
Jihan mengalihkan pandangannya karena malu. Wajahnya kini bersemu merah membuat Dwi senang. Jihan membenarkan bajunya yang sempat tersingkap sedikit tadi Dwi memeluk Jihan dari samping dengan manja membuat Jihan senyum senyum.
"Sayang mau gak panggil saya mas lagi" ucap Dwi.
"Hm" ujar Jihan.
"Jawaban apa itu" ucap Dwi meledek menyentil hidung Jihan.
"Iya iya, udah dong engap nih" ucap Jihan.
"Engap atau sesak" ledek Dwi.
"Bisa gak si serius" ujar Jihan cemberut.
"Bisa dong masa gak" ujar terus meledek Jihan.
"Ji bukain ini dong" teriak Dani.
"Buka apa Kak" tanya Jihan menjawab dengan teriakan.
"Gue pinjem gitar dong" ucap Dani.
"Ya" ujar Jihan semangat lalu membebaskan diri dari Dwi daan berjalan ke arah Dani dengan menggerai rambutnya sembari terus tersenyum.
"Senyum senyum kayak orang gila" ujar Dani.
"Hehe biarin" ujar Jihan membuka ruangan yang Jihan jadikan sebagai studio musik miliknya.
Dani masuk lalu mencari barang incarannya di ikuti Fero yang juga ikut masuk di susul dengan yang lainnya.
Tuhan
Perubahannya semakin terlihat di mataku
Salah apa diriku
Ku semakin merasa jauh
Mungkinkah rasa sayangku tak lagi berarti untukmu
Sebuah lirik Fero nyanyikan dengan menatap lurus ke Jihan. Jihan lngsung mengganti pandangannya ke Dani Jihan merasa tidak enak apalagi Putri berada di ambang pintu dengan tetesan air mata.
Jihan menatap Dani seperti meminta pertolongan agar dia tidak meneteskan air matanya. Jovan datang lalu memeluknya tau kalau Jihan sedang menahan air mata.
"Abang kenapa" ujar Jihan dengan suara tegar.
"Duet kuy, kangen duet sama kamu sekalian panasin si Dwi itu" ucap Jovan mengedipkan matanya.
"Kuy lah" ujar Jihan berjalan mengambil posisi duduknya dengan sebuah gitar di tangannya sedangkan Jovan duduk di depannya.
...Di sini aku bagai rembulan menunggu...
...Ku harap bintang berkulau terang...
...Duhai kasih kuatkanlah hatimu...
...Ku akan kembali membawa cintaku untukmu...
...Ku akan kembali membawa cinta untukmu...
...Sapai bila ku terlena di seorangan...
...merana perihnya kesepian...
...Tergapai impian cinta berdua...
...Tak mungkin aku jauh darimu sekian lama...
...Tak mungkin aku jauh darimu sekian lama...
...Tak sanggup lagi tersiksa hati ini...
...Ku juga merasa yang engkau derita...
...Segera kembali bawa diriku pergi...
...Aku kan pulang menjemputmu sayang...
...Kekasih rinduku...
...Disini ku menunggumu...
...oh sayang cintaku...
...Setiaku kepadamu...
...Kembali padaku...
...Obati rasa rinduku...
...Sabrlah menanti janganlah kau bersedih...
...Kuatkanlah hati...
...Sapai bila ku terlena di seorangan...
__ADS_1
...merana perihnya kesepian...
...Tergapai impian cinta berdua...
...Tak mungkin aku jauh darimu sekian lama...
...Tak mungkin aku jauh darimu sekian lama...
...Tak sanggup lagi tersiksa hati ini...
...Ku juga merasa yang engkau derita...
...Segera kembali bawa diriku pergi...
...Aku kan pulang menjemputmu sayang...
...Kekasih rinduku...
...Disini ku menunggumu...
...oh sayang cintaku...
...Setiaku kepadamu...
...Kembali padaku...
...Obati rasa rinduku...
...Sabrlah menanti janganlah kau bersedih...
...Kuatkanlah hati...
Jihan dan Jovan menyanyi dengan sangat menghayati lagu tersebut sampai mereka teebawa suasana. Dwi yang melihatnya justru merekam Jihan dengan senyuman mengembang.
"Love you Ji" ujar Jovan.
"Love you Bang" ucap Jihan
"Love you Honey" teriak Dwi.
