Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Siapa Jihan


__ADS_3

"Berlebihan tau malu" ucap Jihan sembari keluar dari mobil.


"Kenapa harus malu" tanya Dwi tersenyum lebar.


Dengan terpaksa Jihan tersenyum tanpa beban. Jihan mengangguk sopan kepada beberapa kolega Dwi yang ada di sana.


"Jihan" panggil seseorang dari jauh.


Jihan menatap sekeliling saat baru sampai di pintu utama. Jihan melihat seorang yang dia kenal saat bekerja di DJC.


Orang tersebut langsung menghampiri Jihan namun dengan cepat membulatkan matanya dan menunduk.


"Maaf Tuan muda" ucapnya.


Jihan melepaskan genggaman tangan Dwi lalu berjalan mendekati Fera lalu memeluknya membuat Fera kaget.


"Kenapa gak jadi peluk gak kangen apa" ujar Jihan.


"Gue gak tau tadi ada si bos" ucap Fera.


"Kenapa sama bos, galak ya" ucap Jihan.


"Gak sanggup menatapnya" ucap Fera.


ehem ujar Dwi membuat Jihan menatapnya dan tersenyum.


"Hehe ya udahnya nanti lagi ada urusan" ucap Jihan.


"Oke" ucap Fera.


Jihan langsung berjalan ke arah Dwi dan berjalan berdampingan. Namun saat sudah meewati Fera Dwi menarik Jihan membuat Jihan menatapnya Dwi tersenyum lalu merangkul pinggang Jihan.


"Ada hubungan apa si bos sama Jihan bukannya pacar si bos ada di ruangannya ya" ujar Fera.


Jihan berjalan ke ruangan Dwi namun saat baru membuka pintu dia menyerngitkan dahinya karena ada Klara di sana. Sedangkan Dwi dengan cepat melepaskan tangannya dari pinggang Jihan membuat Jihan tersenyum.


"Sudah sampai silahkan maaf saya harus segera ke ruang meeting" ucap Jihan langsung pergi begitu saja tanpa jawaban Dwi dengan asistennya.


"Are you oke boss" tanya asisten Jihan.


"Ya, kamu ke sini buat saya atau tuan Ata" tanya Jihan.


"Saya bersama Ani dan tuan Fero bos, tapi tuan Fero menyuruh saya untuk menjemput anda di luar tadi" ucapnya.


"Oke mana yang harus saya pelajari" ujar Jihan.


"Ini bos" ucapnya memberikan dokumen dokumen untuk Jihan pelajari.


Jihan berjalan lurus dengan membaca dokumen yang asistennya berikan. Saat sampai di depan ruangan meeting Dwi memanggil Jihan dan menarik Jihan.


"Maaf tuan apa anda tidak melihat saya sedang apa sekarang, bisakah anda profesional sedikit" ucap Jihan berlalu duduk di tempatnya.


"Ani bisa bertukar tempat Julio" ucap Jihan di angguki Ani.


Meeting berjalan dengan lancar, Jihan sangat serius sedangkan Dwi terus menatap Jihan. Saat selesai meeting Jihan tinggal di ruangan itu dengan Dani Jovan Fero dan Randy .


"Ji bisa bicara berdua" tanya Dwi.


"Maaf," ucap Jihan.


"Oke kalian semua ikutlah dengan saya ke ruangan saya, akan ada yang saya perlihatkan" ucap Dwi.


"Bos" ujar Ani dan Julio.


"Kalian ikut lah," ucap Jihan.


Semua orang berjalan mengikuti langkah Dwi, saat sampai di depan ruangan tersebut sekertaris Dwi membukakan pintu. Dwi masuk terlebih dahulu ke ruangannya Klara menatap Dwi lalu berlari dan memeluk Dwi erat.


"Sayang kok lama si" ucap Klara.


"Ji apa kita harus pergi" ujar Dani.


"Gak kak kita lihat aja selanjutnya" ucap Jihan.


"Kamu akan lebih terluka" ucap Dani.

__ADS_1


"Gak lah, lihat aja permainannya nanti kak Randy bantu main ya" ucap Jihan di iyakan Randy.


