
"Jangan bilang kakak mau" ucap Putri tertahan.
"Iya kakak mau ajak kamu ke club " ucap Jihan.
"Tapi Kak" ujar Putri ingin menolak namun melihat ke dua orang tuanya yang menyuruhnya untuk mengikuti Jihan.
"Oke, kita siap siap kakak mau ke kamar Putri kebetulan ada make up yang bisa buat tutupin leher sama bibir kakak" ucap Putri.
"Leher" ucap Jihan bangun.
"Iya, nih" ucap Putri memegang leher Jihan yang ada tanda merah.
"Brengsek" ucap Jihan membuat ke dua orang tua Dwi tersenyum.
"Ji maafin Dwi ya" ucap Mama Sri.
"Iya mah, lagian dia kan gak tau apa yang sebenarnya terjadi kalau kalian ingin tau juga apa yang sebenarnya terjadi lihatlah di kamera yang Jihan pasang di sini" ucap Jihan memberikan kalungnya.
"Oke, sekali lagi kamu hebat bisa melawan Dwi telak hahaha" ucap papa Dwi.
"Sepertinya hanya papa yang menikmati pertengkaran tadi" ujar Jihan.
"Hehe maaf sayang" ucap papa Dwi.
"Ya pah kalau gitu Jihan mau bawa Putri pergi" ucap Jihan.
"Ya berhati hatilah" ucap Papa Dwi.
"Oke" ucap Jihan.
"Yuk kak" ucap Putri.
Jihan dan Putri pergi ke kamar lalu bersiap untuk pergi, Jihan memakai baju Putri karena postur tubuh Jihan yang lebih besar dari Putri membuat baju yang dia kenakan terlihat begitu sexi.
"Wah kak, cantik banget" ucap Putri saat melihat dandanan Jihan yang berbeda 180°.
"Terima kasih mau kakak bantu make up" ujar Jihan.
Dengan semangat dan pasti Putri menerima tawaran Jihan untuk memoles wajahnya. Saat sudah selesai Putri merasa sangat puas dengan apa yang Jihan lakukan padanya kemudian mereka pergi ke luar untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Mah pah, kita berangkat dulu ya" ucap Jihan saat berapa di ruang keluarga disana ada Dwi dan Clarissa.
Dwi menatap Jihan dari atas sampai bawah tanpa berkedip, sedangkan Clarissa menatapnya tak suka.
"Wah ini bener anak anak mamah, cantik cantik banget" ucap Mama Sri memeluk Jihan dan Putri bersamaan.
"Iya cantik, tapi tuh baju bayi di pakai" ujar Papa.
"Tenang aja pah, walaupun Jihan pakai kayak gini tapi di jamin aman" ucap Jihan yakin.
"Berani berjanji kalau kalian akan aman dan menjaga mahkota kalian" tanya Papa.
"Iya pah, pasti" ucap Jihan dan Putri bersama.
"Ya udah, hati hati kalian" ucap papa.
"Ya pah, Mama mau ikut" tanya Jihan.
"Kalau mama ikut kalian bisa gak dapat jatah" ujar Mama.
"Hahaha, ya udah kita aja yang pergi bye" ujar Jihan menyalami ke dua mertuanya begitupun dengan Putri yang mengikuti Jihan dari belakang.
Jihan mengendarai mobil Putri menuju suatu tempat Putri pun hanya menurut karena tidak ingin membuat mood kakak iparnya kembali down.
"Gak tanya mau kemana" ujar Jihan memecah keheningan.
"Emang boleh tanya" ucap Putri.
"Boleh, tapi jangan keluar suara" ujar Jihan serius.
"Gimana caranya tanya gak keluar suara, pakai bahasa isyarat kali" cibir Putri.
"Haha bercanda kita mau ke Club terkenal dan terbesar di kota ini" ucap Jihan.
"Kakak gak lupa kan kalau kita selalu dalam pengawasan Papa" ucap Putri takut.
"Tau gak cuma papa, mas Dwi juga kirim anak buahnya buat ikutin kita tapi kita gak bakal macam macam kok" ucap Jihan.
"Kakak tau dari mana kalau Abang kirim pasukan" tanya Putri.
"Tuh lihat aja, depan samping belakang semua orang orang papa sama Dwi" ucap Jihan.
"Oh gitu" ujar Putri.
Jihan memarkirkan mobilnya di pelataran club lalu turun dari mobil. Sedangkan Putri tidak turun membuat Jihan harus menariknya keluar.
