Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 97


__ADS_3

Dwi menggendong Jihan ke ruangan Zira di lantai paling atas. Ruangan tersebut adalah ruang kerja sekaligus tempat Zira tinggal saat ini.


Dwi membaringkan Jihan perlahan dan hendak melakukan apa yang Zira ucap tapi dia ragu. Namun ketakutan akan kehilangan Jihan lebih besar membuatnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan.


Dwi mulai menci*m Jihan dengan hangat di sambung dengan luma*an luma*an kecil membuat Jihan perlahan kembali dalam kesadarannya.


Jihan terkejut saat Dwi sudah mulai bermain dengan penuh gairah dan mulai meraba beberapa bagian sensitif Jihan. Dwi bermain dengan lembut tapi pasti membuat lengkuhan lengkuhan kecil mulai terdengar membuat Dwi makin semangat dan melepas semua kain yang menempel di tubuh Jihan.


"Haruskah aku kehilangan semua ini sekarang" ujar Jihan dalam hati karena terlalu lemas.


Sekarang tubuh Jihan tidak di tutupi sehelai benang pun. Jihan hanya bisa pasrah karena masih sangat lemas untuk meronta. Sedangkan Dwi tersenyum lalu kembali meluma* bibir Jihan agar Jihan merasa nyaman.


Jihan merasa suhu tubuhnya mulai meningkat perlahan Dwi pun merasakannya namun karena Dwi sudah terbuai dalam permainannya sendiri dia mulai melakukan apa yang sedari tadi dia tahan.


"Maaf Ji mas gak ada pilihan lain" bisik Dwi.


Jihan menahan rasa sakit karena sesuatu mulai memasuki area sensitivnya.


"Tahan Ji ini tidak akan lama" ucap Dwi sembari memasukkan barangnya semakin ke dalam area sensitiv Jihan membuat Jihan meneteskan air matanya sembari mencakar punggung mulus Dwi.


"Sakit" ucap Jihan lirih.


"Maaf" ucap Dwi sembari barangnya sepenuhnya masuk.


Dwi bermain dengan sangat pelan sampai Jihan tidak lagi meringis kesakitan. Saat di rasa Jihan pun mulai menikmati Dwi mempercepat permainnya sampai Jihan kembali mencakarnya.


Setelah lama bermain Dwi mencapai puncaknya lalu mempercepat permainnya sampai Dwi menyelesaikan permainan dengan senyuman mengembang lalu tumbang di atas tubuh Jihan.


"Makasih Ji" ucap Dwi membenamkan wajahnya di atas gunung kembar Jihan tak lama Dwi langsung duduk di samping Jihan.


Jihan tidak menjawab atau melakukan apapun bahkan dia tidak menutupi kembali tubuhnya dia hanya membalikkan badannya ke samping memunggungi Jihan.


"Hallo Rey belikan baju buat nona muda dan berikan kepada Zira biar dia yang memberikannya kepada Nona Muda" ucap Dwi saat menelfon Rey yang ada di lantai bawah.


"Tunggulah sebentar lagi Rey datang membawa baju ganti mas akan bersihkan badan sebentar" ucap Dwi meninggalkan Jihan yang masih memunggunginya.


Saat melihat Dwi memasuki kamar mandi Jihan bangun dan menyandarkan badannya di tepi ranjang tak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Jihan menangis sesegukan sampai terdengar ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Dwi merasa sangat menyesal telah melakukan itu dia terus merutuki dirinya di deoan cermin sampai ketukan pintu membuyarkan segalanya Dwi pergi untuk membuka pintu membuka pintu.


"Ini pakailah" ucap Dwi memberikan paper bag kepada Jiham.


Jihan tidak menjawab dia hanya merebut paper bag yang Dwi berikan lalu pergi ke kamar mandi namun tak lupa dia menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Jihan berendam di dalam bathtub sembari terus meneteskan air matanya. Ada rasa lega ada juga rasa bersalah karena memberikan hak suaminya dengan kejadian tak terduga.


"Ji are you oke" tanya Dwi.


"Ya sebentar" ucap Jihan lalu menyelesaikan ritual mandinya.


