
"Eh gak kok Gab cuma lagi pasangin sepatu sini aja mana Beni" ujar Jihan.
"Gue di sini maaf ya Gabby emang gak tau malu lagi dua duaan dia ganggu" ucap Beni.
"Udah mas duduk aja" ucap Jihan membuat Dwi duduk di sampingnya.
"Gak papa lagi, udah dapet bajunya" ujar Jihan.
"Gue pilih gaun ini Ji tapi kalau ini mahal di bayar kok sama Beni" ucap Gabby
"Hahaha ada juga yang suka gaun itu, sebenarnya tuh salah jahit tau makanya jadi gitu kirain gak bakal ada yang mau" ucap Jihan.
"Ini unik lagi, ini lo yang buat sendiri ya" ujar Gabby.
"Iya lo tau lah kalau gue sering buat baju gak sesuai sama designnya" ucap Jihan.
"Masa sih, terus gimana nasib nasib baju kamu" tanya Dwi.
"Banyakkan yang jadi, itu kalau lagi ada problem sama diri sendiri jadinya gitu" ucap Jihan.
"Oh gitu" ucap Dwi manggut manggut membuat Jihan tertawa.
"Lo kenapa Ji gak kesanbet kan" ucap Beni.
"Gak tau dari tadi aneh barusan marah terus nangis" ucap Dwi.
"Masa sih, lagi expresif gitu ya" ucap Gabby.
"Kenapa gue sehat baik, buat baju kalian itu gak perlu bayar buat kalian free" ucap Jihan.
"Wah makasih ya, Ji lo gak lagi hamil kan" ucap Gabby tiba tiba.
"Kenapa" tanya Jihan dan Dwi.
"Gue liatin tubuh kamu kayak beda gitu terus emosi kamu kayak gampang berubah kamu udah melakukannya kan" ucap Gabby.
"Emang dua kali itu bisa jadi anak" ujar Jihan polos.
"Ya bisa lah, sekali juga kalau ada rejeki jadi tuh anak" ucap Beni.
"Lo gak lagi masa subur kan" tanya Gabby.
"Sebenarnya beberapa hari setelah datang bulan" ucap Jihan malu.
"Oh gitu, jagain dia ya" ucap Gabby kepada Dwi.
"Pasti" ucap Dwi tersenyum namun berbeda dengan Jihan yang terlihat berfikir keras.
"Lo gak pakai pengaman kan bro" tanya Beni.
"Gak lah, lagian mana sempet udah gak tahan mau cobain" ucap Dwi.
"Semoga aja jadi tuh, ya udah kita duluan ya siapa tau mau di lanjut" ucap Beni.
Beni dan Gabby langsung pergi saat akan mengantar Gabby pergi Gabby melarang membuat Jihan hanya menatapnya dari jendela ruang kerjanya.
Dwi memeluk Jihan dari belakang membuat Jihan tersentak namun tidak mencoba melepaskan diri. Jihan melambaikan tangan kepada sahabat nya itu yang akan masuk mobil dari jendela ruang kerjanya.
"Mas mau itu" ujar Dwi menunjuk dada Jihan.
"What, Jihan mau kerja minggir" ujar Jihan langsung duduk untuk melanjutkan kerjanya.
"Ji satu aja" ujar Dwi.
"Mas please" ucap Jihan membuat Dwi memanyunkan bibirnya.
"Mas nanti ke rumah mamah ya" ucap Jihan.
"Iya" ujar Dwi singkat.
Jihan hanya menatapnya sebentar lalu membereskaan perlengkapan kerjanya. Jihan mendekati Dwi yang sedang duduk asik bermain ponsel dengan bibir manyun.
"Mau pulang apa gak" ujar Jihan tidak ada respon dari Dwi.
Jihan hanya menghela nafasnya panjang, kemudian membereskan sepatu yang tadi dia pakai dan menaruhnya di lemari kaca yang ada di ruangannya.
tok.... tok.... tok....
"Masuk" ujr Jihan
"Kenapa An" tanya Jihan.
