
"Iya pah segera setelah mana nifas Jihan selesai" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.
Dwi dan Jihan hendak mengantarkan papa pergi namun di tolak papa. Papa justru menyuruh Jihan dan Dwi untuk saling mengenal. Dwi dan Jihan menurut setelah kepergian papanya Dwi meminta semua pertemuan hari ini untuk di batalkan karena dia ingin berduaan dengan Jihan.
"Kenapa liatnya gitu" ujar Jihan.
"Kamu cantik" ucap Dwi.
"Baru sadar" ujar Jihan duduk di sofa.
"Gak makanya cinta" ujar Dwi.
"Cinta sama rupa doang" ucap Jihan membuat Dwi memajukan bibirnya
"Eh Honey berapa lama kamu selesai melahirkan eh apa tadi" ujar Dwi.
"Nifas" ujar Jihan memperjelas.
"Ya itu" ucap Dwi.
"Selama darah masih keluar" ucap Jihan.
"Ya pastinya kapan" ucap Dwi.
"Dua bulan lebih" ucap Jihan sembari menahan tawanya.
"Gak bisa kurang" ujar Dwi polos.
"Di kira beli barang tawar menawar" ujar Jihan membuat Dwi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jihan berjalan ke arah sebuah lukisan yang terlihat sangat tidak asing. Jihan memperhatikan setiap detile membuat dia bernostalgia dengan lukisan itu. Dia menatap lukisn yang ada di atas lemari kecil Dwi dan dapat di lihat dari segala arah.
"Kamu tau itu dimana" tanya Dwi yang mendekat lalu memeluknya dari belakang.
"Itu tempat di mana kita berpisah" ucap Jihan.
"Dan tempat dimana penyesalan terbesar yang pernah ku alami" ucap Dwi.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Karena mas lepasin kamu gitu aja, andai bisa di putar lagi mas gak akan pernah biarin kamu pergi kalau perlu mas ikat kamu" ujar Dwi.
"Lebay" ujar Jihan melepaskan pelukan Dwi.
Jihan duduk di atas lemari lalu menatap Dwi sebentar kemudian menatap sembarang arah. Dwi tersenyum karena dapat melihat wajah Jihan dengan begitu dekat tanpa paksaan.
"Honey apa sekarang hubungan kita baik baik saja" ujar Dwi sembari mencium pipi Jihan.
"Entahlah, jalani sesuai jalannya aja" ujar Jihan membalas ciuman Dwi di pipinya membuat Dwi tersenyum.
"Wah mulai nakal" ujar Dwi namun Jihan terlihat sangat santai seolah tidak terjadi apa apa dia pandai menyembunyikan perasaannya.
"Hei cantik, kamu jangan cuek cuek dong sama suami nanti di cap istri durhaka lo" ujar Dwi dengan tangan berada di dagu Jihan membuat Jihan menatapnya.
"Hei di balik istri durhaka ada suami durjana " ujar Jihan membalas.
"Yaya, apa boleh tanya satu lagi" ujar Dwi melepaskan tangannya dari dagu Jihan.
"Ya" ujar Jihan.
"Kenapa kamu gak mau di paanggil sayang" ujar Dwi menutup matanya.
"Tanya kok gak berani liat matanya" cibir Jihan membuat Dwi membuka matanya dengan was was.
"Karena gue gak mau jadi kesayangan tapi di nomor duakan, lebih tepatnya gue benci panggilan itu karena itu panggilan cewek cewek lo ke lo" ujar Jihan bengkit dari duduknya membuat Dwi memundurkan kepalanya.
"Oke" ujar Dwi menunduk.
"Honey makan yuk" ucap Dwi.
"Makan apa" tanya Jihan.
"Makan siang ya kali makan kamu gak lucu" ujar Dwi membalikkan badannya.
Jihan hanya tersenyum lalu berjalan ke arah sova untuk mengambil ponselnya yang berada di meja namun ternyata ada air minum di atas lantai membuat Jihan terpeset dan tangannya mengenai pinggiran meja membuatnya memar.
"Jihan" ujar Dwi mendekati Jihan dan mulai panik.
