
"Kenapa kaget bener kan gak di kasih uang" ucap Jihan.
"Yayaya terserah kita makan" ucap Mama.
"Oke mah, mamah kenapa gak bilang si mah kalau hari ini masak banyak kan Jihan bisa bantu" ucap Jihan menggandeng mertuanya.
"Gak papa lah sayang banyak yang bantu mamah kok" ucap mama mengelus rambut Jihan.
"Mama masak apa" tanya Jihan.
"Banyak kesukaan semua orang, kalau kesukaan kamu mama gak tau jadi maaf ya" ucap Mama
"Gak papa mah udah cukup kayak gini" ujar Jihan.
"Mah boleh minta shusi itu" ucap Jihan.
"Boleh semua boleh," ucap Mama.
"Mama suapin" ucap Jihan manja membuat semua orang menatapnya.
"suapin" tanya Mama mengulangi.
"Hm, satu aja yang itu" ucap Jihan menunjuk shusi yang banyak nori.
"Oke, satu atau semua " tanya mama walau aneh menantunya minta di suapin tapi jiwa ke ibuannya mendorongnya untuk melakukan itu.
"Satu aja mah" ucap Jihan.
"Oke buka mulut" ucap Mama.
Jihan membuka mulut dan makan dengan santai dan sangat menikmatinya. Setelah itu Jihan memeluk mertuanya itu dan duduk di samping Dwi dengan merapatkan kursi.
"Ay lo makan nori ini bener kamu kan" tanya Fero.
"Kenapa sama nori" ucap Putri.
"Dia tuh gak pernah makan shusi apa lagi nori, dia pasti muntah kalau makan itu dan bisa sampai satu minggu gak makan" ujar Fero.
"Tapi lahap aja" ujar Dwi.
"Heeh dia gak ada tanda tanda mengeluarkannya" ucap Mama.
"Sejak kapan lo makan nori Ay" tanya Fero.
"Sejak tadi" ucap Jihan santai lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dwi.
"Kenapa pusing" tanya Dwi khawatir.
"Gak pengin gini aja" ujar Jihan.
"Wi" ujar mama dengan tatapan membunuh.
"Gak tau mah" ucap Dwi.
"Mamah jangan gitu sama mas Dwi kasian" ucap Jihan dengan mata berkaca kaca.
"Eh yaya maaf, jangan nangis" ujar mama panik.
"Nangis" ujar Dwi menatap Jihan.
"Gak mama aja yang lebay" ucap Jihan mencibir mertuanya membuat semua orang tertawa tapi Jihan air matanya terus mengalir.
"Kenapa sayang" ucap Dwi perhatian.
"laper, mas suapin" ucap Jihan merengek seperti anak kecil.
"Oke mau makan apa" tanya Dwi.
"Makan apa yang sedang kamu makan" ucap Jihan.
"Oke" ucap Dwi.
Dwi menyuapi Jihan dengan sabar sedangkan Jihan makan dengan lahap dengan porsi yang harusnya untuk dua orang hampir habis di makannya. Ada pikiran aneh saat melihat Jihan makan seperti itu tapi Dwi menepisnya.
"Udah" ucap Jihan.
"Udah" ujar Dwi.
"Hm mas ponsel Jihan mana" tanya Jihan.
"Ada di kamar" ucap Dwi.
"Oke Jihan duluan ya, kamu makan" ucap Jihan mencium pipi Dwi dan pergi.
Dwi masih tertegun apa lagi Fero yang baru pertama melihat Jihan mencium seseorang. Wajah Dwi memerah karena malu namun ada rasa senang yang sangat dalam.
"Wi istri kamu kenapa" tanya mama.
"Gak tau mah, sejak Dwi pulang tadi dia beda emosinya juga gak beraturan" ucap Dwi.
"Jangan jangan hamil, udah lo buahi kan kak" ucap Putri.
"Hm tapi apa secepat itu" ucap Dwi.
"Kapan" tanya Papa.
"Dua minggu lalu yang pertama" ucap Dwi.
"Yang pertama jadi ada yang ke dua" tanya Putri.
"Ada lah, baru juga tiga kali Put" ujar Dwi.
"Tiga" ucap mama Papa.
__ADS_1
"Iya yang ke tiga juga tadi" ujar Dwi.
"Hahaha malangnya nasib" ledek papa.
"Papa" ucap Dwi.
