Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 136


__ADS_3

Setelah Dwi teriak Jihan langsung mendorong Fero kuat. Jihan menatap sekeliling dan merasa sangat bersalah Jihan langsung memeluk Dwi yang sudah tersulut emosi.


"Kamu menikmatinya" ujar Dwi ketus Jihn tidak menjawab hanya mengeratkan pelukannya.


"Jawab" ujar Dwi.


"Oke gue menikmatinya mau apa kamu" ujar Jihan tak kalah ketus.


"Kamu bicara dengan nada tinggi lagi" ujar Dwi.


"Terus salah lagi, kenapa si jadi orang gitu banget mau berantem lagi" ujar Jihan


Dwi hanya menarik nafas panjang dia tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Jihan. Melihat Dwi tak kunjung membaik Jihan merebahkan tubuhnya keras di pangkuan Dwi.


"Eh sakit gak yang" ujar ujar Dwi khawatir.


"Sakitan hati gue" ujar Jihan ketus membuat Dwi menarik nafas panjang


"Apa di apartemen kalian berantem mulu" ujar Mama Sri.


"Gak kok mah kita sibuk dengan aktivitas masing masing" ujar Jihan jujur.


"Kalian gak coba benahi hubungan kalian" ujar Papa Seno.


"Udah pah, tapi gini dikit dikit berantem kalau gak Jihan ya mas Dwi yang mulai" ujar Jihan.


"Gak papa bumbu rumah tangga" ujar Mama Sri.


"Ya maafin" ujar Dwi.


"Ngomong sama siapa" ujar Jihan.


"Ya kamu lah sayang siapa lagi masa iya sama Fero tendang mau" ujar Dwi.


"Kalau ngambek lucu ya" ujar Jihan tertawa.


"izzz" ujar Dwi mencubit hidung Jihan.


"Kalian berdua hadeh" ujar Jovan.


"Eh Bang, gimana sama jam tangan yang Abang janjikan" ujar Jihan menatap Abangnya.


"Kamu kenapa si gak bisa lupa" ujar Jovan.


"Janji gak bisa di lupain Bang" ujar Jihan tersenyum.


"Ya kalau Abang ada uang, Wi kamu punya janji gak sama Jihan biar rasain di tagih janji tiap hari" ujar Jovan.


"Janji dia ada kok Bang tapi masih jauh" ujar Jihan membuat Dwi bingung.


"Apa" tanya Dwi lirih.


Jihan hanya memberikan isyarat membuat Dwi tersenyum dan mencium keningnya.


"Cie" ujar Dani yang sedari tadi diam.


"Lo keman aja Kak" ujar Jihan baru bersuara.


"Sibuk cari masa depan" ujar Dani.


"Ke apartemen aja Kak, di sana semua gak bakal pergi cari makan juga" ujar Jihan.


"Kenapa lo tau" tanya Dani


"Tadi mas Dwi beli makan banyak banget gue kasih ke mereka" ujar Jihan.


"Sudah lempeng ya panggil Mas nya kapan panggil sayangnya" ujar Dani.


"Salangheyo oppa" ujar Jihan sembari menunjukkan simbol dengan jari nya membuat Dwi tersenyum senang dan Dani tertawa.


"Jelas banget terpaksa kamu Ji haha" ujar Dani.


"I love you kakak" ucap Jihan.


"Huek... mules gue denger lo ngomong" ledek Dani.


"Lo nyebelin gue benci lo kak" ujar Jihan.


"Benci dan cinta beda tipis Ji setipis cinta gue ke lo" ujar Dani.


"Haha suaminya aja kalah" ujar Putri.


"Lo bilang gitu liat suami lo cuekin lo" ujar Jihan.


"Biarin, ada saatnya dia nama gue mesra" ujar Putri penuh bangga.


"Ji mau gak gue kasih tantangan kalau lo berhasil lo boleh minta apapun yang lo minta" ujar Dani.


"Serius apapun" ujar Jihan di angguki Dani


"Oke tantangannya apa" ujar Jihan bangun dari pangkuan Dwi.

__ADS_1


"Panggil Dwi dengan panggilan sayang semalam ini saja tanpa ada kata mas atau Dwi cuma kata sayang sama lo harus ikutin semua kemauan gue asal berkaitan dengan Dwi" ujar Dani.