Jihan berusaha menjelaskan kalau di baik baik saja apalagi tidak ada yang serius namun Dwi malah makin panik saat Jihan akan bicara. Jihan kesal karena Diw justru membawanya ke atas kasur yang ada di ruangannya lalu memeriksa semua inci tubuh istrinya.
"Panik amat gue oke" ujar Jihan.
"Gak mungkin jatuhnya keras banget gitu" ujar Dwi masih sibuk memeriksa tubuh Jihan.
__ADS_1
Jihan kesal lalu menarik tangan Dwi keras membuat Dwi jatuh di atas tubuhnya membuat tidak ada jarak di antara mereka.
"Diem dong, nih gak ada yang sakit jangan heboh jadi ikut panik nih" ujar Jihan.
"Gak mungkin gak ada yang sakit, mas harus lihat kmu terluka dimana biar bisa tentuin dokter yang periksa kamu" ujar Dwi.
Dwi hendak bangkit untuk mengecek tubuh Jihan lagi karena dia tidak ingin juniormya bangun namun karena Jihan sudah tidak ada pilihan untuk menghentikan Dwi bicara pun salah Jihan menarik tengkuk Dwi kemudian ********** membuat Dwi diam dan mulai hanyut dalam permainan.
"Kenapa gue yang cium dulu si" ujar Jihan dalan hati yang merasa dirinya sangat aneh.
"Tapi ya udahlah mau gimana lagi buat dia sadar lagian kisa kan udah sah" ujar Jihan lagi sembari melepaskan tautannya perlahan.
"Kamu beneran gak papa" ucap Dwi santai tidak lagi terlihat khawatir
"Iya gak papa, makanya jangan langsung panik gitu" ujar Jihan.
"Hehe maaf tapi lumayan panik dapat ciuman ya walau akhirnya di gantung" ujar Dwi.
"Apaan si, nih yang sakit" ujar Jihan menunjukkan tangannya yang terlihat memar.
"Memar Kita ke dokter ya" ujar Dwi.
"Gak perlu, ini cuma luka kecil di kompres air dingin juga nanti gak memar" ujar Jihan.
"Maaf ya ini semua salah mas, mas yang udah tumpahin minum di lantai tadi. Mas minta maaf" ujar Dwi ambruk di depan Jihan.
"Yaya sekarang bangunlah" ujar Jihan mendorong tubuh Dwi.
"Hehe maaf nyaman soalnya" ujar Dwi tersenyum nakal.
"Enek tau" ucap Jihan.
"Yaya, mana lagi yang sakit" tanya Dwi membenarkan duduknya.
"Kayaknya kekilir deh kaki Jihan lihat deh" ujar Jihan menunjukkan kakinya yang mulai bengkak.
"Bener mulai bengkak mau mas pijit" ujar Dwi.
"Boleh " ucap Jihan.
Dwi langsung membungkuk dan duduk di depan Jihan melepaskan sepatu Jihan dan mulai menyentuh kaki Jihan.
"Hati hati" ujar Jihan meringis kesakitan.
Krakk...
Dwi menarik kaki Jihan membuat Jihan kaget ia langsung teriak namun seketika dia membungkam mulutnya karena dia teriak cukup keras.
"Maaf" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum lalu duduk di samping Jihan dan menciumnya.
"Dari tadi cium cium mulu" ujar Jihan.
"Gemes, khusus hari ini kamu gak boleh pakai high heel oke" ucap Dwi.
"Kalau gak pakai high heel terus pakai apa" ujar Jihan.
"Sepatu tanpa heel" ucap Dwi.
"Oke oke" ucap Jihan.
"Makan yuk honey" ucap Dwi.
"Makan di mana" tanya Jihan.
"Deket sini aja, atau pesen online kaki kamu kan sakit" ucap Dwi.
"Gak mau cari aja yuk, lagian nih kaki udah enakan kamu pinter juga mijit" ucap Jihan bangkit dari duduknya.
"Gak cuma bisa pijit kaki doang tau" ucap Dwi.
"Gak nanya" ujar Jihan melenggang pergi dengan kaki sedikit pincang membuat Dwi memajukan bibirnya namun tetap mengikuti langkah Jihan.
"Mas gendong ya" pinta Dwi.
"No, lihat dong nih gue pakai rok gimana nasibnya kalau gendong" ujar Jihan.
