
"Iya, gak kerja kayak gitu lah dia tuh tanam saham terus kalau ada masalah dia secepat kilat untuk membereskannya jadi dia secara gak langsung kerjanya yang susah susah yang gampang di kasih Jovan" ucap Mama.
"Kerja di mana Mah" tanya Dwi.
"Di 2J Company" ucap Mama.
"Itu artinya Jovan Jihan ya mah" ucap Dwi.
"Iya" ucap Mama
"Kamu gak jadi istirahat Wi" tanya Mama.
"Lupa mah, terlalu pengin tau soal Jihan" ucap Dwi.
"Kalau di lihat lihat nih ya baik kamu sama Jihan tuh tingkahnya aneh, Jihan gak lagi hamil Wi" tanya Mama.
"Gak tau mah tapi sejak Dwi pulang tadi pagi dia emang aneh emosinya juga gak teratur, mau cek takut gak sesuai harapan mah jadi Dwi biarin aja dulu yang penting Dwi selalu jaga dia" ucap Dwi.
"Kamu memang suami idaman Wi, maaf ya kalau Jihan masih galak sama kamu" ucap Mama.
"Gak kok mah, sekarang udah agak cair gaak se dingin dulu waktu pertama Dwi deketin" ucap Dwi.
"Syukurlah, ya udah kamu istirahat gih, udah malam Jihan pasti bakal malem banget pulangnya" ucap Mama.
"Oke mah, Papa belum pulang mah" tanya Dwi.
"Lagi di jalan, sibuk kayaknya anaknya gak ada yang mau bantu lagi suka dengan kegiatan masing masing" ucap Mama.
"Kenapa gak minta bantuan sama Dwi aja" ucap Dwi.
"Gak perlu Wi, udah ke hendle semua kok kamu fokus sama perusahaan kamu aja" ucap Papa yang baru sampai.
"Eh papa" ucap Dwi menyalami papa Jihan.
"Mana anak perempuan papa" tanya Papa.
"Lagi pergi sama Jovan Pah" ucap Mama.
"Bakal lama dong" ucap Papa.
"Biasa lah pah, lagian lama mereka gak pergi berdua" ucap Mama.
"Iya pasti lama tapi kenapa Dwi gak ikut" ucap Papa
"Gak boleh pah, mereka mau berduaan" ucap Dwi manyun.
"Haha, kamu di duakan pergilah ke kamar dan menangislah" ucap Papa.
"Dwi gak secengeng itu pah, cuma gak ikhlas aja" ucap Dwi.
"Gimana perkembangan kamu sama Jihan" tanya Papa.
"Udah gak sedingin dulu pah, dia lebih hangat sekarang" ucap Dwi.
"Syukurlah, semoga kamu betah ya urusin dia soalnya dia tuh lebih susah di atur dari Abangnya" ucap Papa.
"Iya si pah, tapi kalau Dwi liat tuh Jihan kalau melakukan sesuatu kalau itu baik akan dia lakukan tanpa persetujuan tapi terbukti dia gak pernah melakukan kesalahan dan juga punya hati yang sangat hangat pah" ucap Dwi.
"Papa juga tau itu, makanya dia seringkali merelakan orang yang dia sayangi demi orang lain dia juga pura pura bodoh saat tau dia di khianati papa takut itu akan terjadi lagi makanya papa terima lamaran kamu karena fia tipe oramg yang akan menjaga yang menjadi haknya walaupun terlihat sangat curk" ucap Papa.
"Maksud papa" tanya Dwi.
"Sebenarnya Wi waktu dia sekolah tingkat pertama dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anak teman papa, dan anak itu juga menyukainya mereka menjalin hubungan spesial tapi karena Jihan yang tidak mau lebih dari sekedar pacaran dia di khianati dia menjlin hubungan lain di belakangnya dengan sahabatnya" ucap Papa.
"Apa itu Fero" tanya Dwi.
"Bukan, Fero bisa di anggap sebagai seorang yang menyembuhkan luka luka nya Wi, jadi gak heran kalau dia deket sama Jihan karena dia juga Jihan mulai bangkit walaupun dia masih dingin dengan laki laki namun hanya Fero yang mampu bertahan di samping Jihan sampai Jihan dapat percaya lagi dengan pershabatan" ucap Papa.
