Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 167


__ADS_3

"Kak" ujar Jihan menunjuk seseorang di luar restauran dengan matanya.


"Kenapa dengannya" tanya Kevin.


"Tunggu sini" ucap Jihan menghampiri anak kecil yang terus melihatnya sedari tadi.


"Anak kecil kamu mau makan" tanya Jihan lembut namun di jawab gelengan kecil.


"Kamu mau menunggu di sini" tanya Jihan membuat anak itu berfikir.


"Kamu di rumah dengan siapa" tanya Jihan.


"Ada tiga adik" ucapnya lembut.


Jihan melihat Kevin lalu memberikan isyarat untuk membeli beberapa makanan yang ada di restauran itu.


"Ayok ikut ke dalam" ucap Jihan menuntun akan jalanan itu.


Anak tersebut terlihat sangat ketakutan namun karena Jihan yang tidak malu untuk membawanya ke dalam restauran membuat anak itu mau ikut dengannya dan duduk di depan Kevin.


"Mba bisa singkirkan ini" ucap Jihan di angguki pelayan toko.


"Adik manis kamu tunggu sebentar di sini sama kakak baik ini ya, kakak beli sesuatu dulu buat kamu" ucap Jihan di angguki sang anak.


Jihan memesan makanan untuk anak itu tapi anak tersebut tidak mau. Jihan tersenyum tau apa yang di pikirkan anak tersebut.


"Kak uang" ucap Jihan di angguki Kevin lalu memberikan beberapa lembar uang pada Jihan.


"Tunggu ya" ucap Jihan.


Jihan langsung pergi dari restauran itu dan pergi ke swalayan yang ada di samping restauran itu. Dia membeli berbagai macam roti makanan ringan dan obat obatan.


"Mba bisa minta kardus gak" ucap Jihan di angguki sang kariawan swalayan.


Jihan kembali ke restauran dengan kardus dan beberapa tentengan plastik.


"Kak, nih Jihan gak bawa kantong" ucap Jihan memberikan kembalian uang pada Kevin.


"Adik liat ya ini makanan ringan ini makanan pokok bisa buat makan ini roti terus yang ini obat obatan kamu bisa baca kan" tanya Jihan di angguki sang anak.


"Bagus kalau gitu, pakailah obat obatan ini sesuai dengan dosisnya ya semoga bermantaaf" ucap Jihan di sambut senyuman riang anak itu.


"Mba ada solatip" tanya Jihan pada pegawai restauran.


"Nona ini pesanan anda" ucap salah satunya.


"Makasih" ucap Jihan tersenyum manis.


"Ini makanan bisa langsung kamu makan ya kamu bisa membawanya atau gini jadiin satu aja ya" ucap Jihan di angguki sang anak itu.


Kevin dan Jihan mengemas semua yang sudah Jihan beli ke dalam kardus dengan Kevin yang selalu membuat lelucon. Dia berharao bisa menghibur hati anak itu sebentar.


"hati hati" ucap Jihan memasukkan beberapa lembar uang saat sebelum membungkusnya.


"Makasih kakak, kalian orang baik semoga selalu di beri kemudahan dalam segala urusan" ucapnya.


"Ini rezeki kamu yang Tihan titipkan sama kaka tapi, makasih doanya ya" ucap Jihan tersenyum.


Anak itu tersenyum lalu izin untuk segera pulang. Jihan meneteskan air matanya dalam senyuman saat anak itu berjalan pergi Jihan dan Kevin membungkukkan setengah badannya membuat mereka jadi pusat perhatian.


"Rakyat jelata aja di hormatin" cibir seseorang.


"Cari muka tuh" ucap temannya.


"Saya menghormati seseorang bukan karena tahta dan harta mereka saya melihat semua orang dalam setatus yang sama bahkan saya menganggap derajatnya lebih tinggi daripada anda kaya dan berpendidikan tapi tidak bisa menjaga ucapan, dan kalau kalian bilang saya cari muka kenapa kalian memeperhatikan saya kalau tau tujuan saya" ujar Jihan lagi membuat semua orang diam seribu bahasa malh berbalik mencibir orang yang mencibir Jihan.


