Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Perpisahan


__ADS_3

Selamat tinggal, Selamat tinggal kekasih yang ku sayang


Hari ini, hari pernikahanmu


Selamat tinggal, selamat tinggal kekasihku


Ku doakan bahagia selamanya


Janur kuning di depan rumahmu,


Sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia,


Walau hati perih.


Surat undangan pernikahanmu sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia


Walau hati perih


Selamat tinggal, selamat tinggal kekasih ku


Ku doakan bahagia selamanya


Janur kuning di depan rumahmu


Sungguh menyesakkan


Surat undangan pernikahanmu sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia


Walau hati perih


oh huo....


Surat undangan pernikahanmu sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia


Walau hati perih


Janur kuning di depan rumahmu


Sungguh menyesakkan


Surat undangan pernikahanmu sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia


Walau hati perih


Janur kuning di depan rumahmu


Sungguh menyesakkan


Surat undangan pernikahanmu sungguh menyesakkan


Ku ucapkan selamat dan bahagia


Walau hati perih


...(Adipati : Janur Kuning)...


Semua orang mencari tau siapa di balik suara yang menyayat hati tersebut, sampai mereka melihat Zira sedang menyanyikannya dengan penuh pengkhayatan dan derai air mata.


Jihan yang tau perasaan Zira langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat membuat Zira menangis.


"Mungkin ini sudah jalan yang harus kita lalui Ra" ucap Jihan dalam pelukannya.


"Gue tau Ji, Cinta juga tak harus memiliki tapi cinta membiarkan mereka bahagia dengan takdirnya" ucap Zira.


"Ya udah sekarang hapuslah air matamu" ucap Jihan menghapus air mata Zira.


"Hapuslah sayang air mata basahi pipi, usah kau sesali perpisahan ini terjadi" ujar Jihan membuat Zira tersenyum.


"Ledek gue lo" ucap Zira


"Enggak eh Ra suara lo bagus juga" ucap Jihan.


"Iya ini belum seberapa saat hati gue bahagia" ucap Zira membanggakan diri.


"Mulai deh, tau gini gak gue tolong lo" ucap Jihan.


"Hehe, ya udah ke sana yuk" ucap Zira.


"Iya, yuk" ucap Jihan menggandeng tangan Zira membuat sahabat sahabatnya menatapnya aneh.


"Kalian akur" tanya Gabby.


"Emang kita pernah berantem" ucap Jihan.


"Sok banget lo, atau jangaan jangan kalian" ucap Sonia.


"Kita apa" ucap Zira.


"Karena kalian sama sama patah hati" ucap Jane tertawa di ikuti semua sahabatnya.


"Kayaknya gak cuma kita yang patah hati pangeran sama Ratu kita nikah deh tapi mereka semua" ucap Gabby menunjuk sekelompok para remaja yang sedang menangis.


"Mereka temen temen se kelas gue" ucap Jihan.


"Kok gak ada cogannya si" ucap Sonia.


"Bukan gak ada tapi kalian terbiasa lihat yang bening bening kalangan atas" ucap Jihan.


"Sebenarnya kalian siapa, apa anak para pejabat" ucap Nisa.

__ADS_1


"Hei girl, kita tuh gak ada yang anaknya pejabat kita remaja biasa santai aja jangan minder iya gak guys" ucap Jihan merangkul Nisa.


"Bener tuh kita orang biasa kali" ucap Jane.


"Tapi mobil kalian, dan hadiah pernikahan lo sama Fero tuh gak main main mobil sport mewah" ucap Nisa.


"Kan udah gue bilang bakal gue kasih tau siapa gue yang sebenarnya saat hari terakhir gue ke sekolah" ucap Jihn.


"Gue tunggu lo" ucap Nisa.


"Santai aja" ucap Jihan.


"Ji ada yang cariin tuh" ucap Hana menunjuk arah Dwi yang berjalan ke arahnya.


"Itu itu a..... tuan Putra" ujar Sonia histeris membuat Nisa Hana dan Mona bingung.


Sedangkan Gabby Jane dan Sonia berlari ke arah Dwi lalu berselfi ria. Dwi hanya menanggapi dengan senyuman ramah tak lama Jihan berjalan ke arah Dwi saat Gabby memeluk Dwi.


"Woi selfi selfi aja gak pake peluk" ucap Jihan.


"Cemburu" ucap Hana Nisa Mona.


"Cemburu kenapa" ucap Gabby.


"Dia suami Jihan gila mau mati lo" ujar Zira.


"Jadi beneran gak setingan" ucap Sonia.


"Gak kalau lo peluk dia ada biaya tambahan" ucap Jihan tertawa.


