Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 188 Benci Daddy


__ADS_3

Jihan langsung menundukkan badannya kepada semua orang dia langsung berjalan berbalik namun tak sengaja matanya bertemu dengan seseorang yang pernah ada dalam hidupnya.


"Ay ini lo beneran lo" ujar Fero yang baru datang dengan anak dan istrinya.


"Hai Ta" ujar Jihan membuat Fero langsung memeluknya erat.


"Maaf gue gak bisa balas pelukan lo" ujar Jihan dalam pelukannya.


"Gak papa gue tau itu, gue udah cukup bahagia bisa meluk lo gini" ujar Fero mengeratkan pelukannya.


"Bisa lepaskan Mommy" ujar Justine.


"Hehe baper" ujar Fero menjulurkan lidahnya dan melepaskan Jihan


Justine sangat kesal dia menatap tajam Fero sedangkan Fero mendekat dengan wajah yang dia buat menyebalkasn.


"Kakak ipar" ujar Luptri memeluk Jihan di balas oelukan hangat Jihan.


"Adik ipar haha, gak bisa gue panggil lo gitu gimana kabar lo masih segila dulu" tanya Jihan.


"Kayaknya gue masih waras yang gila lo deh, siapa tuan tampan itu" tanya Putri.


"Siapa lagi jagoan gue, anak lo cowok juga" ujar Jihan.


"Ya kenalin Feri, anak Fero dan Putri" ujar Putri.


"Hai tampan" ujar Jihan di balas kehangatan Feri.


"Hai boy siapa namamu" tanya Putri pada Justine.


"Justine" ujar Justine singkat.


"Dia Jihan versi cowoknya bobroknya kayak lo gak" tanya Putri.


"Berhenti menjelek jelekkan Mommy" ujar Justine tidak terima.


"Ya wajahnya ikut gue tapi sifatnya ikut bapaknya" ujar Jihan.


"Oh cool, udah udah sarapan yuk" ujar Mama Sri.


"Nanti aja Mah" ujar Jihan langsung pergi ke luar rumah dia menatap sekeliling tak sengaja air matanya mengalir deras.


Die melihat ke arah garasi dia melihat mobil miliknya yang dia beli dengan uang gaji yang dia terima saat bekerja dengn tuan Suseno dulu ada di sana dan di jaga dengan sangat baik.


"Mom" ujar Justine.


"Ya sayang udah sarapan" tanya Jihan tanpa melihat anaknya.


"Nih Justine bawa ke sini mau makan tapi suapin Mommy" ujar Justine.


"Kenapa biasanya kalau di suapin marah marah" ujar Jihan mendekati anaknya.


"Lagi mau aja" ujar Justine tersenyum.


Jihan dan Justine langsung masuk ke rumah mereka duduk di ruang tamu Jihan menyuapi anaknya dengan sesekali tertawa bersama membuat Dwi bingung karena saat bersama Justine anaknya itu senyumpun jarang.


"Lagi apa nih" tanya Dwi mendekat lalu mencium pipi Jihan.


"Gak ya kan Bang" ujar Jihan tertawa bersama anaknya.


"Bang kamu kalau sama Daddy gak pernah ketawa senyumpun gak" ujar Dwi memeluk Jihan dari belakang.


"Karena Justine benci Daddy" ujar Justine membuat Dwi menatap Jihan.


"Abang" ujar Jihan.


"Mom jangan memaksaku untuk menyukai seseoramg karena hati Abang yang pakai bukan kalian yang haya melihat sifat burukku" ujar Justine dingin.


"Kata kata itu juga pernah di ucapkan Mommy dulu, gak yakin kalau sifatnya ikut Mas" ujar Dwi.


"Iya kan yang" ujar Dwi lembut membuat Justine tersenyum samar sangat samar sebenarnya Justine tidak sebenci itu pada Dwi namun karena Dwi yang kurang peka terhadap Jihan itu yang membuat Justine harus berfikir.


"Sayang kamu gak makan" tanya Dwi.


"Nantilah, mana kunci mobil sport merah itu" tanya Jihan.


"Ada di kamar gak ada yang bawa paling mas juga beberapa kali aja" ujar Dwi masih memeluk Jihan.


"Mommy punya mobil sport" tanya Justine.


"Sepertinya kamu tidak memperlihatkan harta padanya" ujar Dwi.


"He, Jeje mana" tanya Jihan.


"Sama Falen langsung akrab, kamu mau lihat harta mommymu" ujar Dwi.


"Apa sekaya itu mommy" tanya Justine.