"Ji good" ujar Riki Wibowo keras.


Jihan hanya tersenyum tipis lalu meminta Kevin untuk membayar makanannya. Setelah itu Jihan langsung kembali ke kantor tanpa menyapa Riki yang terus menatapnya dia hanya membungkukkan badannya sekilas.


"Bos luar biasa" ujar Kevin memberikan dua jempolnya.


"Sekali kali mereka di permalukan" ucap Jihan.


"Gak takut banyak musuh bos" tanya Kevin.


"Saat mereka tau siapa saya, maka mereka akan berfikir untuk mendekati saya bukan menjauhi saya" ucap Jihan.

__ADS_1


Dan benar saja berita lokal di sana sudah memberitakan Jihan sebagai nona muda dari keluarga Prasaja yang mampu melebarkan sayapnya di seluruh negeri dia juga di kenal dengan kedermawanannya dan profesional dalam bekerja.


Semua orang yang berada di restauran sangat kagum dengan Jihan. Sedangkan Riki yang taunya Jihan hanya pesuruh kaget tak percaya.


"Bos berita menyebar dengan cepat" ucap Kevin.


"Hentikan berita itu" ucap Jihan.


"Nona Jihan Prasaja" ujar Riki menyapa.


"Tuan, ada apa ya" tanya Jihan sopan.


"Utusan kenapa anda memperkenalkan diri dengan utusan". Tanya Riki.


"Karena saya memang utusan keluarga Prasaja" ucap Jihan santai.


"Bisa Vin" tanya Jihan.


"Udah nyebar jadi susah" ucap Kevin.


"Cari sumbernya lah" ucap Jihan.


"Sini, maaf tuan saya harus menghentikan berita ini" ujar Jihan langsung meminta ipad yang ada di tangan Kevin dan mulai berkutik.


Jihan bisa menghentikan berita itu dalam beberapa menit karena dia tau siapa yang menyebar pertama kalinya. Di bahkan bisa memblokir pencarian tentang dirinya di internet.


"Udah" ucap Jihan tersenyum


"Otak lo bener bener" ujar Kevin.


"Anugrah" ucap Jihan


"Ya anugrah terindah" ucap Kevin.


"Maaf tuan muda Wibowo apa ada perlu lagi" tanya Jihan


"Tidak saya hanya ingin menyapa, ya sudah saya pergi" ucapnya jujur.


"Jujur bener tuh orang" ucap Jihan.


"Katanya kejujuran penting" ujar Kevin.


Waktu terus berlalu hari demi hari Jihan lalui dengan penuh semangat. Satu minggu berlalu Jihan masih ada di kantor cabang padahal dia sudah meminta kembali ke rumah namun di tolak sang ayah.


"Kita tua di sini" ucap Jihan mulai lesu.


"Ya bos" ucap Kevin.


Kevin terus menemani Jihan bekerja. Bahkan kepergiannya kali ini membuat Dwi tidak bisa menghubunginya sama sekali karena Jihan mengebut pekerjaan agar cepat selesai.


Minggu demi minggu terus berlalu sampa akhirnya waktu yang di tunggu datang. Setelah hampir sebulan lebih dia harus tinggal di kantor cabang untuk mengurus semua urusan di sana.


"Pulang" ucap Jihan saat sampai di depan mobilnya.


"Bakal capek banget nih, gue yang bawa dulu deh kak nanti separuh jalan lo yang bawa jauh soalnya" ujar Jihan di angguki Kevin.


Saat Jihan yang mengemudi Kevin tertidur di samping Jihan. Sampai pada waktu Kevin terbangun setelah beberapa jam tertidur dan mereka beristirahat di sebuah toko swalayan walau hanya untuk berjalan jalan di sana.


"Kak bagus" ucap Jihan melihat mainan anak yang sangat lucu.


"Lucu bisa jalam juga" ucap Kevin menyentuhnya.


"Beliin" ucap Jihan di angguki Kevin.


"Dari sini biar gue yang bawa, udah fres tinggal kamu yang tidur" ucap Kevin.


"Oke" ucap Jihan.