"Kirain mau marah" ucap Jane.


"Ji ini beneran tuan Dwi Putra kan pemilik DJ PC" ucap Sonia.


"Ya dia CEO nya" ucap Zira.


"Gue tanya Jihan bukan lo" ucap Gabby.


"Iya bener kata Zira, dan lagi lepasin tuh tangan kalau gak mau tuh orang hajar lo" ucap Jihan menunjuk Rey yang sedang berjalan ke arahnya.


Gabby dan Sonia melepaskan tangannya dari tangan Dwi lalu memberikan jarak membuat Jihan dan Zira tertawa terbahak bahak.


"Kenapa Rey" tanya Dwi.


"Suaranya bikin gue meleleh" ujar Gabby.


"Ben pacar lo gila" ucap Jihan keras.


"Lo mau gue sama Beni berantem" ucap Gabby


"Bodo amat" ucap Jihan


"Temen jahanam" ucap Gabby.


"Kenapa Ji Gabby gila kenapa" ucap Beni yang datang menghampiri.


"Duh kaau sama yang ini gue gak bisa bersaing kalau sama dia apalah daya ku" ujar Beni.


"Dasar lo, hilang harapan gue lihat pertunjukan gratis" ucap Jihan.


"Nona Jihan ada warga yang mencari anda, silahkan ikut dengan saya" ucap Rey yang malas mendengar celoteh para remaja.


"Oke, cuma gue" ucap Jihan.


"Iya Nona, sudah ada Tuan Muda Fero di sana" ucap Rey.


"Gue ikut" ucap Dwi.


"Sensi" ledek Rey lalu berjalan dengn cepat.


"Diem sini lo Rey" ujar Dwi berjalan cepat mengejar Rey.


"Woy kalian berdua gak mikirin gue susah jalan nih tampang doang ganteng gak punya perasaan" teriak Jihan membuat Rey dan Dwi berhenti namun saat akan kembali ke tempat Jihan Kevin datang dan membantu Jihan.


"Terima kasih" ucap Jihan lalu menggandeng Kevin dan tidak memperdulikan Dwi dan Rey yang menatapnya aneh.


"Udah natapnya, gak keluar laser juga" ujar Jihan tertawa. saat melewati Dwi dan Rey.


"Ji Jihan Sayang" ujar Dwi lembut namun tak Jihan hiraukan.


Teman teman Jihan hanya menatapnya aneh lain dengan Zira yang sudah tau hubungan antara ke empat orang tersebut.


"Eh Jihan beruntung banget ya di kelilingi cogan" ucap Nisa.


"Eh kalian kira kita bukan cogan" ucap Dika yang baru saja bergabung.


"Cogan tapi gak tertarik sama kalian" ucap Hana.


"Hhaha Dik pesona lo gak mempan" ucap Sonia.


"Kalian bener bener ya" ucap Dika.


"Apa mau apa lo" ucap Hana.


"Huh sayangnya gue gak bisa berantem sama Cewek" ucap Dika.


"Kalian makin akrab ya, ternyata orang sini mudah di akrabin" ucap Jane.


Mereka akhirnya memutuskan untuk bersahabat, sedangkan di lain tempat Jihan sedang duduk di antara Fero dan Dwi.


Jihan mendapat jamuan dari para warga membuat Jihan bingung.


"Maaf sebelumnya ini ada apa ya" ucap Jihan.


"Begini Nona Jihan kami ingin meminta maaf karena sudah tidak percaya dengan anda, ini yang bisa kitaa berikan kepada Nona mohon di terima kami semuanya berterima kasih" ucap salah satu warga.


"Baiklah tapi pertama berhenti memanggil saya dengan sebutan Nona, saya hanya Jihan seperti yang kalian kenal saya rasa kalian tidak membuat masalah dengan saya jadi tidak perlu minta maaf dan saya tidak akan menerima ini semua" ucap Jihan.


"Tapi kesalahan kami sangat besar mohon terima lah ini semua karena hanya ini yang bisa kami berikan" ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah mari kita makan bersama" ucap Jihan.


"Kami tidak layak makan dengan anda Nona" ucap warga.


"Kita tidak pernah membeda bedakan siapapun dia, kita sama di mata Tuhan, dan kenapa memanggil saya Nona sedangkan kepada Ata eh maksud saya Fero tidak memanggilnya Tuan" ucap Jihan.


"Lo apa apaan si Ji gue gak mau di panggil Tuan" ucap Fero.


"Sama emang gue mau" ucap Jihan.


"Gak malu lo berantem di depan banyak orang" ucap Dwi.


