Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kakak Hiro


__ADS_3

"Kamu gak kenal atau pura pura lupa" tanya Dwi.


"Masih terlalu kecil untuk mengingatnya, Jihan masih SD lagi" ucap Jihan.


"Sudah mas duga anak tujuh tahun yang nangis dan lari tanpa arah saat melihatku i love you Jihan" ucap Dwi.


"Kamu ma...." omongan Jihan terhenti saat Dwi menghentikan mobilnya mendadak.


"Kenapa berhenti" tanya Jihan.


"Gak" ucap Dwi menatap Jihan dalam.


"Kenapa gitu natapnya" tanya Jihan aneh apalagi Dwi masih mengunci mobilnya.


"Kenapa takut, bukannya lo mau tau siapa gue sebenarnya" ucap Dwi mendekat sedangkan Jihan tersudut di kursinya.


Saat tepat di depan wajah Jihan Dwi tersenyum dengan begitu manisnya membuat Jihan kikuk karena wajah Dwi terlau dekat bahkan Jihan bisa merasakan deru nafasnya.


Dwi mencium kening Jihan lalu kembali duduk sedangkan Jihan masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Dwi membuka pintu dan turun dari mobil.


"Udah turun" ujar Dwi menyadarkan Jihan membut Jihan terperanjat.


"Kenapa kayak lihat setan aja" ujar Dwi


"Kamu set eh maaf" ujar Jihan serba salah apa lagi lagi lagi Dwi melongok dari luar mobil setelah membuka pintunya dengan jarak wajahnya hanya satu centi.


"Kenapa berdesir ya, sama mas juga yuk turun" ucap Dwi lembut menggenggan tangan Jihan.


"Wah" ujar Jihan saat sadar yang ada di depannya ternyata begitu indah.


"Sini" ujar Dwi menarik Jihan ke sebuah rumah ala pedesaan yang indah.


"Kak Putra" ujar beberapa anak menghampiri dan terlihat sangat akrab dengan Dwi.


"Hai kalian semua sehat" tanya Dwi.


"Sehat kak, kakak gimana sehat" tanya seorang anak kecil yang sangat menggemaskan.


"Kakak cantik ini siapa" tanya seorang anak kecil yang menarikk narik baju Dwi.


"Ini tuan putri Jihan cantik kan dia bidadari yang tuhan kirim buat Kakak" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum.


"Hai, kenapa kalian hanya memeluknya tanpa memelukku" ujar Jihan menjajajrkan tingginya dengan anak anak.


"Kakak cantik apa boleh kita memelukmu apa anda yakin Kak" tanyanya begitu lucu.


"Tentu saja, bahkan gak cuma peluk cium juga boleh" ucao Jihan.


"Kakak Putra bolehkah kita melakukannya" tanyanya


"Kenapa minta izin padanya sedangkan aku sudah mengizinkannya" ucap Jihan.


Anak anak itu lalu memeluk dan mencium Jihan. Begitupun Jihan yang terlihat sangat akrab dengan mereka.


"Mau sampai kapan kalian melakukan itu kepada bidadariku, kalian bahkan tidak membiarkan ku untuk menyentuhnya" ujar Dwi semua anak kecil itu tertawa dan berlarian.


"Mas" ujar Jihan lirih yang masih dengan posisi sejajar dengan anak anak tadi.


"Kenapa sini bangun" ucap Dwi membantu


"Gak bisa, perut aku kram" ujar Jihan meringis.


Dwi langsung jongkok dengan pelan membantu Jihan duduk dengan posisi sempurna.


"Masih sakit banget, kalau gitu kita pulang aja" ucap Dwi.


"Gak tunggu sebentar lagi Jihan masih ingin menikmati tempat ini." ujar Jihan.


Dwi tersenyum apalagi saat Jihan menyandarkan tubuhnya di dadanya. Dwi langsung mengelus elus perut Jihan membuat Jihan merasa nyaman walau agak aneh melakukan hal itu.


"Nak Putra kenapa di sini" ujar Seorang ibu ibu yang menghampiri mereka.


"Bentar lagi bu, ini lagi insiden" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum.


"Maaf bu, mengganggu kenyamanan" ucap Jihan.


"Hahaha tidak perlu minta maaf nak, saya justru suka zaat melihat nak Putra memperlakukan wanita se manis itu" ucapnya lalu pergi.


"Aiy kenapa perut kamu sering kram" tanya Dwi sembari memeluk erat Jihan.


