Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kapten


__ADS_3

"Ada apa tuh" ucap Jihan.


"Gak tau, kalian semua bersiaplah" ucap Dika.


"Oke" ucap semua sahabat sahabatnya mengeluarkan semua senjata membuat Hana Nisa dan Mona membulatkan matanya.


"Sorry guys punya gue di mobil" ucap Jihan.


"Gue bakal lindungi lo bergegaslah" ucap Dika.


Jihan berlari ke arah mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Jihan mengambil tiga buah senjata yang selalu dia bawa kemanapun di mobilnya.


"Mas Bang" ucap Jihan melemparkan senjata kepada Dwi dan Jovan sesaat setelah kembali ke teman temannya.


Semua yang membawa senjata berdiri melingkar melindungi semua orang yang tidak membawa senjata. Orang dengan pakaian serba hitam mulai terlihat membuat banyak warga kocar kacir.


"Siapa mereka apa ada yang mengenalnya" ucap Jihan.


"Gak jelas mereka pakai masker" ucap Dika.


"Gue juga gak tau, gue rasa gak punya musuh" ucap Dwi.


"Bang lo bisa bawa mereka semua ke dalam rumah dan suruh Kevin Rey Papa om dan semua orang siaga" ucap Jihan.


"Oke, kak Dani lo sama gue lindungi mereka" ucap Jovan.


"Oke, guys bergegas" ucap Dani lalu berlari ke arah rumah.


Rumah Jihan terkepung banyak orang membuat Jihan sangat terpojok pasalnya dari segi jumlah mereka kalah besar apa lagi di sana banyak orang yang tidak pernah melihat adegan perang.


"Ji" panggil Dwi saat melihat Jihan gemetar.


"I'm oke" ucap Jihan.


"Siapa kalian" tanya Jihan.


"Anda tidak perlu tau siapa kami nona, karena kami hanya butuh tubuh anda" jawab nya.


"Siapa yang menyuruh kalian" tanya Jihan.


"Serahkan diri anda atau anda akan melihat mereka semua mati di depan mata anda" ucapnya.


"Guys gue gak mau mereka mati, bidik di kelemahan mereka saja" ucap Jihan.


"Oke Ji, kayaknya mereka ngincer lo deh" ucap Viki.


"Hm, jadi gue mohon bertahanlah gue gak mau kehilangan salah satu dari kalian" ucap Jihan.


"Oke" ucap semua orang.


Dwi tersenyum karena Jihan mendapat banyak dukungan. Saat orang orang tersebut mendekat dan terus mendekat Jihan dkk mulai menghajar mereka. Walupun mereka tau bahwa jumlah mereka kalah banyak.


"i'm sorry guys, so so sorry" ucap Jihan.


"No problem" ucap Sonia.


Jihan berkolaborasi dengan Dwi menghajar mereka semua bersama teman temannya saat sebagian sudah terkapar di tanah Jihan kembali menghajar tanpa takut mati.


Saat salah seorang dari mereka berhasil menggores tangan Jihan membuat Jihan terbakar amarah. Jihan membidik dengan tepat dan tak butuh waktu lama mereka semua sudah terkapar.


Prokkk prokkk prokkkk


Seseorang keluar dari dalam mobil membuat Jihan menatapnya dengan tajam. Dia berjalan mendekat dan semakin dekat saat wajahnya mulai terlihat Jihan membulatkan matanya dan tiba tiba pingsan di depan orang tersebut.


"Woi bangun, masih aja lo pingsan" ucapnya.


"Berhenti menyentuhnya atau saya tidak senggan menghabisi anda" ucap Dwi menodongkan senjata.


"Yaya bawa tuh" ucapnya menjauh dan berjalan lebih dulu ke rumah Jihan.


Dwi menggendong Jihan ke rumahnya namun saat sampai di ruang tamu semua sahabat Jihan bingung pasalnya semua orang menyambut baik orang yang baru saja datang.


"Siapa dia Van" tanya Dwi sembari mencoba membangunkan Jihan.


"Udah biarin aja Jihan, bentar lagi juga bangun" ucap nya.


"Siapa lo" ucap Dwi.


"Lo tanya aja sama Jihan nanti" ucapnya.


"Nak Dwi dia Kapten Leon, seseorang yang menyelamatkan Jihan saat masih kecil" ucap Papa Jihan.


Dwi menatapnya tajam namun dia langsung memutuskan tatapannya saat merasakan kalau Jihan menggerakkan tangannya.


"Are you oke" tanya Dwi.

__ADS_1


"Hm" ucap Jihan mendudukkan diri.


"Apa ada yang sakit Ji" tanya Dwi.


"Gak cuma sedikit pusing, kamu baik" tanya Jihan.


"Syukurlah guw takut lo pergi" ucap Dwi memeluk Jihan di balas pelukan hangat Jihan .


Semua orang hanya menatap pasangan tersebut dengan senyuman yang mengembang.


"Apa kabar Ji" ucap seseorang membuat Jihn menatap sekeliling.


"Eh Kapten baik" ucap Jihan masih dalam pelukan Dwi.


"Gimana hadiah gue seru kan" ucapnya.


"Seru gila yang ada mau buat orang satu desa mati denger suara peluru" ucap Jihan.


"Tapi gak akan pernah lo lupain hadiah gue" ucap Leon.


"Mas mas" ucap Jihan saat Dwi tidak kunjung melepaskan pelukannya.


"Are you oke, mas mas " ucap Jihan mulai panik.


"Mah pah Bang" ucap Jihan takut.


Jovan membantu Jihan melepaskan pelukannya dan ternyata Dwi tidak sadarkan diri.


"Wi wi" ucap Jovan menepuk nepuk Dwi.


"Bang" ucap Jihan menangis.


"Kenapa" tanya Jovan.


"Da da darah Bang" ucap Jihan menekan perut Dwi.


"Wi wi, banyak kehilangan darah nih Dokter Ridwan kemana lo" ucap Jovan.


Jovan berlari kesana kemari mencari Ridwan sedangkan semua orang hanya bisa menatap.karena terlalu syok.


Jihan merapikan sova dan membaringkan Dwi Jihan bahkan melepaskan dengan paksa baju yang Dwi pakai.


Jihan membulatkan matanya saat melihat luka Dwi. Jihan berlari dan mencari P3K yang selalu dia bawa di mobilnya. Dengan bantuan Ridwan yang di paksa di tarik ke rumah Jihan oleh Jovan saat berada di kliniknya.


"Ji lo tenangin aja diri lo" ucap Ridwan.


"Serahin sama gue" ucap Ridwan.


"Makasih dok" ucap Jihan.


Jihan berjalan ke arah Leon yang sedang menatapnya mendamba. Jihan melayangkan pukulannya ke wajah Leon membuat semua orang membulatkan matanya.


"Puas lo ha puas, lo pengin hadiah lo gak bakal gue lupain ini hadiah lo ha jahat banget lo" ucap Jihan memukul Leon bertubi tubi.


"Sorry Ji gue gak maksud buat itu" ucap Leon.


"Terus maksud lo apa, kenapa gak langsung lo tembak kepala dia di depan gue ha" ucap Jihan.


" Maaf Kapten salah seorang di antara anak buah anda adalah seorang mata mata" ucap salah seorang anak buah Leon.


"Bawa dia kemari" ucap Leon tegas.


"Maaf Ji gue gak teliti" ucap Leon.


"Kenapa kenapa lo seceroboh ini lo mau tanggung jawab soal ini ha" ucap Jihan lirih.


"Sorry Ji sorry" ucap Leon mendekap Jihan dalam.peukannya membuat Jihan kembali menangis.


Brugh....


Anak buah Leon membawa orang yang di curigai sebagai mata mata. Jihan melepaskan pelukan Leon lalu menatap wajah orang tersebut.


"Lo, apa maksudnya ini" ucap Jihan kepada orang yang di sangka mata mata.


