Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Penasaran


__ADS_3

"Susulin tuh bocah gue takut dia kambuh" ucap Jovan.


"Maksudnya" tanya Dwi penasaran.


"Dia tuh kalau pikirannya kacau suka gak tidur sampai pagi" ucap Jovan.


"Oh ya udah gue duluan Van" ucap Dwi berlalu menyusul Jihan.


Setelah masuk ke dalam kamar ternyata benar yang di katakan Jovan kalau Jihan tidak tidur tapi sedang membaca buku sembari membolak-balikan badannya mencari tempat ternyaman.


"Kenapa belum tidur katanya mau sambung tidur" ucap Dwi menghampiri Jihan.


"Gak bisa tidur, kamu tidurlah dulu" ucap Jihan dingin.


"Kenapa bukannya besok sekolah" ucap Dwi.


"Udah di bilangin gak bisa tidur, lagian emangnya gue boleh sekolah" tanya Jihan.


"Boleh lah, emang kenapa gak mau sekolah mau berduaan aja di rumah seharian sama gue juga boleh" ledek Dwi.


"Gak gue mau sekolah" ucap Jihan cepat.


"Ya sudah sekarang tidurlah atau kamu mau tidur kalau gue peluk" ledek Dwi lagi.


"Ih... narsisnya" ucap Jihan cepat cepat naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Jangan pura pura gitu nanti capek, tenang aja aku bakal tungguin kamu sampai kamu tidur" ucap Dwi.


"Tungguin aja kalau kamu kuat" ucap Jihan santai.


Dwi menepati janjinya menunggu Jihan sampai tertidur padahal dirinya juga sudah sangat lelah karena pekerjaannya siang tadi, setelah merasa Jihan tidur nyenyak Dwi kemudian merebahkn tubuhnya di samping Jihan dengan wajah menghadap Jihan.


"Hu... dasar katanya mau tungguin gue tidur malah tidur duluan" cibir Jihan.


"Lagian siapa suruh pura pura tidur gitu, gue udah gak tahan nih mata jadi gue nyerah gue tidur duluan" ucap Dwi membuat Jihan terbelalak karena ternyata Dwi belum tidur.


Setelah perdebatan yang sangat lama akhirnya Jihan tertidur pada pukul satu dini hari. Dwi yang melihat Jihan sudah benar benar tertidur kemudian tersenyum dan mencium kening Jihan lalu menyusul Jihan ke alam mimpi.


Mentari mulai menunjukkan sinarnya membuat semua orang mulai melakukan aktifitasnya. Jihan terbangun pada pukul enam pagi membuat Jihan membelalakkan matanya kemudian berlari dengan cepat ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah.


"Mah Pah Jihan berangkat ya" teriak Jihan.


"Sarapan dulu sayang" saut Mama Jihan yang sedang mengepel lantai.


"Gak sempet mah" ucap Jihan sembari memakai sepatunya.


"Kamu gak pamit dulu sama suami kamu" ucap Mama saat melihat Jihan selesai memakai sepatunya.


"Suami" ucap Jihan berfikir.


"Aduh Mah lupa" ucap Jihan kemudian berlari ke meja makan dan berpamitan dengan semua orang termasuk suaminya Jihan mencium tangan Dwi. Dwi memberikan senyum manisnya kepada Jihan namun Jihan tidak peduli dan pergi.


"Jihan" teriak Mamanya membuat Jihan melihat ke arah Mamanya.


"Apa lagi Mah" ucap Jihan jengah.


"Lihat tuh" ucap Mama Jihan sembari menunjuk lantai yang kotor karena sepatu Jihan.


"Maaf Mah, Jihan pel nanti pulang sekolah ya Mah bye" ucap Jihan.


Jihan berangkat dengan menaiki ojek karena sudah sangat terlambat. Karena jarak dari rumah ke sekolah Jihan memakan waktu tiga puluh menit. Jihan berlari saat tukang ijek tersebut sampai di depan gerbang sekolah.


"Mang ojeknya minta sama Mama ya Mang soalnya tadi Jihan buru buru gak sempet bawa uang" teriak Jihan.


"Siap Neng" ucap tukang ojek tersebut.


"Makasih Mang" ucap Jihan berlari ke kelasnya.