__ADS_1
"Kak kita beneran ke sini" ujar Putri tak yakin.
"Beneran ayok, tenang aja semua staf di sini baik kok dan lagi keamanannya terjaga" ucap Jihan.
"Kakak kayak udah paham tempat ini aja" ucap Putri.
"Bisa di bilang gitu" ucap Jihan lalu menarik Putri untuk masuk ke dalam.
Saat mulai masuk ke dalam klub tersebut banyak mata menatapnya seperti ingin memangsa. Jihan terus mengandeng tangan Putri yang sudah sangat dingin sedari tadi menuju sebuah ruangan yang lumayan besar dengan banyak orang di dalamnya.
"Ana" ujar Seorang laki laki.
"Hai Jors, dimana Jane" tanya Jihan.
"Hai Na" ujar seorang wanita cantik dengan pakaian sangat sexi dan tubuh bak model yang tak lain adalah Jane teman Jihan.
"Hai" ucap Jihan memeluknya.
"Siapa Na" tanya Jane.
"Oh ya kenalin dia adek gue, inget jangan ada yang berani ganggu dia" ucap Jihan.
"Yaya, tenang aja siapa si yang berani ganggu milik lo" ucap Jane.
"Hai gue Jane" ucap Jane menyalami putri.
"Hai gue Putri" ucap Putri menerima uluran tangan Jane.
"Dia DJ di sini, udah jangan takut" ucap Jihan
"Oh DJ pantesan" ujar Putri.
"Kenapa" tanya Jane.
"Keren" ujar Putri polos.
"Polos bener Na" ucap Jane.
"Iya, oh ya gue ikut lo nge DJ ya" ujar Jihan.
"Oke Na, ada lagu baru tuh" ucap Jane.
"Oke, kita mulai sekarang" ucap Jihan.
"Kakak bisa jadi DJ" tanya Putri.
"Hm" ujar Putri.
Putri mengikuti Jihan ke atas panggung yang tersedia berbagai macam alat musik termasuk dua set alat DJ. Tak perlu waktu lama Jihan dan Jane melakukan aksinya yang membuat semua orang bergoyang Putri membulatkan matanya karena melihat sisi lain dari Jihan.
Setelah beberapa menit Jihan dan Jane bermain Putri menarik Jihan karena sudah terlalu larut malam menurutnya dan meminta Jihan untuk pulang Jihan pun menurutinya setelah berpamitan dengan beberapa temannya.
"Kak Putri takut tuh papah" ujar Putri menunjuk pintu utama saat mobil yang mereka kendarai memasuki area rumah.
"Udah tenang aja" ucap Jihan.
Jihan memarkirkan mobilnya lalu turun dengan cepat Putri menggandeng tangan Jihan karena terlalu takut.
"Malam pah" ucap Jihan santai.
"Kamu ya beneran pergi ke klub" ucap Papa lalu meninggalkan Jihan dan Putri.
"Maaf Pah, lagian Jihan udah izin kenapa masih marah" ucap Jihan membujuk papa.
"Jihan" bentak Dwi.
"Apa, mau marah nanti aja males gue sama lo" ucap Jihan.
"Dari mana lo dengan pakaian seperti itu" ucap Dwi.
"Lagak lo gak tau bukannya lo kirim orang buat ikutin kita" ucap Jihan santai.
"Gue peru kejujuran lo" ucap Dwi.
"Gue abis dari klub seneng seneng puas lo" ujar Jihan.
"Kenapa lo gak minta izin sama gue, dengan pakaian lo yang kayak gitu lo pergi tanpa gue dan lo seenaknya menari di sana seneng seneng gak mikirin suami lo di sini" ucap Dwi meninggi.
"Gue mikirin lo buat apa lo aja gak pernah mikirin gue" ucap Jihan tak kalah tinggi.
"Hargai gue sebagai suami lo" ucap Dwi.
"Lo bilang hargai lo sebagai suami , lo mikir gak si kalau lo juga gak pernah hargai gue lo selingkuh di depan gue lo mesra mesraan di depan gue lo main gila di depan gue lo masih minta gue buat hargai lo lo aja gak pernah hargai gue sebagai istri" ucap Jihan marah.
"Lo" ujar Dwi tertahan.
__ADS_1
"Apa mau tampar gue lagi mau bentak gue lagi ha, tugas lo lindungin gue bukan buat gue seperti di neraka saat bersama lo, lo gak pantes jadi suami lo jahat lo jahat" ujar Jihan memukul mukul dada Dwi.
