakai apa" tanya Jihan
"Pakai piring" ucap Dwi.
Dengan cepat Jihan hanya mengambilkan piring tanpa isi kepada Dwi membuat Dwi menatapnya heran namun Dwi tau kalau Jihan dalam mode sedang buruk suasana hatinya.
Jihan mengambil nasi dan lauk untuk dirinya namun dengan cepat dia membawanya ke ruang televisi membuat Dwi bingung. Dwi yang melihat itu langsung saja mengikuti Jihan dan duduk di samping Jihan di ruang televisi dengan membawa segelas air.
"Kenapa lo kesini" tanya Jihan.
"Mau makan sama lo" ucap Dwi.
"Gue pengin sendiri" ucap Jihan dingin.
"Tapi gue mau makan bareng lo" ucap Dwi.
"Serah" ucap Jihan memberikan piringnya kepada Dwi.
"Kenapa lo pergi dari sana setelah melihat kotak itu" tanya Dwi.
"Karena saat kotak itu terbuka akan ada air mata" ucap Jihan membuat Dwi bingung.
"Suapin gue" ucap Jihan tanpa membiarkan Dwi berfikir.
"Oke" ucap Dwi mengikuti arahan Jihan dengan senang hati.
Jihan makan dengan sangat pelan karena selera makannya hilang saat dia melihat kotak kecil di meja makan.
__ADS_1
"Kenapa pelan tadi aja semangat banget" ucap Dwi.
"Gak enak makanannya" ucap Jihan.
"Masa si gak enak, segitunya sampai lo nangis" ujar Dwi.
"Siapa yang nangis gak ada" ujar Jihan mengelak.
"Ini apa" ucap Dwi mengusap air mata Jihan yang ada di pipinya.
Jihan hanya diam tak menjawab ataupun menolak perlakuan Dwi di lain tempat mama papa Jovan Dani Raka Randy Fero sedang makan malam.
"Mah kemana Jihan sama Dwi" tanya Dani.
"Biasa adek lo Kak kalau ada hadiah di meja pasti pergi" ucap Mama.
"Ya iya lah, orang kalau ada hadiah di meja pasti mama mau pergi" ucap Dani.
"Tapi Kak, penting tau ini juga buat masa depan dia" ucap Mama.
"Lebih penting mana si mah sama perhatiin anak sebentar lagian Jihan udah gede mah dia gak peru barang barang mewah dari mama dia mampu beli sendiri dia cuma mau mama perhatian sama dia aja gimana cara mama buat bujuk dia bukan dengan hadiah kayak gini" ucap Dani.
"Tapi Kak, mama gak ada waktu" ucap Mama.
"Ya waktu mama cuma buat uang, mama tau kenapa Jihan lebih suka di rumah Fero karena dia dapat perhatian dari seorang ibu" ucap Dani.
"Tapi Kak" ucap Mama.
"Ya ya ya terserah mama" ucap Dani.
"Udah Kak mending kita lakukan tugas seperti biasa saat dia pergi" sambung Jovan.
"Lo juga kan Van, butuh kasih sayang mama papa tapi lo laki laki makanya lo gak bisa ungkapin apa yang lo mau lo malu buat itu tapi gak sama Jihan dia peka" ucap Jovan.
Setelah perdebatan yang tidak akan ada habisnya Mama memutuskan untuk meninggalkan meja makan dan pergi ke tempat dimana Jihan berada. Saat sampai di belakamg Jihan Mama terpaku dengan perhatian Dwi kepada Jihan yang sedang menyuapi Jihan.
"Ji belum selesai makannya" tanya Mama
"Seperti yang terlihat" ucap Jihan dingin.
"Kamu nangis Ji" ucap Mama.
"Apa peduli lo" ujar Jihan.
"Ji jangan gitu sama Mama" ucap Dwi mengusap kepala Jihan.
"Wi bisa ikut mama sebentar" ucap Mama.
"Boleh mah" ucap Dwi.
"Eh gak ada dia lagi makan sama Jihan" ucap Jihan menarik Dwi.
"Kamu bisa makan sendiri kan" ucap Mama.
"Emang sejak kapan Jihan di suapin, bisa di hitung Jihan di suapin mah" ucap Jihan.
"Maafin mama Ji" ucap Mama sendu.
"Buat apa maaf mah gak penting juga" ucap Jihan dingin.
Dwi yang ada dalam situasi tersebut menjadi canggung Dwi lalu kembali mendekati Jihan dan menggenggam tangan Jihan lembuat membuat Jihan menatapnya.