Karena mereka pulang setelah jam kerja sehingga malam datang mereka masih di jalan apalagi di jam sibuk mereka terkena macet.


Saat menjelang pagi Jihan dan Kevin sampai di kediaman Prasaja. Jihan langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat sedangkan Kevin harus membawa semua barang bawaannya.


"Vin makasih ya udah jaga Jihan, kamu tidur sini aja" ucap Jovan.


"Ya Bamg makasih" ucap Kevin.


"Kamu tidur di kamar tamu aja" ucap Jovan yang terbangun saat mobil Jihan sampai.

__ADS_1


"Ya Bang makasih" ucap Kevin langsung ke kamar tamu dan tidur dengan lelap di sana.


Pagi menjelang siang baik Jihan maupun Kevin baru bangun. Mereka saling menatap satu sama lain saat berpapasan di arah dapur lalu keduanya tertawa.


"Kayak orang gila" ujar Jihan saat melihat penampilan mereka yang acak acakan.


"Bener banget, kalau gebetan udah ancur repotasi gue" ujar Kevin.


"Gue foto kirim ke Ani ya" ucap Jihan.


"Jangan jahat deh lo" ucap Kevin membuat Jihan tertawa.


"Kak Kevin lo mau ke kediaman Suseno atau ke kantor" tanya Jihan.


"Kantor kayaknya tapi ke kediaman Seno dulu ambil mobil baru" ucap Kevin.


"Suruh orang ke sini aja bawa mobilnya" ucap Jihan.


"Boleh juga dari pada bolak balik ya" ucap Kevin.


"Hallo pak bisa kirim mobil tuan Kevin ke kediaman Prasja sekarang" ucap Jihan menghubungi orang di keluarga Seno.


"Udah lo tunggu aja nanti ke sini" ucap Jihan.


"Makasih ya" ucap Kevin.


"Kak berkas berkas kemarin dari kantor cabang kasih Jihan aja biar langsung Jihan kasih sama papa" ucap Jihan di angguli Kevin.


Sembari menunggu Kevin mebgambil berkas berkasnya Jihan bermain ponsel. Saat berkas berkas sudah di tangannya Jihan langsung pergi ke kamar dan bersiap untuk pergi.


Saat sudah siap Jihan bersiap untuk pergi ke kantor pusat milik ayahnya. Saat berjalan ke parkiran mobilnya dia melihat Kevin berdiri di sana.


"Belum sampai" tanya Jihan.


"Belum juga" ujar Kevin lesu.


"Hallo pak gimana" tanya Jihan pada orang yang dia suruh untuk mengantar mobil Kevin.


"....." jawabnya.


"Oke makasih ya pak" ucap Jihan.


"Mana kunci mobilnya" tanya Jihan.


"Ini" ujar Kevin memberikan kunci mobil barunya.


"Terus kalau ini di sini gimana mobil di sana jalan" ujar Jihan membuat Kevin menggaruk tengkuknya


"Yuk bareng gue anter" ucap Jihan di angguki Kevin.


Jihan mengendarai mobilnya ke kediaman Seno walau harus putar balik karena beda arah dengan tujuannya tapi dia dengan senang hati mengirim asistennya itu.


Saat sampai di kediaman Seno Jihan tidak turun dia langsung pergi setelah Kevin turun di depan gerbang.


"Hallo Pah" ujar Jihan.


"Udah bangun" tanya Papa Prasaja.


"Udah pah, Kenapa" tanya Jihan.


"Ke kantor ya" ucap Papa Prasaja.


"Ya Pah" ucap Jihan.


"Tumben papa suruh ke sana" ujar Jihan langsung mrnancapkan gas menuju kantor utama.


Saat melewati perempatan jalan tepatnya di samping lampu merah Jihan membuka atap mobilnya dan terlihat mobil Dwi berada di belakangnya.


"Mobil mas Dwi kemana tuh jam segini" ujar Jihan.


Saat lampu kembali hijau Jihan melajukan mobilnya dengan sangat cepat sampai Rey yang melihat Jihan tadi tidak bisa mengejarnya dan tidak mengatakannya pada Dwi kalau dia melihat Nona mudanya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys....


__ADS_2