
Jihan berlari ke arah jalan raya lalu menaiki taxi untuk pergi ke sebuah hotel mewah hanya untuk menenangkan diri karena hanya di sana tempat yang tidak di ketahui Abang dan kakaknya.
Hotel mewah milik keluarga Ridwan,. Jadi hanya Ridwan yang tau keberadaan Jihan di sana karena kriawannya memberi tahukan keberadaan Jihan padanya karena Jihan pernah datang ke hotel itu untuk.menemui Ridwan saat dia emosi dia hanya mengirim obat untuk Jihan untuk sekali minum tidak lebih takut Jihan melakukan hal gila.
Karena lelah menangis dan pengaruh obat yang membuatnya mengantuk membuatnya terlelap dengan cepat di sofa. Tak terasa mentari mulai meninggi membuat Jihan harus membuka matanya dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing karena terlalu banyak menangis.
"Huh" ujar Jihan menarik nafasnya panjang.
Setelah membersihkan diri dan bersiap pergi ke apartemennya tiba tiba ponselnya berdering.
"Hallo Bang kenapa" ujar Jihan semangat.
"Semangat bener, gini ada rapat prmegang saham di DJC kamu di suruh papa buat gantiin papa" ucap Jovan.
"Gak mau gue, terus gimana nasib perusahaan gue" ujar Jihan.
"Udah di hendle sama Fero dia mau tadi udah di hubungin papa" ucap Jovan.
"Kenapa gak Abang aja si" ujar Jihan.
"Gue bawa perusahaan kita" ucap Jovan.
"Males pergi gue Bang" ujar Jihan.
"Berangkat sekarang atau gue bilangin sama papa mama kalau lo lagi broken heart" ledek Jovan.
"Siapa yang broken heart ya gue berangkat bentar lagi kita ketemu di sana aja" ucap Jihan.
"Oke adik manis" ucap Jovan.
"Bye Bang" ujar Jihan.
"Bye" ucap Jovan.
Jihan kembali menarik nafasnya panjang tapi dia harus benar benar kuat di depan semua orang. Jihan pergi dari hotel tersebut tanpa sarapan terlebih dahulu dia pergi ke apartemennya yang ternyata Dwi juga ada di sana.
"Dari mana" tanya Dwi saat berpapasan di dapur.
"Dari Hotel" ujar Jihan santai sembari menegak minumannya.
"Sama siapa" tanya Dwi lagi sembari membawa sarapannya ke depan Jihan.
"Sendiri, emang mau sama siapa lagi" ujar Jihan mencoba biasa saja walau sebenarnya hatinya masih tidak karuan.
"Kenapa gak bilang" ucap Dwi sembari makan sarapannya.
"Kalau bilang lo bakal ikut gue gak mikir apa apa nanti" ucap Jihan.
"Masalah kemarin gue udah putusin" ucap Dwi menghentikan sarapannya namun menyuapi Jihan.
"Apa keputusan lo" ujar Jihan.
"Lo lo lo bisa gak si kita kembali kayak dulu jangan pakai kata lo gue " ucap Dwi.
Jihan hanya diam karena Dwi terus menyuapinya. Dwi terlihat berfikir sebentar lalu menggenggam tangan Jihan erat membuat Jihan menatapnya.
"Keputusan yang mas ambil, mas gak akan pernah tinggalin kamu apapun yang terjadi" ucap Dwi.
"Lalu bgaimana dengan kekasihmu" ucap Jihan menelisik.
"Kamu tau segalanya tentang kehidupan yang aku lalui, kamu bahkan lebih mengenaliku di banding keluargaku yang lain kamu tau kan dia hanya pelarian seluruh cinta udah jatuh sama kamu" ucap Dwi.
"Pilihan hanya dua pertahankan rumah tangga kita atau putusin hubungan lo sama dia, pernikhan bukan hal mainan ya walau sampai saat ini gue sendiri belum.tau perasaan apa yang ada tapi gue gak pernah main main dalam menjalani sebuah hubungan pernikahan" ujar Jihan.
"Gue tau itu, gue bakal putusin dia hari ini juga" ucap Dwi.
Saat akan menjawab ucapan Dwi ponsel Jihan kembali berdering membuat Dwi menyuruhnya untuk menerima pnggilan itu.