"Iya juga ya udah deh tapi gandengan" ujar Dwi.
"Oke oke" ujar Jihan menurut.
Mereka keluar dari ruangan dengan Jihan menggandeng lengan Dwi walaupun dengan terpaksa karena tidka ingin berdebat dengan Dwi membuat semua kariawan Dwi menatapnya. Ada yang menatap tak suka ada juga yang meihatnya ikut bahagia.
"Ji kesana yuk" ujar Dwi menunjuk sebuah toko sepatu.
__ADS_1
"Kenapa ke sana" tanya Jihan.
"Ganti sepatu kamu" ujar Dwi.
Jihan mengikuti dengan patuh. Saat sampai di toko Jihan dan Dwi di sambut dengan sangat ramah oleh beberapa kariawan. Dwi meminta Jihan untuk duduk sedangkan beberapa kariawan memberi beberapa pasang sepatu.
"Mas yang ini boleh" tanya Jihan menunjuk sebuah sepatu flat namun elegan.
"Boleh mau berapa" tanya Dwi
"Dua lah yaa kali satu gimana makainya" cibir Jihan.
"Hehe kirain mau beli lima" ujar Dwi mengacak rambut Jihan.
"Kenapa gak sekalian lima puluh" ucap Jihan.
"Lima puluh oke, mba bungkus lima puluh sepatu ya" ucap Dwi.
"Susah ya kalau belanja sama sultan semua di iyain, mba mba gak usah dia tuh biasa sok baik gitu" ucap Jihan.
"Maksudnya mas gak baik gitu" ucap Dwi.
"Yaya baik baik kak Hiro" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Jadi ini gimana" tanya Seorang kariawan.
"Satu yang ini aja mba" ujar Jihan menunjuk sepatu yang dia kenakan.
"Kamu yakin itu kan murah pasti cepet rusak mas kan bisa beliin yang branded" ujar Dwi.
"Biarin cepet rusak biar cepet di beliin lagi, lagian Jihan gak suka sama yang branded produk lokal jauh lebih baik" ucap Jihan tersenyum.
"Ya udah mas bayar ya, gak mau yang lain" tanya Dwi membuat Jihan berfikir dan berjalan ke arah sepatu snacker berwarna abu abu yang terlihat sangat menawan.
"Kita beli ini ya, ini couple kan mba" tanya Jihan.
"Iya mba itu cuma di produksi sepuluh pasang" ucapnya.
"Berarti limited edition, mas yang ini ya pasti cukup menguras duit kamu" ujar Jihan tertawa.
"Oke" ujar Dwi tanpa berfikir membuat Jihan kesal.
"Kenapa kok kesel si, bukannya seneng" tanya Dwi.
"Kenapa si gak nolak gitu lagian ukurannya kan belum tentu pas kalau di beli gak muat gimana gak kepake kan sayang" ujar Jihan mengomel
"Yang penting di kaki kamu pas" ujar Dwi.
"Terus yang ke pake cuma punya Jihan punya kamu gak gak jadi couple dong" ujar Jihan semakin kesal.
"Bawa sini mba" ucap Dwi.
Seorang kariawan membawanya kepada Dwi dan Jihan mereka berdua mencoba sepatu tersebut dan ternyata pas di masing masing kaki mereka.
"Udahkan pas, yang ini sama yang ini ya mba ini kartunya" ujar Dwi memberikan kartu kredit.
Setelah selesai membayar Jihan dan Dwi keluar namun sebelumnya ada kariawan yang menggoda Jihan.
"Mba lain kali bawa pasangannya ke pasar tradisional aja" ujarnya membuat Jihan tersenyum karena tau maksud ucapan kariawan itu.
"Mba gak jadi untung dong saya kalau ke pasar tradisional, gak bisa bohongin dia kalau harganya mahal" ujar Jihan.
"Mas mas beruntung banget dapat pasangan kayak mba nya" ujar kariawan itu pada Dwi.
"Iya saya orang paling beruntung" ujar Dwi.
"Udah kerja lagi lo gosip mulu" ujar Jihan.
"Jangaan kasar dong gak malu" ujar Dwi.
"Kenapa malu" ujar Jihan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya...