
Zira menjelaskan asal Putri dan Jihan menjadi musuh. Zira juga menceritakan kalau sebenarnya awalnya Putri tidak tau siapa Jihan yang sebenarnya saat dia datang untuk pertama kali pas ulang tahun dan bertemu Jihan. Sampai akhirnya dia tau kalau Jihan yang dia temui sama dengan Jihan yang menjadi musuhnya.
"Jadi bukan karena Fero" ujar Jovan.
"Gak murni karena itu, sebenarnya Jihan Primadona sekolah dia ahli dalam segala hal bahkan dia bisa selsesai sekolah hanya dalam waktu satu tahun, IQnya lebih lebih dan lebih dari orang biasa jadi Putri tuh cemburu karena semua orang lebih suka sama Jihan termasuk ke dua orang tuanya bahkan Abangnya" ucap Zira.
"Ya dia sempurna" ucap Dwi.
"Diem dulu ngapa Bang, dia juga yang merundung Jihan di sekolah sehingga tanpa sadar dia yang udah buat Jihan menjadi pribadi yang tempramen terhadap segala jenis kekerasan" ucap Zira.
"Jihan bahkan rela masuk sekelompok mafia untuk melindungi teman temannya karena Putri udah bunuh orang orang yang baik sama Jihan" ucap Zira membuat semua orang membulatkan matanya.
"Dengan kata lain Putri psikopat" ujar Jovan.
"Iya bahkan dia udah bunuh lebih dari seratus orang" ucap Jihan saat mendengar Zira sedang bercerita.
"What" ucap Dwi.
"Kenapa kaget, bukannya lo juga psikopat dan terbiasa dengan mafia" ucap Jihan duduk di samping Dwi.
"Lo tau semua tentang gue" ujar Dwi.
"Ya sepertinya begitu" ucap Jihan.
"Kenapa gak tidur balik tidur gih" ucap Dwi.
"Nanti, males" ucap Jihan.
"Selain lo anggota mafia dan seorang psikopat apa lagi yang lo sembunyiin dari gue" tanya Dwi.
"Dia seorang Sniper handal dan seorang Cyber andalah papa" ucap papa Dwi.
"Jadi papa" ujar Mama Sri.
"Gak mah, Jihan yang minta di ajari menembak sebenarnya papa gak mau bantu jihan berlatih senjata tapi karena keinginan Jihan, Jihan ikut latihan di kelompok mafia" ucap Jihan.
"Jangan bilang kamu yang bantu gue pas di serang beberapa orang gak di kenal" ucap Dwi.
"Kapan" tanya Jihan santai.
"Pura pura amnesia" ujar Dwi.
"Iy gue amnesia gak kenal siapa lo tanya tanya gue" ujqr Jihan pergi.
"Biasaan tuh bocah kalau belun selesai pergi" ucap Jovan.
Jihana pergi ke dapur kemudian mondar mandir membuat Jovan menatapnya aneh.
"Lo kayak setrikaan Ji kenapa" tanya Jovan.
"Gue cari ponsel Bang, Abang liat" tanya Jihan.
"Gak" ucap Jovan santai.
"Coba cari di kamar siapa tau ada" ucap Dwi.
Jihan mengikuti arahan Dwi untuk mencari ponselnya di kamar namun dia tak menemukannya. Dia kembali ke ruang keluarga saat Zira masih terus berceloteh.
"Lo belum selesai Ra" ucap Jihan.
"Masih panjang" ucap Zira.
"Serah lo, mas pinjem ponselnya dong" ucap Jihan kepada Dwi.
"Nih" ucap Dwi.
"Makasih" ucap Jihan kemudia mengambil ponsel di tangan Dwi dan mulai mengotak atiknya.
Jihan mencari cari ponselnya dengan menghubunginya namun ponselnya tak kunjung berdering.
"Belum ketemu" tanya Dwi.
"Belum" ucap Jihan seperti anak kecil.
"Bukannya ponsel kamu ada pelacaknya kenapa gak gunain itu aja" ujar Dwi.
"Iya kenapa gak kainget ya" ucap Jihan langsung melacak ponselnya.
"Abang" ucap Jihan.
"Kenapa" ujar Jovan.
"Kenapa lagi kalau gak ponsel Jihan ada sama Abang" ucap Jihan.
