
Di lain tempat Jihan duduk di antara Jovan dan Dwi. Dengan terus tersenyum Dwi menggenggam tangan Jihan walaupun sudah duduk.
"Silahkan di mulai" ucap Rey.
"Saya di sini untuk klarivikasi berita yang beredar tentang saya tuan muda Prasaja dan adiknya silahlan kalian boleh menyanyakan apapun yang kalian ingin ketahui" ucap Dwi.
"Saya Jovan Prasaja akan mengungkap sebuah kebenaran agar kalian tidak lagi menganggap adik saya seperti pada gosip murahan itu, kalian benar kalau dia adalah adik kandung saya dia anak ke dua dari keluarga Prasaja Jihan Prasaja karena itu saya dekat dengannya karena dia adik kesayangan saya" ucap Jovan.
"Lalu apa hubungan tuan muda Putra dengannya" sebuah pertanyaan terlontar.
"Saya Putra mengumumkan pernikahan saya dengan putri dari keluarga Prasaja dia Jihan Prasaja, karena itu saya harap kalian tidak membuat berita semacam itu lagi dia bukan penggoda seperti yang kalian tudingkan dan dia bukan wanita biasa dia wanita baik baik dia bukan ingin mengambil harta saya bahkan dia tidak butuh harta saya dan dia bisa hidup tanpa uang saya" ucap Dwi.
"Lalu kenapa dia di sembunyikan dari keluarganya"
"Gak di sembunyikan tapi saya yang tidak ingin di perkenalkan ke publik agar saya bisa hidup normal dan sederhana. Sekali lagi saya tidak di sembunyikan atau di buang tapi saya hanya ingin publik mengenal saya dengan prestasi saya bukan karena marga keluarga" ucap Jihan.
"Bukankah anda dekat dengan pemilik AYASTA GROUP yang sedang naik daun juga"
"AYASTA GROUP bukankah pemiliknya seorang wanita" ucap Jihan.
"Wanita bukankah tuan muda dari Bramasta"
"Saya akan mengumumkan secara resmi bahwa saya Jihan Prasaja adalah pemilik dari AYASTA GROUP, yang meliputi JA Boutique JF Couple dan FeJi Resto yang baru saja buka kalau kaian menganggap itu milik keluarga Bramasta salah tapi itu bentuk kerja sama saya dengan tuan Muda dari Bramasta dan hubungan kita gak lebih dari seorang rekan bisnis" ucap Jihan.
"Apa anda yakin dengaan perasaan anda"
"Anda tidak perlu menjawabnya Nona saya akhiri ini saja" ucap Ray.
"Perasaan apa yang kalian maksud dan kepada siapa" tanya Jihan.
"Perasaan anda dengan tuan muda Bramasta bukankah anda cukup dekat"
"Gimana jawabnya, kalau saya jawab takut ada yang tersakiti tapi kalau gak di jawab jadi gosip gini deh apa yang kalian rasakan kepada rekan kerja kalian sama seperti itu yang saya rasakan tapi kalau maksud kalian lain saya tidak menganggapnya lebih dari seorang kakak dan rekan bisnis semoga itu bisa menjawab semua pertanyaan yang ada secara jelas terima kasih atas waktunya" ucap Jihan pergi di ikuti Jovan dan Dwi.
Dwi menatap Jihan yang berjalan dengan bergelanyut manja di tangannya namun raut wajahnya berubah yang tadi ceria menjadi sayu saat pertanyaan terlontar tentang Fero.
"Ji kenapa" ucap Jovan karena Dwi tidak berani bertanya.
"Gak Bang, gak tau apa yang gue rasakan sekarang" ucap Jihan.
"Ji inget ada seseorang yang ada di dekatmu jangan biarkan dia menjauh hanya karena sesuatu yang gak jelas" ucap Jovan.
"Iya Bang" ucap Jihan mengeratkan tangannya.
Dwi mengusap usap tangan Jihan agar tenang bahkan Dwi sesekali mencium puncak kepala Jihan dengan lembut. Saat sampai di ruangan dimana semua orang berkumpul Jihan di tarik Clarissa membuatnya melepaskan tangannya dari lengan Dwi.
"Kenapa lagi" ucap Jihan.
"Apa maksud lo tadi dengan pernikahan lo sama Putra, dia kekasih gue ngerti lo" ucap Clarissa meninggi membuat Jovan Dwi Dani Randy Raka dan Zian mendekat namun dengan cepat Jihan mengangkat tangannya agar mereka tidak ikut campur.
"Terus mau lo apa marah silahkan tapi kalo lo gak t*li lo denger kan tadi kalau dia yang umumin pernikahan bukan gue ngapa marahnya ke gue" ucap Jihan.
__ADS_1
"Lo tuh cuma wanita yang di jodohkan pilihan keluarga bukan pilihan hatinya, kalau aja dia gak di ancam keluar dari kartu KK gak bakal dia nikahin lo" ucap Clarissa mendekatkan wajahnya.
"Apa urusan lo hidup hidup gue pernikahan pernikahan gue suami suami gue gak peduli gue" ucap Jihan duduk membuat Clarissa merasa semakin di remehkaan.
"Lo gak tau kan gue udah ngapain aja sama Putra" ucap Clarissa membuat Jihan menghentikan aktivitasnya yang akan minum merasa berhasil Clarissa melanjutkan ucapannya.
"Lo tau gue udah lihat luar dalam suami lo, lo tau gue yang pertama" ucap Clarissa.
"Ris udah" bentak Dwi namun respon Jihan justru makan dengan santai membuat Dwi takut.
