Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Di luar Dugaan


__ADS_3

"Saat gue cium kening dia tadi bukan senyuman yang terpancar tapi di luar dugaan" ucap Fero.


"Atau mungkin lebih tepatnya dia gak pernah melakukan hal itu sama lo" ucap Hana.


"Hm, ini pertama kalinya dan mungkin yang terakhir " ucap Fero.


"Jadi apa hubungan kalian" tanya Nisa.


"Seperti yang dia katakan kita hanya teman dia sangat profesional dia selalu bisa membedakan batas dalam setiap hubungan" ucap Fero.


"Sejauh apa kalian berdua" tanya Mona.


"Kita hanya bejalan makan bersama kalaupun gue pegang tangan dia, dia selalu melepaskannya lo tau kenapa gue tergila gila sama dia karena dia akan menjaga segalanya dari orang yang tidak mempunyai hak" ucap Fero.


"Ternyata lo yang jahat" ucap Nisa.


"Oke oke gue khilaf, gue bakal minta maaf secara langsung dengan Jihan dan suaminya" ucap Fero.


"Lo harus terima status baru kalian, Jihan bukan lagi sahabat lo tapi kakak ipar lo hormati dia" ucap Mona.


"Oke, dia wanita paling baik yang pernah gue temuin dan gue kenal" ucap Fero menunduk.


"Oke sekarang bersiap kita akan menyusulnya" ujar Hana.


Saat semua orang bersiap menyusul Jihan, Dwi mendapat notifikasi di ponselnya. Dwi menepikan mobilnya ada sebuah Vidio yang masuk Dwi melihatnya dengan jalas dan seksama.


Senyuman kecil terlihat di bibir Dwi. Saat Dwi memasukkan kembali ponselnya Dwi melihat mobil Kevin melintas membuatnya mengikuti. Namun karena jalanan yang sepi mobil Kevin melaju dengan cepat tapi Dwi melihat Jihan ada di sana.


Dwi melajukan mobinya mengejar mobil Kevin sampai dia memotong jalan Kevin membut Kevin mengerem mendadak.


"Kenapa Kak" tanya Jihan pada Kevin.


"Tuh" ucap Kevin menunjuk mobil yang berhenti di depannya.


"Itu bukannya mobil gue ya" ucap Jihan.


"Iya bener " ucap Kevin.


"Kenapa tuh orang" ujar Jihan saat melihat Dwi berjalan ke arah mobilnya.


"Turun" ucap Dwi membuka pintu mobil penumpang.


"Ji" ujar Kevin.


"Gak apa apa" ucap Jihan.


Dwi menarik tangan Jihan dengan keras membuat Jihan meringis kesakitan. Namun Jihan tetap mengikuti Dwi yang terus menariknya dan memintanya berganti mobil.


"Masuk" ucap Dwi


Jihan hanya mengikuti perintah Dwi. Sedangkan Kevin hanya bisa menyaksikan Jihan di perlakukan buruk oleh Dwi.


Dwi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Jihan tersentak sesaat namun kembali bersikap biasa membuat Dwi bingung


"*Dia gak takut ya" ujar Dwi dalam hati.


"Lo pikir gue takut kan dan mohon sama lo buat berhenti jangan ngarep lo" ujar Jihan dalam hati*.


Dengan santainya Jihan mengambil ponsel Dwi yang berada di samping Dwi lalu memainkan game. Karena ponsel dan semua yang ada di tas dia tertinggal di mobil yang Kevin bawa.


"Dengan santainya dia ambil ponsel gue, luar biasa" ucap Dwi.


Sepanjang jalan tidak ada berbicara satu sama lain, Jihan justru asik bermain ponsel dan berselfi ria di ponsel Dwi sedangkan Dwi memanyunkan bibirnya.


"Lo gak peka banget ya" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya sesaat.


"Kenapa" ujar Jihan dingin.


"Gak mau minta maaf gitu" ujar Dwi tak kalah dingin.


"Oke oke, gue minta maaf udah peluk suami orang udah di cium suami orang puas lo" ucap Jihan membuat Dwi kembali memanas karena cara bicara Jihan yang menyebalkan.