"Gak tau kecapean kali" ujar Jihan santai.


"Kenapa kamu gak protes mas peluk di tempat umum lagi" ucap Dwi.


"Terlalu nyaman untuk melepaskan" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum dan menghujani Jihan dengan ciuman di puncak kepalanya.

__ADS_1


"Kamu tau Aiy, rumah itu di depan kita adalah tempat dimana mas menemukan mu di sekap dulu" ujar Dwi.


"Padahal gue gak ingin membahasnya terlalu menakutkan untuk di kenang" ujar Jihan lirih.


"Bolehkah Jihan masuk ke sana" ujar Jihan bengun.


Jihan berjalan ke arah rumah tersebut dengan tangan gemetar, Dwi yang melihat itu langsung menggenggam tangan Jihan dan menuntunnya masuk.


"Kenapa berhenti yuk masuk tidak semenakutkan dulu percaya lah" ujar Dwi membuat Jihan makin mengeratkan genggamannya.


Jihan terpukau dengan rumah itu, dia menyapu seluruh ruangan dan melihat sebuah lukisan yang mirip dengannya di sana. Jihan terpaku saat dia mendekati lukisan itu.


Dwi memeluknya dari belakang, Jihan ingin menolak tapi Dwi sudah mengeratkan pelukannya.


"Aiy kamu tau sejak saat itu aku terus mencarimu dan saat kita di pertemukan lagi di universitas ya walaupun kamu gak sadar siapa aku gak kenal siapa aku tapi aku tau kalau itu kamu" ucap Dwi.


Jihan tidak menjawab justru meneteskn air matanya. Sebenarnya dia ingat siapa Dwi tapi dia tidak yakin karena wajah Dwi terlihat samar waktu dia di tolong karena dalam gelap.


Dwi mengendus leher Jihan dan mulai melakukan kenakalannya. Dia menyesap leher Jihan tiba tiba membuat Jihan tersentak.


"Mas ih" ujar Jihan melepaskan pelukannya.


"Maaf kelepasan" ujar Dwi tanpa dosa.


"Jangan di leher ngapa malu tau" ucap Jihan mengelus lehernya


"Gak bekas kali, kan pake perasaan" ujar Dwi menarik Jihan agar lebih rapat dengannya.


"Kakak hiro" ujar Jihan menatap lembut mata Dwi.


"Kamu mengingatku" ujar Diw tersenyum saat Jihan memanggilnya Hiro karena waktu dia di selamatkan Dwi dan Dwi mengntarnya pulang dia memanggilnya Hiro.


"Lebih dari apa yang kamu ingat" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum lebar dan memeluknya.


Walau Jihan tak membalas pelukannya tapi Jihan tak menolak. Dwi melonggarkan pelukannya dan memganggat wajah Jihan menatapnya lekat kemudian menyatukan bi**r mereka.


Lama mereka bertautan bahkan Jihan sudah mulai membalas perlakuan Dwi. Walaupun Jihan masih belum mau mengimbangi permainannya Dwi merasa sangat senang karena penantiannya mulai terbalas


"Aiy" ujar Dwi saat


"Jangan Aiy aneh" ucap Jihan.


"Terus" tanya Dwi.


"Honey" ucap Dwi mengerutkan keningnya namun Jihan justru memeluknya.


"Kamu memelukku tanpa berfikir dan paksaan Honey" ujr Dwi bingung.


"Makasih udah selamatin Jihan waktu itu makasih juga sabar hadapi Jihan maaf semua perlakuan Jihan yang dingin selama ini Jihan cuma masih belum percaya kalau itu kamu Jihan ingin membuktikannya lebih dulu" ucap Jihan dalam peluka nnya.


"Apa sekarang kamu yakin aku adalah orangnya" ucap Dwi.


"Hm, kamu benar datang dan menepati janji" ujr Jihan.


"Kakak Hiro suatu saat nanti maukah kamu menjadikanku istrimu" ujar Dwi.


"Kamu mengingat semuanya" tanya Jihan.


"Hm ingat jelas saat kamu memintaku menikahimu dengan senyukan gigi kelincimu" ucap Dwi tertawa.


"Ih nyebelin, tapi imut kan" ujar Jihan melepaskan pelukannya


"Jelek sejelek jelekknya anak yang pernah ku temui dan dengan santainya melamarku" ucap Dwi.


