Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Jalan Takdir


__ADS_3

"Takdir bukan harus di lawan tapi di jalani" ujar Dani menghampiri.


"Jalani takdir, kenapa takdir tak sejalan dengan keinginan kita" tanya Jihan.


"Jika takdir ikut apa mau kita maka tidak akan ada air mata" ucap Dani.


Jihan tersadar lalu menghapus air matanya dengan cepat sebelum Fero menyadarinya.


"Udah selesai kak" tanya Jihan.


"Udah yuk pulang keburu malam nanti" ucap Dani.


Mereka bertiga berjalan pulang dengan sayuran yang di bawa pak Malik sang penjaga kebun. Fero menggandeng tangan Jihan membuat mereka sangat serasi.


Saat sampai di depan mobil Jihan mengajak Fero untuk berjalan kaki sedangkan Dani bersama pak malik di suruh mengendarai mobil namun pak malik menolaknya tapi bukan Jihan jika tidak bisa membujuk seseorang.


"Duluan ya neng Den" ucapnya saat melewati Jihan dan Dwi yang sedang berjalan dari dalam mobil.


"Iya pak" ucap Jihan.


"Gimana tangannya masih sakit" tanya Fero.


"Udah gak, masih sakit hati gue kemarin" ceplos Jihan.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sana Ay, bisa kamu ceritakan" ujar Fero.


"Gak mau, gak penting juga mending kita seneng seneng hari ini lupain semua masalah yang ada" ujar Jihan.


"Oke kalau lo belum siap untuk cerita" ucap Fero.


Jihan dan Fero berjalan seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Mereka tertawa riang dan bercanda riang sepanjang jalan banyak yang melihat iri dan banyak juga yang melihat benci namun mereka tak memikirkan itu.


"Loh pak kenapa cuci mobil saya" ujar Jihan saat melihat pak Malik mencuci mobilnya padahal dirinya masih sangat kotor.


"Gak apa apa neng, ini juga salah saya dari kebun langsung naik mobil aja kan kotor" ucap pak malik.


"Mobil emang harus kotor pak, kalau bersih itu kalau mau ikut kontes" ucap Jihan.


"Tapi Neng" ujarnya.


"Ya sudah karena bapak sudah terlanjur mencuci mobil itu maka bapak harus pulang biar saya yang melanjutkannya" ujar Jihan.


"Tapi tangan neng" ucapnya.


"Biar saya yang bantu Jihan pak" ucap Fero.


"tapi"


"Gak ada tapi bapak pulang aja" ucap Jihan lembut membut pak Malik pergi.


Jihan mencuci mobil hanya dengan satu tangan melihat hal itu Fero merasa kasihan begitupun dengan Dani yang datang membantu setelah dia mandi. Jihan mencuci mobil dengan terus bercanda dengan Fero namun setelah Dani datang dan membantu Jihan lalu pergi untuk membersihkan diri dan pergi ke tempat Fero untuk memasak bersama ibu Fero.


"Hallo tante" sapa Jihan.


"Hai Ji udah datang, mau langsung ikutan nih" ledek mam Fero.


"Iya tante kita masak apa nih" tanya Jihan.


"Masak semua sayuran yang kalian panen tadi" ucap mama Fero.


"Oke, Jihan bantu apa nih" tanya Jihan.


Mama Fero mulai menjelaskan apa yang harus Jihan lakukan, mereka sangat akrab saat memasak mereka terus bercanda.


"*Andai takdir tidak sejahat ini sama kita Ay mungkin kita bisa bersama dan gue bisa melihat kebahagiaan dari kalian berdua kalian malaikatku" ujar Fero dalam hati.


"Andai tante bisa memilih Ji, mungkin tante akan lebih memilih kamu namun perjodohan yang lebih dulu keluargamu lakukan tante tidak bisa berbuat banyak karena tante tidak ingin seseorang akan tersakiti lagi seperti dulu" Ujar mama Fero dalam hati*.


