
Hari berlalu malam datang Dwi tertidur di atas kasur empuknya di kamar miliknya dengan foto Jihan di pelukannya. Dwi menangis dalam diam mengingat semua yang sudah dia lewati dengan Jihan dulu bahkan Dwi masih mengharap Jihan pulang.
Sedangkan di lain negara Jihan dan anaknya sudah berada di sebuah bandara. Jihan tersenyum saat melihat ke dua anaknya bahagia namun hatinya tidak tenang.
"Abang sanggupkan Jihan menemuimu" ucap Jihan dalam hati menarik nafasanya panjang.
"Mom" ucap Justine.
"Kenapa sayang" tanya Jihan
"Apa mommy sudah menghubungi Jovan" tanya Justine.
"Belum mommy hilang contac" ucap Jihan
"Mommy tidak mencoba membohongiku kan" tanya Justine.
"Tidak nanti kamu cari sendiri mana orangnya kamu sudah lihat fotonya kan mommy hanya bisa mengantar kamu ke perusahaannya saja" ucap Jihan.
"Oke" ucap Justine.
Jihan dan anaknya terbang ke negara yang dia tuju. Setelah perjalanan yang cukup lama mereka sampai di negara yang di tuju. Jihan membawa ke dua anaknya ke hotel yang sudah dia pesan sebelumnya hotel yang dekat demgan gedung gedung terkenal pencakar langit.
"Mom sekarang" ucap Justine.
"Istirahat dulu Abang" ucap Jihan.
"Gak, Jenifer mau menemui om Jovan" tanya Justine.
"Sekarang Bang" ucap Jenifer tersenyum dan semangat.
"Oke, sekaramg berganti pakaianlah" ucap Jihan di angguki ke duanya.
Jihan langsung mandi dan bersiap untuk pergi. Ke dua anaknya menatap pasalnya Jihan memakai cadar membuat ke dua anaknya bingung.
"Kenapa di luar panas" ucap Jihan langsung memakai kacamata.
Justine dan Jenifer mengangguk lalu berjalan lebih dulu.
"Emang kalian tau mau kemana" tanya Jihan.
"Gak" ucap keduanya membuat Jihan tersenyum.
Jihan langsung membawa ke dua anaknya ke depan sebuah gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan J2 Corporate membuat Justine tersenyum.
"Mau masuk" tanya Jihan di angguki ke dua anaknya.
Jihan menarik nafasnya beberapa kali lalu mulai menginjakkan kakinya ke dalam gedung itu dengan hati bergemuruh dia langsung pergi ke resepsionis.
"Tuan Jovannya ada "tanya Jihan.
"Apa anda sudah membuat janji" ucapnya mmebuat Jihan mengangguk lalu membuka cadarnya.
"Saya belum membuat janji tapi bisakah saya menemuimya" tanya Jihan.
"Maaf Nona anda harus membuat janji dahulu lagi pula tuan Jovam sedang pergi ada meeting di luar mungkin sebentar lagi kembali kalau anda mau silahkan menunggu" ucapnya Sopan.
"Siapa namamu" tanya Jihan.
"Rania itu nama saya, tapi saya harap anda jangan membuat keributan walaupun saya membiarkan anda menunggu saya juga tidak bisa memastikan anda bisa menemuinya" ucapnya dengan lembut.
"Oke" ucap Jihan.
"Mommy bukankah dia" ujar Justine menunjuk pintu masuk.
"Ya cobalah temui dia" ujar Jihan membuat Justine berjalan dengan sedikit berlari ke arah pintu utama.
"Berhenti" ucap Justine keras.
"Nak manis bisakah kamu minggir sebentar " ucap sang asisten Jovan sedangkan Jihan hanya tersenyum di balik cadar membiarkan anaknya berusaha apalagi Jenifer yang ikut Justine.
"Dimana orang tuamu" ucap Jovan.
"Dia ada di sini" ucap Justine yang melihat Dwi juga berada di sana.
"Dimana bisa panggilkan oraang tuamu" ucap Jovan.
"Hei kamu menunduklah" ucap Justine kepada Dwi membuat semua orang tersenyum.
Dwi gemas dia langsung menunduk dan sekatika Justine dan Jenifer melayangkan tinjunya membuat Jihan membulatkan matanya.