"Sayang mereka siapa" tanya Klara bergelanyut manja di lengan Dwi.


"Dasar dia panasin gue apa gimana, di kira gue hati batu apa" ucap Jihan dalam hati namun berusaha tegar.


"Kenalin mereka semua kolega aku" ucap Dwi.


"Hai semua gue calon istrinya" ucap Klara tersenyum penuh pesona.


"Bahkan dia gak lepasin tuh tangan oke oke" ujar Jihan


"Dia kayak kenal" ucap Klara menunjuk Jihan.


"Kirain lo lupa sama gue" ujar Jihan tersenyum aneh.


"Gak bakal gue lupa lo, orang yang di tinggalin pacar demi gue beda jauh lo sekarang lagi deketin siapa om om mana" tanya" Klara.


"Kenapa harus om om kalau ada dua tuan muda di samping gue" ujar Jihan.


"Gue yakin dia bukan pacar lo gue tau dia suaminya Putri" ujar Klara menunjuk Fero.


"Tau juga lo" ucap Jihan.


"Deketin dia ya, sudah lama lo sama dia" tanya Klara.


"Lo kenapa kepo, seharusnya nih lo suruh kita semua duduk apalagi kita sumber uang calon suami lo" ujar Jihan menekan kalimat terakhirnya.


"Oke oke duduk, gue gak mau ya dia bangkrut" ucap Klara.


"Masih aja lo gila harta" ucap Jihan.


"Diem lo emang lo cukup makan cinta, terus kasih cinta di bayar apa" ucap Klara.


"Maksud lo" tanya Jihan.


"Ngomong ngomong lo yakin dia gak bakal tinggalin lo lagi" ucap Klara.


"Kenapa harus meninggalkan" ucap Randy yang duduk di samping Jihan.


"Gue gak kayak lo, yang rela buka selakangan demi uang" ucap Jihan.


"Lo" ujar Klara menunjuk Jihan.


"Kenapa, saya bukan tipe orang seperti itu saya justru suka karena dia bisa menjaga amanahnya gak kayak lo yang rela buka sana sini" ucap Randy membuat Klara mendidih.


"Wah gila lo ya, gue gak serendah itu itu kan hal bisa " ucap Klara.


"Lebih rendah mana dengan seseorang yang merebut suami orang" ujar Randy.


"Maksud lo apa" tanya Klara.


"Sayang kamu salah ngomongnya, seharusnya gini rendahan siapa lo sama seorang suami yang menikahi orang lain tapi cintanya buat orang lain dan lagi dia menjalin hubungan di belakang istrinya" ucap Jihan mengepalkan tangannya namun demi menutup kemarahan Jihan Randy menggenggam tanya Jihan membuat Dwi membulatkan matanya.


"Jihan cukup ya" ucap Dwi meninggi.


"Kenapa apa saya bicara hal yang salah" ucap Jihan tenang walau hatinya sudah campur aduk.


"Saya tau kamu marah benci sama saya, tapi saya sudah berjanji akan mengakhiri ini semua seharusnya dukung keputusan saya" ucap Dwi.


"Sayang dia marahin gue" ucap Jihan menatap Randy dengan mata berkaca kaca.


"Wi kenapa lo marahin dia si " ucap Randy.


"Gue tau Ji lo nangis bukan karena Dwi marahin lo tapi sakit nya lo liat suami lo lebih bela wanita lain" ujar Randy dalam hati.


"Gue gak bisa terima dia bicara kayak gitu siapa suruh menghilang gitu " ucap Dwi.


"Emang lo bilang biar dia gak ilang, lagian selama ini dia ada di sekitar lo tapi lo cuma mandang fisik" ujar Dani yang sudah emosi karena Jihan di bentak.


"Gue gak salah sepenuhnya kak, lagian siapa suruh dandan kayak orang aneh gitu mana kenal si" ucap Dwi.


"Kalau emang lo cinta lo sayang lo bakal kenalin dia bagaimanapun keadaaannya" ucap Randy.


"Sayang ini ada apa si" ucap Klara.