Jihan menarik nafasnya panjang karena belum masuk waktu belajar. Jihan mendudukkan diri dengan keras di bangkunya membuat semua temannya terperanjak.


"Eh Ji, tumben siang" tanya Nisa.


"Iya semalem gue tidur udah pagi" ucap Jihan.

__ADS_1


"Ngapain lo tidur pagi, lagian kenapa lo gak pakai baju olahraga" tanya Nisa.


"Aduh gue lupa, padahal udah gue siapin" ucap Jihan menepuk jidatnya.


"Gimana dong jam pertama loh olahraganya" ucap Hana.


"Paling gue di suruh pulang sama pak Edwin" ucap Jihan santai.


"Gila lo kalau gak tidur kacau bener" ucap Hana menggelmgkan kepalanya karena tau apa yang sedang di rasakan sahabatnya itu.


Setelah sepuluh menit mereka mengobrol bel masuk berbunyi, dan semua murid di kelas Jihan di suruh untuk ke lapangan Jihan berjalan paling akhir karena dia tidak memakai seragam olahraga sendiri.


"Jihan penyakitmu kambuh" cibik Pak Edwin.


"Iya pak, saya mau izin pulang untuk ganti pakaian" ucap Jihan santai.


"Oke saya izinkan kamu untuk ganti tapi dengan waktu lima belas menit kalau kamu sampai terlambat saya tambah hukuman kamu" ucap Pak Edwin serius.


"Siap pak" ucap Jihan semangat.


Semua teman Jihan hanya menatap Jihan aneh pasalnya tidak mungkin mereka bisa bolak balik dalam waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Sedangkan dengan memakai motor saja itu hanya waktu untuk pulang.


"Waktumu mulai dari sekarang" ucap Pak Edwin.


Jihan berlari ke arah pak Edwin untuk meminjam motornya, karena pak Edwin juga termasuk fans Jihan dengansenang hati Pak Edwin meminjamkan motornya. Jihan dengan cepat melajukan motor ninja milik Pak Edwin walaupun dirinya memakain rok.


Jihan dengan cepat sampai di rumah, Dwi yang melihat lari Jihan yang seribu langkah kaget pasalnya Jihan bisa menghindar dengan begitu gesit saat akan menabrak Dwi. Dwi tersenyum lalu kembali ke aktifitasnya. Jihan berlari ke kamar dengan cepat berganti pakaian tidak lupa membawa pakaiannya ganti lainnya.


"Ji kamu pulang" tanya Jovan saat melihat Jihan sedang memakai sepatu.


"Iya Bang" jawab Jihan masih serius memakai sepatu olahraganya.


"Ada yang ketinggalan" tanya Jovan lagi.


"Gak cuma salah pakai seragam, oh ya sama belum bawa saku sini gue minta Bang" ucap Jihan.


"Kenapa ke gue" ucap jovan.


"Kalau ke Mama lebih makan waktu Bang" ucap Jihan.


Jihan yang melihat itu hanya melihatny tanpa mengmbil uang tersebut karena menurutnya uang itu terlalu banyak untuknya. Tapi karena Jihan tidak ingin membuang Waktu Jihan langsung menaiki motor tanpa mengambil uang Dwi.


"Ambillah ini buat kamu, sekarang kamu tanggung jawab aku beli makan kamu belum sarapan pagi" ucap Dwi dengan lembut.


"Satu aja idah lebih dari cukup" ucap Jihan mengambil selembar uang tersebut.


"Semua dong, tenang aja aku masih ada" ucap Dwi.


"Makasih" ucap Jihan menyalakan motornya.


"Ji" panggil mama.


"Apa lagi mah cepet " ucap Jihan buru buru.


" Nih bajunya nanti lupa lagi, kamu kenapa si gak makan gak bawa saku lagi pakai seragam salah" cibir Mama sembari memberikan seragam ganti Jihan.


"Nanti aja Jihan jeasin, udah meped soalnya Jihan cuma punya waktu lima belas menit bolak balik ini tinggal enam menit lagi mah, udah ya Mah bye love you" ucap Jihan melajuakan motornya dengan kecepatan super sonik.


"Mah Jihan bilang berapa menit" tanya Jovan.


"Lima belas menit bolak balik" ucap Mama Jihan santai.


"Tapi Van bukannya sepuluh menit berangkat aja itu udah paling cepet" ujar Dwi.