"Kenapa" tanya Jihan saat baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


"Gak papa, cuma mau bilang minta maaf" ucap Dwi.


"Hm" ujar Jihan lalu duduk di meja rias Zira dan mencari hairdryer.


"Cari ini" tanya Dwi mengangkat hairdryer yang ada di dekatnya.


"Sini" ucap Jihan dengan nada datar.


"Biar mas aja" ucap Dwi lalu mengeringkan rambut Jihan.


Jihan hanya pasrah lalu menarik ponsel yang ada di saku celana Dwi dan. memainkannya dengan santai.


"Ji masih sakit" tanya Dwi takut.


"Sedikit kalau di bawa jalan kalau duduk gak, ternyata gak sesakit yang temen temen bilang" ucap Jihan.


"Maaf ya Ji" ucap Dwi.


"Berhenti minta maaf, buat Jihan makin salah aja" ucap Jihan.


"Kenap jadi kamu" ucap Dwi.


Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya acuh.


"Ji " ucap Dwi lembut.

__ADS_1


"Apa" tanya Jihan.


"Mas boleh minta foto kamu, maksudnya foto kita berdua gitu" ucap Dwi.


Jihan hanya diam lalu menghentikan tangannya yang sedang asik bermain ponsel sejenak membuat Dwi menarik nafas panjang.


"Panjang amat" ucap Jihan sembari mengarahkan kameranya dan bersiap mengambil selfi.


"Jadi gak" tanya Jihan.


"Jadi lah" ucap Dwi semangat.


Jihan dan Dwi mengambil beberapa pose nyleneh dengan akspresi bahagia, sejenak Dwi melihat senyum tulus dati Jihan untuknya. Jihan lalu mengembalikan ponselnya kepada Dwi karena Dwi terlalu lama menata rambutnya.


"Ini ilanginnya pakai apa ya" ucap Jihan menyentuh hasil karya yang Dwi buat di lehernya sembari melirik tajam Dwi.


"Pakai make up aja he" ucap Dwi tersengir.


"Iya tapi yang mana gue gak tau terlalu banyak make up Zira" ucap Jihan.


"Coba aja semuanya" ucap Dwi.


mengikuti saran Dwi Jihan mencoba semua produk make up Zira untuk menutupi bekas yang Dwi buat membuatnya tersenyum lebar.


"Oke siap" ucap Jihan


"Ya udah turun yuk kasian mereka tungguin di bawah" ucap Dwi.


"Rambut gue masih acak acakan" ucap Jihan.


"Sini mas benerin" ucap Dwi menyisir rambut Jihan dengan lembut.


"Oh ya gimana nasib sprei itu" tanya Jihan malu.


"Kenapa biarin aja urusan Zira" ucap Dwi.


"Sini uang" ucap Jihan mengulurkan tangannya.


Dwi hanya memberikan dompetnya dan menyuruh Jihan untuk mengambilnya sendiri.


"Jihan ambil segini" ucap Jihan memberikan kembali dompet Dwi.


"Gak Zira tajir kali" ucap Jihan.


Dwi mengangguk angguk sedangkan Jihan berjalan ke arah ranjang dengan sangat pelan membuat Dwi merasa kasihan.


Jihan meletakkan uang yang tadi dia minta dari Dwi di atas ranjang membuat Dwi menggelengkan kepalanya.


"Udah" ucap Dwi.


"Udah" ucap Jihan berjalan terlebih dahulu walaupun masih perih namun dia berjalan seperti biasa.


"Katanya sakit tapi jalan aja cepet banget sungguh wanita hebat" cibir Dwi


Dalam perjalanan kembali ke ruangan dimana semua orang menunggunya ada seseorang yang memanggilnya dan berlari ke arahnya membuat Jihan menunggu.


"Siapa " tanya Jihan saat seorang laki laki berlari ke arah Jihan.


"Gak tau" ucap Jihan cuek.


Saat sampai di depan Jihan laki laki tersebut langsung memeluk Jihan membuat Jihan membulatkan matanya. Dwngan cepat Jihan mendorong laki laki tersebut dan bersembunyi di balik Dwi.


