
"Kalau Aunty Jihan nikah sama Daddy gue gak bakal ada kita" ujar Feri yang lebih dewasa
"Siapa tau kita jadi saudara kandung" ujar Justine.
"Gak bakal karena gue perpaduan Daddy mommy gue lah lo" ujar Feri.
"Udah udah" ucap Jihan duduk di samping Feri dan membuka makanan pesanan Fero.
"Kok banyak si Ta" ucap Jihan.
"Itu kan cuma kue Ay, kalau kamu gak abis ada banyak orang di sini" ucap Fero.
"Oh oke makasih" ucap Jihan.
Jihan mengambil piring di pantry sendiri dia menaruh beberapa kue ke dalam piring lalu duduk kembali karena Feri pindah tempat duduk membuat Jihan duduk di samping Dwi.
Tak ada canda tawa ataupun kata kata terucap dari ke duanya hanya diam dan dingin yang terpancar ke duanya. Jihan mulai makan kue yang di pesan Fero saat dia makan Dwi terus menatapnya sesekali tatapan mereka bertemu.
"Sampai kapan gitu terus" tanya papa Seno hanya di jawab dengan pundak yang diangkat oleh Jihan.
"Wi setidaknya kalau di rumah lo gak bisa sebebas dulu dengan Jihan manfaatin waktu saat tiada Klara di antara kalian" ucap papa Seno Jihan hanya diam.
Lama Dwi berfikir dia langsung menutup paha Jihan dengan tangannya karena rok yang dia pakai cukup tinggi. Jihan membiarkan apa yang Dwi lakukan sampai Dwi mengambil bantal dan menutupkannya di paha Jihan.
"Wi leher lo, pantesan tadi lama banget" ucap Jovan tersenyum.
"Ganas juga kamu Ji" ucap papa Seno.
"Lagian dia gak berhenti berhenti" ucap Jihan.
"Gak papa masih sah" ucap papa Seno.
"Mom nanti pulang kerja ke tempat tadi lagi" tanya Justine mendekat karena pekerjaannya sedang di selesaikan Fero dan Kevin.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Mommy sanggup" tanya Justine.
"Ke apartemen Mommy aja kamu mau" ucap Jihan karena dia pasti tidak sanggup melihat Dwi dengan Klara bagaimanapun mereka sah di negara.
"Boleh" ucap Justine.
"Ke rumah Uncle aja " ucap Jovan.
"Boleh Uncle" uncel.
"Pasti" ucap Jovan membuat Justine tersenyum lega.
Dwi tidak merespon sedangkan Jihan tersenyum sembari menghabisakan roti yang ada di tangannya lalu membuka minuman kaleng dan meneguknya.
"Gak ada kata kata terakhir Wi" tanya Jovan.
"Di kira gue mau mati" ucap Dwi.
"Siapa tau" ucap Jovan tertawa.
Jihan tersenyum melihat Dwi yang di desak Jovan. Setelah selesai makan dia mengambil ponselnya dan bermain ponsel di samping Dwi dengan senyuman mengembang.
"Mommy lo kalau senyum cantik banget" ucap Feri.
"Ya baru tau" ucap Justine.
"Makanya Daddy kamu dulu klepek klepek" ucap Jovan.
"Beneran om" tanya Feri.
"Tanya aja sama Daddy kamu" ucap Jovan.
"Beneran Dad" tanya Feri.
"Emang ada yang bisa gak terpesona sama Jihan" ujar Fero.
"Iya juga ya, Dad nikahin aja Aunty biar gue sama Justine jadi saudara membuat semua orang membulatkan matanya.
"Feri panggil dia Abang" ucap Fero.
"Ya Dad" ucap Feri.
__ADS_1
"Abang Justine hehe" ujar Feri tertawa.
"Ji Mama telfon" ujar Jovan memberikan ponselnya pada Jihan.
"Sambungin earphone aja Bang" ujar Jihan mengambil earphone nya dalam tas.
