
"Gitu makan yang banyak biar gak pingsan lagi" ucap Dwi.
"Iya" ujar Jihan masih kesal.
"Ya sudah kalau begitu kalian istirahatlah kita akan pergi cepet sembuh sayang" ujar Mama Sri mencium kening Jihan.
"Iya mah, makasih udah kasih pinjem Putri tadi" ujar Jihan.
"Kakak, gue bukan barang kali kenapa bahasanya pinjem si" ujar Putri protes.
"Iya maaf, kamu istirahat gih maaf kakak gak bisa bantu kamu kerjain tugas" ucap Jihan.
"Iya gak apa apa yang penting kakak cepet sembuh oke" ujar Putri.
"Oke" ucap Jihan tersenyum manis.
"Gitu dong senyum kan cantik" ucap Dwi saat semua keluarganya pergi dari kamarnya.
Jihan tidak mendengarkan hanya saja langsung membaringkan badannya lagi tanpa menghiraukan Dwi. Dwi yang ingin marah karena Jihan tak mendengarkannya bicara tapi dia urungkan karena teringat kalau Jihan pingsan karena dirinya.
"Selamat malam tidur yang nyenyak" ucap Dwi mencium kening Jihan lalu ikut merebahkan diri di samping Jihan.
Jihan yang terbiasa dengan obat tidur saat dia banyak pikiran tidak bisa tidur. Dwi yang tau keadaan Jihan lalu menarik Jihan ke dalam pelukannya awalnya Jihan meronta tapi tak lama kemudian terdengar nafas Jihan yang sudah mulai teratur menandakan dia sudah tertidur.
"Katanya insomnia di peluk langsung nyenyak dasar cewek aneh" gerutu Dwi.
Namun setelah menggerutu Dwi ikut terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Mentari mulai tinggi Jihan mengerjap ngerjapkan matanya membaur dengan cahaya yang ada. Jihan merasa ada sesuatu yang berat di atas perutnya Jihan lalu melihat apa yang terasa berat.
"Ternyata dia masih di posisi yang sama, dan kenapa gue langsung ngantuk pas dia peluk gue ya" ujar Jihan lirih lalu menurunkan tangan Dwi perlahan.
"Mau kemana" ucap Dwi mengeratkan pelukannya.
"Eh, mau mandi mau kuliah lepasin" ucap Jihan sembari melepaskan tangan Dwi
"No, kasih gue morning kiss" ucap Dwi.
"What" ujar Jihan.
"Morning kiss" ujar Dwi lagi.
"Gak mau bau jigong lo" ucap Jihan.
"Gak asik pergi lo" ucap Dwi mendorong Jihan.
Jihan lalu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri,namun kali ini dia tidak lupa membawa baju ganti karena tidak ingin Dwi melakukan hal lebih.
"Loh dia kemana" ujar Jihan saat keluar dari kamar mandi.
"Cari apa" tanya Dwi yang baru datang dari ruang ganti.
"Eh Nggak, kok udah ganti si gak mandi ya" ledek Jihan.
"Mandi lah nih basah, gue mandi di kamar Putri" ucap Dwi membela diri.
"Masa si" ucap Jihan.
"Iya gak percaya" ujar Dwi mendekati Jihan.
"Mau apa lo" ucap Jihan memundurkan langkahnya.
"Kenapa takut" tanya Dwi.
"Gak, jangan bikin jantung gue maraton pagi pagi" ucap Jihan polos.
"Biar sehat jantungnya" ujar Dwi tersenyum licik.
"Stop gue mau siap siap" ucap Jihan namun tidak di dengar Dwi.
Dwi terus mendekati Jihan sampai Jihan berhenti karena menabrak meja rias. Dengan cepat Dwi memajukan wajahnya membuat Jihan tak berkutik.
"Mau apa si" ujar Jihan memundurkan kepalanya.
"Mau minta vitamin" ucap Dwi menarik tengkuk Jihan lalu menempelkan bibirnya di bibir Jihan kemudian perlahan melu**tnya dengan lembut.
"Manis terima kasih" ucap Dwi saat sudah puas dengan aksinya.
"Dasar laki laki mesum" ujar Jihan kesal.