"Ada keributan di luar Mba" ujar Ani.
__ADS_1
Jihan langsung meletakkan tasnya dan pergi ke lantai satu. Ternyata benar ada beberapa orang yang sedang beradu argumen dan saling tarik menarik baju.
"Maaf ada yang bisa saya bantu" ujar Jihan.
"Anda siapa" tanya pelanggan.
"Kebetulan saya pemilik sekaligus designer di sini ada yang bisa saya bantu" ujar Jihan.
"Gini mba, nih saya sampai duluan tapi dia yang ambil duluan" ujarnya.
"Begini saja jika salah satu dari kalian mau mengalah akan saya buatkan design terbaru" ujar Jihan.
"Gak saya mau ini" ujrnya.
"Saya juga " saut satunya lagi.
"bagaimana dengan gaun gaun lain di sana" ujar Jihan masih sabar.
"Gak mau mb mau ini juga" ujar salah satu.
"Maaf gaun ini tidak saya jual" ucap Jihan dengan senyum mengembang walau hatinya ingin mencakar cakar ke dua ibu ibu di depannya.
"Tapi kenapa bukankah ini best seller dan limited edition" ucap salah seorang ibu tersebut di angguki yang lainnya.
"Tadinya gitu tapi sekarang sudah tidak ini saya hadiahkan buat asisten saya saya lupa kalai hari ini ulang tahunnya sini An" ucap Jihan membuat kariawannya bingung.
"Sini kamu coba ya " ucap Jihan dengan senyuman paling manis.
"Mba" ucap Ani.
"Iya gak apa apa maaf lupa sama ulang tahunmu" ucap Jihan dengan tatapan tajam membuat kariawannya meng iyakan.
Ke dua pelanggan saling tatap menatap sampai Jihan merasakan perutnya kram. Dari jauh Dwi melihat Jihan menahan sakit sembari memegang perutnya Dwi langsung menghampiri dan memelukmya dari samping.
"Eh mas" ucap Jihan mendongak.
"Hm kenapa" ucap Dwi khawatir.
"Tadi kram sekarang udah gak, mas bisa minta tolong gak urusin nih ibu ibu" ucap Jihan liroh sembari tersenyum.
"Mas harus " ucap Dwi memohon agar tidak melakukan itu.
"Hm" ucap Jihan.
"Bu ibu dia ganteng gak mau gak foto sama dia kapan lagi coba bisa foto sama tuan muda Suseno lebih mahal dari sebuah gaun yang kalian rebutin" ucap Jihan membuat Dwo menatapnya penuh pemyesalan.
"Oke tapi jangan sentuh ya bu kalau di sentuh nanti dia gak mau foto" ucap Jihan di iyakan ke dua ibu ibu rempong itu.
Setelah dua orang tersebut pergi ani datang dengan gaun yang di rebutkan tadi.
"Udah mba" ujar Ani.
"Udah eh kok bisa pas banget sama kamu ya, kamu suka" ucap jihan.
"Suka mba design mba emang the best" ucap Ani.
"Oke free for you" ucap Jihan.
"Maksud mba" tanya Ani.
"Maksudnya itu buat kamu aja gratis, guys kumpul" ucap Jihan berteriak membuat semua kariawannya berkumpul.
"Kenapa Mba"
"Buat kalian semua silahkan pilih satu baju yang menurut kalian paling bagus jangan lihat harganya oke" ucap Jihan.
Semua kariawannya mengiyakan tanpa bertanya. Jihan tersenyum membuat Dwi memeluknya dari belakang.
"Kenapa tadi gak mau mas di pegang pegang" tanya Dwi membuat Jihan gugup.
"Gak kenapa kenapa kamu seneng di pegang sembarang orang" ucap Jihan.
"Ya gak lah, kamu cemburu" tanya Dwi.
"Gak PD bener " ucap Jihan.
"Wangi" ujar Dwi mengendus leher Jihan membuat Jihan kegelian.
"Udah ngapa mas geli nih" ucap Jihan.
"Yaya, pulang yuk Aiy" ucap Dwi.
