
Jihan bangun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk mengompres kaki Dwi. Jihan kembali lalu duduk di lantai tepat di depan kaki Dwi membuat Dwi bingung.
"Mau apa" ucap Dwi.
Jihan hanya diam lalu menarik kaki Dwi ke atas pahanya lalu mengompresnya. Dengan sabar dan telaten Jihan mengompres kaki Dwi sampai tidak lagi memerah.
"Ternyata di balik sikap dingin lo ada hati yang begitu hangat Ji, gak salah gue pilih lo jadi teman hidup gue" ujar Dwi dalam hati.
"Udah, mandilah bersihkan diri Jihan mau masak" ucap Jihan.
"Kenapa masak bukannya sudah makan" ucap Dwi.
"Ya tapi kamu belum, gue gak mau lo sakit" ucap Jihan.
"Perhatiannya" ucap Dwi
"Jangan GR dulu gue gak mau repot urusin orang sakit kayak lo" ucap Jihan dingin.
"Yaya terserah, oh gak perlu masak benerin aja tuh rambut kayak mbah jombrong" ujar Dwi berlari.
Jihan lalu melihat dirinya di pantulan kaca ternyata benar dia lupa merapikan rambutnya. Dia langsung pergi ke dapur dan melihat apakah ada makanan di sana. Jihan melihat Cika sedang menyajikan banyak makanan membuat Jihan langsung kembali ke kamarnya untuk merapika rambutnya.
Saat selesai merapikan rambutnya Jihan bangun dari meja riasnya dan berbalik. Saat berbalik Dwi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan perut sispack yang putih bersih membuatnya membulatkan matanya.
"Kenapa Ji Ji" ujar Dwi melambai lambaikan tangannya di depan wajah Jihan namun tak di respon.
cup...
Dwi mencium sekilas pipi Jihan membuat Jihan tersentak.
"Kenapa" ucap Jihan.
"Kenapa ngelamun" tanya Dwi tersenyum
"Gak siapa yang ngelamun" ucap Jihan.
"Kenapa gue jadi mikir yang aneh aneh si, sadar ji sadar" guman Jihan namun masih bisa di dengar Dwi.
"Kenapa mau pegang" ucap Dwi mengikis jarak antara ke duanya.
"Eh gak, pakai baju gih" ucap Jihan.
"Kenapa bukannya tadi terpesona sama ini" ucap Dwi tersenyum lalu menarik Jihan ke pelukannya.
"Jantung bekerjalah dengan normal atau gue pecat dari tubuh gue "ujar Jihan dalam hati.
"Maraton jantungnya" ucap Dwi.
"Emang kedengeran ya" ucap Jihan lalu menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Dwi.
Jihan menggesek gesekkan kepalanya di dada Dwi membuat Dwi menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Kamu menggoda imanku" bisik Dwi tepat di telinga Jihan membuat Jihan membeku sekejap.
Dwi mulai menciumi aroma tubuh Jihan, kemudian mulai mendekatkan wajahnya di leher jenjang Jihan membuat Jihan menutup matanya.
cup...
Hanya kecupan sekilas yang Dwi lakukan karena melihat reaksi Jihan yang di luar dugaan membuatnya tak tega.
"Ya udah siap siap gih kita makan" ucap Jihan gugup.
"Gue mikir apaan si" ujar Jihan dalam hati.
"Mau makan kamu" ucap Dwi.
"Gak gak" ucap Jihan.
"Bentar Ji" ucap Dwi.
"Gak mau" ucap Jihan meronta
"Gak boleh nolak Ji mau durhaka sama suami" ucap Dwi membuat Jihan terdiam.
"Kenapa kok gak berontak lagi" ucap Dwi.
"Gue gue takut" ucap Jihan meneteskan air matany.
"Takut hahaha, udah jangan takut mas bercanda kok mas gak akan ambil sebelum kamu yang menyerahkan nya sama mas" ucap Di mencium kening Jihan.
"Makasih" ucap Jihan memeluk Dwi erat.
"Iya tersenyumlah, bisa bawain makanannya ke kamar aja" ucap Dwi di angguki Jihan.
Jihan pergi untuk mengambil makanan untuk Dwi. Saat sampai di depan pintu Dwi menghentikannya.