"Oke gampang deal" ujar Jihan


"Tapi ingat gak boleh panggil Dwi selain Sayang " ujar Dani.


"Gue di jadiin barang taruhan" ujar Dwi.


"Gak papa siapa tau bisa dapat warisan kak Dani" ujar Jihan tertawa.


"Lo mau buat gue miskin" ujar Dani.


"Inget Bang apapun" ujar Jihan.


"Dan apapun yang gue suruh yang berkaitan dengan Dwi" ujar Dani mengulurkan tangannya di sambut bahagia Jihan.


"Kita mulai gue jadi jurinya" ujar Jovan.


"Siap" ujar Dani dan Jihan.


"Sekarang buat Dwi salah tingkah di depan lo" ujar Dani.


"Gimana caranya kalau dia yang buat gue salah tingkah si gampang, la ini gimana" ujar Jihan.


"Apapun caranya di bolehkan" ujar Dani.


"Ayok Ji" ujar Jovan saat Jihan berfikir.


"Bentar mikir dulu, em gimana si" ujar Jihan frustasi.


"Udahlah nyerah gue ganti yang lain" ujar Jihan.


"Gini caranya" ujar Dwi mengenggam tangan Jihan membuat Jihan melihatnya tatapan mereka bertemu cukup lama di sana sampai Jihan yang mengalihkan pandangannya lebih dulu.


"Gitu Ji" ujar Dani.


"Iya gue yang salah tingkah bukan dia" ujar Jihan.


"Oke kerena tantangan pertama lo gak bisa potong permintaan ya ke dua lo harus panggil dia dengan sebutan saayang mau apapun itu" ujar Dani.


"Iya" ujar Jihan ketus.


"Ji sesuatu yang diawali dengan kebencian mendalam sering berakhir dengan cinta yang gak bisa di pisahin sejatinya Cinta dan benci beda tipis" ledek mama Fero.


"Ibu ledek ya" ujar Jihan.


"Dikit doang" ujar Mama Fero membuat Jihan seperti anak kecil.


"Oke pertama gue" ujar Putri.


"Perasaan gue gak enak, oke cuma satu pertanyaan" ujar Jihan.


"Kenapa kamu dandanin kakak tadi kayak gitu apa ada orang yang kamu sukai tentunya selain suami gue" ujar Putri.


"Hehe itu iseng doang, lagian di berlutut lama banget pas liat make up lo kepikiran aja isengin dia tadinya mau Jihan buat asal eh takut dosa" ujar Jihan dengan senyuman mengembang.


"Sekarang dari gue, gimana rasanya saat Dwi nyentuh lo" ujar Fero.


"Sentuhan yang gimana nih jujur apa bohong nih" ujar Jihan.


"Semua jenis sentuhannya, bohong aja deh" ujar Fero.


"Biasa aja jantung juga biasa normal" ujar Jihan membuat semua orang tertawa.


"Kebalikannya ya Ji, sekarang kamu pilih cium Dwi di depan semua orang atau melihat Dwi di cium semua orang" ujar Jovan.


"Pertanyaan menjebak, mending gue yang kiss" ujar Jihan


"Lakukan lakukan lakukan" ujar semua orang termasuk Fero dan para orang tua.


"Iz Kak tadi kan tantangannya bukan gini" ujar Jihan.


"Iya tapi kamu gagal di tantangan pertama" ujar Dani.


"Udah jangan paksa deh Dan kasian malu tuh" ujar Papa Jihan.


cup...


sebuah kecupan singkat Jihan membuat Dwi tersentak begitupun semua orang kaget dan bersorak gembira untuk Jihan.


"Udah lah kak" ujar Jihan merengek.


"Yaya tapi buat tantangan belum selesai ya" ujar Dani.


"Hm, ma eh maksudnya sayang pergi aja yuk" ujar Jihan


"Haha Jihan gak kuat" ujar Jovan menyoraki.


"Abang" ujar Jihan seperti anak kecil.


"Eh karena kita udah kumpul gini ambil foto bersama kuy" ucap Putri di angguki semua orang.

__ADS_1


Semua bersiap untuk foto bersama dengan para orang tua duduk di sofa sedangkan Dani dan Jovan duduk di depannya lagi.


Beberapa pose di ambil. setelahnya mereka kembali bercengkrama sampai larut malam mereka tidak sadar dan mulai membubarkan diri untuk istirahat.