"Nanti bentar lagi tunggu mereka semua selesai pilih baju" ucap Jihan.
__ADS_1
"Oke, kamu gak penasaran Mas pulang kapan" ujar Dwi.
"Gak" ucap Jihan dingin membuat Dwi gemas dan mencium pipinya berulang kali.
"Maaf Mba"
"Udah, itu semua bonus buat kalian" ucap Jihan.
"Serius mba" ujar beberapa kariawan.
"Serius terima kasih sudah bekerja dengan baik selama ini dan maaf dengan gangguan gangguan yang ada termasuk sekarang" ucap Jihan.
"Gak papa mba, seneng liatnya semoga aja jodoh mba adalah yang terbaik" ucap salah seorang kariawan.
"Iya, dan spesial hari ini kalian boleh pulang lebih awal oke selamat istirahat dan bersenang senang" ujar Jihan pergi dengan Dwi masih memeluknya dari belakang.
"Udah ngapa mas gak panas apa" ujar Jihan.
"Gak, kamu mau jalan jalan" ujar Dwi.
"Hari ini kemana" tanya Jihan.
"Kemana aja kamu mau" ucap Dwi
"Oke, " ucap Jihan
Lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Dwi untuk mengambil tasnya yang ada di lantai dua. Dengan semangat Jihan berjalan ke arah mobilnya dan duduk di kursi samping pengemudi.
"Ji apa boleh mas minta waktu satu hari penuh pergi berdua sama kamu dan melakukan selayaknya pasangan pada umumnya" tanya Dwi dengan tatapan penuh harap.
"Maksudnya" tanya Jihan bingung.
"Ya kita jalan kayak pasangan pasangan di luar sana bergandengan dan sejenisnya dan jangan ketus ketus sama mas" ujar Dwi membuat Jihan tersenyum aneh.
"Harus banget" ujar Jihan dalam hati.
"Harus dong" ucap Dwi
"Dia denger lagi suara hati gue" ucap Jihan pelan membuat Dwi tersenyum.
"Oke buat hari ini aja" ujar Jihan membuat senyum Dwi melebar.
Dwi lalu meraih tangan Jihan dan menggenggamnya erat. Dwi melajukan mobilnya ke suatu tempat yang sepi dan jalanan kecil. Jihan bukan penakut jadi dia terlihat biasa saja dan sangat menikmati tempat itu.
"Kamu gak takut Aiy" tanya Dwi.
"Gak, pernah kali di kampung dulu lebih dari ini" ujar Jihan.
"Kamu di sana berapa lama" tanya Dwi.
"Dimana di kampung kurang lebih dua tahun setelah lulus SMA" ucap Jihan.
"Kamu sekarang umur berapa udah lulus S2" tanya Dwi.
"Kenapa biasa aja kali SMP aja cuma satu tahun SMA satu tahun dan kuliah dua tahun" ucap Jihan.
"Oh pantesan tua sebelum masanya hehe" ujar Dwi.
"Kamu juga kali" ucap Jihan.
"Gue si dari SD aja ikut kelas cepat" ucap Dwi.
"Ilang dong masa masa indah dan bodohnya waktu SD" ujar Jihan.
"Hm, IQ dan EQ gue gak bisa di rem" ucap Dwi.
"Hahaha, di kira mobil pake rem" ucap Jihan.
"Kamu masih ingat jalan ini Ji" tanya Dwi membuat Jihan bingung.
"Apa kita pernah ke sini sebelumnya, ingatan gue terlalu buruk" ucap Jihan mulai merasa resah.
"Hm buruk sampai bisa inget bahkan serangga yang lewat di depan mata" ucap Dwi meledek.
Sebenarnya Jihan pernah mengalami hal mengerikan waktu kecil saat dia menunjukkan IQ yang luar biasa ada teman ayahnya yang tidak suka. Dia di culik dan di sekap di sebuah gubuk di dalam hutan. Sampai ada seseorang berseragam SMP menolongnya.
"Jangan bilang kamu anak itu" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komennya...