"Tapi kamu juga menikmatinya" ujar Dwi.
"Kata siapa" ucap Jihan elak.
"Buktinya kamu gak memberontak malah tutup mata" ujar Dwi.
"Kenapa lo lakuin itu ke gue" ucap Jihan.
__ADS_1
"Gue butuh vitamin" ucap Dwi.
"Kalau vitamin tuh" ujar Jihan menunjuk sebuah kotak berisi suplemen dan vitamin.
"Bukan itu, ini vitamin biar semangat jalani hari" ujar Dwi mengusap lembut bibir Jihan.
"Ada ada aja" ujar Jihan menggelengkan kepalanya sembari mendudukkan diri.
"Kenapa muka merah banget, abis di rebus ya" ledek Dwi.
"Di kira gue kepiting apa" ujar Jihan.
"Cantik tau kalau kesel" ujar Dwi.
Jihan tidak mengindahkan omongan Dwi, Jihan melanjutkan menata rambutnya dan memoles sedikit wajahnya agar terlihat fress.
"Mau berangkat bareng gak" tanya Dwi sembari membelai rambut Jihan.
"Gak, dan stop mainin rambut gue" ucap Jihan.
"Rambut lo yang narik tangan gue" ujar Dwi.
"Mana ada rambut narik tangan, yang ada tangan narik rambut" ucap Jihan kesal.
"Tuh tau, eh kalung lo mana " tanya Dwi.
"Ada sama Mamah sama papa" ucap Jihan santai.
"Kenapa" tanya Dwi.
"Mau gue jual " ucap Jihan asal.
"Kenapa di jual" tanya Dwi.
"Buat kebutuhan hidup" ucap Jihan membuat Dwi mengerutkan dahinya.
"Oh, Ji gue minta maaf udah tampar lo kemarin" ucap Dwi memeluk Jihan dari belakang saat Jihan akan meninggalkan kamar.
"Ya lagian kita udah imbang satu sama" ucap Jihan melepaskan pelukan Dwi namun Dwi justru mengeratkannya dan menempelkan dagunya di pundak Jihan sehingga Jihan bisa mendengan deru nafas Dwi dengan sangat jelas.
"Lepasin udah siang nih" ujar Jihan.
"Gak mau, lagian kita kan di suruh pilihin baju buat keluarga kita nanti pas pernikahan Putri" ucap Dwi.
"Iya tau, nanti setelah gue selesai kuliah ya" ucap Jihan.
"Gue ke tempat lo" ucap Jihan singkat.
"Oke, yuk sekarang makan" ucap Dwi menggandeng Jihan.
Jihan mengikuti Dwi dengan langkah santai membuat Dwi memperlambat langkahnya, Dwi terus saja menggenggam tangan Jihan saat menuruni tangga untuk sarapan bersama. Saat sampai di meja makan semua orang tersenyum karena ke dua anaknya kembali akur.
"Wah akur nih" ucap Putri.
"Jangan godain kakak kamu" ujar Mama.
"Oh ya mah, konsep yang mau di pakai di pernikahan Putri nanti apa biar nanti Jihan pilih bajunya gak salah" ucap Jihan.
"Out door ya kan Put" ucap Mama.
"Oke" ujar Jihan.
"Kalian mau langsung berangkat" tanya Mama.
"Gak mah, Jihan harus kuliah dulu" ucap Jihan.
"Kalau gitu, biar sekalian sama Dwi aja berangkatnya searah juga kan" ucap Papa.
"Iya Pah, tapi biar kita beda mobil aja" ucap Jihan.
"Gak ada mobil lagi Ji, udah mau keluar semua" ucap Papa.
"Oke pah" ucap Jihan
Setelah pembicaraan semua serius makan setelah itu mereka pergi menuju tempat masing masing seperti Jihan dan Dwi yang berangkat bersama dengan asisten pribadi Dwi
"Tanya dong" ucap Jihan.
"Apa" tanya Dwi.
"Putri adek lo" tanya Jihan.
"Yap, kenapa" ucap Dwi.
"Dia kan adek lo, pasti lebih muda dari lo dan dia juga baru selesai SMK tahun ini kan kenapa udah mau nikah aja" ucap Jihan.