"Tante taukah kamu kalau keinginan terbesar Jihan adalah menjadi anak tante, tapi takdir telah membuat jalan lain untuk ku. Ingin rasanya Jihan memeluk tante tanpa melepaskan Jihan terlalu takut untuk kehilangan tante dan anak tante saat Jihan melawan takdir karena kalian Jihan bertahan walau dalam situasi sangat sulit" ujar Jihan dalam hati.


(Aduh semua orang bicara dalam batin ya hehe... maaf semua bingung dengan adegan selanjutnya.... hehe


Senja datang berbagai makanan sudah tersaji di meja makan depan rumah Fero karena Jihan mengajak beberapa tetangga untuk ikut makan bersama di depan rumah Fero. Dani datang dengan puluhan kotak nasi dari sebuah kedai ayam bakar terkenal di desa tersebut.


"Beli berapa box Ka" tanya Jihan menghampiri Dani.


"Seratus box pesannya si tapi di kasih bonus lima box" ucap Dani.


"Oh terima kasih Kak" ucap Jihan membantu Dani menyusun box makanan tersebut.


"Banyak banget sayang" ujar mama Fero.


"Sengaja tante biar semua kebagian" ucap Jihan.

__ADS_1


"Hati kamu memang sangat mulia " ucap Mama Fero memuji.


"Terima kasih pujiannya tante" ucap Jihan.


"Jangan puji terus mah, nanti terbang" ledek Fero.


"Lo bisa aja Ta" ucap Jihan.


" kalau terbang kasih benang biar gak ketinggian dan gampang turuninnya dan mengendalikannya" ledek mama Fero.


"Rugi dong kalau putus gak tau jalan pulang" ucap Dani.


"Serang terus"Ucap Jihan memajukan bibirnya.


"Eh Kak, emang kakak udah beneran sembuh Kak" tanya Jihan.


"Udah cuma luka biasa juga" ucap Dani.


"Oke" ucap Jihan.


Banyak orang berdatangan ke rumah Fero, Banyak juga teman teman sekelas Jihan dan sampai ke tiga sahabat Jihan pun datang Jihan memeluk ke tiga sahabatnya kemudian Meminta maaf.


"Maafin gue ya guys" ucap Jihan.


"Kenapa lo minta maaf" tanya Hana.


"Udahlah Ji semua sudah terjadi, lagi pula gue tau kok lo lagi capek kan" ucap Nisa.


"Emang apa yang terjadi" tanya Mona.


"Gak apa apa" ucap Jihan tersenyum sembari menatap Nisa tajam.


"Eh btw acara apa nih" tanya Hana.


"Acara kebebasan kita setelah belenggu ujian" ucap Jihan tersenyum.


"Bisa aja lo Ji" ucap Mona


"Iya dong kan tadi gue gak ikut pesta di kantin" ucap Jihan.


"Randy mana udah berangkat" tanya Dani.


"Udah berangkat bareng sama kak Jovan" ucap Nisa.


"Apaan si lo " ucap Hana.


"Guys makan di sana yuk" ujar Jihan mengajak Nisa dan Mona menjauh.


Jihan menata beberapa makanan di atas wadah besar lalu makan bersama dengan teman teman se kelasnya yang datang tak lama kemudian Hana dan Dani datang ikut bergabung. Mereka sangat menikmati makanannya dengan diiringi canda tawa selama mereka makan.


"Malam Honey" ucap seseorang mencium pipi Jihan membuat Jihan membatu.


"Ji ji" ujar Mona yang tepat berada di samping Jihan sembari menggoyang goyang Jihan.


"Eh ya kenapa" tanya Jihan.


"Malah ngelamun lo tuh" ucap Mona menunjuk seseorang di belakang Jihan.


Jihan menatap arah yang Mona tunjukkan seketika Jihan membulatkan matanya memastikan orang yang baru saja datang benar benar orang yang dia kenal. Setelah itu dia kembali melanjutkan makannya tanpa menghiraukan orang tersebut.


"Ji selesaikan apa yang harus kamu selesaikan" ucap Jovan.


Jihan berdiri lalu mencium tangan Jovan Dan Dwi yang datang bersamaan.