__ADS_1
"Nona apa itu anak anda" tanya sanga resepsionis.
"Ya kenapa" tanya Jihan santai.
"Anda hanya melihat anda tau siapa yang dia tinju itu" ucapnya.
"Saya tau dan kenal biarkan mereka melampiaskan kekesalannya" ucap Jihan berjalan ke arah anaknya.
"Maaf nona siapa nama Anda" ucapnya
"Jihan Jihan Ayundia Prasaja" ucap Jihan menjauh membuat sang reseopionis berkirir.
"Kayak kenal nama itu" ujarnya membuat Jihan tersenyum.
"Hai kalian sudah selesai" ucap Jihan mendekat.
"Kamu orang tuanya" ucap Dwi.
"Ya apa sakit, sepertinya tidak lagian tidak ada bekas" ucap Jihan mengecek wajah Dwi dengan tangannya membuat Dwi membulatkan matanya.
"Kamu menyentuhnya" ucap Jovan.
"Ya masalah tuan Jovan Pramudika Prasja" ucap Jihan.
"Bentar saya kenal suara kamu seperti tidak asing ya" ucap Jovan.
"Hei kalian berdua hanya ingin menemui uncle Jovan kenapa malah memukulnya" tanya Jihan pada ke dua anaknya
"Mom kenapa dia tidak mengenaliku padahal mom bilang kalau kita sangat mirip dengannya apa mom bohong" ucap Justine.
"Bohong kalau Mom membohongimu kenapa mom membawamu pada orang yang tepat" ucap Jihan pergi.
"Mom kenapa pergi, kenapa kita gak ngobrol dulu dengan Daddy" tanya Jenifer.
"Daddy" ujar Dwi dan Jovan.
"Mommy akan membawa kalian menemuinya lagi saat kalian siap" ucap Jihan.
"Sebentar bisa ke ruangan saya sekarang kamu dan ke dua anakmu itu" ucap Jovan.
"Tidak perlu" ucap Jihan.
"Baiklah ada banyak hal yang ingin ku tanyakan" ucap Justine.
"Sepertinya dugaan gue bener sini lo" ujar Jovan langsung melingkarkan tangannya di leher Jihan.
"Ampun" ucap Jihan memohon.
"Lepaskan dia tidak ada yang boleh menyentuhnya" ucap Justine galak.
"Dia anakmu, sangat posesif kayak lo" ucap Jovan.
"Apaan si" ucap Jihan langsung melepaskan diri.
"Mari berbicara" ucap Jovan.
"Gak mau" ucap Jihan pergi di ikuti ke dua anaknya.
Jihan manahan air matanya yang ingin memgalir. Saat sudah sampai di hotel Jihan menangis di kamar mandi sedangkan ke dua anaknya bermain komputer.
"Siapa dia Van" tanya Dwi.
"Gue gak yakin tapi harusnya itu dia" ucap Jovam.
"Siapa si" tanya Dwi.
"Kamu kenapa" tanya Jovan pada resepsionis.
"Ini milik nona tadi terjatuh" ucap sang resepsionis memperlihatkan sebuah gelang.
"Kamu tau siapa dia" tanya Jovan.
"Tadi katanya em siapa ya namananya Ji Jihan ya namanaya Jihan kalau gak salah bos" ucapnya.
"Jihan Jihan Ayundia Prasaja apa dia" tanya Dwi.
"Iya itu namanya" ucap sang resepsionis membuat Jovan dan Dwi saling tatap.
"Tuh kan beneran dia kenapa harus pakai cadar" tanya Jovan.
__ADS_1
"Tapi apa itu beneran dia" ucap Rey.
"Ya dia ini adalah gelang keberuntungan yang gue kasih ke dia" ucap Jovan.
"Tapi kenapa dia berubah" ujar Dwi.
"Semua orang kan berubah pada masanya, tapi syukurlah kalau dia masih hidup dan dengan begitu gue lega dan bisa langsung gelomtorin uang ke rekeningnya" ucap Jovan.
"Gue juga" ucap Dwi.
"Ngapain lo udah nikah lagi lo gak perlu mikirin Jihan" ucap Jovan.
"Tapi dia bawa anak gue" ujar Dwi.
"Belum pasti" ujar Jovan.
