
Permainan berakhir saat Dwi mencapai puncaknya. Jihan menangis tersedu sedu karena marah dan takut bercampur menjadi satu.
Dwi bahkan tidak meminta maaf dia hanya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Jihan berlari ke kamar dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
Dwi keluar dari kamar mandi hanya dengan kimono mandinya sembari menatap Jihan puas. Jihan justru ketakutan melihat Dwi.
"Jangan mendekat" teriak Jihan saat Dwi mencoba menyentuhnya.
"Kamu milikku, aku suamimu" ujar Dwi menggoda
"Kamu bukan, bukan Dwi yang gue kenal" ujar Jihan menangis.
"Mau marah bukankah itu hak mu melayaniku" ujar Dwi dengan tawa yang mengerikan.
"Inikah wujud aslinya, di balik ketampanan dan pemuh perhatiannya adalah wujud yang menakutkan dan kejam" ujar Jihan dalam hati.
Dwi tertawa puas membuat Jihan semakij membencinya Dwi lalu merebahkan diri di samping Jihan. Jihan ingin pergi namun selimut itu tertindih tubuh Dwi membuatnya frustasi.
"Berat banget, kalau gue berdiri gue gak pakai sehelai kainpun gak pergi gue , argh... sialan" ujar Jihan dalam hati.
Waktu terus berlalu malam mulai dingin sedangkan Dwi sudah terlelap dalam tidurnya Jihan masih belum.bisa tidur.
"*Apa gue yang terlalu egois, kenapa dia sangat jahat seperti itu dia seperti bukan orang yang gue kenal dia seperti monster atau gue yang terlalu takut jatuh cinta padanya tapi harusnya dia gak lakuin itu saat marah" ujar Jihan lirih.
"Jadi sebenarnya lo takut jatuh cinta" ujar Dwi dalam hati ternyata dia hanya berpura pura tidur.
"Tuhan rencanamu sungguh unik, kuatkan tubuhku teguhkan hatiku" ujar Jihan memohon tiba tiba tangan Dwi menariknya membuat Jihan hilang keseimbangan dan terjatuh dalam posisi tertidur di sana dan sebagian tubuhnya terexpose*.
"Mau menggodaku" ujar Dwi.
"Kamu belum tidur" ujar Jihan gugup
"Kenapa gugup gitu, mau lagi" ujar Dwi
"GR kamu, tadi juga gue gak iklas" ucap Jihan membenarkan selimutnya namun Dwi justru menarik dan membuang selimut itu sembarang.
"Mas" ujar Jihan dengan nada tinggi.
Dwi hanya tersenyum lalu mengulang kembali kejadian tadi namun dengan permainan yang sangat lembut membuat Jihan tidak lagi setakut tadi.
Saat mereka merasa selesai Jihan merasa sangat lemas dan mulai terlelap. Dwi menarik kembali selimut yang dia buang dan ikut terlelap dengan Jihan.
Jihan bangun terlalu pagi karena badannya terasa remuk karena dia juga takut Dwi akan melakukannya lagi. Jihan pergi ke kamar mandi dan berendam cukup lama di sana sembari menutup matanya namun tiba tiba Dwi ikut masuk ke dalam bathtub itu karena pintu kamar mandi tidak di kunci.
"Kamu minggir dong" ujar Jihan.
"Kenapa" ucap Dwi santai sembari mencolek tubuh Jihan.
"Gue mau mandi" ujar Jihan.
"Mandi bareng" ucap Dwi dengan tatapan menggoda.
"Gak mau" ujar Jihan terus mengomel membuat Dwi menempelkan bi**rnya dan Jihan membuat Jihan diam seketika.
Skip aja ya guys....
Takut ada anak di bawah umur yang baca hehe...
Jihan keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya sedangkan Dwi sudah rapi dengan setelan jasnya yang sengaja dia siapkan di kamar itu.
"Kamu gak ganti" tanya Dwi
"Sepertinya seseorang telah merusaknya, kalaupun saya pakai saya tidak akan bisa keluar" ujar Jihan dingin membuat Dwi tersenyum tanpa dosa.