"Nyebelin, satu kata yang tepat" ujar Jihan keluar dari rumah itu.


Jihan berjalan ke arah keramaian, Jihan tidak menyangka tempat yang dahulu sangat menyeramkan sekarang sangat indah. Dengan hamparan sawah yang luas dan jalan jalan yang penuh dengan lampu dan cat yang beraneka rupa.


"Bu ini berapa" tanya Jihan saat melihat beberapa aneka jajan.


"Ini gratis mba gak perlu bayar" ucap Seorang penduduk.


"Ini semua bu" ujar Jihan.


"Iya karena anda datang dengan nak Putra" ucap nya menunjuk belakang Jihan.


"Eh mas kapan di situ terbangnya cepet amat" ucap Jihan.


"Terbang di kira arwah" ucap Dwi.


"Bu kenalin dia istri saya namanya Jihan, mungkin kalian sudah melihatnya dalam lukisan" ucap Dwi.


"Aslinya lebih cantik" ucap salah seorang penduduk kamoung.


"Dulunya burik bu kayak di lukisan itu ya bu" ucap Jihan.

__ADS_1


"GK kok mba, di lukisan juga cantik tapi masih imut masih kecil ya pas di lukis" ucapnya.


"Iya bu, cinta pertama saya" ucap Dwi lalu memeluk pinggang Jihan.


"Ya udah ya bu mau keliling dulu" ucap Dwi di sambut senyuman.


"Mas bukannya dulu ini hutan belantara ya" ucap Jihan.


"Iya tapi sekarang gak banyak penduduk yang pindah ke sini saat mereka kehilangan rumah mereka karena kontraktor durjana membuat rumah mereka terendam banjir" ucap Dwi.


"Mas udah sore pulang yuk" ucap Jihan.


"Oke yuk mau gendong" ujar Dwi.


"Gak masih kuat jalan lagi" ucap Jihan.


"Ya udah yuk," ucap Dwi.


"Mas kenapa rumah itu paling ujung, dan hanya ada jalan setapak di sana apa tidak ada kendaraan" tanya Jihan.


"Ada sepeda otel, mereka menolak untuk pembuatan jalan mereka ingin hidup seperti jaman dulu tanpa aspal yang membuat resapan tidak ada" ucap Dwi.


"Nasib anak anak itu" tanya Jihan.


"Mereka sekolah dan temen temen mas yang ngajar mereka" ujar Dwi


"Oh, tapi Jihan gak lihat ada sekolah di sana" ucap Jihan.


"Ya mereka belajar di padang rumpus sembari mengembalakan kambing kambing mereka" ucap Dwi.


"Tempat ini luar biasa" ucap Jihan.


"Seperti pesonamu yang membuatku tidak bisa berpaling dengan anak kecil" ucap Dwi.


"Terserahlah gak mau debat" ucap Jihan.


"Honey kita makan malam di luar ya" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan setuju.


"Honey maukah kamu memeberikanku pelukan lagi" ucap Dwi.


"Kalau gak mau" tanya Jihan.


"Maksa" ucap Dwi.


"Paksa aja kalau bisa" ujar Jihan berlari ke mobilnya.


Dwi memyusul Jihan dsn melajukan mobinya ke tempat makan yang dia inginkan. Walau ada kekecewaan tapi dia berusaha untuk baik baik saja.


Saat di perjalanan Dwi mendapatkan telfon dari mamahnya yang memintanya harus pulang. Dengan berat hati dan desakan Jihan Dwi pulang dengan tergesa gesa.


"Yuk" ucap Dwi menggandeng tangan Jihan masuk ke rumahnya


"Sueprise" ucap semua orang membuat Jihan dan Dwi kaget.


"Happy birthday Kak" ucap Putri.


"Makasih ya adek paling cantik" ucap Dwi.


"Hari ini ulang tahunmu" ujar Jihan.


"Iya" ucap Dwi.


"Kenapa gak bilang" tanya Jihan dingin.


"Gak, sengaja tapi makasih untuk hari ini" ucap Dwi.


"Tapi Jihan gak ada hadiah bahkan tidak berfikir untuk itu" ucap Jihan runtut


"Gak papa sayang, hari ini cukup untuk hadiah" ucap Dwi.


"Terserah" ucap Jihan duduk.


.


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komentarny ya....


Buat cerita bertele tele maaf soalnya biar kalian tau apa yang sedang Author ceritain....

__ADS_1


__ADS_2