
"Lo Ay jam berapa lo pulang jam segini udah sampai" tanya Fero.
"Eh Ta, ganggu ya suaranya si Kevin nih yang kasih mobilnya gue jam enam dari sana lama di jalan sini sempit soalnya" ujar Jihan.
"Lagian ngapain bawa mobil bukannya lo berangkatnya pakai motor kak Dani Ay" tanya Fero.
"Iya nih Ta, si Kevin gak ngebolehin bawa motor pagi pagi soalnya dingin banget" ucap Jihan.
"Lo mau langsung sekolah Ay" tanya Fero.
"iya nih Ta, bareng ya" ucap Jihan.
"Iya jalan kaki ya motor gue rusak" ucap Fero.
"Gak keburu dong Ta, gue kan harus ujian dua mapel sekaligus" ucap Jihan
"ya udah pakai mobil aja Ay, lagian lo udah siap kan" tanya Fero.
"Udah, yuk lo yang setir ya gue capek" ucap Jihan.
"Oke, udah sarapan belum" tanya Fero sembari mengitari mobil untuk duduk di tempat kemudi.
"Udah tadi di buatin sandwich, lo kenapa belum berangkat si udah siang juga" ucap Jihan.
"Tungguin lo, Kevin telfon gue katanya lo udah jalan pulang" ucap Fero.
"Oh ya udah berangkat yuk" ucap Jihan.
Fero mengangguk lalu melajukan mobilnya pelan dengan cepat namun hati hati karena jalan yang lumayan sempit bagi pengendara yang biasa berkendara di kota. Jihan dan Fero sampai di sekolah dan membuat semua siswa yang ada melihat ke arah mobil Jihan.
"Kenapa mereka liat kesini semua" ujar Jihan.
"Penasaran kali siapa yang bawa mobil" ujar Fero.
"Males deh turun" ucap Jihan.
"Kalau gak turun mau di mobil terus sampai mereka pulang Ay" ujar Fero.
"Ya udah deh turun yuk" ucap Jihan.
"Yuk" ucap Fero.
Fero dan Jihan turun dari mobil banyak yang melihat tanpa berkedip kepada ke duanya. Apalagi Jihan yang tidak seperti biasa Jihan mengikat sebagian rambutnya memperlihatkan rambut yang dia cat dengan warna yang memukau dan dengan tas dan sepatu branded yang melekat di tubuhnya.
"Jihan ini beneran lo Ji" ujar Hana yang juga baru sampai.
"Iya gue kenapa" tanya Jihan.
"Soo perfec" ucap Hana.
"Soo pasti makanya gue sayang" ucap Fero.
"bisa aja lo Ta, ya udah yuk masuk gue harus kerjain semuanya dengan cepat seharusnya lo kemarin selesaikan ujian gue kemarin kan gue udah selesaikan masalah lain" ucap Jihan.
"Ya kali bisa gitu, gue minta izin buat lo aja sampai satu jam gila lo" ucap Fero
"Lo ngatain gue gila" ujar Jihan.
"Maaf Ji, gak maksud gitu" ucap Fero.
"Udahlah Ta, gue mau langsung ke kelas good luck untuk kalian berdua" ucap Jihan pergi.
"Dia marah padaku" tanya Fero.
"Mungkin, tapi bukannya itu biasa kita bicarakan saat bercanda dia berlebihan" ucap Hana.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi" ucap Fero.
"Sudahlah biarkan dia" ucap Hana.
Fero masih dalam lamunannya karena tidak seperti biasa Jihan marah karena hal kecil. Hana yang melihat Fero masih melamun langsung menariknya menuju kelas.
"Apa yang gue lakukan, bukankah itu keterlaluan hanya masalah kecil Ji kecil kenapa lo harus marah" ujar Jihan dalam hati.
Jihan lalu meminta soal ujian untuk dua mapel lalu dia membawanya ke kelas. Jihan bersikap sangat dingin dia bahkan tidak menyapa teman temannya dia serius menjawab semua soal yang ada.