"Mah Jihan pakai earphone jangan ngegas ngapa sakit telinga Jihan, ya nanti Jihan ke sana" ucap Jihan berjalan ke meja kerjanya.
"Belum selesai Ta" tanya Jihan.
"Udah lagi di print aja" ucap Fero.
"Thanks ya" ucap Jihan tersenyum.
"Kenapa mah marah marah mulu Jihan baru sampai udah di marahin" tanya Jihan saat panggilannya hanya berisi kemarahan sang mama terhadapnya.
"Bang ponsel lo" ujar Jihan berjalan ke arah Jovan dan mematikan sambungan ke earphonnya dan mengeraskan suara ponsel Jovan dia langsung duduk di samping Dwi dengan membaca beberapa berkas.
"Kamu pulang bukannya liatin mamanya masih utuh apa gak malah langsung kerja kamu" ujar mama Anggun dengan nada tinggi.
"Gak sempet mah lagian kalau aja gak di bawa helli kopter ke mansion Suseno mungkin Jihan gak sampai sini" ujar Jihan menjawab santai.
"Santai bener kamu, kamu tau kamu tuh udah gak ada posisi penting disana harusnya kamu gak kesana" ujar Mama Anggun.
"Mah kata siapa dan mama tau Jihan pulang dari mana" tanya Jihan.
"Pagi pagi ada seseorang membawa cecurut kesini mama kira siapa kok mirip Dwi tapi versi cewek" ujar Mama Anggun.
"Anak gue di katain curut" ucap Jihan tak terima mendapat senyuman dari semua orang.
"Terserah mama kamu aja gak ke sini, Ji kamu harus move on mama tau kamu gak sekuat itu mama udah cari cara biar kamu cepet sembuh mama adain kencan buta buat kamu ya" ucapan sang mama membuat Jihan tersentak lalu mengambil ponsel Jovan cepat dan menjauh.
"Mah kenapa harus gitu lagian bukan Jihan yang harus kencan buta tapi Abang" ucap Jihan.
"........"
"Oke terserah mama" ucap Jihan kesal.
"......."
"Syarat harus lebih kaya dari keluarga Prasaja harta pribadi bukan harta keluarga, lebih ganteng dari Abang lebih tinggi dari Abang IQ lebih tinggi dari Jihan dan lagi bisa menggunakan semua jenis senjata dan harus lebih mahir dari Jihan kalau mama bisa menemukannya maka Jihan akan lakukan apa kata mama" ucap Jihan.
"......."
"........"
"Oke see you" ucap Jihan menarik nafasnya panjang.
Dia mematikan ponselnya lalu menatap lurus ke depan memikirkan ucapan sang mama yang menyinggung hatinya. Benar dia masih menginginkan Dwi untuk menjadi suaminya tapi dia juga tidak bisa menjadi benalu dalam hidup Klara.
"Bos sudah hampir waktu makan siang" ujar Kevin.
"Ya Vin" ujar Jihan murung.
"Ji" ujar papa Seno.
"Entahlah pah, Bang" ucap Jihan menatap Abangnya meminta tolong namun Jovan hanya tersenyum.
Jihan langsung ke kamar yang ada di ruangn itu dan menutupnya cepat dia menyalakan mode kedap suara dia menangis keras di sana namun cukup singkat karena Dwi masuk ke kamar itu.
"Apa" ujar Dwi.
"Gak" jawab Jihan menghapus air matanya keras dan berdiri.
"Saya tidak akan membebani pikiranmu lakukan apa yang ingin kamu lakukan karena di sini saya juga bersalah tapi ketahuilah kamu akan tetap menjadi wanita terindahku" ucap Dwi menatap Jihan dan tatapan mereka bertemu.
Dwi menatap dengan hangat sedangkan Jihan dengan tatapan kosong menatap Dwi. Dwi langsung mendekat dan menggumamkan sebuah kaliamat yang membuat Jihan kembali menangis.
Dwi dengan senyuman lalu mencium bibir Jihan lama. Saat Dwi akan memundurkan wajahnya Jihan langsung menarik tengkuk Dwi dengan air mata yang menetes deras.
