
"Maafin Jihan" ucap Jihan dalam pelukan Dwi.
"Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri terus" ucap Dwi menghapus air mata Jihan.
"Bisa gak si jangan gini, please pelan pelan" ucap Jihan.
"Iya, Honey mas akan pelan pelan menaklukkan hatimu tanpa melukainya" ucap Dwi tersenyum.
"Jangan senyum senyum gitu, jelek tau" ucap Jihan.
"Gak apa apa jelek, yang penting manis" ujar Dwi tersenyum santai.
"Mana ada jelek tapi manis" ucap Jihan protes.
"Ada lah, aku salah satunya jeek di mata kamu manis di mata orang lain" ucap Dwi serius.
"Seneng bener manis di mata orang lain, sekarang bantu Jihan belajar ya" pinta Jihan.
"Cie cemburu, oke karena kamu udah baik sama Mas, Mas akan kasih beberapa tips menjawab soal" ucap Dwi.
"Yaya, bentar Jihan ambil buku dulu" ucap Jihan pergi.
Setelah Jihan kembali dengan beberapa buku Dwi juga mengambil satu laptopnya, Jihan belajar dengan serius membuat Dwi tersenyum bahagia karena Jihan bisa menerimaa apa yang Dwi berikan dengan sangat baik.
"Oke sudah selesai, sekarang mas mau tanya ini gimana cara jawabnya dan apa jawabannya kalau kamu bisa jawab mas kasih hadiah deh" ujar Dwi.
"Hadiah, beneran oke Jihan jawab" ucap Jihan semangat lalu mengambil laptop Dwi.
Jihan mengerjakan dengan sangat teliti, Jihan bahkan bisa menjelaskan bagaimana cara menjawab semua pertanyaan yang ada di laptop Dwi. Setelah selesai Jihan memberikan laptopnya lagi ke Dwi namun Dwi tolak membuatnya bingung.
"Nih terima kasih" ucap Jihan.
"Gak buat kamu aja" ucap Dwi serius.
"Maksudnya apa, gak ah ini kan laptop kamu buat kerja" ucap Jihan bingung.
"Maksudnya itu hadiah yang tadi Mas janjikan" ucap Dwi.
"Kenapa harus laptop, dan ini kan punya kamu mas" ucap Jihan.
"Bukan itu laptop buat kamu, kalau punya mas tuh" ucap Dwi menunjuk meja belajar Jihan.
"Kalau gitu ini beneran buat Jihan tapi buat apa" tanya Jihan.
"Katanya mau kerja sama Mas, kamu butuh itu lah" ucap Dwi.
"Tapi kenapa laptop emang penting ya laptop pas kerja" tanya Jihan.
"Penting lah, kamu bisa jadi asisten pribadi Mas dan lagi kalau mas mau kirim email kan enak pakai laptop" ucap Dwi meyakinkan.
"Kenapa asisten" tanya Jihan.
"Terus kamu maunya apa, itu udah paling cocok tau" ucap Dwi.
"Maksudnya siapa juga yang mau kerja di kantor, Jihan minta di ajarin kan biar Jihan bisa bantu pas di rumah gitu" ucap Jihan.
"Kenapa gak minta kerja di kantor aja, kan lebih wow gitu" ucap Dwi.
"Gak ah takut" ucap Jihan.
"Takut siapa, gak akan ada marahin kamu juga gak akan ada yang berani" ucap Dwi.
"Takut kalau aku lebih cerdas dari kamu hehe" ujar Jihan terkikik.
"PD amat bu" ledek Dwi.
"Biarin PD adalah anugrah" ucap Jihan.
"Oh gitu, ya udah itu laptop buat kamu aja gak apa apa kamu pasti butuh kalau kuliah nanti" ucap Dwi.
"Ya udah deh, aku terima maaf kalau jarang di pakai" ucap Jihan.
"Gitu dong anak baik" ucap Dwi mengacak acak rambut Jihan.
__ADS_1
"Kenapa si seneng banget acak acak rambut" ucap Jihan.