"Ji jangan dengerin dia" ucap Dwi.
"Kenapa takut" ucap Jihan.
"Semua bohong" ucap Dwi menggenggam erat tangan Jihan
"Biasa aja kali kalau gak salah, lagian kalaupun dia pertama gue gak masalah asal gue yang terakhir" ucap Jihan membuat Dwi bingung.
"Dasar wanita murahan wanita gila" ucap Clarissa membuat Jihan bangkit dan mendekat.
"Gue murahan kayaknya gak deh gak sadar lo lebih murahan dengan menyebut aib lo sendiri" ucap Jihan.
"Dasar laki laki pengecut" ucap Clarissa.
"Woi gue biarin lo bukan berarti lo bisa gitu sama dia" ucap Jihan meninggi membuat Dwi dan semua orang kaget.
"Kenapa lo belain orang yang udah kasih hak nya pertama buat gue" ucap Clarissa merasa menang.
Clarissa mulai kehabisan kata kata, sedangkan Jihan tersenyum sinis dengan terus mendekati Clarissa. Saat Clarissa terpojok Jihan mencengkram pipi Clarissa kuat kuat sampai Clarissa meringis kesakitan.
"Lepasin gue se*an ibl*s" ucap Clarissa.
"Lo bilang gue se*an terus apa nama yang pantes buat lo, lo belum puas ya hancurin keluargaa lo dengan main main sama gue" ucap Jihan melepaskan cengkramannya yang membekas merah di pipi mulus Clarissa.
"Em tapi lo kan orangnya gak peduli sama keluarga lo ya, lo cuma peduli sama orang incaran lo doang walaupun itu milik orang" ucap Jihan.
"Sekarang lo akuin dia milik lo terus gimana sama hati lo bukannya lo gak suka sama dia" ucap Clarissa.
"Pertanyaan hari ini itu aja ya, yayaya gue gak suka sama dia bahkan gue menolak pernikahan ini tapi gak menutup kemungkinan kalau gue sayang sama dia dan rasa itu mulai tumbuh di hati gue dan lo tau gue gak bakal biarin siapapun ambil hak gue orang orang yang gue sayang paham lo" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Sayang lo bilang gak mimpi kan lo" ucap Clarissa.
"Ya gue harap si mimpi gue bisa sayang sama dia, tapi ternyata ini nyata gimana dong" ucap Jihan membuat Dwi memeluknya mesra dari belakang.
"Lo gila ingat gue gak bakal biarin lo bahagia" ucap Clarissa.
"Ya karena kebahagiaan gue bukan dari lo, dan lo udah main main sama gue terima akibatnya karena seekor harimau tidak akan melepaskan mangsanya sampai dia tidak berdaya dan menjadi santapannya" ucap Jihan serius membuat Clarissa menciut dan pergi dengan cepat.
"Vin, urus dia hancurin karirnya dan kirim dia ke tempat itu pertemukan dengan orang tuanya biar dia sadar" ucap Jihan serius kepada sang asisten yang sedari tadi menontonnya.
"Siap bos, oh ya bos perusahaan itu sudah terjual dan pembelinya dari keluarga Bramasta" ucap Kevin.
__ADS_1
"Gue tau Ata yang beli dia ingin menjadikan itu sebagai perusahaannya" ucap Jihan.
"Tapi Bos" ucap Kevin.
"Ata sudah memikirkannya, lanjutkan seperti apa yang dia mau lagian kuasa dia sekarang gak mudah di jatuhkan" ucap Jihan.
"Baik bos, saya permisi" ucap Kevin.
"Hm, oh ya Vin bawa Ani beli baju dan keperluan wanita lainnya untuk mereka" ucap Jihan.
"Siap Bos" ujar Kevin memberi hormat.
"Tapi bos oke kan" tanya Kevin.
"Gak papa lagian di sini banyak orang jangan khawatirkan saya" ucap Jihan.
"Baiklah" ucap Kevin pergi setelah Jihan tersenyum padanya.
Setelah kepergian Kevin Jihan ambruk di depan Dwi membuat Dwi kaget. Jihan mengeratkan giginya kemudian mulai menggigil membuat Jane Sonia dan Gabby langsung melepaskan jaket mereka dan memasangnya di tubuh Jihan.
"Lo bisa berdiri" ucap Jane lembut
Jihan hanya menggeleng dengan mata mulai terpejam. Dwi bingung lalu memeluk Jihan saat dia memeluk Jihan dia kaget karena Jihan sangat dingin.
"Apa yang terjadi" ucap Dwi.
"Suhu tubuhnya turun dengan cepat" ucap Sonia sembari menggosok gosokkan tangan Jihan agar tetap hangat.
"Masih aja lo penyakitan gini Ji" ucap Zira lalu membuang semua jaket yang ada di tubuh Jihan dan membisikkan sesuatu kepada Dwi.
"Gila lo Ra, bisa mati gue" ucap Dwi.
"Kalau lo gak lakuin itu bisa mati beneran si Jihan" ucap Zira.
"Tapi Ra" ucap Dwi.
"Lakuin aja yang Zira bilang biar cepet naik suhu tubuhnya, biasanya kalau di peluk bareng bareng bisa tapi ini terlalu rendah suhunya gue gak yakin dengan keselamatannya" ucap Gabby.
"Oke" ucap Dwi menggendong Jihan.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya guys .....
Ikutin terus ceritanya, kalian bilang ini khayal banget halu ya iya lah namanya aja karangan kalau berita baru pakai fakta.... Thanks... Readers yang terus dukung Author I love You.
__ADS_1