"Maaf Nona, tapi saya hanya di suruh" ucap Nya.


"Siapa" tanya Jihan.


"Nona Clarisaa" ucap nya.


"Clarissa, apa alasan dia dan berapa uang yang lo terima dari dia" ucap Jihan.


"Sebenarnya saya di suruh untuk melenyapkan anda Nona" ucap nya.


"Gue, terus kenapa lo serang dia" ucap Jihan.

__ADS_1


"Karen Tuan Muda melindungi anda" ucapnya.


"Rey" panggil Jihan keras.


"Ya Nona" ucap Rey.


"Kamu kenal siapa dia kan lakukan apa yang harus lo lakukan" tanya Jihan.


"Siap Nona" ucap Rey.


"Maaf kan saya Nona maaf" ucapnya memohon kepada Jihan


Jihan berjalan pergi namun dengan cepat merebut pistol yang ada di saku Leon lalu menodongkannya ke arah orang suruhan Clarissa.


"Jangan gitu lepasin" ucap Dwi memeluk Jihan dari belakang lalu tersenyum dan melepaskan senjata yang Jihan pegang.


"Mas kamu" ucap Jihan menatap Dwi dari samping.


"I'm oke Honey" ucap Dwi.


Jihan langsung membalikkan badannya dan memeluk Dwi erat. Dwi langsung memberikan kembali senjata yang dia ambil dari Jihan kepada Leon.


"Vin berikan dia uang dua kali lipat dari yang Clarissa kasih kamu pasti tau langkah selanjutnya" ucap Jihan.


"Siap Bos" ucap Kevin langsung membawa orang Clarissa pergi bersama Rey.


"Siapa dia Ji" tanya Leon.


"Dia orang yang di percaya di perusahaan DJ putra tapi ternyata dia anak buah Clarissa" ucap Jihan.


"Mungkin dia butuh uang" ucap Dwi.


"Kenapa kamu gak marah sama dia liat luka tuh" ucap Jihan.


"Mas malah mau berterima kasih sama dia karena dia mas lihat kamu menangis karena mas" ucap Dwi tersenyum.


"Jahat ya" ucap Jihan.


"Lo gak mau kenalin dia sama gue Ji" ucap Leon


"He sorry lupa, mas kenalin dia Leon teman Jihan waktu kecil tepatnya dia yang selamatin Jihan dari gangguan anjing gila dan Leon kenalin dia suami gue mas Dwi" ucap Jihan.


"Pantes aja lo paling takut sama Anjing" ucap Zira.


"Diem lo" ucap Jihan.


"Ji ganteng juga kenalin dong" ucap Zira.


"Ya udah Leon ini Zira musuh gue sahabat gue temen gue dan adek gue" ucap Jihan.


"Banyak amat" ucap Leon


"Tapi dia cantik kok bisa di pakai buat mainan" ucap Jihan tersenyum.


"Gak apa apa di jadiin mainan dari pada di jadiin kambing hitam" ucap Zira.


"Salam kenal " ucap Leon mengulurkan tangannya di sambut baik Dwi.


"Ji ganti baju noh penuh darah" ucap Jovan.


"Aduh baju baru nih" ucap Jihan.


"Ya udah nanti beli lagi" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan pergi dengan jalan pincang.


"Ji kamu kenapa jalannya pincang gitu" tanya Dwi.


"Pincang kenapa pincang ya emang gue luka" ucap Jihan membuat semua orang tertawa.


Jihan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat selesai Jihan merasa banyak bagian tubuhnya yang perih. Ternyata di kaki dan tangannya ada sebuah luka senjata tajam.


Jihan mengingat ingat apa yang membuatnya luka ternyata saat dia bertarung dengan orang Clarissa dia lengah membuat orang itu bisa melukainya.


"Bang Ridwan bantu Jihan" ucap Jihan saat sampai di ruang keluarga.


"Kenapa Ji" tanya Ridwan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komentarnya ya...


__ADS_2