"Gemes aja, oh ya nanti di pernikahan Putri kita mau kasih hadiah apa" tanya Dwi.
"Terserah kamu, Jihan ikut aja" ucap Jihan.
"Jangan gitu dong dia kan juga adik kamu, gimana kalu nanti setelah kamu ujian kita beli hadiah buat Putri dan suami di ujung minggu" ucap Dwi.
"Boleh aja, yang penting setelah ujian" ucap Jihan.
"Oke, kita pergi sabtu ya terus ke rumah mamah kita pulang minggu sore" ucap Dwi.
"Kenapa harus ke rumah mamah si malu tau" ucap Jihan.
"Kenapa malu, biasa aja kli lagian kamu kan belum pernah main ke rumah" ucap Dwi.
"Ya udah deh terserah kamu" ucap Jihan.
"Oke minggu depan, sekarang tidur gih" ucap Dwi.
"Iya, ini juga mau tidur ngantuk juga" ucap Jihan.
Dwi tersenyum melihat ke arah Jihan yang sudah masuk ke dalam kqmarnya untuk tidur. Jihan yang tau kalau Dwi sedang memperhatikannya langsung naik ke ranjang walaupun sebenarnya dia belum begitu ngantuk namun sejak menikah dengan Dwi jadwal tidurnya sangat di atur.
"Hallo" ucap Dwi menghubungi seseorang.
"Hallo Kak " jawab Putri di sebrang telfon.
"Cie yang sok gak suka tapi gak mau jodohmu pulang" ledek Dwi.
"Ih Kakak, pasti bu Anggun ya yang cerita abis tuh cowo ganteng banget" ujar Putri.
"Selain ganteng dia juga pasti yang terbaik buat kamu" ucap Dwi.
"Pasti Kak, Kakak kenapa gak ikut ke sini kemarin kan Kakak jadi gak tau siapa yang bakal jadi suami Putri" ucap Putri.
"Udah gak apa apa, ada saat nya Kakak tau nanti oh ya katanya kamu gak mau ada resepsi bener gak si" tanya Dwi.
"Iya tadinya gitu Putri gak mau masyarakat mandang Putri sebelah mata, tapi keluarga si Aa minta buat reseosi di kampung biar pas kita pulang berdua nanti gak jadi masalah" jelas Putri.
"Kaka kenapa, Kaka jangan sedih dong nanti pas resepsi Putri Kaka sama kak Jihan juga akan jadi pusat perhatian" ucap Putri.
"Kakak kamu gak bakalan mau, kamu tau sendiri sampai saat ini Kaka belum bisa menaklukkan hati dia" ucap Dwi.
"Ayok dong Kak, jangan mudah menyerah" ucap Putri.
"Iya doain Kakak ya, ya udah Kakak mau tidur dulu" ucap Dwi.
"Iya kaka, bye see you jangan lupa hadiahnya ya" ucap Putri.
"Iya beres" ucap Dwi.
Jihan yang mendengarkan percakapan Dwi dan Putri langsung pura pura tidur saat Dwi mengakhiri panggilannya. Dwi berjalan masuk membuat Dwi dengan cepat menutup matanya sedangkan Dwi acuh lalu membaringkan badannya di samping Jihan dan tertidur dengan cepat.
"Cepet amat tuh orang molornya" ujar Jihan dalam hati.
Jihan menyusul Dwi ke alam mimpi dengan sangat lelap sampai mentari mulai malu malu di balik sejuk pagi yang membuat orang segera bangun dan menjalankan aktivitasnya. Begitupun dengan Dwi dan Jihan yang sudah bersiap untuk sarapan dan menjalankan aktivitasnya.
"Ji kenapa senyum senyum aja dari tadi" tanya Mama Anggun penasaran.
"Hehe, Jihan terlalu semangat Mah sama Jihan gak tau cara ngilangin rasa gelisah di dalam hati Jihan" ucap Jihan menarik nafasnya beberap kali.
"Lah kenapa" tanya Papa yang baru saja bergabung.