Dwi menghentikan dengan tiba tiba membuat Jihan menjatuhkan ponsel Dwi. Saat Jihan akan mengambil ponselnya Dwi menahannya kemudian menarik tengkuk Jihan dengan keras dan menatapnya tajam.


"Apa" ujar Jihan membalas tatapan Dwi.


"Minta maaf dengan ikhlas" ucap Dwi.


"Yang penting minta maaf, kamu juga gak tau perasaan gue gimana sakitnya gimana kamu gak tau kan" ucap Jihan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Jihan Dwi melepaskan Jihan lalu kembali menatap ke depan. Jihan tak peduli lalu mencari ponsel Dwi yang terjatuh namun saat akan kembali duduk dia terbentur dasbor mobil membuat Dwi reflek menyentuh dan meniup kepala Jihan.


"Reflek lo lebih menyenangkan" ujar Jihan dalam hati dengan senyuman mengembang.


"Kenapa sama gue kenapa sama senyumnya buat seluruh tubuh gue bergetar" ujar Dwi.


"Gue gak apa apa" ucap Jihan melepaskan tangan Dwi yang ada di kepalanya.


Saat Dwi menarik tangannya Jihan menahannya dan tersenyum membuat Dwi menarik nafas panjang dan menatap ke depan.


"Kenapa santai aja kali, gak perlu narik nafas sepanjang itu" ucap Jihan dengan nada meledek.


"Apa peduli kamu" ucap Dwi.


"Lucu aja liat kamu gitu, merona" ucap Jihan.


"Siapa yang merona biasa aja kali" ucap Dwi mengelak.


"Ngelak mulu kalau iya juga gak apa apa" ucap Jihan.


"Ngarep banget kamu" ucap Dwi.


Jihan tidak menjawab tapi menarik tangan Dwi dan menempelkannya di pipinya membuat Dwi menatapnya hangat.


"Tuh kan senang" ucap Jihan membuat Dwi menarik kembali tangannya namun lagi lagi Jihan menahannya dengan senyuman mengembang.


"Kenapa udah gini aja" ucap Jihan.


"Gue mau nyetir" ucap Dwi.


"Kenapa buru buru, santai dong masih pagi banget juga lagian sengaja kan berhentiin mobil biar lama berduaan" ucap Jihan.


"GR bener" ucap Dwi.


"Bilang iya kek biar gue seneng" ucap Jihan lalu menghempaskan tangan Dwi keras.


"Aduh salah lagi gue" ujar Dwi dalam hati.


Dwi melajukan mobilnya namun sepanjang jalan tidak ada lagi pembicaraan. Dwi fokus mengemudi namun sesekali melirik Jihan sedangkan Jihan menatap luar jendela.


Beberapa jam berlalu tanpa ada pembicaraan sedikitpun mereka sampai di mansion keluarga besar Suseno. Saat Jihan keluar dari mobil Dwi dengan cepat ikut keluar kemudian menarik Jihan dan membuat Jihan bersandar di mobil.


"Maaf" ucap Dwi menunduk.


"Kenapa gak tatap mata gue" ucap Jihan membuat Dwi menatapnya hangat.


Dwi memajukan wajahnya mendekati Jihan membuat Jihan memundurkan sedikit kepalnya namun karena posisinya yang tidak menguntungkan membuat Dwi tersenyum.


"Kenapa" tanya Dwi dengan nada menggoda.


"Gak ada "ucap Jihan dengan wajah merona karena Dwi sudah menciumnya.


Sedangkan semua anggota keluarga Suseno yang baru turun dari mobil melihat adegan tersebut lalu tersenyum Berbeda dengan Fero yang menatapnya dengan penuh rasa sakit.


"Kak gak malu apa" ucap Putri membuat Dwi menghentikan aktifitasnya.


"Ganggu aja lo" ucap Dwi.


"Malu maluin" ucap Putri.


Dwi tak menghiraukan ucapan Putri lalu menggendong Jihan membuat Jihan tersentak lalu reflek mengalungkan tangannya di leher Dwi membuat Dwi tersenyum. Dwi membawa Jihan ke dalam mansion membuat Jihan malu dan membenamkan wajahnya di dada bidang Dwi.


"Nyaman ya" ledek Dwi.


"Bukan nyaman tapi malu" ucap Jihan.


"Buka pintunya" ucap Dwi saat sampai di depan pintu kamarnya.


"Turunin gue aja " ucap Jihan.


"Nurut ngapa" ucap Dwi.


"Yayaya" ujar Jihan membuka pintu dengan satu tangannya.


Saat masuk ke dalam kamar Dwi menutup pintu yang otomatis mengunci.


"Udah turunin" ucap Jihan


"Gak mau" ucap Dwu membuat Jihan menatapnya aneh.

__ADS_1


"Gak berat apa" ucap Jihan.


"Lebih berat saat melihat kamu berduaan dengan laki laki lain" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya dengan tatapan sayu membuat Dwi ingin melakukan hal lebih.


Dwi perlahan menurunkan Jihan di atas ranjang. Dwi me****t bibir Jihan dengan pelan lalu mengganti posisinya yang berada di samping Jihan menjadi di atas tubuh Jihan.


"Ji maaf mas udah pukul kamu tadi" ucap Dwi sayu.


"Iya Jihan yang salah juga, tapi lain kali kalau mau hukum Jihan jangan di depan banyak orang" ucap Jihan membuat Dwi bingung.


"Kenapa, apa alasan lo nangis" ujar Dwi.


"Iya, bukan sakit yang gue rasa tapi malu dan sebuah penyesalan yang sangat besar" ujar Jihan membuat Dwi mencium leher Jihan.


"Bolehkan aku melakukannya kali ini" bisik Dwi.


Jihan lalu mendorong Dwi namun tenaganya kalah karena dia sangat gugup.


"Kenapa bukannya alasan kamu tidak mau melakukannya karena belum jelas pernikahan kita karena lo belum denger ijab dari mulut gue sekarang sudah jelas kan terus gue harus nunggu sampai kapan " ucap Dwi.


"Panjang juga kalau lagi ngomong" ucap Jihan tertawa.


"Kamu gak asik" ucap Dwi memajukan bibirnya.


Jihan menarik tengkuk Dwi lalu mendekatkan wajahnya membuat Dwi tersenyum. Tak menunda lagi Dwi me****t bibir Jihan ganas membuat Jihan kewalahan.


Setelah puas bermain dengan bibir Jihan Dwi mulai memainkan dua gunung kembar Jihan membuat Jihan mendesah.


"Kamu yakin sayang" ujar Dwi.


"Apa itu tidak sakit" tanya Jihan.


"Akan sedikit sakit apa kamu yakin bukankah hari ini kamu akan wisuda mas gak yakin kamu bisa jalan" ujar Dwi.


"Apa sesakit itu, bolehkah Jihan menundanya" ucap Jihan membuat Dwi tertawa.


"Tentu bersiaplah untuk acara kamu mas mau ke kamar mandi" ucap Dwi.


"Maaf" ucap Jihan merapikan bajunya.


Saat Dwi sudah di kamar mandi Jihan menatap pintu itu dengan sebuah senyuman kecil.


"Kenapa gue gila kenapa gue gak bisa marah lama lama sama dia takdir sungguh indah jalanmu" ujar Jihan.


"Kenapa kok belum siap si" tanya Dwi.


"Belum semua keperluan ada di apartemen, boleh Jihan pergi ke sana" tanya Jihan.


"Mau mas antar" tanya Dwi.


"Gak perlu, lagian ada meeting pagi ini kan" ucap Jihan.


"Kok tau ada meeting" tanya Dwi.


"Sekertaris kamu telfon maaf gue angkat" ucap Jihan.


"Gak apa apa, ya udah kamu hati hati ya" ucap Dwi.


"Hm" ucap Jihan berjalan ke arah pintu namun dengan cepat Dwi menariknya.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Mas anter sampai depan" ucap Dwi lembut.


"Tinggal turun doang kali" ucap Jihan.


"Gak apa apa" ucap Dwi.


Jihan hanya pasrah, Dwi menggandeng tangannya dengan hangat kemudian dia berjalan bersama.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya guys....

__ADS_1


Ceritanya halu banget ya... maaf ya kalau gak halu gak jadi nih novel...


__ADS_2