Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
salangheyo


__ADS_3

"Eh apaan gue" ujar Jihan langsung duduk dengan cepat membuat Dwi ikut terbangun.


"Kenapa" tanya Dwi ikut duduk.


"Gak" ucap Jihan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Melihat Jihan pergi ke kamar mandi Dwi memilih duduk.namun dia penasaran apa yang sedang terjadi di rumah Jihan karena sedari tadi sangat bising berbeda saat sebelumnya yang sangat hening.


"Ada apa si di luar brisik banget" ujar Dwi.


Dwi menunggu Jihan selesai mandi setelah itu dia bergantian mandi. Saat berpapasan dengan Jihan yang baru selesai dari ruang ganti Dwi menghentikan Jihan.


"Ji di luar ada apa ya kok berisik banget" ucap Dwi lembut.


"Gak tau liat aja sendiri" ucap Jihan dingin lalu merapikan rambutnya.


"Gak tau apa kalau gue juga baru bangun" gerutu Jihan.


Dwi yang melihat tingkah Jihan hanya pasrah karena memang dia yang salah. Namun Dwi masih yakin kalau dia belum pernah melakukan hal tercela dengan Clarissa.


Walaupun rumor telah menyebar kalau Dwi adalah seorang pengusaha muda yang senang bermain dengan wanita bahkan sering berganti ganti wanita. Jihan yang merasa sangat lapar karena dia hanya makan sepotong ayam semalam dia langsung keluar dari kamarnya dan.


Duar..........


Suara letusan sesuatu membuat Dwi langsung berlari mencari Jihan ternyata yang dia takutkan tidak terjadi. Dwi justru ternganga dengan kondisi rumah Jihan yang sangat berantakan dengan banyak orang di sana.


"Eh ternyata ada suami lo ya Ji" ucap Hana lirih


"Udah jangan pikirin dia" ucap Jihan.


"Tapi dia suami lo" ucap Hana.


"Gue gak anggap dia suami gue" ucapan Jihan sukses membuat Dwi membatu seperti tertusuk sebuah pedang hatinya sangat sakit.


Setelah mendengar ucapan Jihan Dwi langsung pergi ke luar tanpa teman teman Jihan menyadarinya ada sesuatu menetes di pipi Dwi. Dwi menghubungi Rey untuk mencari tau siapa ayah dari bayi yang di kandung Clarissa.


"Apa Jihan udah makan ya" ucap Dwi saat melihat jam yang sudah menunjuk ke angka sepuluh pagi.


"Cari apa" tanya Nisa.


"Cari Jihan" ucap Dwi dingin.


"Kalian berantem ya gak Jihan gak lo sama aja dingin " ucap Nisa.


"Jangan ikut campur" ucap Dwi dengan tatapan dingin.


"Yaya kalau cari Jihan tuh gak pake ngegas kali" ucap Nisa pergi.


Dwi pergi untuk mencari Jihan saat dia menemui Jihan Jihan malah asik dengan teman temannya. Dwi menghela nafasnya berkali kali karena sudah berkali kali juga memanggil Jihan namun tetap saja dia tak menghiraukan.


"Ji ada orang WO" ucap Dwi.


"Mana kenapa gak bilang dari tadi si" Ucap Jihan.


"Lo aja yang gak dengerin gue ngomong asik aja terus sama yang lain" ucap Dwi.


"Yaya mana mereka" tanya Jihan.


"Tuh" ucap Dwi menunjuk sekelompok orang yang sedang duduk di halaman rumahnya.


Jihan menghampiri orang orang tersebut yang ternyta ada Zira juga yang datang Jihan langsung tersenyum. Namun Zira malah memajukan bibirnya karena dia harus ikut mempersiapkan pernikahan orang yang dia suka kan sakit.


"Nih semua orang pilihan bisa kerja dengan cepat" ucap Zira.