"Ya Bang" ucap Jihan.
"Sabar kali Bang baru sampai apartemen Abang naik aja dulu kebetulan ada mas Dwi di sini" ucap Jihan.
"......"
"Oke Bang" ucap Jihan tak lama ketukan pintu terdengar.
"Cepet amat Bang" ujar Jihan heran.
"Iya lah gue telfon lo di depan pintu tadi he" ucap Jovan tertawa.
"Huuu dasar, ya udah masuk Jihan siap siap dulu" ucap Jihan.
__ADS_1
"Hm, mana suami lo" tanya Jovan menatap sekeliling.
"Abang gak ganggu kan" tanya Jovan lagi.
"Ganggu banget lo" ucap Dwi muncul.
"Hehe sorry, minta sarapan dong Ji Abang belum sarapan" ucap Jovan.
"Ih repotin aja lo Bang, mau sarapan apa" tanya Jihan.
"Sandwich" ucap Jovan dengan mata berbinar pasalnya sandwich buatan Jihan menurutnya adalah yang paling enak.
Jihan hanya berjalan ke arah dapur dan membuat sarapan dia membuat tiga porsi sandwich dengan cepat membuat Jovan semangat.
"Ya udah Jihan mandi dulu kalian makan dulu" ucap Jihan.
"Ji gak makan dulu" ucap Dwi.
"Nanti aja" ucap Jihan berlalu ke kamarnya.
"Udah nanti juga makan, apa ada masalah" tanya Jovan membuat Dwi menceritakan semuanya kepada iparmya itu.
Jovan manggut manggut sedangkan Dwi terlihat frustasi Jovan bersedia membantu Dwi asal dia akan berjuang mempertahankan rumah tangganya dengan Jihan dan mencurahkan semua kasih sayangnya hanya kepada Jihan dan di larang membuat Jihan menangis.
"Oke, sekarang gue bicara sama dia dulu lo tunggu sini jangan ganggu" ucap Dwi.
"Oke, nih bawain dia sarapan" ucap Jovan
"Oke, ternyata asik jug punya kakak" ucap Dwi berlalu meninggalkan Jovan sendiri.
"Ji, mas masuk ya" ucap Dwi.
Saat masuk Dwi melihat Jihan yang baru keluar dari ruang ganti dengan menggunakan kemeja yang hanya pas di tubuhnya membuat lekukan tubuhnya terlihat.
"Kenapa liatinnya gitu" tanya Jihan.
"Ke kantor pakai itu" tanya Dwi menunjuk buah dada Jihan yang terlalu menonjol.
"Iya tapi nanti di kasih blezer biar gak keliatan ininya" ucap Jihan.
"Nih sarapan" ucap Dwi.
"Makasih" ujar Jihan akan mengambilnya di tanga Dwi namun di tolak Dwi. Dwi menawarkan diri untuk menyuapi Jihan di angguki Jihan.
"Ih geli tau" ucap Jihan meronta.
"Jangan gerak junior gue bangun" ucap Dwi.
"Biarin lagian puasa tau, selama dua bulan" ucap Jihan.
"What kenapa" tanya Dwi.
"Karena wanita yang baru saja melahirkan walaupun belum.waktunya akan bersih saat sudah dua bulan" ujar Jihan.
"Lama" ucap Dwi.
"Emang, di situ ujian suami yang sesungguhnya" ucap Jihan.
Dwi terlihat sangat berfikir keras sedangkan Jihan hanya menatapnya dengan seringai mengerikan.
"Bisakah lo tahan nafsu lo saat ini, atau bisakah gue hidup tanpa kehadiran lo ya walaupun nyebelin tapi gue merasa udah biasa ada lo di hari hari gue" ujar Jihan dalam hati.
Jihan selesai lalu mengambil blezer untuk dia pakai tanpa sadar Dwi tertinggal karena sengja Jihan tak membangunkan Dwi yang asik dengan pikirannya.
"Suami lo mana" tanya Jovan menatap Jihan yang keluar sendirian.
"Di kamar" ucap Jihan santai.
"Gak lo mutilasi kan" ucap Jovan.
"Gue belum sampai tahap itu" ucap Jihan.
"Terus kita berangkat sekarang" ucap Jovan.
"Serah deh Bang" ujar Jihan justru menyandarkan kepalanya di pundak Jovan.