"Hari ini kan hati pertama Jihan ujian mah, dan ini adalah hasil dari perjuangan Jihan selama ini Jihan sangat dag dig dug" ucap Jihan.
"Yakinkan hatimu kalau kamu bisa menjawab semua soal, yakinlah peejuanganmu selama ini tidak akan sia sia" ucap Mama.
"Iya mah, mohon doanya pah mah" ucap Jihan.
"Minta juga doa dari suamimu karena ridho-Nya bukan dari kami saja sekarang tapi suamimu juga" ucap Papa.
"Iya pah" ucap Jihan.
__ADS_1
Jihan Dwi dan ke dua orang tuanya makan pagi dan bersiap untuk menjalankan aktivitasnya walaupun harus dengan pemandangan Jihan yang selalu saja mengambil nafasnya kasar. Sebelum pergi Jihan kembali meminta restu kepada ke dua orang tuanya dan tak lupa Jihan juga mencium tangan ke dua orang tuanya kemudian pergi ke sekolah.
"Semoga semuanya lancar Honey" ucap Dwi saat baru saja sampai di palkiran sekolah.
"Iya terima kasih, mohon doanya" ucap Jihan sembari pergi.
"Iya, sini" ucap Dwi memanggil Jihan.
"Kenapa" tanya Jihan membalikkan badannya.
"Tuh helm, masa ke kelas pakai helm" ujar Dwi.
"Hehe iya, lupa ini makasih ya" ucap Jihan memberikan helm kepada Dwi dan berlalu namun dengan cepat Dwi menarik tangan Jihan dan langsung nencium kening Jihan lembut.
"Eh" ucap Jihan.
"Kenapa, gak ada yang liat tau ya udah sana semangat" ucap Dwi.
"Tapi jangan sembarangan tempat juga kali" ujar Jihan memajukan bibirnya dan berlalu.
Jihan berjalan menuju kelasnya sepanjang koridor banyak antara teman temannya yang sedang saling curhat dengan apa yang mereka rasakan saat ini. Jihan kembali berdegub saat ada yang menyapanya dengan senyum manis.
"Hai Ji, good luck ya Ji" ucapnya.
"Hai, makasih ya kamu juga good luck" ucap Jihan.
"Iya, eh ngomong ngomong kita satu ruangan tau, kita bareng aja ya" ucapnya.
"Beneran ya udah ayok" ucap Jihan.
"Fero Jihan sini deh, kita datu ruang tau" ucap Nisa semangat saat melihat Jihan dan Fero berjalan ke arahnya.
"Wah beneran, asik dong" ucap Jihan.
"Iya asik kita bisa contek contek" ucap Nisa semangat.
"Mana ada asik lagian kan gak bisa contek contek kan" ucap Fero.
"Iya bener tuh kata Fero, lagian gue juga mau uji seberapa perjuangan gue sampai saat ini" ucap Jihan.
"Bener tuh, ini penentuan kita penentuan belajar kita" timpal Fero.
"Kalian gak asik, lagian kan di acak soalnya sueb" ucap Nisa.
"Udah tau di acak mau nyontek lo" cibir Jihan.
"Ya kali bisa" ucap Nisa.
"Eh kita satu ruang dimana Hana sama Mona" tanya Fero.
"Iya dimana mereka" ujar Jihan.
"Tuh mereka di sana, mereka juga satu ruang" tunjuk Nisa ke ujung kelas.
"Iya, jauh banget kita ya bener bener nih acak orangnya" ucap Jihan.
"Iya kelas dua belas lo kayaknya pada PD banget ya mau ujian tuh wajah wajahnya pada tegang kayaknya mereka juga takut gak lulus" cibir Fero.
"Ejek aja terus, tapi jangan pingsan lo saat kelas gue ada di peringkat atas kelas lo" ujar Jihan yakin dan di angguki Nisa.
Saat mereka berbincang kemudian jam ujian mulai semua murid serius dengan kertas ujian mereka. Ujian pertama yang akan buat sejarah baru jadi semu siswa sangat antusias.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komennya. ....