Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Gado Gado


__ADS_3

"Mas pulang aja yuk kita makan di rumah nanti Jihan masakin" ucap Jihan.


"Kenapa katanya enak, kok minta pulang" tanya Dwi penasaran.


"Lagian kamu makan di sini, tapi pikiran kamu entah melayang kemana kalau memang ingin tau keadaan Putri pergilah" ucap Jihan.


"Tapi bagaimana dengan mu" tanya Dwi.


"Aku, sudah jangan pikirkan itu ada kak Dani yang bisa menjaga gue pergi aja" ucap Jihan.


"Oke kalau gitu nanti mas berangkat ya kamu jaga rumah" ucap Dwi.


"*Kenapa gue sedih ya, bukan itu jawaban yang pengin gue denger" ujar Jihan dalam hati.


"Sadar Ji sadar emang apa jawaban yang lo harapin dari dia, mau ikut aduh sadar dong Ji" ujar Jihan lagi*.


Dwi dan Jihan akhirnya memutuskan untuk pulang karena Jihan kekeh dengan pemdiriannya. Jihan adalah orang yang perasa jadintidak heran dia sering mengorbankan sesuatu yang sangat dia inginkan untuk orang lain.


Di kota lain terdengar perdebatan kecil seorang gadis dengan ke dua orang tuanya. Terlihat gadis tersebut sangat menentang apa yang telah menjadi keputusan orang tuanya tersebut.


"Kenapa harus pake perjodohan si, mama kan tau Putri ingin sekolah setinggi mungkin Putri ingin mencapai cita cita mah" ucap Putri.


"Walaupun kamu menikah kamu masih bisa meraih cita cita bersama suami kamu" ucap Mama Sri menenangkan.


"Please mah, cukup Abang yang di jodohin Putri gak mau" ucapnya menangis.


"Mau gak mau harus mau, ini wasiat dari kakek kamu lagian liat dulu dong siapa pangerannya baru komplain" ucap mama Sri.


"Iya sayang kamu pasti suka, dia itu pria yang cerdas dan baik hati ganteng juga" ucap mama Anggun yang turut membujuk Putri.


"Buat apa itu semua kalau gak cinta" ucap Putri dengan nada tinggi.


"Cinta itu bakal datang perlahan beriring berjalannya waktu percayalah" ucap mama Anggun.


"Putri terima perjodohan ini tapi ada syaratnya" ucap Putri.


"Apa itu nak" tanya mama Sri girang.


"Pertama Putri gak mau pernikahannya di gelar mewah harus diem diem, ke dua Putri akan mencoba selam satu tahun pernikahan jika memang tidak bisa cocok maafin Putri" ucap Putri.


"Baiklah kalau itu memang syarat yang kamu minta mama setuju, tapi untuk pernikahan akan di gelar di kampung dia seperti Abangmu hanya orang sekitar yang kita undang kamu tau sendiri kan bagaimana pendapat orang desa kalau kalian berduaan tanpa ikatan" ucap mama Sri.


"Iya tapi tidak dengan teman teman Putri , Putri gak mau mereka tau" ucap Putri.


"Setuju, sekarang bersiaplah dia segera datang" ucap Mama Sri.


"Hm, bu Anggun bantu saya" ucap Putri.


Putri bersiap di kamarnya dengan bantuan mama Anggun, sedangkan mama Sri dan ke dua bapak bapak sedang menunggu tamu di ruang tamu. Tak berselang lama orang yang mereka tunggu tunggu akhirnya datang dengan senyuman manis seorang pemuda yang membuatnya semakin mempesona.


"Silahkan silahkan" ucap pak Suseno.


"Terima kasih" ucapnya sekeluarga.


Mereka mengobrol sedangkan mama Sri memanggil Putri untuk ke ruang tamu. Dengan langkah gontai Putri di bantu bu Anggun dan mamanya ke ruang tamu seketika Putri tersenyum pasalnya orang yang di jodohkan dengannya sangat tampan.


"Duduk" perintah mama Sri dengan tersenyum yang melihat ekspresi Putri yang bahagia.


"Lo ternyata kamu Fer" ucap mama Anggun kaget.


"Iya, loh kok bude di sini si" tanya Fero tak kalah kaget.


"Iya, silahkan duduk" ucap Mama Anggun.


"Iya bude" ucap Fero.


"Takdir apa yang sedang kau permainkan Tuhan, bagaimana perasaan putriku nanti saat tau siapa suami dari adik iparnya" ujar mama Anggun dalam hati.

__ADS_1


Prosesi lamaran berjalan dengan lancar dengan wajah sumringah Putri pancarkan lain dengan Fero walaupun tersenyum tapi sangat jelas kecewa yang teramat di wajahnya. Walaupun Fero sangat pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya tapi tidak dengan hari ini.


Setelah acara selesai semua tamu di ajak makan malam oleh mama Sri begituoun dengan Putri yang sangat antusias. Mama dan papa Putri sangt bahagia pasalnya Putri bilang menyukai pemuda yang telah resmi menjadi tuanangannya.


"Bagaimana kalau kita tentukan hari pernikahannya" ucap papa Fero.


"Lebih cepat lebih baik" ucap papa Suseno.


"Baiklah bagaimana dengan dua minggu lagi" tanya papa Fero.


"Dua minggu lagi, baiklah hal yang baik memang harus di segerakan" ucap pak suseno.


"Dua minggu lagi pah gak salah" tanya Fero.


"Gak kan kamu juga udah selesai ujian kan" tanya papanya.