__ADS_1
"Ji i love you" ucap Dwi hanya di balas sebuah senyuman hangat dari Jihan.
Saat sampai di meja makan ternyata semua orang sudah berkumpul untuk makan siang bersama termasuk Fero dan keluarganya. Sedangkan sahabat sahabat Fero maupun Jihan baik dari kota maupun dari desa mereka sedang asik di tempat acara sembri makan bersama.
"Eh sayang mana Dwi" tanya Mama Sri.
"Mas Dwi di kamar mah" ucap Jihan.
"Panggil deh kita makan siang bareng" ucap Mama Sri.
"Mas Dwi minta anter makanannya ke kamar" ucap Jihan.
"Kenapa apa menantu mamah sakit" ucap mama Anggun.
"He maaf mah pah, kaki mas Dwi lecet" ucap Jihan.
"Kok bisa" ucap semua orang .
"Tadi waktu pulang Jihan pakai sepatunya mas Dwi tapi dia jalan gak pakai alas kaki jadi lecet" ucap Jihan.
"Hahahha kirain kenapa biarin aja, biar dia rasain gimana jalan pas gak ada sandal" ucap Papa Dwi.
"Kon gitu pah" ucap Jihan.
"Iya ini pertama kalinya dia relain kakinya telanjang demi seseorang bahkan mama sama gue pernah sandalnya rusak tapi kak Dwi malah suruh kita tunggu dia beli sandal lagi" ucap Putri.
"Oh gitu ya" ucap Jihan merasa bersalah.
"Udah bawa aja makanan buat Dwi" ucap papa Dwi.
"Oh iya pah" ucap Jihan mengambilkan makana untuk Dwi dan membawanya ke kamar.
Saat Jihan kembali ke kamarnya dia mendapati Dwi yang sedang tidur di atas sofa.
"Mas" panggil Jihan lembut.
"Mas" ucap Jihan lagi sembari menggoyang goyangkan badan Dwi membuat Dwi mengeliat.
"Mas katanya mau makan" ucap Jihan.
"Nanti " ucap Dwi membuat Jihan menarik nafasnya panjang.
Jihan membiarkan Dwi tidur dia langsung membawa kembali makanan yang dia bawa ke ruang makan.
"Loh kenapa kok di bawa lagi kalian berantem lagi" ucap Mama Anggun.
"Ya udah kamu aja yang makan" ucap Mama Sri.
"Jihan udah makan mah" ucap Jihan
"Eh Ta pinjem ponselnya dong" ucap Jihan.
"Tuh di meja pakai aja" ucap Fero.
"Makasih ya" ucap Jihan.
Jihan langsung mengambil ponsel Fero dan menghubungi Kevin untuk menanyakan ponselnya yang Kevin bawa. Jihan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di deoan rumah kemudian mengambil sebuah tas lumayan besar ke rumahnya.
"Ta makasih ya ponsel lo udah gue balikin di tempatnya" teriak Jihan.
"Ji kayak di hutan lo teriak teiak" ucap Jovan yang batu datang.
"Hehe sorry Bang" ucap Jihan.
"Tas besar amat apaan tuh" ucap Jovan.
"Bom" ucap Jihan.
"Gak percaya" ucap Jovan.
"Gak percaya pakai tanya" ucap Jihan.
"Ya usah Bang Jihan ke kamar dulu ya bye" ujar Jihan membawa tas yang dia mabil ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Jihan membawanya ke ruang baca dan membongkar isi tas tersebut. Ada sebuah laptop dan banyak berkas berkas yang ada di dalam tas. Jihan mulai bekerja karena dia tidak suka menunda pekerjaan yang berujung merepotkan orang lain.
Saat Jihan sedang fokus mengotak atik laptopnya di sofa ruang bacanya tiba tiba ada sebuah ciuman mendarat di pipinya.
"udah bangun" ucap Jihan.
"Hm lagi apa" ucap Dwi duduk di samping Jihan dan memeluknya dari samping.
"Kerja kenapa, laper" ucap Jihan masih fokus dengan pekerjaannya walau di ganggu Dwi.
Dwi menggeleng lalu menaruh dagunya di pundak Jihan membuat Jihan menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Bisa gak jangan ganggu sebentar" ucap Jihan .