"Apa lagi yang harus di selesaikan Bang semua udah jelas tinggal gimana kita menjalaninya" ucap Jihan.


"Gadis manis lakukan apa yang menurutmu benar dan jangan keluar dari jalan Abang mendukungmu maafin Abang Ji suatu saat kamu akan tau alasan di balik ini semua" ucap Jovan memeluk Jihan erat.


"Oke lah Abang, tegur Jihan saat Jihan keluar dari jalan" ucap Jihan membalas pelukan Jovan.


"Huhuhu syahdunya melihat kalian begitu akrab" ledek Dani.


"Kakak mau ikut bilang aja" ucap Jihan tersenyum.


Dani tersenyum kemudian ikut dalam pelukan membuat Jihan meronta ronta karena Dani memeluknya terlalu erat.


"Kak engap" ucap Jihan.


"Hehe sorry terbawa suasana" ucap Dani melepaskan pelukannya.


"Kalian kayak gak ketemu satu abad" ledek Fero.


"Ya udah Bang yuk ikut makan" ucap Jihan.

__ADS_1


"Jangan lupain yang sebelah Ay" ujar Fero melirik Dwi.


"Eh lupa, yuk makan" ucap Jihan dingin.


"Gak mau" ucap Dwi.


"Gak mau ya udah" ucap Jihan.


"Gue mau peluk lo dan lo suapin gue" ucap Dwi.


"Ngarep" ucap Jihan sinis.


Jihan lalu melenggang pergi namun dengan cepat Dwi menariknya dan membuat Jihan jatuh di pelukan Dwi kemudian Dwi memeluknya erat. Jihan menangis namun tak bersuara dengan cepat Jihan menghapus air matanya.


"Udah malu banyak orang" ucap Jihan berusaha melepaskan pelukan Dwi.


"Senengnya yang udah nikah mau ngapain aja halal" ledek Nisa.


"Udah di bilang" ucap Jihan memukul lengan Dwi.


"Maaf, sekarang boleh minta makan" ujar Dwi.


"Makan aja sendiri" ucap jihan.


"Gak mau suapin" ucap Dwi.


"Kenapa mesti gue kenapa gak lo bawa si Clarissa lo itu buat suapin lo" bisik Jihan dengan tegas.


"Jangan bahas lagi" ucap Dwi.


"Terus mau balas apa" ujar Jihan meninggi.


"Kamu cemburu" ujar Dwi.


"Cemburu, sama dia ogah" ucap Jihan lalu pergi.


"Segampang itu lo permainkan gue, dan lo bersikap seolah lo gak punya kesalahan sama gue lo jahat tau" ujar Jihan dalam hati.


Jihan pergi menyendiri di tempat yang lumayan sepi, Jihan menggenggam ponselnya erat sampai luka yang tadi siang kembali mengeluarkan cairan merah.


"Hai Ji" ujar seseorang.


"Hai, kenapa" tanya Jihan.


"ngapain disini mending kita makan bareng yuk" ucapnya.


"Boleh yuk" ucap Jihan.


Jihan mengikuti teman sekelasnya untuk duduk bergabung dengan teman teman yang lainnya.


"Wah rame banget kalian semua datang" ucap Jihan.


"Ya dong dan kita bawa makanan kesukaan lo" ucap salah seorang teman.


"Gue juga bikin sendiri lagi" ucap teman lagi.


"Ji lo tinggal duduk kita suapin lo" ucapnya.


"Oke, tapi kenapa kalian repot repot si" ujar Jihan.


"Karena lo adalah orang yang sudah mengubah kita untuk berfikir dan membela saat di tindas" ucap salah seorang teman dengan di setujui semuanya.


" Takdir terima kasih di permainanmu ini di saat hati dan pikiran gue hancur datangkan gue mereka semua yang buat semuanya kembali " ujar Jihan meneteskan air mata.


" Nangis kenapa" tanya Fero.


.


.


.


.


.


.


**Bersambung.....


Ikuti terus ya akan ada kejutan di episode episode selanjutnya....


Salam kenal Author

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga di KAKAKKU CINTAKU**.


__ADS_2