"Iya si udah tapi kan masih banyak kegiatan paska ujian pah" ucap Fero.


"Jangan banyak alasan kamu, lihat Jihan dia bisa nikah padahal belum ujian" ucap papanya.


"Kenapa harus selalu di samain sama Jihan si pah, papa kan gak tau perasaan Jihan gimana yang papa tau cuma yang terlihat kan" ucap Fero.


"Udah percaya sama papa" ucap papanya.


"Terserah tapi Fero gak janji bias baik sama dia" ucap Fero.


"Sudahlah biarkan nak Fero menerima ini dulu, memang sulit menerima sebuah perjodohan lagian dia pasti harus mikir gimana cara putusin pacarnya hahaha" ucap pak Suseno.


"Udah tau kalau di jodohin itu gak enak, sakit masih aja jodohin anaknya" ujar Fero daln hati.


Semua orang tertawa bahagia lain dengan Fero yang sedari tadi memilih diam dan bermain ponsel. Saat Putri mengajaknya ke halaman depan juga Fero hanya bermain ponsel padahal Putri sudah bicara panjang lebar hanya di jawab seperlunya oleh Fero.


"Maaf sudah malam gak baik berduaan" ucap Fero pergi.


"Tapi belum puas ngobrolnya" ucap Putri.


Fero tidak mendengarkan apa yang Putri bicarakan hanya melanjutkan jalannya ke rumah utama, mau tidak mau Putri mengikuti Fero masuk dan duduk di sebelah mamanya.


"Iya jeng, hati hati ya" ucap mama Sri.


Keluarga Fero pergi meninggalkan kediaman Suseno. Putri girang daan menceritakan kekagumannya kepada Fero membuat ke dua orang tuanya tersenyum bahagia. Lain dengan perasaan mama Anggun yang memikirkan hati putrinya.


"Pah kita pulang besok ya" ucap mama Anggun.


"Kenapa mah, ada yang terjadi" tanya papanya.


"Gak pah, cuma udah kangen sama rumah, lagi senin kan Jihan mulai ujian yang ada di rumah cuma Dani mama gak yakin Jihan bisa konsentrasi ujian" ucap mama Anggun.


"Iya mah, mamah bener" ucap papa Jihan.


"Kenapa harus buru buru pulangnya" ucap mama Sri.


"Iya, soalnya takut Jihan telat makan karena serius dengan ujiannya" ucap mama Anggun.


"Iya si, tapi kan ada Dwi jeng jangan khawatir lah" ucap mama Sri.


"Dwi kan biar serius ajarin Jihan buat persiapan ujian biar Jihan bisa lulus kasian kalau harus urusin Jihan" ucap mama Anggun.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu jeng, besok akan saya suruh supir untuk mengantar kalian" ucap mama Sri.


Pagi menjelang mama Anggun dan papa Jihan sudah bersiap untuk pulang sedangkan di belahan kota lain dua orang pemuda sedang malas malasan karena hari ini hari minggu jadi mereka malas malasan.


"Ji bangun Ji, kaka udah beli makanan tuh nanti keburu dingin" teriak Dani di luar kamar.


"Iya kak makasih" ucap Jihan masih menutup matanya.


"Kaka pergi dulu ya mau ke rumah temen kamu jangan lupa sarapan mama papa pulang hari ini " teriak Dani lagi.

__ADS_1


"Ya" teriak Jihan.


Jihan lalu bangun untuk menyiapkan makan namun saat melihat ke samping ternyata Dwi masih tertidur. Tanpa sengaja Jihan tersenyum saat melihat Dwi masih di sampingnya ada rasa senang tapi juga aneh.


"Kaka beli apa yak" tanya Jihan sembari berjalan menuju meja makan.


"Gado gado wah enak nih" ucap Jihan lalu duduk untuk makan.


"Pagi sayang, lagi makan apa" tanya Dwi yang baru saja datang kemudian mencium dan memeluk Jihan.


"Eh, udah siang kali" ucap Jihan santai walau hatinya sedang maraton.


"Iya iya, kamu makan rumput" tanya Dwi.


"Rumput, ini sayur cobain deh enak tau" ucap Jihan.


"Masa si enak, suapin" rengek Dwi selerti anak kecil.


"Huh... iya nih" ucap Jihan menyuapi Dwi.


Jihan tertawa melihat ekspresi Dwi yang sangat aneh saat sayur masuk ke dalam mulutnya. Dwi hanya serius menguyah sayur yang Jihan berikan pasalnya ini adalah kali pertamanya makan sayur.


"Gimana rasanya" tanya Jihan penasaran.


"Rasanya aneh, gak jelas" ucap Dwi.


"Kok bisa gak jelas si bilang aja enak sama gak gitu" cibir Jihan.


"Karena yang jelas cuma cinta aku ke kamu" ucap Dwi.


"Gini nih kalau bangunya siang jadi halu kan" ucap Jihan.


"Gak papa halu, kamu bangun kapan yanx kok gak bangunin" tanya Dwi sembari makan dengan lahap.


"Baru aja, tadi mau bangunin tapi gak jadi takut marah" ucap Jihan.


"Siapa yang akan marah kalau di bangunin sama istri cantik kaya kamu" ucap Dwi.


"Huh... gombal terus" ucap Jihan berlalu pergi sembari membawa piring kosong dan mencucinya.


Dwi hanya memperhatikan tingkah Jihan sembari duduk di meja makan pasalnya Jihan tidak ingin Dwi mengganggunya saat ini dan Dwi pun menurutinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya Readers....


Like vote dan komennya... love you...


__ADS_2