__ADS_1
"Kata siapa" ucap Jovan santai
"Kata gue lah, Abang berdiri" ucap Jihan.
Jovan berdiri namun tidak ada tanda tanda ponselnya, Jihan langsung nenarik dan memutar tangan Jovan dan membuat Jovan terjatuh dengan ke dua tangannya di belakang tubuhnya.
"Sakit Ji sakit" ujar Jovan meringis kesakitan.
"Ponsel Jihan" ucap Jihan.
"Yayaya, kenapa si gue punya adek kejam banget kayak gini pah mah kalian gak salah bawa adek kan waktu di rumah sakit" ucap Jovan.
"Ya gak lah" ucap Mama Anggun.
"Iya emang ada orang tua gak kenal anaknya" ucap Papa.
"Kalian berdua kayak anak kecil adanya berantem mulu gak malu apa banyak orang" ucap Mama Anggun.
"Lagian Abang" ujar Jihan.
"Yaya lepasin gimana mau ambil ponsel lo kalau tangan Abang lo pegang" ujar Jovan.
Jihan melepaskan satu tangan Jovan kemudian dengan cepat Jovan membalas perlakuan Jihan dan sekarang posisi Jihan yang terdesak.
"Bang" ucap mama Anggun.
"Iya mah, beruntung lo kali ini banyak pendukung" ujar Jovan melepaskan Jihan.
"Nih" ucap Jovwn memberikan ponsel Jihan.
"Tuh kan Abang, batrenya abis pentes gak bunyi Abang apain ponsel Jihan" ucap Jihan manyun.
"Gue main geam, abis punya lo udah level atas" ucap Jovan.
"Emang cari ponsel buat apa, semua orang ada di sini" ucap Jovan.
"Buat hubungin ketua mafia buat bunuh lo" ucap Jihan langsung duduk dengan keras di samping Dwi setelah mengisi daya ponselnya.
"Bang, lo pernah di posisi serba sulit" ucap Jihan membuat semua orang menatapnya.
"Maaf ya Ji, Putri buat kamu susah selama ini" ujar Papa.
"Gak pah, justru Jihan terima kasih sama Putri karena dia Jihan tau cara memperjuangkan sesuatu" ucap Jihan.
"Tapi kenapa kamu gak cerita sama kita tentang Putri Ji" ujar Mama Sri.
"Biarin aja biar dia gak bicara asal lagi, seharusnya kamu buat dia babak belur" ucap Papa Dwi.
"Pah, se gila gilanya Putri itu anak kamu pah masa papa tega anaknya di pukulin sampai babak belur" ujar Mama Sri.
"Iya, seharusnya Jihan jangan pukul Putri kasian cukup tampar dengan kata kata" ucap Mama Anggun.
"Kata kata buat dia gak mempan mah" ucap Jihan.
"Apa jangan jangan waktu Putri babak belur sampai di larikan ke rumah sakit dan kena peluru karena berantem sama lo" ucap Dwi.
"Iya, lagian dia sandra semua teman teman Jihan bahkan mereka yang gak bersalah, saat Jihan mau damai dia malah baku tembak ya udah gue bales lagian kan gue tembaknya gak fatal cuma di lengan lah dia sedikit lagi pas di jantung gue tembakan dia buruk" ucap Jihan.
"Mereka sama sama terluka parah" ucap Zira.
"Lo tau semuanya kenapa gak bilang" ujar Zira.
"Zira yang selamatin gue sama temen temen gue" ucap Jihan.
"Udah di bilang walaupun Jihan musuh terbesar gue tapi dia yang buat gue pengin tetep hidup buat terus melawan nya" ujar Zira.
"Lo jahat" ucap Jihan.
"Jahatan lo, kenapa gak mati juga dan karena lo gue harus kasih darah gue ke lo" ucap Zira.
"Kenapa lo tolong gue kalau lo mau bunuh gue" ucap Jihan.
"Karena gue mau lo abis di tangan gue" ucap Zira.
"Kenapa lo gak racun gue atau apalah " ucap Zira.
"Setelah gue pikir pikir ternyata musuh sama sahabat tuh beda sedikit doang dan ternyta yang menang memang persahabatan" ucap Zira.
"Nah gitu dong kan bagus jalian bersahabat" ucap Mama Anggun.
"Iya karena kita sama sama gak ada alasan buat musushan" ujar Zira.