"Kamu bisa carikan informasi mengenai dia cari dimana dia tinggal sekarang" ucap Jovan pada sang asisten
"Tuan ini ada secarik surat dari nona tadi" ucap Sang resepsionis kepada Jovan.
"Hai bang,
Saat lo baca surat ini mungkin gue udah pergi sebelum lo sadar kalau gue ada di depan lo jangan mencoba mencari Jihan ataupun anak anak Jihan saat kita siap kita akan kembali gue belum bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka, mereka masih belum bisa menerima daddynya sudah menikah lagi Jihan akan pulang ke negara Jihan Tinggal selama ini
See you next again Bang
Hubungi Jihan di nomor ini anak anak Jihan ingin bertemu denganmu bnyak yang ingin mereka tanyakan sama lo"
Jovan langsung menangis membaca surat dari Jihan. Jovan langsung merobek surat itu setelah mencatat nomor yang ada di dalam surat itu.
"Jangan cari dia jangan mencoba mencarinya dan jangan mengatakannya pada siapapun termasuk mama papa kerja seperti biasa" ujar Jovan menelfon sang asisten yang sudah pergi.
Dwi bingung dengan ucapan Jovan namun Jovan hamya diam dan pergi ke ruangannya. Ingin dia katakan apa isi surat itu namun Jovan tidak ingin Dwi salah jalan dan meninggalkan istrinya sekarang.
"Bang kenapa bahkan dia sudah ada di depan mata" ucap Dwi.
"Wi sudahlah dia aja gak mau nemuin gue apalagi lo , lo liat sendiri tadi bahkan dia tidak mengenalkanmu pada anak anakmu melainkan membiarkannya memukul dia pasti sangat kecewa sekarang" ucap Jovan.
"Tapi setidakmya gue bisa jelasin ke Jihan" ucap Dwi ngotot lalu berjalan pergi.
"Terserah lo Wi, dia udah kembali ke negara dimana dia hidup damai" ucap Jovan menghentikan langkah Dwi.
Dwi langsung pergi tanpa berfikir doa mengerahka. Semua ajudannya untuk mencari keberadaan Jihan dia mencoba melacak namun gagal karena Jihan sudah mulai berani menggunakan kekuasaannya untuk memastikan dia dan anak anaknya aman.
"Ji kalau lo udah sampai di negara itu hubungi gue" ucap Jovan mengirim pesan singkat.
Jihan masih berada di bandara dia bahkan belum terbang saat anak buah Dwi datang Jihan bahkan melihatnya mereka berlalu lalang di depan Jihan namun karena Jihan memakai cadar dan ke dua anaknya memakai hal yang sama membuat anak buah Dwi tidak sadar keberadaan Jihan karena ketenangan dari Jihan dan anak anaknya.
"Mommy mengenal mereka" tanya Jenifer.
"Mereka anak buah Daddymu" ucap Jihan
"Kenapa kita harus bersembunyi" tanya Justine.
"Bang nyawa kita bisa di ujung tanduk, maaf karena banyak masalah yang mommy lakukan di negara ini membuat kalian tidak bisa leluasa" ucap Jihan.
"Apa itu alasan mommy tidak pernah membawa kita ke sini" tanya Justine di angguki Jihan.
"Mom haruskah kita pulang sekarang bukakah mommy ada jadwal fashion show di tempat unty Sandra" tanya Jenifer.
"Ya kenapa" tanya Jihan
Unty Sandra adalah salah satu orang yang sangat berjasa di kehidupan baru Jihan. Dia yang memberikan pekerjaan tambahan pada Jihan sehingga Jihan bisa membangun usahanya seperti sekarang.
"Kalau kita pulang bukankah itu memerlukan uang yang lebih banyak" ucap Jenifer.
"Lalu bagaimana mau kalian" tanya Jihan pada ke dua anaknya.
"Kita ganti hotel aja mom, setelah kita selesai dengan unty Sandra kita langsung pulang" ucap Justine di angguki Jihan.
Jihan langsung membawa ke dua anaknya ke hotel yang lebih dekat dengan acara yang akan dia ikuti. Namun saat mereka akan pergi ponsel Jihan berdering.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys...
Maaf lama gak. Up, dan maaf up tapi makin gak nyambung ya....