Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 158


__ADS_3

Walau Jihan takut dengan tatapan Dwi namun dia mencoba untuk lebih kuat dengan kembali menatap Dwi apalagi dia dalan balutan amarah saat ini membuat ketakutannya sedikit tertutupi dengan kemarahan.


"Apa yang harusnya gue lakukan dengan tangan kamu yang sudah merusak wajah tampan ku" ujar Dwi terus mendekat.


"Buat apa wajah mulus dan tampan hanya untuk menutup kebusukan" ujar Jihan membuat Dwi marah dan mencengkram dagu Jihan erat sampai memerah.


"Ternyata orang yang gue nikahin punya wajah cantik tapi mulut kotor" ucap Dwi.


"Kalau lo gak duluan menghianati gue gue gak bakal seperti ini" ujar Jihan memberontak dengan mendorong Dwi kuat.


Dwi tersenyum membuat air mata yang sedari tadi Jihan tahan keluar begitu saja dengan derasnya. Jihan terduduk bersandar di dinding.


"Hei cantik kenapa nangis" ujar Dwi mendekat dan menarik rambut Jihan.


"Kenapa lo gak bunuh gue aja sekarang daripada lo buang tenaga buat sakitin gue ujung ujungnya lo liat gue lagi" teriak Jihan.


Beruntung karena kamar Dwi kedap suara sehingga sekuat apapun mereka saling berteriak di luar tidak akan dengar apapun.


"Hei kalau gue bunuh lo gak yakin gue bakal bahgaia" ujar Dwi.


"Jadi lo bahagia siksa gue gini, kemarahan lo tuh tanpa alasan tau" ucap Jihan.


"Tanpa alasan, lo datang dari desa bukannya temuin gue malah ngelayap dan mata matain gue dan lagi lo juga duduk bareng Leon dan bersentuhan dengannya apa itu gak cukup buat gue marah" ucap Dwi.


"Hahaha ngapain gue balik ke desa mau temuin lo setelah lo obrak abrik usaha gue yang gue bangun dengan air mata yang terus mengalir, lo tau tadinya gue bahkan mau marahin lo karena perbuatan lo tapi saat liat lo duduk di sana dengan mainan lo kemarahan gue berubah seketika lo bahkan gak tau kalau gue di sana" ujar Jihan.


"Apa ini yang lo dapat dari Leon menjadi mata mata kalaupun itu suami lo" ujar Dwi.


"Hei bukannya itu hal normal ya bagi wanita ingin tau apa yang di lakukan suaminya" ujar Jihan dengan kemarahan memuncak.


"Agar lo ada alasan buat deketin Leon gitu" ujar Dwi.


"Kenapa setiap ada masalah bawa orang luar ha, asal lo tau Leon bahkan belum pernah liat wajah gue selama ini walau gue kerja buat dia karena lo dan bang Jovanlah Leon akhirnya tau wajah gue dan selama gue kerja dengan dia bahkan kita belum pernah kontak fisik yang lo liat tadi itu semua kesalahan lo yang buat Leon penasaran akan gue dan dia berani nyentuh gue buat lo marah sama gue" ucap Jihan.


Dwi diam sedangkan Jihan melepaskan jambakan dari tangan Dwi dia bangun dari duduknya dan memilih pergi.


"Lo adalah orang pertama yang tau siapa gue dan tau wajah asli gue" ujar Jihan lalu pergi dari kamar itu.


Jihan kemuar kamar dengan menghapus air matanya yang terus mengalir. Sedangkan Dwi terlihat frustasi dan membanting semua barang yang ada di kamarnya.


"Ji" tanya Putri saat Jihan keluar dan mendengar beberapa barang jatuh karena pintu kamar Dwi tidak tertutup.


"Urus Abang lo gue gak sanggup" ucap Jihan pergi ke tempat dimana orang tuanya berada.


"Je kenapa" tanya Leon yang sedng asik bicara dengn orang tua Jihan


"Gak papa" ucap Jihan langsung memeluk Jovan dn menutup matanya.


Jovan membalas pelukan Jihan dan dia merasakan kalau bajunya basah. Dia tau kalau adiknya itu sedang menangis dalam diam.


"Dwi" teriak Mama Sri saat melihat kamar Dwi hancur membut semua orang berlari kesana.


"Kenapa mah" tanya Fero.


"Dwi" ujar mama Sri tercekat saat melihat tangan Dwi penuh dengan darah dan beberapa bercak di lantai.


Ridwan langsung berlari kerah Dwi yangterlihat frustasi dia tidak merasakan sakit yang ada di tangannya. Semua oramg panik sedangkan Jihn tidak peduli lagi dia msih duduk hanya meminta Jovan untuk melihat keadaan Dwi.


Jovan memberiisyarat kalau Dwi sedang kacau. Jihan yang jengah dengan tangisan mama Sri dan teriakan mereka langsung berjalan ke arah kamar Dwi dan melihat Ridwan yang sedang berusaha menghentikan Dwi.


"Haruskah lo tau apa yang akan terjadi saat lo masuk kan" ucap Jovan.


"Hm tapi gue benci air mata dan teriakan" ujar Jihan langsung masuk ke kamar Dwi membuat Dwi menatapnya tak suka.


Jihan menyuruh Ridwan untuk menjauh dan di angguki Ridwan. Jihan mendekat walau tatapan Dwi menusuk hatinya membuat pertahanannya hampir runtuh apalagi saat melihat hanyao darah yang keluar dari tubuh Dwi.


"Ngapain lo kesini" ujar Dwi dengan ketusnya.


"Gue gak peduli lo tapi gue benci air mata dan teriakan" ujar Jihan jongkok di depan Dwi.


"Tangan lo" ujar Jihan.

__ADS_1


"Apa peduli lo" ujar Dwi enggan memberikan tangannya.


"Gue gak peduli udah di bilang gue benci air mata" ucap Jihan menarik tangan Dwi namun bukannya mau Dwu justru mendorong Jihan sampai Jihan terduduk dan tangannya terkena beberapa pecahan kaca yang berserakan.


"Gak tau terima kasih" ucap Jihan langsung bangun dan mengambil P3K.


Dwi tersenyum namun langsung kecewa saat obat yang Jihan bawa bukan untuk mengobatinya melainkan untuk dirinya sendiri.


"Eh kenapa cuma tangan yang lo lukain, menyesal ya udah sentuh gue" tanya Jihan.


"PD bener" ucap Dwi tapi hatinya berkata iya.


"Bang bantuin" ujar Jihan membawa perban ke depan Ridwan meminta Ridwan untuk membantu membalut lukanya.


"Boleh saya lihat dulu" ujar Ridwan.


"Hm" ucap Jihan.


"Apa sakit" tanya Ridwan.


"Sakitan hati gue Bang" ucap Jihan membuat Ridwan tersenyum sembari membalut luka Jihan.


"Lo gak obatin gue" tanya Dwi dengan nada ketus.


"Yang gak mau tadi juga lo, kenapa sekarang mrah bilang aja lo cemburu gue deketan sama dokter tampan" ucap Jihan meledek.


"Dasar" ucap Dwi.


"Ji Abang gue lagi kesakutaan dan gak mau di sentuh orang lain lo malah ledek dia" ucap Putri.


"Eh Abang lo yang sok kuat tau" ucap Jihan.


"Ya lo usaha lah" ucap Putri.


"Gue terus yang berjuang" ucap Jihan ketus dan kembali duduk di depan Dwi.


"Apa mau dorong lagi, percumah sakit doang gue mending lo dorong gue dari balkon baru puas lo" ucap Jihan ketus.


"Ya tapi lo udah mampu buat keluarin sisi iblis gue" ujar Jihan.


"Ikhlas gak si lo" ujar Dwi.


"Gak lah" ucap Jihan membut Dwi enggan memberikan tangannya membuat Jihan menariknya namun tenaganya kalah kuat.


"Mas" bentak Jihan membuat Dwi terkejut.


Jihan langsung menarik tangan Dwi dan mulai mengobatinya dia melihat ada serpihan gelas di tangan Dwi yang membuatnya terus mengalirkan darah.


Jihan pergi begitu saja membuat semua orang menatapnya aneh. Jihan pergi ke dapur dan mengambil air es ke dalam baskom.


"Minggir lo Put" ucap Jihan kembakindengan sebaskom air es.


Jihan menaruh baskom itu di depan Dwi lalu mengmbil kapas di lantai yang berserakan.


"Nah kan repotin gue" ucap Jihan langsung duduk di depan Dwi.


"Tahan ya" ujar Jihan merendam tangan Dwi di dalam air es lalu membersihkannya dia juga mencabut serpihan gelas itu.


Dwi tersenyum walau sangat tipis sembari memandangi wajh cantik Jihan. Jihan tau kalau Dwi sedang melihatnya tapi dia cuek, dia masih serius untuk mengobati luka Dwi.


"Bang Ridwan ini gak papa" tanya Jihan pada Ridwan saat melihat luka yang cukup dalam.


"Gak papa kasih anti septik aja terus di balut" ucap Ridwan tanpa menyentuh tangan Dwi di angguki Jihan.


Jihan melakukan apa yang di perintahkan Ridwan. Sampau selesai tidak ada yang berani mendekati Dwi karena tatapan Dwi sangat menakutkan.


"Udah pindah lo" ujar Jihan.


"Yaya" ujar Dwi menurut.


"Mah pah semuanya udah selesai gak usah parno, sekarang panggil maid buat beraihin ini semua aja" ujar Jihan ketus kepada semua orang

__ADS_1


"Ketus lo nular Wi" ucap mama Sri.


"Virus mah" ucap Putri menuntun mamahnya untuk pergi.


Setelah semua orang pergi tinggal Jihan dan Dwi di sana yang hanya saling diam. Jihan duduk di sofa dekat jendela sembari kembali membuka balutan luka di tangannya karena terasa sangat perih dab darah masih mengalir.


"Pantesan" ujar Jihan saat melihat secuil kaca yang menempel di tangannya.


Jihan langsung mengobati lukanya dengan mencabut kacanya dan mulai mengoleskan obat setelah dia membersihkan lukanya.


"Nona butuh bantuan" tanya Maid yang sedang membersihkan kamar Dwi yang melihat Jihan kesusahan.


"Boleh" ucap Jihan tersenyum.


Sebelum membantu Jihan maid tersebut akan mencuci tangan dengan anti septik namun Jihan menghentikannya.


"Langsung aja gak perlu segitunya" ucap Jihan di angguki maid itu dan mulai membantu Jihan


"Urusi tuan muda ya saya akan pergi" ucap Jihan langsung bangkit.


"Kemana" tanya Dwi.


"Entahlah" ujar Jihan.


Jihan melenggang pergi dari kamar Dwi dan ikut duduk dengan ke dua keluarga yang sedang berbincangm Jihan duduk di samping Leon karena memang tidak ada lagi tempat duduk.


"Sakit Je" tanya Leon.


"Gak perih doang" ucap Jihan.


"Kamu kok bisa kenal Putra" tanya Leon.


"Dia datang tanpa di undang" ucap Jihan dingin.


"Ji pulang" ujar papa Prasaja.


"Iya pah" ucap Jihan walau berat meninggalkan Dwi yang terluka.


"Apa kamu sudah buat keputusan" tanya Papa Seno.


"Hm tetap dengan keputusan pertama Jihan akan menjauh lebih dulu" ucap Jihan.


"Sampai kapan" tanya mama Sri.


"Sampai Jihan bisa menerima keputusannya mah, maaf" ucap Jihan.


"Mama Papa" tanya Leon.


"Banyak tanya lo" ucap Jihan.


"Mah pah Jihan pamit ya" ujar Jihan menyalami keduanya.


"Ji teruslah menjadi kakak gue" ujar Putri berbisik saat memeluk Jihan.


Jihan tidak menjawab hanya senyuman kecil. Air mata Jihan mengakir begitu saja saat bertatapan dengan Fero namun Putri tidak marah dia justru merasa sangat jahat pada Jihan.


"Maaf mulai sekarang gue gak bakal ada di sisi lo, lo harus jalani semuanya sendiri gue yakin apapun keputusan lo itulah yang terbaik" ucap Fero menghapus air mata Jihan.


"Lo selalu mau mengerti gue makasih" ucap Jihan.


Fero akan memeluk Jihan namun Jihan menolak dan di angguki Fero. Jihan mulai melangkah pergi dari rumah itu dengan air mata yang terus di tahan.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya guys....

__ADS_1


__ADS_2