Tak terasa Jihan meneteskan air matanya, sedangkan Dwi terus menatap Jihan dan membiarkan Jihan untuk melakukan apa yang dia lakukan. Namun Dwi merasa hatinya sakit saat melihat Jihan menangis lalu menarik pinggang Jihan dan memeluknya erat.
"Maafin gue Ji" ucap Dwi memeluk Jihan erat.
Jihan tidak menjawab hanya membalas pelukan Dwi erat Jihan menangis sesegukan namun tiba tiba tangan Jihan terlepas dan suara tangisnya berhenti membuat Dwi panik.
"Ji " ujar Dwi namun saat Dwi melepas satu tangannya ternyata Jihan sudah jatuh pingsan.
"Kaka" ucap Putri.
"Panggil dokter" ucap Dwi.
"Iya Kak" ucap Putri.
Dwi membawa Jihan ke dalam kamar menunggu dokter yang Putri panggil. Selama menunggu dokter Dwi terus saja mondar mandir
"Bang berhenti ngapa pusing nih" ucap Putri.
"Kenapa Jihan bisa kayak gini" ucap Dokter yang menangani tak lain dokter Ridwan yang sudah kembali bertugas di kota.
"Gue juga gak tau, mending lo periksa deh" ucap Dwi.
"Oke" ucap Dokter Ridwan lalu memeriksa Jihan.
Dwi memperhatikan Ridwan yang sedang memeriksa Jihan ada rasa tak rela saat tangan Ridwan menyentuh Jihan. Setelah selesai memeriksa Jihan Ridwan memberikan isyarat kepada Dwi untuk mengikutinya tanpa bertanya Dwi lalu mengikuti Ridwan dari belakang.
"Gimana Bang" tanya Dwi.
"Dia kecapean aja bentar lagi juga baikan sama jangan sampai dia telat makan oke dia ada riwayat penyakit mag" ucap Ridwan.
"Oke Bang, makasih ya" ujar Dwi.
"Iya, dan jangan pernah buat dia tertekan atau dia bakal sering kayak gini" ucap Ridwan.
"Maksud Abang" tanya Dwi.
"Dia tuh pernah kena insomnia susah tidur jadi dia sering minum obat tidur dengan dosis tinggi itu berakibat pada salah satu syarafnya kalau dia tertekan dia bakal pingsan dan gue harap lo bisa hilangin insomnia Jihan dan hentikan Jihan dari mengonsumsi obat itu atau efeknya akan lebih besar nanti" jelas Ridwan.
"Jadi ini alasan dia gak mau di bentak" ujar Dwi dalam hati.
"Woy ngapain lo ngalamun" ucap Ridwan.
"eh gak apa Bang, makasih ya" ucap Dwi.
"Oke, jaga dia baik baik karena dia begitu sempurna untuk di sakiti" ucap Ridwan.
"Hm" ujar Dwi.
Setelah kepergian Ridwan Dwi kembali ke kamarnya yang ternyata Jihan sudah siuman dan sedang duduk dengan wajah pucat. Dwi menghentikan langkahnya Dwi memutar balik badannya lalu pergi ke dapur untuk membuat makanan untuk Jihan.
"Sebenci itukah lo sama gue sampai sampai lo gak mau lihat gue dan memilih pergi" ujar Jihan dalam hati saat melihat Dwi memutar tubuhnya dan pergi.
...Setelah lama di dapur karena Dwi memilih untuk memasak makanan untuk Jihan....
"Ji nih makan, ya walaupun gak seenak makanan lo tapi ini aman kok buat di makan" ucap Dwi membawa nampan berisi makanan dan minum untuk Jihan.
"Nanti gue makan" ucap Jihan lemas.
"Sekarang" ucap Dwi tegas.
"Nanti gue belum bisa kali makan" ucap Jihan kesal.
"Gue suapin" ujar Dwi.
"Gue bisa sendiri beri gue waktu" ucap Jihan.
"Gak ada penolakan" ujar Dwi menyodorkan sendoknya.
Karena tidak ingin berdebat Jihan menerima suapan dari Dwi membuat semua orang tersenyum melihat perhatian yang Dwi lakukan kepada Jihan namun lain dengan Jihan yang merasa sangat kesal.
.
.
.
.
.
.
Coba tebak gimana perasaan Dwi yang sebenarnya sama Jihan.....
__ADS_1
Yuk ikuti terus dan jangan lupa dukungannya ya wan kawan.....