"Siapa" tanya Jihan.


"Gue penggemar rahasia lo" ucapnya.


"Oh, bukankah tidak sopan anda langsung memeluk saya " ucap Jihan.


"Bukankah lebih tidak sopan anda mendorong saya dan bersembunyi seperti itu" ucapnya.


"Tuan muda" ucap beberapa wanita berlari ke arah Jihn dan Dwi membuat Jihan dan Dwi saling pandang kemudian berlari dengan bergandengan tangan.


Jihan dan Dwi berlari sampai tempat dimana semua orang sedang asik bercanda. Jihan bahkan membungkukkan kakinyaa karena terasa sangat lemas sedangkan Dwi hanya tersenyum.


"Kalian kenapa" tanya Jovan.


"Di di di depan Bang" ucap Jihan terbata.

__ADS_1


"Nih minum" ucap Dwi memberikan air mineral kepada Jihan.


"Thanks" ucap Jihan.


"Dari mana si" ucap Ridwan.


"Eh Bang Dokter ke sini juga" ucap Jihan.


"Ya, dan lo dari mana adek ipar" ucap Ridwan.


"Dari belakang tadi, tapi di pintu utama di kejar banyak orang" ucap Jihan.


"Ya makanya kita semua gak bisa pulang" ucap Jovan.


"Kenapa gak kasih tau si" ucap Jihan duduk di samping Jovan dengan keras.


"Mana Abang tau lo turun se cepet ini" ucap Jovan.


"Emang dari mana" tanya Ridwan.


"Si Jihan dok, suhu tubuhnya turun drastis" ucap Gabby.


"Oh terus gimana sekarang udah enakan" tanya Ridwan


"Lebih baik dari tadi" ucap Jihan.


"Kenapa lo gak adepin mereka aja tadi Ji bukannya lo bisa kelarin heters Abang kenapa ini gak bisa" ucap Jovan.


"Kalau heters oke Bang, kayaknya yang ini fans fanatik" ucap Jihan.


"Iya makanya ada drama pelukan tadi" ucap Dwi.


"Siapa Jihan sama siapa" tanya Mama Anggun.


"Gak tau mah, tapi tadi ada yang panggil Jihan kira orang baik malah langsung main peluk aja Jihan dorong malah dia panggil kawananya ya lari lah" ucap Jihan.


"Dari depan aja lo lemes gitu" ucap Zira yang baru saja masuk dengan beberapa makanan yang dia hidangkan.


"Berasa lari satu kilo meter tau Ra" ucap Jihan.


"Mereka fans lo kan" ucap Zira.


"Mana gue tau selama ini hidup gue damai, paling juga penggemar rahasia yang setiap hari kasih cokelat sama bunga" ucap Jihan.


"Udah biarin aja nanti juga pergi" ucap Mama Anggun.


"Iya mah" ucap Jihan.


"Terus gimana sama keadaan kamu sayang" ucap mama Anggun dan maa Sri mendekati Jihan dan memindah Jihan agar duduk di antara mereka.


"Udah lebih baik kok mah" ucap Jihan.


"Apa yang Dwi lakukan" tanya mama Sri membuat Jihan mati kutu.


"Mah Jihan pulang sama mamah ya ke mansion please" ucap Jihan memohon.


"Iya sayang " ucap Mama Anggun.


"Pulang ke mansion mama dulu lah Ji" ucap mama Sri membuat Jihan bingung.


"Mah biarin Jihan kesana" ucap Dwi.


"Tuh kan mah boleh, ada banyak yang ingin Jihan ceritakan nanti" ucap Jihan.


"Iya sayang tapi kenapa mukanya berubah gitu" tanya mama Anggun.


Jihan tidak menjawab hanya memeluk erat tubuh mamahnya dengan isakan kecil. Membuat ke dua mamahnya bingung lalu menatap Dwi sedangkan Dwi yang di tatap hanya tersenyum sembari menyatukan tangannya minta maaf.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya readers...

__ADS_1


Salam manis dari Author.....


__ADS_2