Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Bungkam Mereka


__ADS_3

"Wah gimana menurut kalian ujian kali ini" tanya Fero saat sudah keluar dari ruangan menuju kantin.


"Menurut gue susah tapi gue yakin gue udah kasih yang terbaik dan gue bakal ada di jajaran lo Fero, menurut lo gimana Ji" tanya Nisa.


"Itu si emang pelajaran ahli lo" ucap Fero.


"Gak apa apa lagi, gimana menurut lo Ji" tanya Nisa.


"Menurut gue belajar gue tadi malam gak sia sia, otak gue respon sama soal" ucap Jihan.


Saat mereka sampai di kantin banyak siswa yang sedang curhat satu sama lain dengan susahnya ujian pertama tadi. Fero yang sedang mencari dimana teman temannya berada langsung berjalan menjauh dari Jihan saat dia meliat Dwi sedang memperhatikannya dan Fero pergi untuk bergabung dengan teman temannya.


Jihan dan Nisa memesan makanan sembari menunggu ke dua sahabatnya yang lain Hana dan Mona. Setelah Jihan memesan makanan Hana dan Mona baru saja datang dengan wajah pucat membuat Jihan dan Nisa saling pandang.


"Kalian kenapa" tanya Jihan khawatir.


"Nanti aja gue mau makan" ucap Hana di angguki Mona.


Mona dan Hana makan dengan lahap lalu memeluk ke dua sahabatnya membuat Jihan dan Nisa bingung dengan mereka. Jihan dan Nisa memandang dengan aneh dan lebih tepatnya takut.


"Kalian kenapa gak kesambet kan" ceplos Nisa.


"Ye, ya kali cewek cantik kayak kita kesambet" ucap Hana


"Ya bisa aja, lagin kalian aneh banget tau gak si" ujar Jihan.


"Teman jahanam" cibir Mona.


"Terus jelasin dong" ucap Nisa.


"Gini, kita lagi seneng banget ternyata usaha kita gak sia sia ternyata bener kata masnya kalau kita menikmati pelajarannya kita happy pasti mudah di pahami" ucap Mona.


"Iya terus" tanya Jihan penasaran.


"Terus semua yang kita pelajari tadi malam keluar semua ya gak Mon, kan jadi asik jawabnya" ucap Hana.


"Bener banget kamu Na, terus lagi yang awasin kita tuh orangnya menyenangkan dan ganteng lagi" ucap Mona.


"Siapa" tanya Nisa dan Jihan bersama.


"Gak tau, tapi yang jelas dia dari SMK sebelah" ucap Hana.


"Oh, mungkin yang kita liat tadi pagi itu Nis" ucap Jihan.


"Mungkin iya" ucap Nisa mengangguk angguk.


flassback


"Ji lihat deh dia ganteng banget" ucap Nisa menunjuk ke arah ruang guru dari kejauhan.


"Hm biasa aja" ucap Jihan.


"Lo gimana si orang dia kayak Lee min ho gitu, emang tipe lo yang kayak apa si Kak Dwi yang gantengnya tingkat tinggi lo bilang biasa ini juga" ucap Nisa.


"Yang gantengnya kayak gue iya kan Ji" ucap Fero menyerobot.


"PD sekali anda" ujar Jihan tertawa garing.


"Bener tuh PD banget lo" ucap Nisa.


"Ih gak apa apa kali, karena gue emang gabteng ya kan ya kan Ji" ucap Fero lagi.


"Fero kenapa si dari dulu lo gak pernah berhenti tuk kejar cinta Jihan" tanya Nisa menohok.


Jihan melihat ke arah Fero menunggu jawaban dari kejujuran Fero. Fero melihat ke arah Jihan tajam lalu mulai mengeluarkan kata kata dari dalam hatinya.


"Gue gak akan berhenti sebelum Jihan yang menghentikannya, dan sebelum Jihan terikat dengan seseorang yang lebih baik dari gue dan sebelum cinta Jihan tumbuh untuk orang lain" ucap Fero.


"Huhuhu, sedih gue " ucap Nisa mendramalisir keadaan.


"Udah udah kita jalani hidup masing masing" ucap Jihan berlalu.


Tak lama kemudian seorang guru datang sebagai pengawas ujian. Jihan dkk langsung diam dan serius untuk melakukan ujian.


flassback off.

__ADS_1


"Itu tuh orangnya" ucap Hana menunjuk seseorang yang melewati kantin dengan wajahnya.


"Tuh kan bener" ucap Nisa.


"Kan gantengnya minta ampun buat kita kerjain ujiannya semangat" ucap Mona terkikik.


"Lo ma semua lo gebet, gimana sama Abang gue" ucap Nisa.


"Iya tuh pikirin, mending buat gue" ucap Hana.


"Lo lagi gimana nasib Kakak gue" ucap Jihan.


"Duh kalian berdua berebut belum tentu kalian yang dapet siapa tau dia udah punya istri mau jadi pelakor lo" ucap Nisa.


"Lo kali yang mau jadi pelakor" ceplos Mona.


"Lo ya kalau ngomong, suka bener hahahaha" ucap Nisa membuat semua tertawa.


Mereka semua asik bercengkrama sembari hilangkan semua beban ujian. Namun setelah itu tawa .ereka hilang karena harus kembali konsentrasi karena ada jam pelajaran setelah istirahat walaupun mereka sedang ujian.


"Semuanya kumpul di aula karena semua akan belajar bersama tidak ada perbedaan" teriak Dwi di pintu kantin.