"Ji maafin Abang ya" ucap Jovan membuat Jihan hanya menutup matanya.
"Kenapa minta maaf Abang punya salah" tanya Jihan.
"Hm Abang jadi Abang terburuk, Abang gak tau pe deritaan lo bahkan sering lo menderita karena Abang" ucap Jovan.
__ADS_1
"Masalalu Bang, biarin aja yang penting masa depan" ucap Jihan.
"Ji gimana kalau kenyataan lo harus relain pernikahan lo" tanya Jovan membuat Jihan memeluknya.
Jovan menarik Jihan ke dalam pelukannya menyandarkan kepala Jihan di dada bidangnya.
"Lo tau Bang " tanya Jihan.
"Hm dia cerita semuanya sama Abang" ucap Jovan.
"Dasar gak tau privasi " ucap Jihan.
"Udahlah Ji, apapun yang terjadi jangan sungkan cerita sama Abang, Abang gak mau jadi Abang yang gak pengertian lagi jadikanlah Abang temanmu juga" ujar Jovan membuat Jihan menangis tanpa suara.
Jovan merasa baju yang dia kenakan basah membuatnya ikut manangis. Tak lama Dwi datang dengan tatapan aneh melihat Jihan yang memeluk Jovan erat membuatnya cemburu.
Namun dengan cepat Jovan menyuruh Dwi diam. Dwi hanya menatapnya dengan sebal membuat Jovan tertawa.
"Udah Ji suami lo cemburu tuh" ujar Jovan.
Perlahan Jihan mengangkat kepalanya sembari mengusap air matanya lalu tersenyum.
"Bisa berangkat sekarang Bang" tanya Jihan.
"Bisa kamu mau bareng Abang apa Dwi" tanya Jovan.
"Taxi" ucap Jihan.
"What, Ji sama aku ya" ucap Dwi.
"Gak mau" ujar Jihan melangkah namun dengan cepat Dwi menarik Jihan membuat Jihan oleng dan jatuh di pelukannya.
Jihan menatap tajam tak suka sedangkan Dwi tersenyum puas lalu mengecup bibir Jihan sekilas tanpa mereka ketahui Jovan mengambil foto mereka berdua dan mengirimkannya.
"Makanya bareng" ucap Dwi.
"Di bilang gak mau" ucap Jihan.
"Kalau gak mau gak bakal aku lepasin" ucap Dwi.
"Oke oke" ucap Jihan terpaksa.
"Oke, yuk" ucap Dwi lalu mengganti tangannya ke pinggang Jihan.
Mereka berjalan dengan Dwi yang terus menempel membuat Jihan jengah. Sedangkan di belakang Jovan tertawa dengan tingkh ke dua adiknya itu.
"Oke lama kalau berjalan di belakang kalian gue duluan ya" ucap Jovan berlalu pergi.
"Abang jangan tinggalin gue" ujar Jihan dalam hati.
Saat sudah di depan mobil Dwi Jihan langsung duduk di kurai penumpang membuat Dwi menyerngitkan dahinya.
"Ayok telat nih" ucap Jihan.
"Kenapa duduk ya di situ, aku bukan supir kamu pindah" ucap Dwi.
"Gak mau" ucap Jihan tetap dengan pendiriannya.
"Pindah atau" ucap Dwi memajukan kepalanya.
"Iya iya seneng banget main nyosor aja kayak bebek" cibir Jihan sembari pindah ke samping pengemudi.
Dwi tersenyum lalu melajukan mobilnya ke DJC tempat yang mereka berdua tuju. Sepanjang jalan Dwi terus menggenggam tangan Jihan walau Jihan memberontak tapi Dwi hanya tersenyum membuat Jihan pasrah.
Saat sampai di DJC terlihat beberapa kolega Dwi berjajar di sana membuat Jihan merengut apalagi Dwi yang sudah turun dan membukakan pintu untuknya.
"Gue tolak dia malu gak gue tolak gue yang malu ya Tuhan apa yang harus gue lakukan" ucap Jihan dalam hati.
Tidak menunggu Jihan yang masih berfikir Dwi mengulurkan tangannya menggenggam tangan Jihan membuat Jihan tersentak.
"Siapa yang sama tuan Putra" tanya beberapa kolega.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys....