Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 178


__ADS_3

Kelahiran penerus keluarga Bramasta menjadi sebuah berita besar di oenjuru negeri. Bahkan karena hebohnya berita itu rumah sakit tempat Putri melahirkan di jaga ketat oleh keluarga Suseno juga.


Di lain tempat Dwi sedang menikahi seseorang yang bahkan tidak ingin dia nikahi karena sebuah kesalah pahaman. Saat dia mabuk tak sadar dia memaksa meniduri wanita itu dan menganggapnya Jihan.


"Wi kamu dimana" tanya Mama Sri yang terdengar panik.


"Sebentar Mah kenapa" tanya Dwi.


"Putri melahirkan" ucap Mama Sri membuat Dwi ikut bahagia.


Dwi tersenyum lalu dia pergi membawa istri barunya itu ke rumah sakit tempat Putri berada. Saat Dwi datang dengan wanita itu Putri menatapnya aneh begitupun dengan yang lain di sana.


"Siapa dia Wi" tanya Mama Sri saat Dwi datang dengan wanita yang terus menempel padanya.


"Dia istriku mah baru aja akad" ujar Dwi membuat semua orang membengong.


"Bercanda lo gak lucu Kak" ucap Putri.


"Gak bercanda dan ini buktinya" ucapnya memperlihatkan sebuah buku nikah.


"Kamu gila Wi" ujar tuan Seno.


"Iya pah Dwi gila " ujar Dwi dengan nda tinggi.


"Gak papa Wi, ini sudah jalanmu cintai dia memang sudah saatnya kamu mencari pengganti Jihan tante ikut seneng" ujar nyonya Prasaja yang juga ada di sana menemani Putri.


"Maaf" ucap Dwi.


"Jangan minta maaf oke, kamu berhak" ujar mama Anggun.


"Putri tante duluan ya, melihat kamu melahirkan anak yang sangat ganteng ini membuat tante ingin menculiknya" ujar Mama Anggun.


"Tidak tante jangan Putri aja belum mengendongnya" ujar Putri.


"Ya udah ya tante pulang" ujar Mama Anggun pergi dengan cepat saat berjalan dia terus meneteskan air matanya mengingat Jihan yang juga mungkin sudah melahirkan juga.


Mama Anggun terisak bahkan dia tidak bisa melanjutkan perjalannya karena terlalu sedih. Di ruangan Putri Dwi menatap anak Putri dengan meneteskan air matanya.


"Kak Dwi jangan sedih dia juga anakmu ya gak Put" ucap Fero


"Iya Kak Dwi berbahagialah" ucap Putri memeluk Dwi erat.


Tangis Dwi pecah saat Putri memeluknya erat. Dwi teringat Jihan walau sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Jihan lagi namun ingatannya tentang Jihan masih sangat jelas.


Sedangkan di lain negara Jihan masih bekerja di tokonya. Dia merasa perutnya sakit namun masih dia tahan untuk menyelesaikan kerjanya.


"Anak bunda akankah hari ini kamu akan melihat dunia" ujar Jihan saat sakit yang dia rasakan semakin sering.


Jihan langsung menutup tokonya dia langsung pergi ke rumah sakit dengan tas besar di tangannya. Dia mempersiapkan semuanya dari jauh hari karena dia seorang diri di sini sehingga dia tidak bisa meminta tolong siapapun.


Saat sampai di rumah sakit Jihan merasakan perutnya semakin sakit dan cairan keluar dari jalan lahir membuat perawat yang mrlihatnya langsung membawa Jihan ke ruang UGD.


Tak berselang lama seorang dokter kandungan datang dan memeriksa Jihan ternyata dia sudah siap melahirkan. Tak berselang lama suara tangisan bayi terdengar membuat Jihan tersenyum namun perutnya kembali mulas dia kembali melahirkan seorang anak perempuan.


"Selamat Nona anak anda keduanya selamat" ujar seorang dokter yang membantu Jihan.


"Dua dok" ujar Jihan masih belum percaya.

__ADS_1


"Ya Nona suatu keajaiban pasalnya selama pemeriksaan anda hanya satu yang terdeteksi dan ke dua anak anda sehat" ujarnya.


"Syukurlah terima kasih dok" ujar Jihan.


Jihan merasa sangat bahagia dengan kelahiran dua anak sekligus. Dia juga sedih pasalnya suaminya tidak berada di sana mungkin saja dia tidak jauh dari keluarganya sekarang dia bisa melihat senyuman semua orang di sana.


Jihan langsung di pindah ke ruang inap dengan dua bayinya untungnya keadaan Jihan juga sehat sehingga dia bisa langsung menyusui ke dua anaknya itu.


"Anak anak manis siapa bunda kasih nama ya" ujar Juhan sembari bermain dengan ke dua bayi mungilnya.


"Gimana kalau Jenifer dan Justine" ujar Jihan tertawa.


"Bagus Nona nama yang anda kasih, anak pertama anda laki laku sedangkan perempuan dia lahir setelahnya" ujar Dokter yang melihat keadaan Jihan maupun bayinya.


"Terima kasih dok" ujar Jihan.


"Anda bisa mengurus surat kelahiran mereka Nona biar saya bantu" ucap sang dokter pasalnya dia tau kalau Jihan seorang diri di negara itu.


"Terima kasih dok anda banyak membantu saya" ucap Jihan membuat sang dokter tersenyum.


"Justine Dwi Putra sedangkan kamu Jenifer Dwi Putri" ujar Jihan meneteskan air matanya.


Sang dokter tersenyum dia langsung memeriksa keadaan Jihan maupun bayinya. Setelah itu membiarkan Jihan dan bayinya istirahat setelah sebelumnya Jihan meminta untuk mengabadikan momen itu.


Setelah itu Jihan istirahat dia merasa bahagia dan sedih yang bercampur aduk. Dia nelupakan kegelisahannya dan menggantinya dengan kebahagiaan yang ada di depan matanya.


"Mah pah cucumu sudah lahir mereka sangat manis, berikan kekuatan kalian pada Jihan agar Jihan bisa menjaga mereka dengan baik mas Dwi berbahagialah di sana jika memang kamu sudah memiliki penggantiku Jihan janji gak akan pernah melupakanmu sebagai ayah Justine dan Jenifer" ujar Jihan dalam hati sembari menatap ke dua anaknya.


Hari terus berganti Jihan sudah di perbolehkan untuk pulang bersama dengan ke dua anaknya. Meski repot mengurus ke dua anaknya sendiri namun karena sang dokter yang sering membantunya membuatnya sangat senang.


"Tidak, percayalah" ujarnya.


"Apa bisa anda menjaganya saya harus membeli kebutuhan untuk sehari hari" ujar Jihan tidak enak.


"Hei jangan begitu pergilah" ujarnya lembut.


"Terima kasih" ucap Jihan.


"Hm, lagian tidak jauh dari sini oh ya sudah cukup kamu memanggilku anda dan menganggapku asing panggil saja Ryemond" ujarnya.


"Tapi" ujar Jihan.


"Tak apa" ucapnya lembut dengan tatapan tajam ke mata Jihan membuat Jihan salh tingkah.


"Ya sudah Jihan pergi dulu" ujar Jihan.


Jihan pergi membeli kebutuhan sehari hari. Dia menjalani hidup dengan bahagia selama ini terutama setelah kelahiran ke dua anaknya apalagi Rymond yang selaly ada dia tetap menjaga tokonya agar dia dapat penghasilan. Dia lain tempat istri baru Dwi sedang mengandung anaknya.


"Sayang mau itu" ujar istri baru Dwi manja.


"Oke" ujar Dwi masih sangat dingin dengan istri barunya itu apalagi kebiasaannya berbanding terbalik dengan Jihan yang sangat mandiri.


Walau sudah beberapa bulan berlaku hidup bersama Dwi masih belum pernah menyentuhnya lagi hanya dia ingin menjaga anak yang ada di kandungannya saja.


"Sudah saya ingin bekerja" ujar Dwi.