"Lebih dari yang terlihat" ujar Dwi.


"Dulu, sekarang salah satu usaha Mommy lebih tepatnya usaha terbesar mommy di ujung tanduk maukah kamu membantu mommy" ucap Jihan.

__ADS_1


"Mau mom, apapun buat Mommy" ujar Justine.


"Oke, sekarang bawa piring ini dan lakukan yang harus kamu lakukan" ujar Jihan.


"Siap Mom" ucap Justine dia langsung pergi ke ruang makan dan bertanya dimana temoat mencuci piring dia berjalan mencuci piring namun di hentikan mama Sri.


Di ruang tamu Dwi masih memeluk Jihan dari belakang. Jihan mengambil ponselnya dan bermain ponsel banyak pesan masuk di ponselnya membuat Jihan membalas satu persatu pesan itu tak peduli Dwi membacanya.


"Daddy gak ke kantor" tanya Falen yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Nanti siang kenapa" tanya Dwi.


"Gak papa tapi kenapa Daddy peluk Aunty kayak gitu sama Mommy gak pernah" ujar Falen polos.


"Lepasin" ujar Jihan.


"Gak mau" ucap Dwi.


"Mas" ujar Klara membentak.


"Apa" ujar Dwi dingin.


"Mas dia istrimu dia anakmu lepaskan" ujar Jihan lembut.


"Dad, Falen berangkat ya sama supir bye mom bye Aunty" ujar Falen pergi.


"Putra gue tau lo gak pernah terima gue di kehidupan lo tapi seenggaknya jangan gitu di depan falen" ujar Klara.


"Lalu saya harus bagaimana, menyayangi seperti anak sendiri sudah saya lakukan walaupun itu tidak bisa merubah kenyataan" ujar Dwi.


"Jangan gitu bagaimanapun dia taunya kamu ayahnya" ujar Jihan melepaskan pelukan Dwi.


"Ji" ujar Dwi.


"Janjiku mau denganmu saat kamu menyelesaikan semuanya" ujar Jihan.


"tapi Sayang" ujar Dwi seperti anak kecil membuat Jihan tidak bisa menahan tawanya.


"Serius ngapa" ujar Fero yang duduk di sana.


"Iya tau, istrinya lagi marah marah malah nglawak sana beresin urusannya males gue dengerin" ucap Jihan


"Ikut saya" ujar Dwi menarik Klara menjauhi ruang tamu


Tak lama Feri Justine dan Jenifer datang lalu duduk bersama di ruang tamu bersama Putri yang membawa jus mangga kesukaan Jihan dulu.


"Nih minum kata mama kamu gak mau makan" ujar Putri menyodorkan jus pada Jihan.


"Tumben langsung terima gak nanya nanya kalau gue racun gimana" ucap Putri duduk di samping Fero.


"Kalau kasih racun juga gak papa" ucap Jihan.


"Feri gak sekolah sayang" tanya Jihan mengalihkan topik pembicaraan.


"Gak Aunty, mau bantu Daddy hari ini" ujar Feri.


"Apa otaknya bersaing sama lo Ta" tanya Jihan.


"Ya, anak lo juga kayaknya gitu dewasa banget" ujar Fero.


"Beginilah Abang dulu segemesin itu sekarang sengeselin itu" ujar Jihan.


"Begitulah anak anak" ujar Putri.


"Mom, kenapa mommy diam aja Daddy dengan wanita itu" tanya Jenifer.


"Je ini urusan mereka jangan ikut campur fokuslah" ujar Justine.


"Mom lakukan yang ingin mommy lakukan, Abang tau mommy akan melakukan sesuatu tapi memikirkan akibatnya untuk masalah ini Abng gak bisa bantu Mommy" ujar Justine di angguki Jihan tanpa melihat anaknya dia tau kalau melihat anaknya air matanya akan mengalir.


"Mom, dia menghinamu" ujar Jenifer yang mendengar Klara menjelek jelekkan Jihan.


"Diamlah itu urusan mereka lagian bukannya kamu membenci Daddy jadi untuk apa mommy berusaha mendapatkan Daddymu" ujar Jihan.


"Justine akan menerima Daddy dengan tulus kalau Mommy rukun sama Daddy bahagi sama Daddy dan paling penting kalau Daddy mau melakukan apapun buat Mommy" ucap Justine.


"Bang please" ujar Jihan.


Ke dua anak Jihan hanya menarik nafasnya panjang lalu Feri membawa Justine dan Jenifer ke kamar miliknya jika sedang berada di sana. Feri sangt pengertian terhadap orang di sekitarnya di menuruni sifat Fero.