"Oke gue suruh Rey bawain baju buat kamu" ujar Dwi mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Keringin tuh rambut masuk angin saya juga yang repot" ucap Dwi datar
"Dasar mahluk aneh" ujar Jihan mencari hairdryer yang tadi di pakai Dwi.
Jihan mengeringkan rambutnya dan menguncirnya. Jihan memakai make up seadanya yang dia bawa di tas jingjingnya.
"Eh gimana nasib sayur sayur gue" ujar Jihan lirih.
"Udah di urus Randy" ucap Dwi mengambil jam tangan yang ada di meja depan Jihan sembari menatap Jihan.
"Ngapain liat liat" ujar Jihan.
"Hahaha marah" ucap Dwi menyentil hidung Jihan.
"Iz marah lah gue lemes banget" ucap Jihan.
"Mau lo gue lagi" ucap Dwi serius dengan duduk di meja depan Jihan dan menatapnya.
"Yaya, kamu tuh nyebelin kebencian saya naik dua tingkat" ujar Jihan penuh penekanan.
"Sekarang saya tidak peduli dengan hati dan perasaan kamu, kamu hanya perlu mengikuti aturan saya jarena saya suami kamu" ucap Dwi.
Jihan hanya tertawa hambar dengan mata yang menatap mengerikn mencerminkan kemarahan yang amat sangat besar kepada Dwi.
Saat mereka sedang saling tatap dengan tatapan saling membenci tiba tiba ponsel Jihan berbunyi membuyarkan pikiran mereka berdua.
"Hanya waktu satu malam dia berubah" ujar Jihan dalam hati.
Ternyata Cika yang menghubunginya dia .engatakan kalau mereka akan membuat olahan makanan ringan dengan bahan yang mudah di dapat di desa di angguki Jihan dengan senyuman mengembang.
"Oke gue bawa modalnya nanti" ucap Jihan.
"Mau kasih nama apa biar sekalian gue bikin logonya" ujar Jihan.
"Kenapa JaFe" tanya Jihan.
"Karena ku dan Fero adalah pahlawan bagi kita" ujar Cika.
Setelah selesai berbicara dengan Cika Jihan langsung menghubungi Jovan untuk membawkannya uang cash untuk memulai usahanya di kampung.
Tak hanya di situ, Jihan bahkan membuat beberapa logo untuk sample yang akan dia bawa ke desa sore nanti. Jihan bekerja berlalulalang di depan Dwi dengan masih memakai kimono saja membuat tubuhnya sering terexpose.
"Kamu menggodaku" ujar Dwi menarik tangn Jihan membuat Jihan jatuh di pangkuan Dwi.
"Lepasin" ujar Jihan memberontak.
Bukan melepaskan Dwi justru mengeratkan tangannya dan mulai menjelajahi tubuh Jihan dengan lidahnya. dan hal yang terjadi tadi malam terulamg membuat Jihan benar benar marah pasalnya Dwi tidak membiarkan Jihan beristirahat karena permainan Dwi sangat lama.
Menjelang siang Rey datang dengan paper bag di tangannya dia melihat sekeliling ternyata tidak ada tanda tanda sang bos di sana. Dia hanya meletakkan paper bag itu di atas meja dan menulis sebuah catatan kecil di sana.
Jihan terbangun saat hari mulai sore dia pergi membersihkan diri sebelum Dwi bangun. Jihan membersihkan diri dengan cepat. Tapi dia merasa area **** * nya sakit karena kerjaan Dwi.
"Dasar monster" ucap Jihan saat melewati tubuh Dwi.
"Gue doain lo lebih tajir biar gue abisin duit lo, monster mesum nyebelin gila kurang ajar egois gak tau malu alay gue benci lo semoga aja lo ganteng terus" ujar Jihan dengan kesal dan mengatakan sumpah serapah nya.
"Sumpahin saya" ujar Dwi mambuat Jihan melongo karena terlalu marah dia sampai tidak sadar kalau Dwi sudah bangun.