"Thanks ya, ya udah suruh mereka ikut gue ke tempat acara" ucap Jihan.


"Gak suruh duduk nih" ucap Zira.


"Gak ada waktu lagian mau duduk di mana rumah gue hancur" ucap Jihan membuat Zira melongok ke dalam rumah dan benar saja rumah Jihn seperti rumah yang baru saja di terjang badai.

__ADS_1


"Oke" ucap Zira memboyong semua orang yang dia bawa dari kota menuju lapangan tempat acara akan berlangsung.


"Konsepnya apa nih" tanya Zira.


"Gue harap si garden party tapi lo tau lah orang orang sini gak bisa dengan konsep konsep aneh" ucap Jihan.


"Gimana kalau konsepnya kayak orang orang sini aja pakai tenda gitu tapi dalamnya yang kita hias gimana, lagian garden party kalau hujan lo mau tanggung jawab" ucap Zira.


"Itu yang gue pikirin ya udah gue harap kita bisa selesai besok" ucap Jihan.


"Lo gila ya, satu hari kita manusia kali bukan Jin yang bisa melakukan apapun dengn sekelip mata" ucap Zira.


"Gue gak mau tau oke buat altar pelaminan biar gue yang urus kalian semua fokus aja sama yang lain kita bagi beberapa kelompok kita buat kerja yang menyenangkan biar cepet selesai" ujar Jihan.


"Kalian semua denger kan lakukan sesuai perintah" ucap Zira kepada semua orang WO.


"Siap Nona" ucapnya.


Mereka semua mulai mengerjakan tugas masing masing karena Jihan membuat suasana ramai semua orang yang bekerja menjadi semangat. Dwi menghampiri tempat acara dan menatapJihan dari jauh lalu mendekati Jihan Dwi ikut membantu Jihan walaupun terus di cuekin Jihan.


"사랑해요 (aku cinta kamu) " ucap Dwi sembari memberikan sebucket bunga mawar yang dia temukan di tempat souvenir.


(salanghaeyo)


"감사합니다 (terima kasih)" jawab Jihan membuat Dwi bengong.


(kam sa ham ni da)


"한국말을할수잇ㅅ어요( apakah kamu bisa berbicara bahasa korea)" tanya Dwi.


(Han guk mal eun hal su isseo yo).


"한국말잘못해요 (saya tidak lancar berbahasa korea)" ucap Jihan.


(han guk mal jal mot hae yo)


(ar a yo)


"Kalian berdua lagi ngomong apa si" tanya Mona.


"Gak ada kenapa kesini" tanya Jihan.


"Ganggu ya" tanya Hana.


"Gak si, kenapa emangnya" tanya Jihan.


"Itu tempat akadnya gimana mau lo yang hias apa kita nih" tanya Hana.


"Iya tadinya mau kita bertiga yang urus tapi takutnya lo udah ada konsep" ucap Mona.


"Biar gue aja" ucap Dwi.


"Udah jelas kan dia yang mau urus kalian urus yang lain aja" ucap Jihan.


"Oke deh" ucap Hana dan mina bersama.


"조흔하루보내세요 (semoga harimu menyenangkan)" ucap Dwi pergi.


(Jo heun ha ru bo nae se yo).


"감사합니다 (terima kasih)" jawab Jihan sembari membungkukkan badannya membuat Dwi berhenti sejenak dan kembali menatap Jihan.


(Kam sa ham ni da)


Dwi tersenyum dengan sangat hangat kemudian pergi. Dwi mulai mengerjakan tugasnya dengan baik sedangkan Jihan masih menatapnya dengan intens membuat sahabatnya tersenyum karena mereka senang kalau Jihan sudah bisa menerima suaminya.


"Cie udah tuh kerjain tugas lo nanti malam lo puasin tatap dia gak bakal ada yang ganggu" ledek Hana.


"Apaan si lo, pergi sana lo" ucap Jihan mengusir teman temannya.