Semua orang bahagia dengan pengakuan Dwi dan berharap benih yang Dwi taman benar berbuah. Lain dengan Fero yang merasakan panas di hatinya mendengar semua itu ya walaupun dia sendiri juga sudah menghianatai perasaannya karena dia juga sudah melakukannya dengan Putri bahkan lebih sering entah karena dia memang sudah melupakan Jihan atau karena Putri yang terlalu menggoda di matanya.
"Besok periksa aja siapa tau beneran hamil" ucap Mama.
"Tapi Dwi takut kecewa mah, lagian Dwi rasa Jihan belum sepenuhnya menerima kehadiran Dwi gimana nanti kalau tiba tiba dia hamil" ujar Dwi.
"Dia bukan orang yang seperti itu, dia mudah melupakan dan mudah untuk menerima" ujar Fero.
"Kenapa kamu lebih tau tentang dia" tanya Putri.
"Lama gue kenal dia sejak masuk SMA" ujar Fero.
"Terus lo suka sama dia" ujar Putri membut Dwi ikut penasaran.
"Apa yang buat gue gak suka sama dia" ujar Fero.
"Maksud gue lain" ujar Putri.
"Buat apa suka sayang kalau gak bakal bisa memiliki" ujar Fero.
"Kalau lo beneran sayang sama dia biarin dia bahagia dengan kehidupaannya" ucap Dwi.
"Gue usahain" ujar Fero.
"Mas Dwi hua" ujar Jihan mendekat dengan tangisan keras.
"Kenapa" tanya Dwi khawatir.
"Mati" ucap Jihan.
"Mati siapa" tanya Dwi memegang wajah Jihan dan menatapnya tajam.
"Ini" ujar Jihan menunjukkan ponselnya.
"ini" ujar Dwi bingung sembari menunjuk ponsel Jihan.
"Kamu bikin mas jantungan aja" ujar Dwi memeluk Jihan sembari tersenyum.
"Ya udah besok kita beli" ujar Dwi.
"Gak mau, maunya sekarang " ujar Jihan.
"Oke kita siap siap dulu" ucap Dwi.
"Gak mau beli sama kamu maunya sama Abang" ucap Jihan.
"Kenapa sama mas gak mau" tanya Dwi
"Oke" ujar Dwi menuruti saja kemauan strinya itu.
Dwi mengantarkan Jihan ke apartemen Jovan yang ternyata tidak di sana. Jihan kecewa namun Dwi terus menghubungi Jovan sampai Jovan mengatakan kalau dia sudah dekat dengan mansoin keuarga Prasaja.
Dwi mengantar Jihan walaupun dia merasa agak aneh krena selama perjalanan apapun makanan yang Jihan lihat di pinggir jalan selalu dia minta dan memakannya dengan lahap padahal Jihan baru saja makan.
"Kok lama katanya udah deket" ujar Jovan saat Jihan dan Dwi baru sampai.
"Gimana mau cepet tuh adek lo" ujar Dwi menunjuk Jihan dengan berbagai macam makanan yang dia beli selama perjalanan.
"Banyak banget Ji, Abang minta ya" ujar Jovan mengambil sosis yang di pegang Jihan membuat Jihan menatapnya.
"Satu Ji jangan gitu liatnya takut Abang" ujr Jovan meledek.
"Hua Abang jahat hua" ujar Jihan menangis keras membuat mamanya berlari ke ruang tamu.
"Kenapa sayang" tanya Papa Jihan.
"Abang jahat hua" ujar Jihan semakin keras.
"Bang" tegur Mama Anggun.
"Gak Mah, Jovan cuma ambil satu lagian ada banyak di tangan Jihan mah" ujar Jovan membela diri.
"Sayang nanti kita beli lagi ya" ujar Dwi lembut.
"Gak mau Abang jahat, nih kamu makan semuanya harus habis" ucap Jihan memberikan semua makanannya kepada Dwi.
"Mas sudah makan sayang" ujar Dwi.
"Harus makan atau Jihan nangis" ujar Jihan mengancam.
"Iya iya oke, aduh siapa yang berbuat siapa yang harus tanggung jawab" cibir Dwi sembari makan satu persatu makanan yang dia beli dengan Jihan.
"Abang beli ponsel yuk tapi uang Abang" ujar Jihan merengek.
"Kenapa sama ponsel lo" tanya Jovan santai.
"Tadi tuh ada temen kirim vidio di group serem banget gak sengaja gue lempar eh mati" ujar Jihan.