Jihan menyelesaikan soal dengan cepat dia lalu pergi namun dengan cepat dia kembali dan menghampiri Fero.
__ADS_1
"Ta kunci mobilnya mana Ta" tanya Jihan.
"Bentar Ay tunggu dua lagi" ucap Fero santai.
Jihan lalu menarik paksa kunci motor yang ada di saku Fero membuat Fero terperanjak.
"Thanks" ucap Jihan lalu pergi.
"Ini bukan lo Ay, bukan yang gue kenal dulu" ujar Fero dalam hati.
Jam menunjukkan waktu sudah siang semua murid sedang merayakan selesainya ujian yang mereka hadapi dengan makan makan di kantin. Fero tidak mengikuti teman temannya Fero menemui Jihan yang ternyata masih ada di parkiran tepatnya berdiam di dalam mobil.
Tuk... tuk... tuk...
(kaca mobil Jihan di ketuk)
"Kenapa masuklah" ucap Jihan dari dalam mobil.
"Terima kasih, lo kenapa Ay" tanya Fero lembut sembari membelai rambut Jihan.
"Hua.... gila gila gila hua" Jihan menangis.
"Ay lo kenapa Ay, cerita sama gue kalaupun gak bisa kasih saran lo bisa lega Ay" ucap Fero lembut.
"Kemarin gue minum dua kali di sana hua... gue capek dengan semua ini hua..." ujar Jihan.
"Apa karena itu juga lo jadi sensitif Ay" tanya Fero menatap Jihan tajam.
"Sepertinya begitu maafin gue hua... gue gak bisa kontrol hua..." ujar Jihan tetap menangis.
"Udahlah, kembalilah menjadi Jihan yang gue kenal Jihan yang pantang menyerah Jihan yang selalu ceria, dan Jihan yang selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik" ujar Fero sembari menggenggam tangan Jihan.
"Iya gue juga pengin jadi diri sendiri lagi, jadi setelah hari ini gue mau pulang ke kota lo mau ikut sama gue" tanya Jihan.
"Iya Ay, tapi bukannya tugas kita selesai setelah pengumuman kelulusan" ucap Fero.
"Gue tau itu, tapi gue gak bisa terus diam dan di tindas kayak gini gue bakal buktiin sama dia kalau gue bisa hidup tanpa uang darinya" ucap Jihan dengan mata membara.
"Ya udah mau pulang atau mau jalan jalan" tanya Fero.
"Jalan yuk, butuh piknik gue Ta tapi lo yang belanjain gue ya Ta" ucap Jihan memohon.
Jihan dan Fero pergi mengendarai mobil Jihan menuju taman komplek namun di tengah jalan Jihan memberhentikan mobilnya membuat Fero menepi dan berhenti.
"Kenapa Ay" tanya Fero.
"Kak Dani" ucap Jihan menunjuk seseorang di depan sana.
"Kak Dani" panggil Jihan.
"Hai Ji, kamu udah pulang" tanya Dani kaget.
"Pulang tadi pagi tapi belum sempet ke rumah Kak langsung pergi sekolah soalnya" ucap Jihan.
"Iya gak apa apa, kalian mau kemana" tanya Dani.
"Mau jalan kak, kakak mu ikut" tanya Fero.
"Yakin ajak kakak gak ganggu kalian nih" ledek Dani.
"Gak lah Kak, yuk" ucap Jihan.
"Jalan kemana nih" tanya Dani.
"Gimana kalau kita ke kebun aja Ji" ujar Dani.
"Oke yuk lama gak kesana siapa tau ada sayur yang siap panen" ujar Jihan.
"Yuk, kita jalan kaki aja emang lo gak mau ganti dulu Ji" tanya Dani.
"Gak lagian nih seragam udah mau panciun" ucap Jihan
Jihan Fero dan Dani pergi ke kebun milik Jihan, Jihan membelinya dengan uang hasil kerja Jihan di kota mereka melewati hamparan sawah yang lumayan. Jihan tidak merasa jijik atau kesulitan saat berjalan di sawah walaupun dia orang kota dengan fasilitas yang mewah.