"Apa Fero gak ada rasa lebih sama Jihan pah" tanya Dwi.
__ADS_1
"Kamu cemburu, sebenarnya Fero pernah melamar Jihan namun Jihan menolak dengan alasan dia tidak ingin hubungan yang sudah terjalin putus" ucap Papa.
"Apa Jihan tidak punya rasa lain dengannya pah, Dwi lihat dia sempat menangis saat Fero mengucapkan ijab kabul dengan Putri" ucap Dwi.
"Ya dua orang berbeda jenis bersahabat lama pasti salah satu di antara mereka tertarik pada sahabatnya tapi apa kamu tidak percaya dengan Jihan" tanya Papa.
"Lebih dari percaya dengan diri sendiri pah, i love Jihan pah" ucap Dwi.
"Wah ada penggemar ternyata" ucap Jihan di belakang Dwi membuat Dwi menatapnya.
"Kamu kapan pulang" tanya Dwi.
"Dari tadi pas seseorang bertanya soal rasa dalam sebuah persahabatan" ucap Jihan.
"Maaf Ji, bukan gak percaya tapi terlalu mencintaimu" ucap Dwi memeluk Jihan.
"Iya iya, ya udah lepasin engap nih" ucap Jihan membalas pelukan Dwi dengan hangat.
"Maaf terlalu rindu" ucap Dwi melepaskan pelukannya.
"Ji taruh mana Nih, bukannya bantuin malah pelukan" ucap Jovan membawa barang belanjaan Jihan.
"Ini semua" tanya Dwi karena belanjaan Jihan lebih banyak cemilan dari pada baju dan jenisnya.
"Iya kenapa" tanya Jihan.
"Makanan semua Honey" tanya Dwi.
"Gak ada baju juga sepatu juga ponsel juga dan banyak lagi" ucap Jihan menjelaskan satu persatu isi paper bag belanjaannya.
"Buat mas" tanya Dwi.
"Gak ada" ucap Jihan santai lalu duduk dan mulai membongkar cemilan yang dia beli.
"Balik cepet kalian" ujar Mama.
"Iya biasanya lupa waktu" ucap Papa.
"Lagian lo beli sepatu harga jutaan, kenapa tadi gak ambil uang Dwi aja si" protes Jovan.
"Ya elah ini lebih murah dari yang lo kasih ke mainan lo Bang" ucap Jihan.
"Ya deh iya, ya udang Abang mau istirahat jangan lupa sisain buat Abang" ucap Jovan pergi.
Setelah kepergian Jovan Dwi langsung duduk di samping Jihan dan memeluknya. Di saat yang bersamaan Papa juga duduk di samping mama Anggun dan menirukan gaya Dwi yang memeluk Jihan membuat Dwi dan Jihan tertawa.
"Pah gak malu apa" ucap Mama dengan wajah memerah.
"Ngapain malu, papa kan cuma ikut mereka" ucap Papa.
"Dasar papa" ucap Mama mencubit
"Pah mah mending di lanjut aja deh biar Jihan sama Dwi ke kamar" ucap Dwi.
"Kamu tau aja Wi" ucap Papa.
"Ya lah pah, mantu idaman" ucap Dwi.
"Sayang ke kamar yuk" ucap Dwi menggandeng Jihan.
"Oke , tapi gendong" ucap Jihan manja.
"Hm oke" ucap Dwi tersenyum langsung menggendong Jihan dan Jihan langsung melingkarkan tangannya ke leher Dwi.
Jihan menikmati gendongan Dwi, saat menyusuri anak tangga untuk mencapai kamarnya Jihan membenamkan wajahnya di dada bidang Dwi dan mulai terlelap.
"Capek banget ya, apa terlalu nyaman" ucap Dwi menidurkan Jihan dengan lirih.
Setelah memastikan Jihan terlelap Dwi pergi ke balkon dan duduk termenung. Tanpa sadar matanya panas dan mulai meneteskan air matanya dan di saat bersamaan tanpa Dwi sadari Jihan sudah berada di belakangnya sedang menatapnya.