"Ponsel yang mana" tanya Jovan..
"Nih" ucap Jihan menunjukkan ponselnya.
"Pantesan aja mati ini ponsel tuh udah harus di museumkan dari jaman penjajahan tuh" ledek Jovan.
"Hm tapi sayang" ucap Jihan.
"Bukannya lo punya ponsel baru dari Dwi" ucap Jovan.
__ADS_1
"Iya itu ponsel khusus Bang" ujar Jihan.
"Ada ada aja lo, ya udah yuk beli tapi duit lo ya kan duit gue baru abis buat beli mobil sport buat lo" ujar Jovan.
"Gue yakin lo gak semiskin itu Bang" ujar Jihan.
"Tapi uang gue krisis" ucap Jovan.
"Gak peduli" ucap Jihan.
"Ih jadi adek susah banget di bilangin, untung sayang coba gak" ucap Jovan.
"Pakai uang mas aja" ucap Dwi.
"Gak mau, punya Abang aja" ucap Jihan.
"Kenapa sama uangnya Dwi" tanya Jovan.
"Gue gak mau dia miskin secepat itu Bang belum puas gue manfaatin dia" ucap Jihan.
"Punya istri jujur banget ya, beruntung sekali" ledek Dwi.
"Terima kasih gue anggap itu pujian" ucap Jihan.
"Jawab lagi untung sayangnya terlalu dalam" ucap Dwi memeluk Jihan.
"Gak pakai gitu juga kali panas nih gue" ucap Jovan.
"Katanya mau deketin si Mona" ucap Jihan.
"Besok besok aja Ji, baru pertama gue mau deketin cewe berfikir sejuta kali" ujar Jovan.
"Lama mikirnya Bang keburu di gandeng orang tuh" ucap Jihan.
"Iya kayak gue dong langsung pinang aman, bebas lagi mesra mesraan" ucap Dwi.
"Itu si lo yang nyosor terus" ucap Jovan.
"Gas terus jangan kendor" ucap Dwi.
"Ji bener bener suami lo gila kayak lo, ya udah Abang ganti baju dulu kita berangkat tapi jangan sama Dwi males gue" ucap Jovan.
"Kenapa gue lo tinggal si" ucap Dwi protes.
"Gue males jalan sama lo, sama Jihan aja kita pacaran ya Ji" ucap Jovan.
"Jahat" ucap Dwi.
"Di rumah aja" ucap Jihan pergi.
Jihan menunggu Jovan di luar rumah sedangkan Dwi menatap kepergiannya dengan Jovan. Jovan yang tau kalau iparnya sedang merana justru sangat bahagia dia justru merangkul Jihan dengan mesra.
"Hue hue" Dwi muntah membuat mama Sri khawatir.
"Kenapa Wi" tanya Mama.
"Gak tau mah liat Jihan sama Abang langsung mual" ucap Dwi tersenyum.
"Cemburu bilang aja Wi" ucap Mama tertawa.
"Tapi ini beneran mual mah" ucap Dwi.
"Hue hue hue" Dwi berlari untuk mengelurkannya.
Mama Sri hanya menatapnya karena menganggap Dwi hanya main main saja, Namun saat Dwi mulai lemas duduk di samping wastafel Mama Sri mulai khawatir.
Mama menelfon Jihan dan Jovan namun tidak bisa membuatnya semakin panik.
"Mama panggilin dokter aja ya Wi" ucap Mama.
"Gak perlu mah Dwi mau istirahat aja" ucap Dwi.
"Oke mau mama buatin teh anget" tanya Mama.
"Gak perlu mah, palingan juga masuk angin dua hari gak tidur bener mah" ucap Dwi.
"Oh ya udah iatirahat kalau butuh apa apa panggil mamah aja, Jihan pasti lama kalau pergi sama Jovan" ucap Mama.
"Suka lupa waktu ya mah" tanya Dwi.
"Ya sebelum uang Abangnya abis belum pulang" ucap Mama.
"Gak papa mah nanti Dwi ganti" ucap Dwi.
"Senengnya punya mantu baik hati, tapi gak perlu lagian uang yang Jovan belanjakan untuk Jihan tuh uang Jihan hasil kerjanya" ucap Mama.
"Kerja" tanya Dwi.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komentarnya ya...
Maaf nunggu nya lama...
terus ceritanya muter muter lagi otak gak singkron soalnya... he...
semoga kalian gak kapok bacanya ya...
__ADS_1