"Love you mas" ucap Jihan membuat Dwi berbinar.
"Liat noh suami lo salah tingkah haha" ledek Dani.
"Ay bisa bicara berdua" tanya Fero mendekat.
"Bicara aja di sini semua orang di sini terpercaya kok" ucap Jihan.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu" tanya Fero.
"Sebenarnya gue males jawabny, gini ya kenapa gue selalu di hadapkan dengan pertanyaan pertanyaan terkait itu gini kalau pun pernikahan gue terlalu indah kalau gue gak beesyukur tetep aja berasa surem begitupun sebaliknya iya gak" ujar Jihan di angguli Fero.
"Jawaban gue, bakal gue jalani bagaimanapun caranya" ujar Jihan.
"Lo gak harus selalu berkorban Ay" ucap Fero membuat Jihan meletakkan gitarnya dan berdiri sejajar dengan Fero.
"Gini deh Ta, gue gak peduli sama hidup gue dan kenapa lo mati matian berjuang sekarang kemana aja lo" ujar Jihan.
"Ay lo gak kasih izin gue buat lebih deket sama lo Ay" ucap fero.
"Oke gue salah, tapi kenpaa lo gak bawa gue lari kabur gitu pas gue udah di jodohin bukannya lo juga menerima perjodohan lo juga" ucap Jihan.
"Gue peduli sama senyuman mama" ucap Fero.
"Gue juga, Ibu sama mama Sri adalah dua orang yang Jihan pertahankan senyumannya bahkan gue gak peduli sama senyuman gue sendiri gue bahkan mengkesampingkan mak gue sendiri Ta melihat dua orang itu tertawa tersenyum tanpa beban udah buat gue tenang" ucap Jihan.
"Lalu bagaimana sekarang" tanya Fero.
"Sekarang gue bahagia dengan kehidupan gue, jangan berjuang buat mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan dengan melepaskan sesuatu yang sudah kamu dapatkan" ujar Jihan.
"Tapi Ay" ujar Fero menarik tangan Jihan
"Ta, lihat dia lo gila lo udah bukan Ata yang gue kenal lo gak layal.dulu peduli dengan perasaan orang" ujar Jihan menghempaskan tangan Jihan.
"Ini semua karen kamu Ay" ujar Fero.
"Inget ini gue gak peduli sama perasaan gue yang penting gue menjalaninya bukan berlari, kalo lo beneran pengin gue bahagia maka lepasin gue biarin gue menjalani ini semua dengan senyuman" ujar Jihan.
"Karena gue tau senyum lo gak pernah tulus" ujar Fero
"Gue bahkan gak tau arti tulus yang penting ikuti alur tanpa drama paham" ujar Jihan melenggang pergi.
"Karena gue membenci dia" ujar Fero menunjuk Putri.
Jihan tersenyum sinis lalu berbalik dan menatap Fero.
Plakkk....
Tamparan keras Jihan mendarat di pii mulus Fero membuat semua orang menatapnya. Jiha tidak peduli dengan tingkahnya dia juga kembali memukul Fero membuat tatapan mematikan Fero.
"Itu karen lo menyakiti hati wanita, dan ini" ujar Jihan kembali memukul Fero dengan tinju yang lebih keras
"Karena lo buat adek ipar gue nangis paham" teriak Jihan
"Ay" teriak Fero.
__ADS_1
Jihan tidak peduli dia tetap pergi namun Fero menarik tangannya keras sampai Jihan terjatuh di pelukannya. Fero langsung mencium bibir Jihan membuat Jihan membulatkan matanya sedangkan semua orang tercengang.
Jihan mendorong Fero keras namun tenaganya kalah jauh. Dwi langsung menarik Jihan dari pelukan Fero. Fero menahannya membuat Jihan semakin marah padanya.
"Setan lo lepasin" ujar Jihan.
"Lo bilang gue setan" ujar Fero mencengkram dagu Jihan.
"Lepasin tangan lo" ujar Dwi marah.
Jihan langsung menhempaskan tubuh Fero keras keras saat Dwi menarik tangan Fero membuatnya terbebas.
"Sini lo" ujar Dwi.
"Mas" panggil Jihan sembari memeluk Dwi.
"Kamu menghalangi saya" ujar Dwi.
"Gak gitu tapi ini" ujar Jihan memegang bibirnya.
"Apa enak di cium gitu" ucap Dwi masih marah.