__ADS_1
"Sekejam itukah aku memperlakuknmu" tanya Jihan membuat Dwi tersentak.
"Sejak kapan kamu ada di sana" tanya Dwi menyeka air matanya.
"Entahlah, saat ini juga gue mau bilang kalau gue belum ada rasa sama lo jadi wajar kan kalau gue dingin sama lo dan lagi kalau memang terlalu menyakitkan bertahan di samping gue lepaskan gue " ucap Jihan dengan tatapan tajam.
"Ji bukan itu" ucap Dwi menggenggam tangan Jihan.
Jihan menghempaskan tangan Dwi keras, membuat Dwi ternganga. Jihan mundur beberapa langkah sampai membentur tembok sedangkan Dwi terus mendesaknya.
"Ji dengerin gue" ucap Dwi.
"Kalau memang terlalu sakit bertahan lepaskan gue, lupain gue gue yakin lo bisa dapat yang lebih baik di luar sana" ucap Jihan.
"Gue gak minta lo untuk bertahan lebih lama, gue juga gak maksa lo but pergi tapi gue juga gak minta lo mempertahankan atau di pertahankan sama lo karena gue tau kalau selama ini gue gak baik sama lo kalau memang lo ingin pergi silahkan cari kebahagiaan yang emang harus lo dapat" ucap Jihan.
"Please Ji jangan ngomong gitu, gue gak nangis karena itu karena bagaimanapun gue cinta sama lo gue terima semua apa yang lo lakuin buat gue bukan karena terpaksa tapi gue ikhlas gue yakin lambat laun lo bisa terima gue dengan hati lo" ucap Dwi.
"Jangan buat gue semakin salah" ujar Jihan meneteskan air matanya.
"Gak gitu Ji, gue siap kalau memang harus mengulang semuanya dari awal gue siap, gue tau sebenarnya lo banyak yang mau lo perbuat sama gue gue siap menerima semuanya sekalipun lo tikam gue gue ikhlas" ucap Dwi.
"Kenapa si lo gak ada jahat jahatnya sama gue" ucap Jihan memukul dada Dwi.
"Lo tuh terlalu baik buat gue, lo gak bisa terus sama gue gue berhak bahagia gue benci sama lo benci gue benci" ucap Jihan semakin lirih dengan terus memukul Dwi.
"Pukul Ji pukul kalau memang itu membuatmu bisa terima gue" ucap Dwi membuat Jihan berhenti memukulnya.
"Kenapa berhenti" tanya Dwi.
Jihn tidak menjawab dia hanya melangkah mendekati Dwi dan memeluknya erat. Dwi terdiam untuk beberapa saat kemudian membalas pelukan Jihan hangat dan erat.
Dwi merasa pelukan Jihan mulai longgar dan isakan Jihan muli lihir khawatir dengan keadaan Jihan Dwi menarik pundak Jihan dan menatap Jihan sayu.
"Ji are you oke" tanya Dwi.
"Oke, tapi perut gue" ucap Jihan.
"Kenapa" tanya Dwi panik.
"Jangan panik dulu dong, perut gue cuma rasa aneh aja" ucap Jihan.
"Sakit" tanya Dwi.
"Gak" ujar Jihan.
"Mual" tanya Dwi lagi.
"Gak juga" ucap Jihan membuat Dwi bingung.
"Jangan jangan kamu bohong biar bisa lepas dari pelukn gue ya" ucap Dwi mendapat cengiran Jihan membuat Dwi kesal.
"Tatap mata gue" ujar Dwi kesal.
"Ampun" ucap Jihan menyatukan ke dua tangannya memohon.
Dwi tak peduli dia langsung mengangkat dagu Jihn dan menatapnya dalam. Dwi mulia mendekatkan wajah mereka sampai tidak ada jarak di antara ke duanya Jihan hanya menatap fokus mata Dwi. Sedangkan Dwi mulai menyatukan bibir mereka pelan.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya readers...
__ADS_1
Kalau gak nyambung ceritanya maaf ya cerita ini mengikuti keinginan Author semata....