"Jangan gitu sama mama, mas janji nanti langsung suapin kamu lagi tersenyumlah" ucap Dwi mengelus kepala Jihan sembari mencium tangan Jihan dan pergi.
"Cie cie yang di elus elus" ledek Dani.
"Apaan lo" uhar Jihan lalu bermain ponsel.
"*Guys keluar yuk warnain rambut" ujar Jihan dalam sebuah grup chat.
"Wah boleh tuh dah lama gak warnain rambut" ucap Sonia membalas chat.
"Ke tempat gue aja gue kasih discont" ucap Gabby.
"Wah asik tuh, lo lagi di tempat gak" ucap Jihan.
"Iya lagi di tempat datang aja tapi jangan malem malem ya gue mau pulang cepet" ucap Gabby.
"Oke gue berangkat sekarang, Sonia kita ketemu di tempat Gabby aja ya" ucap Jihan*.
Setelah membalas chat terakhir Jihan langsung pergi begitu saja tanpa memgganti pakaian ataupun mengtakannya kepada Dwi. Jihan memgambil kumci mobil yang ada di meja ruang tamu tempt dimana banyak teman teman Jovan dan Rey sedang duduk.
"Ini kunci mobil siapa" tanya Jihan memegang kunci mobil yang dia ambil dari meja.
"Punya gue mau apa lo sama mobil gue" ucap Jovan.
"Gue bawa" ucap Jihan pergi.
__ADS_1
"Eh bocah belum gue ngomong udah nelonyor aja" ujar Jovan.
Tak lama kemudian Jihan kembali lagi ke dalam rumah. Membuat semua orang menatapnya tapi Jihan tak memperpedulikannya Jihan hanya berjalan ke arah Rey.
"Kenapa lo" ucap Rey.
"Bagi gue duit dong" ucap Jihan membuat semua orang melongo.
"Bokek lo" ucap Rey sembari mengeluarkan dompetnya.
"Sayang duit gue, ada uang kes berapa" tanya Jihan.
"Gue cuma bawa satu juta mau" ucap Rey.
"Pelit lo kak, gue minta kartu kredit aja" ucap Jihan.
"Nih" ucap Rey memberikan kartu kreditnya.
"Jangan sok deh lo kak, gue tau lo pegang kartu kredit Dwi gue mau itu gak butuh punya lo gue tau perjuangan lo" ucap Jihan.
"Hehe siapa tau mau" ucap Rey.
"Gue mau yang no limited" ucap Jihan.
"Dasar bini suka abisin duit" ucap Rey memberikan sebuah kartu kredit platinum.
"Good" ucap Jihan menyambar kartu tersebut lalu pergi.
"Eh emang dia tau code nya, dasar" cibir Rey.
Tak lama kemudian ponsel Rey berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Rey melihat ponselnya lalu tersenyum membuat Dwi menatapnya aneh pasalnya Rey sangt sulit untuk tersenyum saat menerima panggilan telfon.
"Kenapa" ujar Rey.
"Berapa codenya " ujar Jihan di sebrang telfon.
"Makanya lo main nyeloning aja, 191010" ucap Rey
"Oke" ujar Jihan menutup telfon.
"wi ngapa lo ngelamun aja" ucap Dani.
"Eh kak, tau Jihan kemana" tanya Dwi pada Dani.
"Tau pergi tadi tapi gak tau kemananya" ucap Dani.
"Gitu ya, kenapa gak ngomong si udah gak makan lagi" ucap Dwi
"Udahlah dia pasti baik kok lo makan aja dulu" ucap Dani.
Dwi lalu tersenyum kepada Dani dan melanjutkan makannya namun dia duduk di samping Rey sembari menatap rey tajam.
"Bos kenapa" tanya Rey.
"Lo dapat telfon dari siapa senyum senyum" ucap Dwi.
"Ini bos, nona Jihan pergi bawa kartu kredit bos tapi gak tanya code nya" ucap Rey.
"Terus dia gak bisa pakai" tanya Dwi.
"Bisa udah di kasih tau tadi" ujar Rey.
"Kenapa lo senyum senyum tadi" ucap Dwi.
"Maaf bos" ucap Rey.
"Bilang aja lo gak rela gue senyum sama Jihan lo udah jatuh cinta kan" ujar Rey dalam hati.
Tau kan gimana rasanya pengin jawab tapi gak mampu untuk melakukannya..
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan comentarnya... ya....
__ADS_1