"Mas ih... yang peka dong nyebelin" ujar Jihan pergi dengan kemarahan saat berpapasan dengan Putri yang sudah berderai air mata Jihan tidak memperdulikannya. Jihan pergi ke dapur dan membasuh bibirnya keras keras bahkan dia mencuci bibirnya dengan sabun cuci piring membuat semua maid hanya menatapnya.
Jihan langsung mengambil tisu dan dan mengelap bibirny keras keras sembari air matanya terus mengalir sedangkan Dwi masih memanas di ruangan tadi.
"Woi liat Jihan tuh nangis lo malah asik berantem di sini" ujar Jovan memukul Dwi.
"Jihan" ujar Dwi langsung mencari sosok Jihan.
Dwi mencari cari Jihan di semua tempat. Sampai dia melihat Jihan sedang menangis tanpa suara di depan ke dua orang tuanya dan mertuanya sembari mengusap bibirnya keras keras.
"Sayang" ujar Dwi mendekt justru membuat Jihan menangia keras.
"Lo lo" ujar Papa Seno.
"Gak tau pah" ujar Dwi.
"Maaf" ucap Jihan membut semua orang semakin bingung.
"Oke sekarang kamu bisa cerita" ucap Dwi lembut membuat Jihan menatapnya.
Jihan hanya menggeng dengan terus mengelap bibirnya keras keras membuat Dwi mulai berfikir dan tau apa yang membuat Jihan menangis. Dia mengingat ucapan Jihan sebelum pergi.
"Maaf mas gak peka, sekarang gimana" tanya Dwi Jihan hanya menggeleng.
"Mah pah bentar ya" ujar Dwi membawa Jihan pergi menjauh dari para orang tua.
"Maaf ya" ujar Dwi melepaskan tangannya dan merangkup wajah Jihan.
"Maaf gak bisa jaga diri" ucap Jihan.
"Hm, gak papa bukan salah kamu sayang mau gak mas hilangin bekasnya" ujar Dwi dengan senyuman lembut.
"Hm" ujar Jihan kembali meneteskan air matanya.
"Gini" ucap Dwi sembari mengecup bibir Jihan lembut dan lama.
"Jangan ingat kejadian tadi ingatlah kalau kamu hanya melakukannya sama mas kamu tidak pernah melakukan kesalahan oke" ujar Dwi saat selesai diangguki Jihan.
Dwi tersenyum dan menghapus air air mata yang menetes di pipi Jihan. Dia langsung mencium ke dua pipi Jihan dan kening Jihan. walaupun hatinya masih sangat panas melihat Jihan di sentuh Fero tadi tapi melihat reaksi Jihan seperti itu membuat Dwi meredakan emosinya.
"Mas" ujar Jihan lembut membuat Dwi menatapnya.
"Kenapa, mau lagi" ledek Dwi.
"Iz, makasih udah mau ngerti Jihan maaf Jihan udah jahat banget sama kamu selama ini" ucapan Jihan membuat Dwi memeluknya erat.
"Yang lalu biar berlalu, lagian itu konsekuensi yang harus mas tanggung mulai sekarang kamu milikku dan aku milikkmu jangan sungkan " ucap Dwi di angguki Jihan.
"Ya udah yuk ke sana mama papa pasti khawatir" ucap Dwi di angguki Jihan.
Dwi berjalan lebih dulu di depan Jihan namun Jihan mengejarnya dan menggenggam tangn Dwi membuat Dwi berhenti dan mentapnya. Sedangkn Jihan hanya tersenyum membuat Dwi mengeratkan genggamannya.
"Kenapa Ji" tanya papa Prasaja tersenyum mwlihat kedekatan Jihan dan Dwi
"Kena pelet pah" ujar Jihan tersenyum.
Kedua orang tua Jihan maupun Dwi tersenyum mendengar ucapan Jihan. Apalagi sejak kedatangannya tadi Jihan memang terus menempel pada Dwi seakan tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Di saat Putri datang setelah lama menangis di ikuti Fero yamg sejak kedatangannya terus menatap Jihan namun karena Dwi tau sebelum Jihan menyadarinya membuat Dwi selalu mengalihkan pikiran Jihan pada Fero.
.
...
.
.
jangan lupa dukungannya ya guys...
terima kasing yang selalu mensuport...
Selamat hari raya idul adha bagi yang merayakan....
__ADS_1