"Wih bener bener, dia denger gak ya kita ghibahin dia" ujar Nisa.


"Gak tau, makanya jangan ngomongin orang " ucap Jihan.


"Emang lo gak" cibir Mona.


"Gak lah, gak pernah jujur hahaha" ucap Jihan.


"Udah udah, liat tuh mereka semua udah ke aula yuk kalau kita telat takut di hukum" ucap Hana.


"Bener tuh" ucap Nisa semangat.


Jihan dkk sekelas berjalan santai menuju aula sekolah, mereka mendapat tatapan tajam dari kelas lain pasalnya kelas Jihan dkk terkenal dengan kenakalan dan kebodohannya. Tapi mereka tak gentar justru mereka duduk di barisan paling depan membuat kelas kelas lain menggelangkan kepalanya.


"Mereka bener dari kelas C3 kan" ujar seseorang.


"Iya bener, tapi ada yang aneh sama mereka"


"*Iya aneh banget, gak biasanya kelas C3 duduk di paling depan gitu"


"Iya bener tuh biar mereka diem* "


Bisik bisik tetangga yang membuat Jihan hendak melayani namun di cegah oleh teman temannya.


flassback on.


"Ji yakin kita mau ke aula lo tau sendiri kan kelas lain kan anggap kita gak ada" tanya temannya saat Jihan hendak pergi dari kantin.


"Kenapa bukannya kita juga muridnya pak Dwi, dan kalian juga denger kan kalau pak Dwi bilang gak ada perbedaan" jawab Jihan santai.


"Tapi tetep aja, kita tuh pasti di hina di sana" ucapnya.


"Bukannya kita udah sepakat buat kelas kita nomer satu nanti, biarin mereka hina kita kita tunjukkan kalau kita bisa kita bungkam mereka semua saat pengumuman nanti" ucap Jihan yakin.


"Oke kalau kamu yakin kita juga yakin, kita harus bekerja sama" ucap semua teman Jihan.


flassback off.


"Udah lah Ji, katanya kita bungkam nanti pas kelulusan" ucap Hana.


"Iya tapi gue gedeg tau" ucap Jihan.


"Apa kalian semua sudah selesai diskusi sekarang silahkan duduk" ucap Dwi serius.


"Ya pak" ucap semua murid.


Dwi mulai menjelaskan pelajaran dengan pelan namun pasti. Jihan dkk manggut manggut dengan pelajaran yang Dwi berikan lain dengan kelas kelas yang lain terlihat agak berfikir membuat Jihan dkk tersenyum bahagia.


"Ada yang bisa jelaskan ini" tanya Dwi.


"Saya pak" ucap Hana membuat semua menatapnya.


Hana menjelaskan dengan sangat mudah ubtuk di pahami, semua yang menatapnya aneh berubah menjadi tatapan bhagia dan bangga karena perubahan kelas yang di asingkan sangat terasa sampai Dwi ikut tersenyum bangga.

__ADS_1


Dua jam berlalu membuat Dwi mengakhiri pelajarannya walaupun banyak murid yang ingin di lanjutkan terutama murid putri. Namun Dwi harus menyelesaikan tugasnya dengn cepat karena dia juga harus mengurus pernikahan adiknya sendiri karena tidak mungkin melibatkan Jihan ataupun ke dua mempelai karena mereka harus serius pada ujiannya.


"Pak Dwi pak Dwi"


"Ya"


"Boleh minta no ponselnya gak"


"Ya, silahkan kalian catat ya" ucap Dwi menulis no ponselnya di papan tulis.


"Siap pak" semuanya bersemangat.


"Mata mata pengin di tonjok tuh" ucap beberapa siswa cowok.


"Biarin"


"Ji lo gak nyatet" tanya Nisa.


"Buat apa" ucap Jihan santai.


"Ya siapa tau butuh, buat tanya tanya" ucap Nisa.


"Gak ah males, lagian dia kan tinggal di rumah gue" ujar Nisa.


"Ya kan gak selamanya kali" ucap Nisa.


"Gak ah, males gue" ucap Jihan acuh.


Hana dan Mona yang mengetahui hubungan antara Dwi dan Jihan hanya saling senggol karena kepolosan Nisa. Dwi yang mendengar setiap omongan Jihan hanya tersenyum melihatnya.


"Mona Hana kalian juga" tanya Nisa.


"Hm, buat apa takut di marahin sama istrinya" ucap Mona menohok.


"Haha, kalau kita baik baik aja pesannya kenapa takut" tanya Nisa.


"Karena istrinya galak melebihi singa ngamuk" ucap Hana membuat dirinya mendapat hadiah cubitan kecil dari Jihan.


"Kalian ngomong gitu kayak kenal aja sama istrinya" ucap Nisa.


"Eh,... mungkin gitu hehe" ucap Mona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jangan keras keras ngomongnya takut pak Dwi denger kita di gantung nanti" ucap Nisa.


"Gak apa apa denger, gak bakal gantung orang dia" ucap Jihan


"Yakin bener bu" ucap Hana.


"Iya kan istrinya lebih galak katanya" ucap Jihan penuh penekanan.


"Kalau bener galak istrinya kasian dong kak Dwi nya" ucap Nisa.


"Lo percaya sama mereka, yang galak sama orang lain belum tentu galak sama suami juga" ucap Jihan.


"Gue setuju sama Jihan" ucap Hana.


"Udah gini baru setuju, kemana aja lo" ucap Jihan.


"Maaf abis nyasar tadi" ucap Hana.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like vote dan komennya ya...


__ADS_2