"Mau bertaruh" tanya Fero membuat Putri dan Jihan menatapnya.


"Apa" tanya Putri.


"Kalau Jihan bisa membalas Klara dengan harus dan membuat Klara pergi dari hadapan Dwi gue kasih lima juta" ujar Fero menatap Putri membuat Putri tersenyum hal itu juga membuat Jihan tertarik.


"Bener kalau lo bisa buat dia pergi dalam lima menit loh ya" ujar Putri.


"Deal" ujar Jihan.


"Sekarang" ucap Putri.

__ADS_1


Jihan menarik nafasnya panjang dia juga merapikan rambutnya dan berjalan mendekati Dwi.


"Udah jelek jelekin guenya, masalah kalian gue di bawa bawa sebenarnya gue datang sebagai tamu di sini berusaha buat lo jadi istri utama dia tapi lo malah anggap gue sebagai perebut sekarang gue bakal rebut dia beneran" ujar Jihan membuat Klara menatap tak suka sedangkan Dwi bingung.


"Apa yang kamu lakukan" ujar Klara saat Jihan mencium pipi Dwi.


"He dia terlalu mempesona" ujar Jihan langsung menarik tengkuk Dwi dan mencium bibir Dwi dengn lembut tak butuh waktu lama Dwi membalas dan mereka saling menginginkan membuat Klara sakit hati dan pergi.


Jihan tersenyum dia langsung mendorong Dwi dan mengambil tisu untuk mengusap bibirnya meninggalkan Dwi begitu saja.


"Ji Lo" ujar Jovan.


"Hehe baru sampai Bang" tanya Jihan kepada Jovan dan menyalami Jovan.


"Iya, ke sini dulu soalnya tadi ponsel anak anak ada sama Abang" ujar Jovan.


"Oh mau minum atau makan dulu" tanya Jihan.


"Gak nanti aja" ujar Jovan duduk.


"Sini mana uang cash ya misi gue berhasil" ujar Jihan membuat Putri dan Fero saling tatap dan memberikan uang masing masing dua dan tiga juta.


" Apa maksud misi dan uang itu" tanya Dwi


"Buat kamu berhenti bertengkar sama klara" ujar Putri.


"Jadi kamu lakukan itu hanya karena misi gak tulus" ujar Dwi.


"Gak itu bisnis" ucap Jihan.


"Jahat demi uang" ujar Dwi marah lalu duduk di samping Jovan keras.


"Kenapa marah lagian di sini gak ada yang rugi, atau kamu gak terima aku lakukan itu tadi kamu merasa di rugikan" tanya Jihan.


"Gak juga si" ujar Dwi berfikir lalu menarik Jihan untuk duduk di pangkuannya.


"Lepasin berat kali" ujar Jihan.


"Gak papa" ucap Dwi.


"Terserah" ujar Jihan duduk dengan nyaman di pangkuan Dwi.


"Nih ponsel JeJu" ujar Jovan.


"Oh oke" ucap Jihan menerima ponsel ke dua anaknya.


"Mereka di mana," tanya Jovan.


"Gak tau Feri bawa kemana tadi" ucap Jihan.


"Em Ta apa ada sesuatu yang terjadi di Ayasta" tanya Jihan.


"Gue yakin lo pulang karena itu" ucap Fero membuat Jihan tersenyum.


"Kamu mau ke sana kan, sebelumnya maaf ya Ay gue gak bisa urusin Ayasta" ucap Fero.


"Lagian Ayasta di ambil alih Papa sayang" ujar papa Seno.


"Papa Seno" tanya Jihan.


"Ya, kamu duduk gitu buat iri aja" ucap Papa Seno.


"Nih mas Dwi gak mau lepas" ucap Jihan.


"Wi" ujar papa Seno.


"Masih kangen pah" ucap Dwi.


"Bawa kamar aja Wi" ucap Papa Seno.


"Gak perlu" ujar Jihan cepat.


"Aku pake dress ya gak bisa gerak untung dress nya panjang" ujar Jihan berbisik pada Dwi membuat Dwi langsung mendudukkan Jihan di sampingnya.


"Lo bisikin apa" tanya Putri.


"Kepo sekali" ucap Jihan.


"Mom kapan berangkat" tanya Justine sembari melihat Dwi yang terus menempel pada Jihan membuatnya bahagia dan senyum tipis.


.


.


.


.


Jangan lupa bahagia readers...


Maksudnya dukungnnya...

__ADS_1


Happy readers...


__ADS_2