"Hehe maaf semuanya, mari kita makan bersama" ucap Jihan


Jihan langsung makan kemudian di ikuti semua orang yang makan bersama. Semua warga yang hadir adalah warga yang bekerja baik di rumah maupun orang yang mengelola kebunnya.


"Maaf semuanya Jihan pergi dulu ada urusan, terima kasih makanan kalian luar biasa" ucap Jihan mengacungkan ke dua jempolnya.


"Silahkan neng" ucap salah seorang warga.


"Tapi sebelumnya bolehkah Jihan bertanya" ucap Jihan.


"Silahkan" jawabnya.


"Kenapa kalian panggil Ata juga, maksud Jihan gini kalian panggil Jihan karena merasa bersalah tapi sama Ata apa kalian berbuat salah" ucap Jihan.


"Karena kami tidak mengenali Tuan Fero yang selama ini sudah membantu kami di sini, sampai anda datang dan membuat perubahan pesat di desa ini bahkan kalian memperjuangkan anak anak kami " jawab warga.


"Oh gitu ya udah silahkan lanjutkan, saya permisi" ucap Jihan.


"Ji mau kemana" tanya Dwi.


"Penasaran yuk ikut" ucap Jihan.


"Maaf semuanya saya juga harus pergi silahkan di nikmati dan jangan canggung sama saya maupun Jihan" ucap Fero ikut pergi dengan Jihan.


"Ji kok bawa kita pulang si" ucap Dwi.


"Mas bawa sandal gak atau sejenisnya lah" ucap Jihan.


"Gak cuma bawa sepatu ini juga lagi di pakai" ucap Dwi.


"Oh oke" ucap Jihan melepaskan highheel yang dia pakai lalu menentengnya


"Kenapa" tanya Dwi.


"Pegel" ucap Jihan.


"Mau mas gendong" ucap Dwi.


"Gak tapi yuk duduk dulu di sana" ucap Jihan menunjuk tepian jalan.


"Oke yuk" ucap Dwi.


"Eh Ta, ikut duduk yuk ada yang mau gue bicarain sama kalian berdua" ucap Jihan.


"Oke" ucap Fero yang mulai menjaga jarak dengan Jihan.


"Sebenarnya gini, sebelum gue bener bener pergi dari sini gue mau kasih sesuatu yang gak bakal terlupakan sama warga sini tapi masih bingung gimana kalau kita bertiga kerja sama buat itu" ucap Jihan.


"Apa yang bisa mas bantu" tanya Dwi.


"Gini mas, gimana kalau gue sama Ata bangun wi fi gratis biar anak anak di desa ini bisa meng akses internet dengan mudah" ucap Jihan.


"Boleh tuh Ji, kita pakai nama AYASTA GROUP aja gimana" ucap Fero.


"Boleh tuh, kalau kamu mau kasih apa buat warga sini secara kan cuma sebentar di sini belum banyak kenangan" ucap Jihan.


"Mas bakal kembangin perekonomian di desa ini, apa lagi dengan internet yang cepat semua orang bisa berbisnis online mas juga akan kasih modal buat mereka merintis sebuah usaha" ucap Dwi.


"Good job, oke kita udah tentuin tinggal kerjain si Kevin sama Rey " ucap Jihan.


"Biasaan bisanya cuma cari ide doang pas realisasi pasti Kevin yang atur" ucap Fero.


"Gue bosnya, kalau semua gue lakuin sendiri buat apa punya asisten" ucap Jihan.


"Serah lo, eh gue balik ke tempat acara lagi ya bini gue ketinggalan" ucap Fero tersenyum walaupun hati menangis.


"Lo kira adek gue apaan ketinggalan" ucap Dwi.


"Udah udah pulang yuk" ucap Jihan.


"Bentar" ucap Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Kamu pakai ini aja" ucap Dwi memberikan sepatunya dan sekarang dia hanya memakai kaos kaki.


Jihan tersenyum dan berterima kasih dengan perlakuan Dwi. Sedangkan Fero hanya bisa menatap kepergian Jihan dari jauh dia akan berusaha merelakan segalanya tentang Jihan.


Saat sampai di rumah Jihan langsung ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Sedangkan Dwi sedang duduk santai di kamar karena dia baru pertama kali jalan dengan kaki telanjang.


"Sakit kakinya" ucap Jihan saat melihat Dwi meringis dengan kaki memerah di atas sofa


"Gak, kenapa" ucap Dwi menurunkan kakinya dari sofa dan membiarkan Jihan untuk duduk.


"Biar Jihan liat" ucap Jihan namun dengan cepat Dwi menjauhkan kakinya.


"Keras kepala" ucap Jihan.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya Readers.....

__ADS_1


__ADS_2