Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Pergi


__ADS_3

"Besok berangkat jam berapa" tanya Jihan.


"Kenapa mau ikut " tanya Dwi.


"Gak cuma kalau berangkat pagi, besok pulang sekolah gue mau langsung ke rumah sakit" ucap Jihan.


"Oh, berangkat jam tiga pagi nanti" ucap Dwi.


"Pakai motor" tanya Jihan.


"Gak di jemput sama supir, gak kasian kamu kalau mas pakai motor bisa beku di jalan" ucap Dwi bercanda.


"Berarti motornya di bawa Jihan sekolah ya" ucap Jihan.


"Kata siapa, lagian kamu bisa sama supir besok mas bawa orang lebih buat jaga kamu di rumah dan rumah sakit" ucap Dwi.


"Gak mau, bosen Jihan sama penjagaan ketat lagian belum tentu selamat" ucap Jihan.


"Kenapa ngomong gitu" tanya Dwi bingung.


"Udah biasa gue dulu gitu banyak bodyguard tapi masih aja gue kena dari itu gue belajar karena pertahanan diri lebih penting" ucap Jihan.


"Oke kalau gitu gak jadi panggil bodyguard deh kamu boleh bawa motor sendiri" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan.


"Tapi inget ati ati" ucap Dwi.


"Oke" ujar Jihan menghabiskan makanannya.


"Yuk pulang " ucap Jihan.


"Yuk" ucap Dwi.


Jihan dan Dwi pergi menuju rumahnya setelah menghabiskan makanannya. Selama perjalanan Dwi terus bertanya tanya banyak hal namun Jihan menjawabnya dengan santai dan seenaknya.


"Berapa hari pergi" tanya Jihan saat sudah sampai di rumahnya.


"Dua hari kayaknya itupun kalau selesai cepet" ucap Dwi.


"Oh gak bawa ganti" tanya Jihan.


"Gak, paling pulangnya ke rumah Mama" ucap Dwi.


"Pantes gak pikir packing" ucap Jihan.


"Ji kamu beneran gak mau ikut" tanya Dwi.


"Gak lagian masih ujian kalau gak mungkin ikut" ucap Jihan.


"Hhhh, Ji boleh Mas ngomong gak" tanya Dwi duduk di samping Jihan.


"Ngomong aja" ucap Jihan.


"Ji bisakah kamu menjaga hatimu saat jauh dariku" ujar Dwi membuat Jihan menatap Dwi.


Dwi terus menatap Jihan dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jihan meminta Jihan untuk mengiyakan permintaannya namun bukan jawaban yang Jihan berikan hanya tatapan tajam darinya.


"Dan bisakah kamu juga menjaga hati untuk mereka" ujar Jihan.


"Akan mas kasih yang terbaik untukmu" ucap Dwi.


"Maaf semua itu hanya waktu yang dapat menjawab" ucap Jihan duduk di meja belajarnya.


"Ya, dan waktu juga yang akan meluluhkan hati mu untukku" ucap Dwi.


"Kita lihat apa yang akan terjadi nanti, masihkah kau bertahan saat kau tau segalanya" ucap Jihan.


"Apa maksudmu, apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui" tanya Dwi mendekati Jihan.


"Banyak hal, waktu akan menjawab semua pertanyaan mu mungkin kau yang akan melepaskan ku dengan ikhlas" ucap Jihan meneteskan air matanya.


"Kamu nangis" ucap Dwi merangkup wajah Jihan.


Jihan tidak menatap Dwi Jihan hanya menunduk sembari menutup matanya membuat Dwi merengkuh tubuh Jihan ke pelukannya. Jihan tidak menolak apa yang Dwi lakukan Jihan justru menangis tersedu sedu di dekapan Dwi membuat Dwi bingung. Lama Jihan menangis sampai dia tertidur karena lelah menangis.


"Apa yang tidak ku ketahui tentangmu, dan apa yang membuatmu sampai sesedih ini mungkinkah pertahanan hatimu sudah goyah" ujar Dwi lalu membaringkan Jihan di tempat tidur.


"Cari tau semua hal tentang Nona" ujar Dwi menghubungi anak buahnya.


Dwi lalu menyusul Jihan untuk tidur, Dwi sangat penasaran maksud dari yang Jihan katakan, namun dia tidak ingin bertanya kepada Jihan karena bukan jawaban yang akan Jihan katakan melainkan sebuah teka teki yang akan Jihan katakan.


Pagi datang, namun masih dalam keadaan remang karena baru menunjukkan pukul tiga dini hari namun Jihan sudah terbangun dan sudah rapi sedangkan Dwi baru saja membuka matanya.

__ADS_1


"Sudah bangun Ji" tanya Dwi melebarkan matanya.


"Udah" ucap Jihan santai sembari mengemas barang barang yang akan dia bawa ke rumah sakit.


"Jam berapa" tanya Dwi sembari mendekati Jihan.


"Jam tiga" jawab Jihan singkat.


"Kamu bawa banyak barang, yang mau pergi gue yang berkemas lo" ujar Dwi kaget melihat barang bawaan Jihan.


Jihan tidak menjawab hanya melanjutkan pekerjaannya, Dwi yang merasa di abaikan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Dwi keluar Jihan sudah tidak ada di dalam kamarnya namun semua barangnya masih dan sudah rapi di dekat pintu. Dwi berjalan ke arah ranjang yang sudah tersedia setelan baju formal yang Jihan siapkan.


"Lagi ngapain Ji" tanya Dwi saat menghampiri Jihan di dapur.


"Buat minum" ucap Jihan menyodorkan dua minuman di atas nampan.


"Kok dua" tanya Dwi.