"Ay foto dulu deh bagus pemandangannya" ucap Fero
"Oke" ujar Jihan lalu berpose.
__ADS_1
Jihan mengambil beberapa pose dengan latar belakang hamparan sawah yang luas. Jihan Fero dan Dani berfoto bersama dengan kamera yang Fero bawa. Mereka bersenang senang walau hanya sekedar bermain lumpur dan air.
"Wah, siang pak gimana ada yang bisa Jihan panen gak" tanya Jihan saat sampai di kebun miliknya yang sedang di rawat seseorang.
"Eh neng Jihan, ada neng nih kangkung bayam sawi sama terong siap panen neng" ucap Pak pengurus kebun.
"Oke Jihan bantu panen ya pak" ucap Jihan.
"Oke neng, tapi becek habis hujan kemarin soalnya" ujar pengurus kebun.
"Gak apa apa pak" ucap Jihan.
Jihan bahkan tidak takut kalau sepatu maupun baju yang dia kenakan rusak walaupun harganya yang terbilang mahal. Jihan bersemangat dan sibuk berkebun di bantu Fero sedangkan Dani sibuk mengambil foto Jihan dan Fero baik berdua maupun sendiri.
"Kak bantu ngapa " ujar Jihan.
"Males kakak, kalian aja sayang tangan Kakak" ujar Dani
"Gaya lo kak" cibir Fero.
"Au" pekik Jihan tiba tiba membuat Fero dan Dani kaget.
"Kenapa Ay" tanya Fero.
"Gak sengaja main pisau buat gali ubi" ucap Jihan.
Fero lalu mengecup tangan Jihan dengan sangat perhatian dan telaten Fero membalut tangan Jihan dengan dasi yang dia pakai. Dani memperhatikan ke duanya ada rasa kasihan kepada ke duanya karena Dani tau kisah yabg Jihan dan Fero jalani selama ini.
"Gimana udah mendingan lain kali hati hati" ucap Fero setah selesai membalut luka Jihan lalu mencium tangan Jihan.
"Udah makasih ya, kenapa si lo baik banget sama gue" tanya Jihan.
"Karena lo ada di sini" ucap Fero menunjuk dadanya.
"Lebay lo, oh ya nih banyak umbinya tau coba deh minta bapak itu buat ambil" ucap Jihan.
"Gimana kalau setelah ini kita pulang lo masak buat kita semua" ucap Fero.
"Boleh, lo mau di masakin apa kangkung sawi atau terong di cabein" ujar Jihan.
"Apapun lah terserah lo semua masakan lo pasti enak" ucap Fero.
"Oke, ya udah bantu gue ambilin sayurnya ambil lebih banyak siapa tau mamah lo juga mau masak sayur" ucap Jihan.
"Kenapa gak kolaborasi aja" ucap Fero memberikan saran.
"Malu gue sama mama lo, belum jago bener gue masaknya" ucap Jihan.
"Udah lah Ji, kalian berdua menepi aja dulu gue yang lanjut mau berapa iket kalian" tanya Dani.
"Banyakin aja Kak, siapa tau ada yang mau masak sayur tapi sisain buat bapaknya ya soalnya biasanya bapak jual sebagian" ucap Jihan.
"Oke siap" ucap Dani.
"Mang Dani ambil sebagian ya" ucap Dani.
"Silahkan den" ucapnya.
Dani kemudian mengambil beberapa sayuran lumayan banyak tepatnya satu karung kecil dengan berbagai sayuran dan umbi. Jihan berencana untuk masak banyak untuk makan beberapa dengan tetangga dekat rumahnya. Sedangkan Fero dan Jihan duduk di gubuk yang terdapat di sana Dani menyempatkan untuk mengambil potret mereka.
"Ay andai takdir tak mempermainkan kita gue mau hidup di desa jauh dari kebisingan" ucap Fero.
"Iya Ta, maafin gue yang gak bisa melawan takdir" ujar Jihan meneteskan air mata.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa vote like dan komennya ya...
Happy readers...