"Gak bisa lagian kerja mulu" ucap Dwi.
"Sebentar lagi selesai kok tunggu di luar aja atau kalau udah laper biar gue ambilin makanan dulu" ucap Jihan.
"Gak selesaikan pekerjaanmu cepat biarin seperti ini" ucap Dwi.
"Oke" ucap Dwi mengangguk.
Dwi diam namun dia terus saja bermain dengan rambut Jihan. walaupun Jihan membiarkannya tapi dia cukup terganggu. Apalagi Dwi yang makin senang mengganggu Jihan dengan menggesek gesekkan hidungnya di leher Jihan.
"Oke oke, gue udahan sekarang lepasin" ucap Jihan di turuti Dwi.
"Mau makan" tanya Jihan.
"Iya tapi makan kamu" ucap Dwi.
Membuat Jihan jenuh, Jihan langsung merapikan semua pekerjaannya dengan Dwi yang terus mengikuti langkahnya. Jihan keluar dari ruang baca namun saat Jihan berjalan Dwi menarik Jihan membuat Jihan hilang keseimbangan dan terjatuh di pelukan Dwi.
Dwi menjatuhkan diri di atas kasur empuknya membuat Jihan membulatkan matanya.
"Apa apaan nih mungkin kah ini akhir dari penjagaan ku" ujar Jihan dalam hati.
Melihat reaksi Jihan Dwi tersenyum lalu membalik posisi. Sekarang posisi Jihan ada di bawah badan Dwi dengan tangan yang di kunci Dwi.
Karena posisinya sangat tidak menguntungkan untuk Jihan, dia hanya pasrah dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah dia tidak mempu menatap Dwi karena jantungnya ingin meletus.
Dwi menatap Jihan dengan tatapan ingin menyerang Jihan. Dwi mendekatkan wajahnya ke leher Jihan kemudian membuat tanda kepemilikannya di sana.
"Gak Jihan tahan jangan keluarkan suara suara se**n lo" ujar Jihan dalam hati.
Melihat Jihan yang seperti ketakutan Dwi melepaskan satu tangan Jihan dan membelainya. Dwi mengecup b**ir Jihan dan mel**atnya dengan pelan.
Karena Jihan tidak melawan Dwi masuk lebih dalam dan dalam membuat lengkuhan lengkuhan kecil terdengar membuat Dwi semakin bersemangat setelah puas dan merasa Jihan kehabisan nafas Dwi melepasnya kemudian tersenyum.
Namun dengan cepat Dwi mencium leher Jihan kembali dengan ganas membuat lengkuhan lengkuhan kembali terdengar.
Tok.... tok... tok...
Membuat Dwi merasa frustasi dengan suara ketukan pintu, sedangkan Jihan merasa sangat senag bisa terbebas walau hanya sementara.
"Ah sial" umapat Dwi melepaskan kuncianya.
"Buka pintu tapi setelah gue pergi ke kamar mandi" ucap Dwi membuat Jihn mengangguk Dwi lalu bangun dan pergi ke kamar mandi.
Jihan bangun dan merapikan baju dan rambutnya yang berantakan dan menetralkan jantungnya yang masih maraton lalu membuka pintu.
"Eh mamah kenapa mah" ucap Jihan saat melihat mertuanya ada di depan pintu.
"Dwi mana" tanya Mama.
"Ada di kamar mandi" ucap Jihan.
"Ada sesuatu mah" tanya Jihan.
"Iya mama cuma mau bilang nanti malam kita adain pesta dan undang semua warga apa kamu setuju" tanya Mama
"Boleh mah" ucap Jihan.
"Baiklah bilang sama Dwi ya" ucap Mama.
"Iya mah nanti Jihan bilang" ucap Jihan.
"Mama ganggu ya" ucap Mama saat melihat beberapa tanda yang Dwi buat.
"Iya mamah ganggu banget" ucap Dwi yang baru keluar.
"Mas" ujar Jihan.
"Ya udah kalian lanjutin deh masih ada waktu sampai nanti malam tapi main pelan aja Wi" ujar mama Pergi.
Setelah kerpergian mamanya Dwi lesu membuat Jihan bingung. Jihan duduk di atas sofa sedangkan Dwi mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa di kunci" tanya Jihan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....