Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 154


__ADS_3

Jihan sampai di rumah dan melihat mobil seseorang yang dia kenal membuatnya penasaran.


"Kenapa di sini" ujar Jihan langsung mendekati mobil itu.


"Nona anda sudah datang" ujar seorang yang keluar dari mobil itu.


"Abang mana" tanya Jihan.


"Maaf Nona saya datang sendiri, saya hanya ingin mengganti mobil amda Nona" ujarnya.


"Kenapa di ganti" tanya Jihan.


"Tuan muda ingin membawanya nona" ujarnya.


"Oh oke saya ambil kuncinya dulu, apa kamu mau tidak masuk" tanya Jihan.


"Tidak Nona saya harus segera pergi" ucapnya.


"Oh ya sekalian bilangin sama Abang tolong ganti pelat mobil Jihan seperti biasa" ujar Jihan.


"Siap Nona" ujarnya.


Jihan langsung masuk ke dalam rumah dan mngambil kunci mobil dan beberapa makanan dan memberikannya kepada si supir.


"Bawalah" ucap Jihan.


"Tapi Nona" ujarnya


"Gak papa" ucap Jihan dengan senyuman.


Sang supir pergi setelah menunduk dan berpamitan pada Jihan. Jihan mengecek mobil yang sang supir bawa dia melihat ada beberapa berkas di sana. Jihan mulai membaca dan memahami setiap kata yang ada.


"Udah gue tebak gak mungkin Abang bawa baramg cuma untuk menukarnya" ujar Jihan.


Jihan membawa semua berkas ke dalam rumah dan melakukan beberapa meeting dengan perusahaan J2 via zoom.


Jihan bekerja sampai hari mulai petang. Dia bekerja keras karena ingin segera istirahat dan bersantai. Saat hari mulai petang Jihan mulai lelah membuatmya bangun dan membersihkan diri.


"Sampai lupa mandi gue" ujar Jihan pada dirinya sendiri.


Saat Jihan baru selesai mandi ponselnya berbunyi ternyata suaminya yang menelfon VC.


"Hai" ujar Jihan


"Hai sayang lagi apa" tanya Dwi.


"Nih baru selesai mandi, kenapaa" tanya Jihan.


"Gak kangen aja" ucap Dwi.


"Oh," ucap Jihan singkat.


"Singkat bener, udaha makan " tanya Dwi.


"Belum nih baru mau makan" ujar Jihan sembari berjalan ke arah dapur.


"Makan pake apa" tanya Dwi.


"Pake piring lah masa pake panci" ujar Jihan.


"Kirain pake baskom" ucap Dwi.


"Serah deh, kamu udah makan" tanya Jihan.


"Belum kenapa" tanya Dwi.


"Gak cuma tanya aja, oh ya gimana Kevin udah kasih proposal" tanya Jihan.


"Udah, udah mas kasih Putri juga" ujar Dwi.


"Oh oke, apa Putri memberitahu mu apa keputusannya" tanya Jihan.


"Gak itu urusan dia sekarang udah gak campur tangan" ucap Dwi.


"Bener juga, Jihan makan dulu ya" ujar Jihan mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Jihan makan dengan lahap walau sendiri di rumah itu sekarang karena Cika dan ibunya izin untuk pulang dan di iyakan Jihan.


"Sayang kamu sendirian" tanya Dwi.


"Iya kenapa, jangan bilang mau nyusul ya" ucap Jihan penuh telisik.


"Ye gak lah udah malem kalaupun ke situ bisa kamu udah tidur" ujar Dwi.

__ADS_1


"Iyalah kalau pake mobil" ucap Jihan.


"Mobil, oh ya lupa kalau punya hellikopter" ucap Dwi tersenyum.


"Mas ke situ ya" ujar Dwi.


"Gak perlu istirahat saja" ujar Jihan.


"Hm ya lah, ya sudah dulu ya mama manggil" ujar Dwi.


"emangnya kamu dimana" tanya Jihan.


"Hehe ada di genteng depan kamar" ucap Dwi.


"Extreme bener" ujar Jihan.


"Gak papa, ya udah sebelum mas abis di marahin mama" ucap Dwi di angguki Jihan.


Dwi mematikan ponselnya bukan untuk menemui ibunya melainkan menyuruh anak buahnya agar menyiapkan helikopter untuk dia pergi desa menyusul istrinya.


"Genteng masa iya, bukannya gentengnya tinggi banget ya dan di depan balkon kamar kan gan ada genteng cuma taman" ujar Jihan berfikir.


Sedangkan di lain tempat Dwi sedang berganti pakaian dengan senyuman terus mengembang.


"Kenapa gue baru ingat coba" ucap Dwi.


"Sayang mau kemana" tanya mama Sri saat melihat Dwi pergi dengan senyuman.


"Nyusulin istri mah" ujar Dwi.


"Baru di tinggal sebentar udah gak tahan aja" ledek mama.


"Hehe, ya udah ya mah Dwi pergi" ujar Dwi penuh bahagia.


mama Sri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu. Dwi pergi dengan bahagia dengan helikopter yang sudah siap.


Tak butuh waktu lama Dwi sampai di desa tanpa sepengetahuan Jihan. Saat Dwi sampai hari masih belum terlalu malam Jihan masih duduk dengan laptop di tangannya. Dwi langsung masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu membuat Jihan tersentak saat Dwi tiba tiba ada di belakangnya.


"Kamu siapa" tanya Jihan menatap Dwi.


"Seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Kamu bener bener ya" ujar Jihan.


"Pergii aja" ucap Jihan membuat Dwi cemberut dan kembali membelikkan badannya menatap Jihan.


Dwi terus menatap Jihan dengan serius sedangkan Jihan dengan senyunan tanpa dosanya. Jihan melangkah maju ke depan Dwi lalu memeluknya dengan isakan air mata


"Kenapa" tanya Dwi membalas pelukan Jihan.


"Yang terlihat belum tentu yang sebenarnya, yang terdengar belum tentu sebuah kenyataan" ujar Jihan.


Dwi merenggangkan pelukannya Dwi menatap Jihan dengan sayu Jihan membalas tatapan Dwi. Dwi mulai mendekatkan wajahnya dan


"cup" sebuah kecupan mendarat di bibir ranum Jihan.


Setelah kecupan sekilas itu Dwi menatap Jihan dan kembali melakukan hal yang sama di balas Jihan yang sama sama menikmatinya.


"Kamu tau kamu membuatku tidak nyaman saat jauh" ujar Dwi.


"Jihan tau itu, tatapanmu mengatakn segalanya" ujar Jihan tersenyum.


"Sayang laper" ujar Dwi.


"Mau makan apa" tanya Jihan.


"Makan kamu" ujar Dwi membuat Jihan tersenyum dan pergi ke dapur.


Jihan mengambil makanan lengkap dengan minuman dia bawa ke depan suaminya itu. Dwi tersenyum dan makan dengan lahap sedangkan Jihan duduk di sampingnya memangku laptopnya.


Jihan sangat serius dan sesekali menarik nafasnya panjang. Sebuah dokumen yang Jovan kirim adalah ada kecurangn di kantornya meminta Jihan untuk membantunya.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Gak papa, udah" tanya Jihan.


"Udah nih abis" ucap Dwi meletakkan piring di meja depannya.


"Em" ujar Jihan masih serius dengan laptopnya.


"Ada masalah ya" tanya Dwi.


"Gak kamu bukannya banyak janji hari ini" tanya Jihan.

__ADS_1


"Kenapa tau" tanya Dwi.


"Asisten kamu" ujar Jihan.


"Huh" ujar Jihan menyenderkan kepalanya di bahu Dwi dengan laptop masih menyala.


Dwi merasa kasihan dia langsung menarik laptop yang ada di pangkuan Jihan dan melihatnya. Dwi membulatkan matanya karena begitu banyak masalah di sana.


"Boleh mas bantu" tanya Dwi.


"Gak, kamu istirahat aja ini pekerjaan Jihan" ujar Jihan.


"Oke" ucap Dwi meletakkan laptop Jihan di meja karena melihat Jihan banyak pikiran.


Dwi menggenggam tangan Jihan membuat Jihan bangun menatap Dwi.


"Tidur aja " ucap Dwi.


"Kamu tau Cika, dia lebih berbahaya dari Putri" ujar Jihan.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Dia tidak menganggapku sebagai teman hanya jalan untuk uang, dia juga menyukaimu haruskah Jihan berjuang seperti dulu" tanya Jihan menatap Dwi di balas tatapan hangat Dwi.


"Sebanyak dan secantik apapun seorang wanita yang mendekati mas tidak akan mampu menggantikanmu" ucap Dwi.


Jihan tersenyum walau hatinya tidak begitu menerima ucapan Dwi. Jihan melihat Dwi yang menatapnya dengan tatapan asing membuat Jihan berdesir.


"Setiap ku mempertanyan soal hati kamu selalu menatapku asing haruskah Jihan melakukannya untuk membuat tatapan itu berubah hangat" ujar Jihan.


"Apa" tanya Dwi.


Jihan langsung mendekatkan wajahnya dan menc**m bibir Dwi perlahan. Saat Jihan akan memundurkan wajahnya Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dan ********** di balas Jihan.Dwi terus bermain sampai Jihan terlena dan mulai membringkan Jihan perlahan.


"Sekarang apa kamu sudah siap" tanya Dwi akan mencium kembali Jihan.


"Asalkan kamu mau berjanji" ujar Jihan


"Apa" tanya Dwi.


"Berjanjilah tidak pernah meninggalkan Jihan dalam keadaan apapun" ujar Jihan.


Dwi tidak menjawab dia hanya kembali menc**um bibir Jihan dan beralih ke leher Jihan. Mereka terus bermain dengan nafas menggebu mereka bahkan bisa mendengar detak jantung satu sama lain.


Tok.... tok.... tok....


"Haruskah kita biarkan itu" tanya Dwi.


"Gak siapa tau penting" ucap Jihan membuat Dwi kecewa.


Dwi bangun dari tubuh Jihan dengan wajah tidak suka. Sedangkan Jihan tersenyum dan pergi.


"Ya pak ada masalah" tanya Jihan saat pak RT datang.


"Tidak neng cuma mau memastikan siapa yang datang tadi, maaf sebelumnya ya neng tapi ada yang berpendapat tidak baik" ujar Pak RT.


"Oh itu pak suami saya menyusul" ucap Jihan.


"Boleh saya memastikannya" ucap pak Rt.


"Mas ada pak RT" ujar Jihan.


"Kenapa sayang" tanya Dwi menghampiri.


"Sudah pak, jadi saya tidak melakukan hal tidak di inginkan ya pak" ujar Jihan.


"Oh iya neng maaf ya mengganggu, mari" ujar pak RT pergi.


"Kenapa yang" tanya Dwi saat Jihan sudah menutup pintu.


"Ada yang bilang kalau Jihan bawa laki laki gak jelas ke rumah " ujar Jihan.


"Jadi" tanya Dwi.


"Jadi kalau datang tuh jangan malem malem kayak pencuri" ucap Jihan tertawa.


"Ya pencuri, yang mau curi hati kamu" ujar Dwi mengejar Jihan.


Jihan dan Dwi berlarian dengan bahagia tanpa beban. Sampai mereka duduk karena lelah di lantai rumahnya.


Jihan dan Dwi menonton bersama sampai larut malam dan Jihan tertidur di pangkuan Dwi. Dwi tersenyum lalu ikut terlelap sampai pagi menjelang.


"Jangan lupa dukungan nya ya guys....

__ADS_1


__ADS_2