__ADS_1


"Berhenti panggil gue sayang, saat ini juga kita putus, lo gak lupa kan kalau lo itu cuma pelarian" ucap Dwi membuat Klara menatapnya tak terima.


"Sayang biarin mereka yuk" ucap Jihan mengajak Randy pergi.


"Jihan berhenti di sana atau saya akan berbuat lebih" ujar Dwi.


" Udahlah sayang biarin mereka pergi" ucap Klara menahan Dwi


"Berhenti panggil gue sayang, mulai sekarang kita gak ada hubungan apa apa lagi" ucap Dwi.


"Oke lo tinggalin gue demi dia kan liat aja" ucap Klara menampar Jihan.


Semua orang membulatkan matanya, sedangkan Jihan memegang pipinya yang terasa panas sembari tersenyum mengerikan.


Plakkk.... Jihan melayangkan pukulannya yang pertama


"Ini karena lo udah tampar gue"


Plakkk.... pukulan ke dua di layangkan Jihan lebih keras.


"Ini buat lo yang dulu rebut pacar gue"


Plakkk.... Pukulan ke tiga sukses membuat Klara tersungkur. Jihan berjongkok kemudian mencengkram kuat pipi Klara.


"Dan ini peringatan terakhir lo buat gak sentuh gue lagi paham" ujar Jihan bangkit dari hadapan Klara.


" Jihan lo gila" teriak Klara.


" Udah tau gue gila masih aja main sama gue, ingat ya cukup lo mainin gue kalau lo sampai menyentuh salah satu di antara mereka jangan harap lo selamat' ujar Jihan.


"Gue bakal laporin lo ke polisi" teruak Klara.


"Terserah lo gue gak takut" ucap Jihan penuh kemenangan.


"Julio urus dia, Ani kembali ke kantor sama tuan muda ya" ucap Jihan


"Siap bos" ujar Ani dan Julio bersama.


"Bonus menunggu" ucap Jihan.


Julio mengurus Klara sedangkan Dwi terduduk di sofa sedangkan Dani dan Jovan mendekati Dwi dan melayangkan pukulannya di wajah Dwi.


"Bang Kak cukup satu gak boleh lebih kalau lebih atau wajahnya hancur kalian bakal kena juga" ucap Jihan lalu pergi.


"Beruntung lo punya istri Jihan kalau gak abis lo" ucao Dani.


Dani Jovan pergi dari ruangan itu sedangkan Randy sudah di gandeng Jihan untuk pergi Fero dan Ani kembali ke kantor mereka sedangkan Klara di bawa Julio entah kemana tinggal Dwi sendiri meringis kesakitan karena ujung bibirnya pecah.


"Ji lo yakin tinggalin suami lo sendiri lo gk takut dia nekad apalagi lo pergi sama gue" tanya Randy


"Biarin dia sendiri dulu, gue juga masih gak karuan semua rasa bercampur" ucap Jihan.


Tiba tiba Jovan memeluk Jihan dan memberikan kekuatan tapi Jihan justru menangis. Dani menyuruh Jihan untuk kembali ke ruangan Dwi Jihan mengangguk. Jovan melepaskan pelukannya setelah tangisan Jihan reda.


"Ya udah Bang, kalian hati hati" ucap Jihan.


"Kak Randy makasih udah bantuin tadi" ucap Jihan.


"Iya no problem, paling gue yang dalam masalah " ucap Randy.


"Tenang aja gue urus itu" ucap Jihan tersenyum.


"Oke semangat ya jangan biarin ****** itu rebut tempat lo gue yakin Dwi bukan orang seperti itu" ucap Randy.


"Gue tau itu, Abang udah ceritain semua tentangnya" ujar Jihan ..


"Oke oke kapan pulang ini" ucap Dani.


"Ih kakak" ujar Jihan merengek.


"Udah pergi sana" ucap Dani.


Jihan berjalan menjauhi ke tiga pria tampan yang sedang menatapnya. Jihan terus berjalan dengan penuh wibawa ke ruangan Dwi saat baru sampai di depan ruangannya terdengar kegaduhan dari dalam namun sekertaris Dwi melarang Jihan masuk.


Prank........

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya guys....


__ADS_2