"Iya, eh gila tuh bocah lima belas menit bolak balik belum lagi ganti baju ganti sepatu tadi bener bener tuh bocah tapi dia naik apa terbang" ucap Jovan yang tidak menyadari Jihan naik motor.


"Naik motor" ucap Mama Dwi yang baru saja datang.


"What motor, Jihan bawa motor bener bener udah gak sayang nyawa tuh bocah di kira nyawanya banyak apa ya" ucap Jovan meradang.


"Emang kenapa Van, dia gak bisa motor" tanya Dwi.


"Jangankan motor, sepeda aja dia gak bisa" ucap Mama Jihan.

__ADS_1


"Wha terus gimana dong Wi" ucap Mama Dwi panik.


"Biar Dwi susulin aja Mah, lagian udah siang" ucap Dwi.


"Iya susulin cepet jangan sampai anak mama lecet dan cepet kasih kabar" ucap Mama Dwi.


"Iya mah iya, ya udah Dwi berangkat dulu Mah Bang" ucap Dwi santai.


"Lo panggil gue Abang gue mau ketawa tau gak si lucu" ucap Jovan menahan tawanya.


Dwi hanya tersenyum lalu melajukan motornya ke sekolah Jihan karena Dwi akan mengajar bahasa Inggris sementara di sekolah Jihan pasalnya guru yang mengajar sudah pindah karena belum menemukan pengganti Ayah Dwi meminta Dwi untuk mengajar karena Papanya adalah pemilik sekolah tersebut jadi dengan mudah Dwi bisa mengajar di sana.


Jihan sampai dengan cepat saat semua temannya masih melakukan pemanasan membuat semu temannya tercengang dengan kecepatan dan ketepatannya.


"Siap pak terima kasih" ucap Jihan semangat.


"Kamu terlambat tiga menit jadi kamu akan mendapat hukuman" ucap Pak Edwin.


"Ya elah pak cuma tiga menit kali pak lagian kalau bapak di posisi saya gak bakal nyampe" protes Jihan.


"Siapa suruh kamu lupa" ucap pak Edwin.


"Yaya terserah mau hukum gue apa" ucap Jihan pasrah.


"Sekarang kamu cat lapangan basket setelah itu kamu baru boleh ikut pelajaran saya" ucap pak Edwin.


"Iya" ucap Jihan mengambil cat ya g sudah di siapkan Pak Edwin.


Jihan mulai melakukan pengecetan dengan cepat tapi tepat Jihan selesai menyelesaikan dengan capet namun karena cat yang masih banyak Jihan menggambar di lapangan basket membuat pak Edwin berteriak.


"Jihan" teriak pak Edwin membuat semua orang meihat ke arah Jihan namun Jihan masih santai menggambar.


"Jihan apa yang kamu lakukan , kenapa kamu coret coret lapangan" teriak pak Edwin.


"Ya kan sayang pak catnya masih banyak" ucap Jihan melanjutkan gambarnya.


"Iya tapi gak coret coret lapangan juga kali Ji" ucap Pak Edwin meradang.


"Pak mending bapak naik ke atas dan lihat apa yang sedang Jihan gambar" ucap Jihan.


Tanpa berfikir panjang pak Edwin mengikuti instruksi Jihan dengan naik ke lantai dua dan melihat gambar Jihan. Kemudian terlihat senyuman bahagia di wajah pak Edwin pasalnya Jihan menggambar logo sekolahnya dengan sangat teliti.


"Jihan good job" teriak pak Edwin.


Dwi yang baru saja sampai tersenyum melihat kelakuan Jihan yang sedang membanggakan dirirnya pada seorang guru. Dwi menggeleng gelengkan kepalanya lalu pergi dan bersiap untuk mengajar saat melihat Jihan sudah bergabung dengan teman temannya.


"Ji" tegur Mona.


"Ya" ucap Jihan.


"Volly yuk" ajak Mona.


"Yuk, mana yang lain" tanya Jihan.


"Udah di lapangan, kita kesana yuk" ucap Mona.


Jihan dan Mona bergabung dengan teman temannya bermain volly ball. Jihan bertanding dengan team putra sampai waktu istirahat membuat semua orang menintonnya.


.


.


.


.


.


..


.............


Jangan lupa dukung Author ya ...

__ADS_1


Happy readers......


__ADS_2