
"Jeng" ucap mama Anggun.
"Iya Jeng semoga aja" ucap Mama Sri membuat Jihan makin mengeratkan pelukannya.
"Dasar lo Ji gue datang jauh jauh sampai harus bohong sama bokap malah lo gak peduli" ucap seorang laki laki yang tadi memeluknya.
Jihan mendongakkan kepalanya lalu menatap pria tersebut.
"Gue gak peduli" ucap Jihan.
"Masih gak kenal gue lo" ucapnya melepas wig dan kacamata yang dia pakai.
"Brama" ucap Jihan berdiri dengan tegak.
"Inget juga lo" ucap Brama tersengir di ikuti Beni Dika dan Viki yang langsung duduk di samping pasangan masing masing kecuali Brama.
"Lo mau buat gue dalam masalah hah, lo pikir lo bisa bercanda dengan itu dan lo pikir gue seneng gitu hah" ucap Jihan panjang kali lebar sembari memukul mukul pelan Brama.
"Stop, yaya sorry emang lo pikir kalau gue gak nyamar gini gue bisa deketin lo gak Ji apalagi sampai peluk lo" ucap Brama menatap mata Jihan dalam.
"Ma maksud lo" ujar Jihan.
"Gini lo tau selama ini gue udah nahan Ji, gue suka sama lo sosok wanita yang gue ceritain sama lo itu lo tapi gue sadar gue gak bakal bisa dapetin lo jadi gue cuma mau perpisahan kita membekas dalam hati lo walau hanya setitik luka tusukan jarum dan lo tau gue gak bisa mencintai lo karena ada laki laki lain yang gue jaga perasaannya" ucap Brama.
"Maksud lo apa, lo mau pergi dari gue kemana dan kenapa kenapa semua orang pergi dari gue satu per satu semenjak gue nikah kenapa semua uangkapin rasanya saat di ujung pertemuan hah" ujar Jihan.
"Maaf Ji, gue bernasib sama kayak lo sepertinya kita semua akan merasakan nya sebuah perjodohan sesuatu yang gak pernah kita bayangkan" ucap Brama.
"Perjodohan hah, selamat atas pernikahan lo tapi kenapa lo malah bilang lo suka sama gue di saat kita gak akan pernah bisa bersama" ucap Jihan.
"Karena gue bakal pergi dari sini, gue mau pergi dengan tenang gue gak mau bawa beban terlalu banyak dan gue gak mau perasaan gue semakin dalam nantinya" ucap Brama.
Jihan hanya bisa menatap Brama dengan sebuah senyuman tapi air matanya mengalir begitu saja di pipinya. Sedangkan sahabat sahabatnya sudah memluk Brama.
"Bye Ji, semoga lo selalu bahagia" ucap Brama pergi meninggalkan Jihan yang masih dengan tatapan kosong.
"Bos lo nangis" tanya Kevin menatap bosnya saat baru msuk ke ruangan bersama sang sekertaris.
"Eh lo Vin, gue gak nangis air mata doang yang keluar" ucap Jihan tersenyum.
"Sama aja" ucap Kevin.
"Hehe, giman belanjaannya" ucap Jihan mengalihkan pembicaraan.
"Udah semua bos, ini sebagian contoh baajunya di mobil perlengkapan harian" ucap Ani.
"Oke sekarang pilih dua yang menurut lo paling bagus" ucap Jihan.
"Siap bos" ucap Ani.
"Pusing lagi" ledek Kevin.
"Kenapa Vin" tanya Jihan.
"Nis Ani suruh belanja seneng banget giliran udah sampai di sana malah muter muter gak jelas" ucap Kevin.
"Mana ada gak jelas, lagian gak kasih spesifikasi yang jelas buat siapa model apa" ujar Ani.
"Lo aja yang gak peka, kalau suruh beli apa apa tuh kamu gak jelas orangnya bayangin aja si bos" ucap Kevin.
"Terus mana gue tau ukuran si bos" ucap Ani.
"Lo gak bisa kira kira apa" ucap Kevin.