"Iya, lo jangan ke tipu dia tuh udah dua puluh lima tahun" ucap Dwi.
__ADS_1
"Yang bener lo" ucap Jihan.
"Bener dia tuh sebenernya lebih tua satu tahun dari gue" ucap Dwi.
"Kok bisa si, dia kan adek lo kok gue pusing ya" ucap Jihan.
"Iyalah, sebenernya gini dia tuh bukan anak mama sama papah, dia tuh anaknya asisten pribadi mama dulu tapi mereka mengalami kecelakaan dan ke dua orang tuanya meninggal" ucap Dwi.
"Oh, tapi bukannya dia punya nama Suseno" tanya Jihan.
"Iya sebenarnya dia punya nama Tri tapi karena Mama sama papa angkat dia jadi anak dan dia di kasih nama Putri Suseno karena Mama dan papa tidak ingin dia tau siapa dia sebenernya" ucap Dwi.
"Kenapa harus jadi adik bukan kakak" tanya Jihan.
"Gak tau tapi kata mama sama papa dulu gue sering cemburu sama dia dan papa sama mama selalu bilang gue yang pertama karena itulah dia panggil gue Abang" ucap Dwi.
"Jadi dia tau siapa dia sebenarnya" tanya Jihan.
"Iya" ucap Dwi.
"Oh gitu" ujar Jihan ber oh ria.
"Cantik maukah kamu menjadi kekasihku" bisik Dwi.
Jihan kaget dengan ucapan Dwi lalu menatap Dwi dengan tajam namun Dwi membalasnya dengan senyuman manis.
"Eh udah di sini aja jangan masuk" ucap Jihan saat sampai beberapa meter dari kampusnya.
"Kenapa sekalian gue anter ke kelas" ucap Dwi.
"No, repot nanti" ujar Jihan.
"Kenapa cemburu ya, karena suami kamu ini terlalu tampan" ucap Dwi.
"GR banget lo, udah gue berangkat terima kasih tumpangannya" ucap Jihan membuka pintu mobil.
"Tunggu ada yang kelupaan tadi" ucap Dwi.
"Apa" tanya Jihan.
"Kamu gak minta uang" tanya Dwi.
"Gue gak semiskin itu" ujar Jihan.
"Tapi gue mau minta sesuatu sama kamu" ucap Dwi tersenyum.
"Gak mau, kenapa lo banyak minta si" ucap Jihan.
"Gue mau paksa lo" ujar Dwi mencengkram tangan Jihan.
"Mau apa lo" ujar Jihan saat Asisten pribadi Dwi keluar sedangkan dia hanya berdua di dalam mobil.
"Mau ap" ucap Jihan terputus saat Dwi tiba tiba mencium bibirnya.
Lama mereka menyatukan Bi**r mereka walaupun Jihan tidak membalas namun Dwi tetap menikmatinya. Jihan menepuk nepuk dada Dwi karena kehabisan nafas.
"Lo mau bunuh gue" ucap Jihan dengan nafas tersengal sengal.
"Siapa yang mau bunuh lo, lagian siapa suruh gak nafas" ujar Dwi tersenyum sembari mengusap bibir Jihan lembut.
"Udh ah, gue berangkat jangan lupa tuh bibir merah" ucap Jihan lalu berlari.
Dwi melihat Jihan yang berlari masuk ke kampusnya, menurutnya Jihan terlihat sangat menggemaskan.
"Bos sepertinya anda butuh ini" ucap Asisten Dwi sembari memberikan tisu.
"Kenapa" tanya Dwi.
"Tuh" ucap Asistennya sembari menunjuk bibir Dwi di cermin.
"Oh, tapi sayang di buang Rey" ucap Dwi pada asistennya.
Rey adalah asisten pribadi serta tangan kanan Dwi di perusahaan maupun urusan lainnya. Rey selalu mengikuti Dwi kemanapun Dwi pergi Rey juga tau kalau Dwi sudah mulai menyukai Jihan walaupun masih gengsi untuk mengatakannya.
"Tapi bos, masa iya ke kantor pakai gincu he" ujar Andra.
"Huh, iya deh gue hapus" ucap Dwi menghapus lipstik Jihan yang menempel di bibirnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa vote like dan komennya ya....