"Sayang tidur yuk" ujar Putri manja


"Iya tapi jangan lupa hiduopin mode kedap suaranya" ujar Dwi membuat Jovan dan Dani tertawa.


"Siap Abang" ujar Putri tak tau malu dan mengajak Fero pergi ke kamarnya.


"Kita juga duluan ya" ujar Dani menarik Jovan pergi.


Hanya tinggal Jihan dan Dwi di ruangan itu. Jihan diam begitupun Dwi yang diam karena melihat raut wajah Jihan yang berubah.


"Kenapa ada sesuatu, ceritalah" ujar Dwi.


"Hm, gak kok gue cuma capek aja" ujar Jihan membuat Dwi mencium bi**rnya.


"Kenapa cium" tanya Jihan.


"Mulai sekarang kalau kamu bilang lo gue atau panggil mas dengan sebutan selain sayang dapat hukuman satu kecupan" ujar Dwi.


"Bilang aja kesempatan" ujar Jihan manyun


"Bibirnya gemes" ujar Dwi memainkan bibir Jihan membuat Jihan tak kuat dan tertawa.


"Oke oke iya" ujar Jihan menahan tawa.


"Gitu kan cantik" ujar Dwi.


"Udalah Jihan mau istirahat kalau mas mau disini juga gak papa" ujar Jihan membuat Dwi kembali menempelkan bi**rnya.


Kali ini permainan cukup lama Dwi bermain dengan sangat lembut membuat Jihan terbuai dan menikmati permainan yang Dwi buat.


"Manis" ucap Dwi saat sudah selesai membuat pipi Jihan merah.


"Udah ya" ujar Jihan berlari ke kamarnya meninggalkan Dwi.


Dwi hanya menggelengkan kepalanya membiarkan Jihan meninggalkannya. Sedangkan dia pergi untuk mematikan lampu baru menyusul Jihan ke kamar. Saat sampai di kamar dia mencari Jihan yang ternyata ada di balkon kamarnya.


"Sayang" ujar Dwi memeluk Jihan dari belakang.


"Ya udah besok gue ke situ urus dulu ya paling siang sampai situnya harus minta ijin juga" ujar Jihan mengahiri panggilannya.


"Siapa, kenapa harus minta izin ke siapa"ujar Dwi membalikkan tubuh Jihan.


"Cika di desa ada masalah, ya harus izin kamu buat pergi ke sana emang harus izin ke siapa lagi kalau izin orang tua kan emang gak pernah" ucap Jihan.


"Mau aku temenin" tanya Dwi.


"Gak perlu, kamu bantu Jihan urus Ayasta aja selama Jihan tinggal karena semua yang Jihan punya juga milik kamu" ujar Jihan.


"Ya, tapi yang paling aku suka semua yang ada di tubuh kamu" ledek Dwi.


"Mesum" ujar Jihan membebaskan diri dan pergi ke kamarnya.


"Beneran sayang ada yang kangen nih" ujar Dwi menghampiri Jihan di dalam kamarnya.


"Tunggu sebulan lagi" ujar Jihan


"Lama dong sayang" ujar Dwi.


"Emang karena pada saat inilah lelaki di uji kesetiaannya bukan cuma pas punya uang di ujinya" ujar Jihan bersiap tidur.


"Iya iya sayang peluk dong please besok kan mau pergi" ujar Dwi ikut berbaring di samping Jihan


"Hm, good night" ucap Jihan


"Good night buat siapa yang jelas dong" ledek Dwi.


"Emang ada orang lain selain kamu" ujar Jihan.


"Gak si tapi coba deh bilang gitu tapi pake sayang" ucap Dwi penuh harap.


"Oke, good night sayang" ucap Jihan membuat Dwitersenyum bahagia lalu menarik Jihan ke pelukannya.


Dalam hati Jihan sangat senang saat Dwi tersenyum tulus seperti itu, tapi di sisi lain dia nelum bisa sepenuhnya menerima Dwi di kehidupannya.


Namun karena mungkin Jihan pergi ke deso untuk beberapa hari dia mengikuti semua kemauan Dwi dia juga memeluk Dwi dalam tidurnya. Dia juga merasa kantuk melanda saat berada di dada bidang Dwi padahal dia orang yang sangat sulit tidur.


.


.


.


.


***Jangan lupa dukungannya guys ...


Jangan bosen bosen ya guys***....

__ADS_1


__ADS_2