"Tau ah" ujar Jihan keluar dengan balutan kimono.
"Kamu keluar dengan itu" tanya Dwi.
"Harus pakai apa dong gue laper gue haus baju gue di rusak" ucap Jihan marah
Jihan keluar dengan amarah menggebu dia melihat ada dua paper bag di sana membuat Jihan penasaran dia membukanya dan kemudian senyumnya mengembang.
__ADS_1
Jihan kembali masuk ke dalam kamarnya dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Dia bersemangat karena baju yang dia kenakan sekarang adalah baju dari boutiqnya dan hanya ada dua di dunia karena dia sendiri yang mendesign.
Jihan bahkan kembali ke meja rias dan merias wajahnya dengan dandanan Flawles khas dandanannya. Setelah selesai Jihan kembali ke ruangan Dwi dan membuat kopi di pantry.
"Makan enak nih" ujar Dwi yang keluar sudah rapi dengan setelan kerjanya saat melihat Jihan dengan banyak makanan
"Iya nih semua saya pesan tadi malam lupa kalau alamatnya apartemen sama Rey di bawa ke sini katanya di suruh Kevin udah di angetin juga" ujar Jihan mulai bawel.
"Kopi saya mana" tanya Dwi.
"Gak ada" ujar Jihan santai membuat Dwi menyeruput kopi yang ada di tangan Jihan.
"Yah yah," ujar Jihan menatap kopinya yang tinggal setengah
"Gak ikhlas" tanya Dwi.
"Gak ikhlas juga percumah" ucap Jihan dingin sembari makan makanan yang dia pesan semalam.
Kembali terulang Dwi memakan makanan yang ada di tangan Jihan. Saat Jihan akan menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan cepat Dwi merampasnya.
"Kamu gak bisa makan sendiri ya" ujar Jihan kesal.
"Makanan yang kamu suapkan lebih enak" ujar Dwi.
"Dan makanan yang kamu makan buat saya enek" ucap Jihan dingin dan pergi namun bukannya marah Dwi justru tertawa.
"Kamu kenapa jalannya kayak bebek gitu" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya tajam.
Tok.... Tok.... Tok....
"Masuk" ujar Dwi.
"Maaf bos mengganggu setelah makan siang kita ad pertemuan di cafe X " ujar Rey yang masuk dengan ragu.
"Oke, kita punya berapa menit" tanya Dwi tegas.
"Masih satu jam lagi bos, sayaa kira bos belum selesai" ujar Rey meledek.
"Buat nanti" ucap Dwi dengan senyuman menggoda menatap Jihan.
"Kalau begitu saya permisi bos" ucap Rey.
Jihan hanya fokus membuat logo produc makanan ringan yang Cika usulkan di ponselnya. Dwi yang melihat Jihan sibuk bekerja membuatnya merasa kasian karena keusilannya membuat Jihan tidak jadi makan.
"Kamu lagi apa si" ucap Dwi mendekat dengan makanan di tangannya.
"Lagi mikirin masa depan" ucap Jihan asal.
"Masa depan dengan saya" ujar Dwi.
"Gr kamu" ucap Jihan mematikan ponselnya.
"Nih makan, lagian saya udah kenyang" ujar Dwi menyodorkan makanan yang ada di tangannya.
Jihan tidak menerima atau menolaknya membuat Dwi bingung dengan keunikan Jihan.
"Gak mau ya, sisa saya" ujar Dwi terlihat sedikit kecewa.
Jihan tidak menjawab dia hanya berjalan ke arah sofa dan merebahkan badannya di sana sembari memijit pelipisnya. Dwi melihat Jihan begitu sangat kasihan namun bagaimana lagi dia harus menghadapi Jihan jadi dia ikuti permainan Jihan dan akan memenangkan hati Jihan.
Jangan bosen bosen mampir ya guys...
Maaf belum bisa mampir ke tempat kalian
makasih yang selalu mendukung dan mensuport Author...
__ADS_1