__ADS_1


Jihan langsung kembali melanjutkan menghias altar pernikahan dengan ceoat. Jihan bahkan mahir dalam merangkai bunga ilmu yang dia dapatkan saat masih kerja paruh waktu. Namun sesekali Jihan mengacak acak bunganya saat di rasa tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dwi yang melihat itu langsung menghampiri Jihan namun di waktu yang sama Fero lebih dulu berada di samping Jihan membut Dwi kembali melanjutkan tugasnya.


Jihan hany cuek kepada Fero membuat Fero bingung pasalnya baru kali ini Jihan mengacuhkannya. Zira yang melihat langsung ikut bergabung dengan Jihan Zira menatap Fero tajam dan membuat Fero menjauh.


"Thanks ya Ra" ucap Jihan saat Fero sudah pergi.


"Kenapa bukannya seneng lo deket sama Fero" ucap Zira.


"Gak tau Ra, kalau gue deket sama Fero tuh kayak gue merasa bersalah banget" ucap Jihan.


"Lo buat salah sama dia" ucap Zira.


"Gak si, ini semua kan rencana takdir kuta hanya menjalani" ucap Jihan.


"Terus" tanya Zira.


"Entahlah Ra, gue juga gak yakin tapi gue rasa rasa gue ke Fero gak dalam deh" ucap Jihan.


"Rasa lo ke Fero cuma sekedar nyaman doang kali gak cinta lo" ucap Zira.


"Emang perbedaan ke duanya apa bukannya nyaman itu lebih penting" tanya Jihan.


"Gina ya nona Jihan nyaman dan gak mau kehilangan dia itu bukan berarti cinta tapi cinta itu dimana hati lo bergetar saat melihatnya dimana darah lo berdesir setiap dekat dengannya menurut gue ya" ucap Zira tertawa.


"Ucapan lo gak nyata" ucap Jihan.


"Sorry sorry, eh bentar gue mau bilang sesuatu sama lo tapi tunggu" ucap Zira.


"Oke" ucap Jihan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Zira pergi menarik Dwi untuk mengikutinya. Dwi tidak beekomentar namun seketika dia merasa membatu karena ternyata dia di di pertemukan dengan Jihan. Jihan langsung menatap tajam membuat Zira duduk di antara ke duanya.


"Minggir dong, nih jadi hancur" ucap Jihan yang melihat Zira dusuk di atas tatanan bunganya.


"Gampang itu bisa di buat lagi, nih ada sesuatu yang penting" ucap Zira.


"Duduk lo berdua" ucap Zira.


"Kenapa Ra, sepertinya ada yang gak nyaman gue disini" tanya Dwi.


"Iya pergi aja lo" ucap Jihan.


"Kalian berdua ya, awas benci sama cinta tuh beda tipis" ucap Zira.


"Biarin" ucap jihan.


"Bisa diem gak si" ucap Zira.


Jihan langsung diam sedangkan Dwi tersenyum melihat Jihan kesal.


"Nih" ucap Zira memberikan sebuah Vidio kepada Jihan dan Dwi.


Jihan dan Dwi saling mendekat karena Zira pergi lama mereka melihat vidio tersebut. Setelah selesai Jihan menatap Dwi penuh penyesalan sedangkan Dwi hanya tersenyum hangat.


"Maafin Jihan" ucap Jihan.


"Iya sekarang udah jelas kan mas gak bohong mas pernah melakukan itu dengan siapapun" ucap Dwi menggenggam erat tangan Jihan.


"Hm, ingat di peejanjian kita gak ada penghianatan" ucap Jihan.


"Mas gak akan pernah menghianati kamu karena kamu yang pertama" ucap Dwi.


"Bohong kalau Jihan yang pertama" ucap Jihan.


Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....


dan jangan lupa juga buat tambhin ke favorit oke....


Salam manis author....

__ADS_1


__ADS_2