"Bener bener, eh apa kabar lo sama si doi" ujar Jihan.
__ADS_1
"Pergi dia menghilang" ucap Zira.
"Lo gak bunuh dia kan" ucap Jihan.
"Gak lah cuma dia hamilin anak orang dia harus tanggung jawab lah" ucap Zira.
"Bagus dong dia masih waras" ucap jihan.
"Waras apanya hamilin anak orang waras lo bilang yang ada gila" ucap Zira.
"Ya waras hamilin anak orang bukan hamilin kucing" ucap Jihan.
"Lama lama omongan lo ngelantur" ucap Zira.
"Gue capek ngantuk" ucap Jihan.
"Ya udah istirahat tidur gih" ucap Dwi lembut.
"Ya" ucap Jihan pergi.
Lama mereka semua masih saling bercanda sedangkn Mama Sri menghampiri Putri di kamarnya untuk merawat anaknya yang masih saja marah marah di dalam kamarnya.
Sedangkan Jihan di dalam kamar sedang membaca buku sampai dia terlelap.
Satu persatu orang mulai pergi hanya tersisa Dwi papa Jihan dan papanya.
"Wi bagaimana dengan nasib pernikahan kamu sama Jihan" ucap papa Jihan khawatir.
"Sepertinya kita harus meresmikan hubungan kalian" ucap papa Dwi.
"Maksudnya gimana" tanya Papa Jihan.
"Selama ini kan pernikahan mereka bru sebatas untuk tidak menimbulkan fitnah, jadi saya mau menikahkan mereka secara resmi baik secara agama maupun negara" ucap Papa Dwi.
"Tenang aja pah, sebenarnya Dwi juga mau menikahi Jihan secara resmi besok untuk semua keperluannya udah Rey siapin" ucap Dwi.
"Kita gak bawa hadiah apapun buat mempelai wanitanya" ucap mama Sri yang baru saja bergabung.
"Udah di siapin sama Rey sama Kevin mah, eh Putri gimana" tanya Dwi.
"Udah tidur, dia juga sadar kalau kelakuannya salah" ucap Mama Sri.
"Oh oke, terus mereka berdua mau ke sini kapan" tanya Mama Sri.
"Besok subuh mereka datang mah" ucap Dwi.
"Oke deh, kalau gitu kamu istirahat gih udah malam siapin diri buat besok" Ujar Mama Sri.
"Iya mah, semuanya Dwi istirahat dulu" ujar Dwi.
"Wi jaga Jihan ya, sebenarnya Jihan gak sedingin itu dia hangat dan perhatian dia juga perasa walaupun dia bilang baik baik saja itu belum tentu dia baik" ucap papa Jihan.
"Iya pah, dukung Dwi terus buat bisa bahagiain Jihan" ujar Dwi lalu pergi.
"Apa lagi yang harus gue lakukan buat hadapi dinginnya Jihan" ucjar Dwi dalam hati sembari menarik nafas panjang.
Dwi masuk ke dalam kamar namun saat dia melihat ranjang Jihan tidak ada membuat Dwi mencari cari karena ternyata Jihan tidur di sofa kamarnya.
"Cantik, Ji apa yang harus gue lakukan biar lo mau terima keberadaan gue di samping lo" ujar Dwi sembari memandang wajah cantik Jihan.
Dwi kemudian memindahkan Jihan ke atas kasur dan menutupinya dengan selimut tapi saat dia akan pergi Jihan menarik tangannya kemudian duduk.
"Kenapa mas terlalu kasar ya sampai kamu bangun" ucap Dwi lembut sembari mengusap usap pipi Jihan.
Jihan melepaskan usapn Dwi kemudian menggenggam tangan Dwi erat di balas dengan senyuman menawan dari Dwi.
"Gak kok makasih udah pindahin Jihan" ucap Jihan.
"Terus kenapa kebangun kamu harus tidur udah malem istirahat besok akan menjadi hari yang panjang" ujar Dwi.
"Menikahlah dengan ku" ucap Jihan membuat Dwi menatapnya bingung.
.
.
.
.
.
Jangan lupa komentarnya teman.....
__ADS_1
di episode ini mungkin terlalu berbelit tapi Author sengaja biar gak bertanya tanya apa yang sedang terjadi....
Maaf ya kalau gak sesuai ekspetasi kalian...