"Lo yang gak bisa udah kerja tiap hari sama dia liatin dia giliran di tanya ukurannya zonk" ucap Ani.
"Apa bedanya lo berdua" tanya Jihan.
"Dia" ucap Ani dan Kevin bersama lalu menatap Jiham.
"Barusan bos bilang lo" ucap Ani.
"Kenapa bukannya itu biasa di saat kita di luar jam kerja" ucap Jihan.
"Dasar gak peka" ucap Kevin.
"Lo juga" ucap Ani.
"Baru gue lihat asisten sama sekertaris berantem kayak gini" ucap Dwi.
"Biasa tuan karena di perusahaan AYASTA semua orang akan saling menghargai jabatan gak ada kata kawan di sana saat jam kerja semua musuh jadi mereka harus bekerja dengan sangat kompeten namun lain di luar jam kerja saat istirahat atau di luar kantor mereka bisa menjadi sahabat kekasih atupun suami istri" ucap Rey.
__ADS_1
"Jadi mereka semua harus profesional ya" ucap Dwi.
"Ya Tuan kalaupun mereka punya hubungan spesial dan sedang ada masalah mereka tidak boleh membawanya saat bekerja" ucap Rey.
"Lo tau banyak" ucap Dwi.
"Ya Tuan karena itu juga berlangsung saat nona muda menjadi sekertaris anda dia sangat profesional" ucap Rey.
Dwi hanya manggut manggut. Seketika Dwi ikut tersenyum lebar saat Jihan tertawa dengan kalakuan ke dua anak buahnya.
"Kalian berdua kalau emang ada dendam jangan di sini dong jadi lama, oh ya Vin batalkan semua jadwal saya sore ini sampai pagi" ucap Jihan.
"Baik bos, dengerin tuh" ucap Kevin.
"Lo yang dengerin" ucap Ani.
"Kalian berdua, gimana An" tanya Jihan.
"Yang ini bos" ucap Ani menenteng dua buah baju di depan Jihan.
"Bagus juga selera lo, ambillah jika kamu suka terima kasih kerja kerasnya hari ini" ucap Jihan membungkukkan badannya.
"Serius bos" ucap Ani hanya di angguki Jihan.
"Makasih bos, asik pulang cepet" ucap Ani membuat Jihan menggelengkan kepalnya.
"Saya permisi bos, terima kasih atas kebaikan anda" ucap Ani hanya mendapat senyuman manis dari Jihan.
"Kenapa Vin lo juga mau pulang ya udah gih boleh, terima kasih kerja kerasnya hari ini" ucap Jihan melakukan hal sama kepada Kevin.
"Eh iya Bos, saya permisi" ucap Kevin membalikkan badannya.
"Bentar kak Kevin" ucap Jihan.
"Kenapa seketika panggilannya berubah" Tanya Mona.
"Karena jam kerja Kevin sudah selesai" ucap Rey
"*Semudah itu" ucap Hana.
"Se profesional itu" ucap Rey*.
"Kenapa Ji" tanya Kevin membuat semua orang bingung dengan bos dan asisten tersebut.
"Kenapa tanya gitu" tanya Kevin.
"Karena lo gak bakal pakai uang gue se banyak itu" ucap Jihan.
"Ketauhan, apa yang bisa gue sembunyikan dari lo Ji" ucap Kevin.
"Gak ada" ucap Jihan tersenyum.
"Sebagian punya gue, sebagian punya lo soalnya tadi salah kasih kartu sama Ani" ucap Kevin.
"Kasih tagihannya ke gue kak, biar gue ganti" ucap Jiham.
"Gak perlu Ji" ucap Kevin.
"Lo kan belanja di jam kerja udah seharusnya pakai uang gue kak, sama satu lagi bawa mobil gue aja mobil lo biar gua yang bawa kak banyak barang disana kan" ucap Jihan.
"Gak papa biar gue anter aja ke apartemen lo yang di kasih kak Dani kan" ucap Kevin.