Perlahan Dwi membaringkan Jihan di atas ranjang dengan terus bermain di bibir Jihan. Saat selesai mereka saling tatap Jihan menceritakan apa yang dia rasakan Dwi hanya mendengar sembari sesekali mencium pipi Jihan.
"Apa keputusanmu" tanya Dwi masih di posisinya
"Belum tau" ujar Jihan.
"Oke sekarang ayok kamu ada pertemuan penting sekarang" ucap Dwi bangun membantu Jihan
__ADS_1
"Oke" ujar Jihan.
Dwi keluar dari kamar lebih dulu di susul Jihan dengan mata sebamnya dia berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman kaleng di sana.
"Are you oke Mom" tanya Justine.
"Kalau Mom bilang baik baik aja kamu akan percaya" ujar Jihan.
"Gak mommy sebam nangis, Daddy kamu apakan Mommy" tanya Justine emosi.
Dwi hanya diam membuat Justine semakin marah, Justine meninju perut Dwi beberapa kali Jihan hanya diam dia hanya menempelkan minuman kalengnya ke matanya agar mengurangi sebam.
"Terus aja tinju sekalian main katana" ujar Jihan langsung mengambil tas dan ponselnya pergi sembari menggerai rambutnya.
"Sorry Dad" ujar Justine membungkuk.
"Kamu tau maksud Mom" tanya Dwi.
"Ya kamu tidak bersalah" ujar Justine mengejar Jihan.
"Artinya sedalam itu" ucap Dwi menatap Jovan namun Jovan hanya mengangkat ke dua bahunya.
"An nanti bilang sama semuanya kita adain rapat nanti setelah saya kembali makan siang, biar Kevin yang ikut saya" ujar Jihan.
"Baik bu" ucap Ani.
"Justine pakai maskernya, nanti Mommy cari tempat tertutup untukmu" ujar Jihan.
"Oke Mom" ujar Justine.
Jihan menyelapkan sebuah jepit rambut lalu menata ulang make upnya di dalam lif. Justine hanya menatap mommynya itu sedangkan yang lain diam saat lif terbuka Jihan sudah siap sepanjang dia jalan keluar gedung banyak kariawan yang membungkukkan badannya membuat Justine tersenyum..
Jihan membaca berkas untuk pertemuannya kali ini. Dwi mendekati Jihan lalu mencium pipi Jihan namun Jihan hanya diam.
"Dasar gak tau malu" ucap Jihan.
"Sudahlah nanti kamu terjatuh" ujar Dwi.
"Uncle siapa namamu" tanya Justine.
"Kevin saya asisten Bos Jihan kamu bisa memanggilku cukup dengan Kevin" ujar Kevin.
"Bukankah tidak sopan" ujar Justine.
"Tapi kamu juga bosku" ucap Kevin.
"Cukup panggil Justine" ujar Justine.
"Bukankah tidak sopan" ucap Kevin.
"Di jam istirahat dia bukan asisten Mom, dia teman Mommy dia hanya menjadi asisten saat waktu kerja dan perjalanan bisnis" ucap Jihan.
"Profesional apa itu arti dari profesional Mom" tanya Justine.
"Hm" ujar Jihan.
"Kamu sedingin ayahmu" ujar Kevin.
"Jangan pernah samakan " ujar Justine.
"Udah sekolah" tanya Kevin.
"Udah dong beberapa hari lalu baru masuk sekolah dasar dan harus berantem dulu sama Mom semoga aja tahun depan bisa ke sekolah lebih tinggi" ujar Justine
"Kenapa, ap otakmu melebihi Mommymu" tanya Kevin.
"Mommy gak mau kalau kita dewasa sebelum waktunya, ya sepertinya mom takut dapat saingan ujar Justine.
"Tapi kenapa anda lebih penasaran hidup saya daripada Daddy" ujar Justine.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus walau banyak belibetnya ....
Hapoy readers.....