"Ya, satu buat pak Nano" ucap Jihan.


"Pak Nano sudah sampai" tanya Dwi.


"Udah dari tadi jam dua katanya, tapi Jihan suruh masuk sudah jam setengah tiga" ucap Jihan.


"Oh, kamu kenal sama dia" tanya Dwi.


"Hm, sering ketemu soalnya dulu" ucap Jihan.


"Oh, ya udah temenin mas minum yuk" ucap Dwi.


"Duluan aja, Jihan lagi buat makanan" ucap Jihan.


"Oke, yang enak ya" ujar Dwi tersenyum.


"Kalau gak enak tinggal buang aja beres" ucap Jihn cuek sembari melanjutkan acara masaknya.


"Iya, jangan gambek dong" ucap Dwi mencolek dagu Jihan.


Jihan menatapnya tajam namun di balas dengan senyum manis dari Dwi. Setelah kepergian Dwi Jihan melanjutkan masaknya dengan cepat.


"Silahkan" ujar Jihan memberikan dua buah nasi goreng kepada Dwi dan pak Nano.


"Terima kasih neng" ucap pak Nano.


"Terima kasih Honey " ucap Dwi.


"Iya" ujar Jihan singkat.


"Kamu gak makan" tanya Dwi.


"Udah" ucap Jihan.


"Kapan" tanya Dwi lagi.


"Cerewed" ucap Jihan lalu memainkan ponselnya.


"Neng jangan gitu sama suami nanti kualat neng" ucap pak Nano.


"Abis ngeselin pak" bela Jihan.


"Iya bapak tau tapi dia adalah sumber ridhonya neng" ucapnya lagi.


"Iya pak" ucap Jihan menunduk.


"Apa masih sama kebencian itu neng" tanya pak Nano.


"Masih pak, malah bertambah" ucap Jihan.


"Hati hati neng, saat membenci sesuatu terlalu dalam akan ada rasa cinta yang begitu dalam juga" ucap pak Nano.


"Iya pak, Jihan tau tapi gak semudah itu" ucap Jihan.


"Terserah saja, bapak cuma berharap neng hidup bahagia" ucap Pak Nano.


"Terima kasih doanya pak" ucap Jihan.


Dwi bingung dengan apa yang sedang Jihn dan sopirnya itu bicarakan, namun Dwi tidak berani untuk ikut campur karena raut wajah Jihan yang sangat berbeda dengan hari hari biasanya.


"Udah pak, ayok berangkat takut kesiangan nanti sampainya" ucap Dwi.


"Baik tuan, neng permisi" ucap pak Nano.


"Iya pak hati hati" ucap Jihan.

__ADS_1


"Ji, mas berangkat dulu ya kamu jaga diri dan jangan lupa makan good luck buat ujiannya" ucap Dwi.


"Iya terima kasih" ucap Jihan.


"Ya udah, kamu masuk gih mas sisain buat kamu tuh nasi keburu dingin nanti buat masakan enak banget" ucap Dwi.


"Terima kasih pujiannya" ucap Jihan.


Dwi tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Jihan, dengan kesal Jihan mencium tangan Dwi di balas ciuman hangat di dahi Jihan membuat wajah Jihan memerah.


"*Mas akan minta sesuatu saat pulang" bisik Dwi.


"Apa" tanya Jihan.


"Ada lah, hak mas" ucap Dwi terkikik*.


" Jangan gila deh" ujar Jihan.


"Hehe, terserah dong kan emang udah seharusnya oh ya kamu mau oleh oleh apa" tanya Dwi.


"Gak perlu" ucap Jihan.


"Ayok dong, minta apa gitu biar pas pulang gak takut masuk rumah" ujar Dwi.


"Gue gak biasa minta oleh oleh jadi bingung, seikhlas kamu aja mau kasih apa" ucap Jihan.


"Oke, sesuatu yang gak akan kamu lupakan seumur hidup kamu siapin diri ya" ujar Dwi tersenyum licik.


"Terserah kamu mau ngomong apa, berangkat gih" ucap Jihan.


"Kamu gak mau peluk atau cium gitu" tanya Dwi.


"Kenapa, emang harus gitu" ujar Jihan santai.


"Ya gak si, tapi kan biar ada semangat buat berangkat" ucap Dwi.


"Gak ada peluk cium" ucap Jihan merona.


"Sebentar aja juga gak apa apa Ji" pinta Dwi.


"Gak ,udahlah gak kelar kelar telat nanti" ucap Jihan.


"Kamu kasih baru aku pergi" ucap Dwi tersenyum.


"Gak ada, gak pergi ya gak terserah urusan kamu juga" ucap Jihan.


"Gitu banget, berat beratin ngapa biar gak pergi" ucap Dwi.


"Lah kenapa" tanya Dwi.


"Gue males kerja" ucap Dwi.


"Kalau males gak perlu kerja dong" ucap Jihan.


"Terus nanti gimana sama biaya hidup kamu dan anak anak nanti" ucap Dwi.


"Kalau gitu ya udah berangkat" ucap Jihan.


"Kamu ma gitu, bukannya di halangin di tahan malah di suruh" ucap Dwi.


"Udahlah jangan buat gue marah" ucap Jihan mendorong Dwi ke dalan mobil.


Saat Jihan mendorong Dwi, Dwi mengambil kesempatan dengan menjatuhkan diri ke kursi mobil dan menarik Jihan membuat Jihan ikut terjatuh dan tanpa sengaja bibir Jihan menempel di bibir Dwi membuat Jihan membulatkan matanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Jangan lupa like vote dan komennya ya..

__ADS_1


Bantu Author.... ya Readers***.....


__ADS_2