"Iya, makasih sebelumnya kak Mona Hana Nisa kalian ikut kak Kevin ya" ucap Jihan.
"Iya Ji makasih ya" ucap Hana.
"Iya, makasih kak" ucap Jihan.
"Santai aja" ucap Kevin menunggu Hana Mona Nisa bersiap pergi.
"Kirim tagihannya ke gue kak" ucap Jihan.
"Gak perlu lah sedikit doang" ucap Kevin.
"Sedikit yakin, ini berapa" tanya Jihan menunjukkan sebuah nominal di layar ponselnya.
"Gini nih kalau punya adek otaknya di atas rata rata ya udahlah jangan lupa bonusnya" ucap Kevin.
"Siap, nih udah" ucap Jihan.
"beneran bonus Ji, gue bercanda kaali" ucap Kevin.
__ADS_1
"Tapi gue serius" ucap Jihan.
"Ya udah Ji kita pergi ya see you" ucap Hana.
"Ya semoga kalian suka di sana kalau perlu apa apa panggil kak Kevin aja dia ada di lantai yang sama dengan kalian dia ada di sebelah kalian" ucap Jihan.
"Oke" ucap Nisa.
"Gue pergi ya thanks bonusnya" ucap Kevin.
"Ya bye" ucap Jihan.
"Bye " ucap Kevin mengacak acak rambut Jihan.
Banyak mata yang menatapnya aneh kejadian antara Jihan dan Kevin. Hubungan yang mereka bangun begitu rumit bagi mereka.
"Kamu yakin gak ada hubungan spesial antara kalian berdua" tanya Ridwan.
"Maksud Dokter" tanya Jihan.
"Berhenti memanggil saya dokter saat di luar Klinik" ucap Ridwan.
"Mah pulang yuk" ucap Jihan
"Hindarin pertanyaan" cibir Ridwan.
"Lo mau pulang Ji, main sebentar lah" ucap Gabby.
"Sorry guys" ucap Jihan.
"Sudahlah kalian habisin waktu bersama kalian kan lama gak main bareng kita orang tua pulang dulu" ucap Mama Anggun.
"Makasih Mah" ucap Jihan.
Setelah kepergian para orang tua Jihan duduk bergabung dengan sahabat sahabatnya. Mereka saling tatap kemudian tersenyum.
"Apa yang kalian pikirkan" tanya Dani.
"Boleh ya Bang please" ucap Jihan.
"Bilang suami lo" ucap Dani.
"Drama dong" ucap Jihan.
"Kenapa si kalian, oh ya Rey kamu pulang aja batalkan semua janji saya" ucap Dwi.
"Baik tuan" ucap Rey pergi.
"Tapi masih terlalu sore kali " ucap Sonia.
"Ke tempat Jeni" ucap Jihan.
"Setuju" ucap semua sahabatnya.
"Dengan catatan kalian gak boleh mabuk" ucap Beni.
"Gak yakin" ucap Sonia lalu di sambut tawa Jihan Jane dan Gabby.
"Kemana hah" ucap Dwi dengan tatapan tajam.
"Sebentar doang kok, yaya kamu ikut gak mabuk kok beneran yaya" ucap Jihan merayu Dwi.
"Gak mau, sadar gak terakhir kali kamu mabuk" ucap Dwi.
"Please, oke oke gue emang mau ngefly sebentar aja beban gue berat banget lagian kalau ke tempat jeni sekarang tuh jarang ada orang yang penting kamu jangan mabuk" ucap Jihan.
"Ko gitu" tanya Dwi.
"Iya jagain gue" ucap Jihan.
"Ya tapi sebentar doang" ucap Dwi.
"Oke makasih" ucap Jihan memeluk Dwi erat.
Setelah keputusan di buat mereka semua pergi ke tempat Jeni dengan semangat. Jihan bahkan tidak melepaskan pelukannya dari Dwi walaupun sudah si mobilnya membuat Dwi terus tersenyum tanpa henti.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya....
Terima kasih selalu setia menunggu....