"Bisa gak si jangan kerja dulu lagian kan gak bakal ada yang mecat kamu" ujarnya.

__ADS_1


"Kalau gak kerja bisa bangkrut dan lo hidup miskin mau" ujar Dwi kesal.


"Ya deh jangaan miskin ya" ujarnya tersenyum dan membiarkan Dwi pergi.


Dwi pergi dengan sangat kesal apalagi istri barunya itu hanya ingin tinggal di mansion utama kediaman Suseno. Walau keluarganya sangt baik namun hati Diw masih tidak bisa melupakan Jihan.


"Rey berangkat sekarang" ujar Dwi di angguki sang asisten.


"Jihan maafin gue gue masih gak bisa buat lo hilang dari hati gue" ujar Dwi merenung dalam mobil.


"Bos hari ini akan sangat sibuk dan mungkin akan selesai saat malam apa tidak masalah tau saya harus mengatur ulang jadwalnya" ujar Rey.


"Lakukan sesuai jadwal" ujar Dwi.


"Nona Jihan anda dimana setelah anda pergi semua berubah" ujar Rey dalam hati.


Sedangkan di lain tempat Julio sedang berjibaku dengan Kevin untuk mengatur perusahaan Ayasta. Walau Jihan pergi Ayasta tidak pernah goyah Julio tau kalau Jihan sesekali pergi ke situs web perusahaan itu pasalnya setiap seseorang mencoba masuk pasti langsung terkena Virus.


Kevin berada di Ayasta hanya sesekali saat Julio butuh bantuan karena dia harus bekerja full time di Bramasta apalagi setelah Putri melahirkan Fero jarang ke kantor kecuali hal mendesak.


"Nona Jihan saya butuh bantuan" ujar Julio berteriak saat banyak berkas yang harus dia kerjakan walau sudah sangat lama Jihan pergi dia masih belum terbiasa.


"Percumah Jihan gak bakal denger" ujar Kevin yang sedang membantu.


"Ya kali gue teriak dia denger terus pulang" ujar Julio.


"Berapa kali lo teriak apa dia pulang" tanya Kevin.


"Gak si" ucap Julio.


"Em Vin sebenernya nih ya selama setahun terakhir gue merasa ada yang selalu bantu gue dari jauh" ujar Julio membuat Kevin menatapnya dan tersenyum.


"Ngarang lo maksudnya Jihan bantu gitu" ujar Kevin membuat Julio mengangguk.


"Apa alasan lo" ujar Kevin.


"Lo sadar gak si kalau perusahaan mulai goyah apalagi saham turun dikit aja belum gue benerin udah langsung naik" ucap Julio.


"Bukan lo yang benerin" tanya Kevin.


"Bukan" ujar Julio.


"Jadi dugaan gue bener selama ini lo gak mungkin secepat itu benerinnya" ucap Kevin.


"Jadi lo merasakannya juga" tanya Julio.


"Hm, gue mau bilang tapi takut lo gak percaya lagian biarin aja kalu beneran itu Jihan siapa tau ada alasan besar di baliknya dan mungkin ini yang terbaik untuknya kalau dia tau Dwi nikah lagi acur tuh anak" ucap Kevin.


"Iya jalannya sungguh rumit, tapi kan dia pergi pas hamil harusnya dia udah punya anak dong" ujar Julio.


"Semoga aja, gue duluan ya tinggil dikit doang lo jangan banyaken halu" ujar Kevin.


"Yaya" ujar Julio kembali bekerja.


Kevin pergi dari Ayasta dia lngsung ke perusahaan Damantara sembari memikirkan ucapan Julio. Karena kemampuan Kevin bisa di bilang mengimbangi kecerdasan Jihan membuatnya tidak sulit saat melacak seseirang namun Jihan juga tidak main main saat menyembunyikan identitas.


Kevin hanya pasrah saat sudah menemukan petunjuk namun lagi lagi hilang Kevin tau kalau Jihan berusaha menghilang tapi dia tersenyum karena itu dia lega karena bisa memastikan Jihan masih hidup

__ADS_1


__ADS_2