
Malam yang dingin dan rembulan yang bersinar terang membuat suasana romantis. Dwi tidur dengan nyenyak dalam posisisnya padahal dirinya adalah orang yang sangat sulit untuk tidur di malam hari.
"Udah pagi, kenapa berat banget si" ujar Jihan menyingkirkan tangan Dwi.
Perlahan namun pasti Jihan menyingkirkan tangan Dwi dengan lirih. Setelah berhasil Jihan segera bangun namun sebelum melenggang ke kamar mandi Jihan menatap Dwi yang masih terlelap.
"Kamu masih di posisi itu, manis" ujar Jihan tersenyum dalam hati.
Jihan membersihkan diri bersiap ke sekolah. Namun saat sudah selesai bersiap Jihan melihat Dwi yang masih tertidur dengan langkah berat Jihan membangunkan Dwi.
"Bangun udah pagi" ucap Jihan berkali kali.
"Hm, jam berapa" tanya Dwi.
"Jam delapan" ucap Jihan.
Dwi langsung membelalakkan matanya dan berlari ke kamar mandi kemudian bersiap untuk mengajar. Namun dia bingung melihat Jihan yang masih santai membenahi kamarnya.
"Loh kok belum berangkat" tanya Dwi.
"Berangkat jam segini belum ada orang lah" ucap Jihan menunjuk jam dingding.
"Jam lima lima belas jadi kamu" ucap Dwi mendekati Jihan.
Dengan cepat Jihan berlari menghindari Dwi yang sedang marah. Jihan terus tertawa sampai tawanya menggema di kamarnya.
"Kena kamu" ucap Dwi memegang tangan Jihan.
"Maaf maaf lagian di bangunin susah banget" ucap Jihan.
"Masa si, senyenyak itukah" tanya Dwi.
"Iya" ucap Angel melepas genggaman Dwi.
"Karena kamu udah jahilin aku, aku minta kamu untuk membayarnya" ucap Dwi tersenyum lebar.
"Gak ada ya" ucap Jihan.
"Please mudah kok" ucap Dwi.
"Yakin mudah" tanya Jihan tak yakin.
"Iya, morning kiss" ucap Dwi.
"What" ucap Jihan tak menduga.
"Kenapa itu kan mudah, sini aja" ucap Dwi menunjuk bibirnya.
"Mending di suruh maraton dari pada itu" ucap Jihan.
"Ji" rengek Dwi.
"Gimana caranya, jangankan melakukannya liat teman aja gue merem" ucap Jihan lirih namun masih bisa di dengar Dwi.
"Coba aja dulu" ucap Dwi memajukan wajahnya.
"Gak bisa" ucap Jihan malu.
"Cuma gini" ucap Dwi menc**m bibir Jihan.
Jihan membulatkan matanya tak percaya dengan yang Dwi lakukan. Jihan lalu menutup wajahnya malu membuat Dwi tertawa dan bangga dengan ulahnya.
"Kenapa malu" ledek Dwi.
Jihan hanya menunduk lalu pergi ke luar kamar untuk sarapan dengan wajah merona. Dwi yang melihat itu langsung berlari mengikuti Jihan lalu mengenggam tangan Jihan dan berjalan bersama ke meja makan.
"Akur nih" ledek Randi.
"Iri bilang bos" ucap Dwi
"Udah jangan berantem ngapa masih pagi nih" ucap Jovan.
"Ji nanti siang Abang berangkat kamu jadilah istri yang baik hormati Dwi paham" ucap Jovan.
"Cepet banget Bang, besok aja ya Bang" ucap Jihan.
"Gak bisa, kasian Randi lagian Abang harus buru buru serahin tugas kamu jadilah yang terbaik oke" ucap Jovan.
"Bang masih kangen tau, baru dua hari udah berangkat aja besok lah Bang" ucap Jihan.
"Iya Abang tau Abang juga masih kangen sama kamu, tapi tenang aja kalau kamu mulai liburan kamu boleh ke tempat Abang " ucap Jovan.
"Oke" ucap Jihan tersenyum.
__ADS_1
"Gitu dong senyum kan cantik, kamu jaga diri ya" ucap Jovan.
"Iya Abang, Abang juga jaga diri jangan sampai sakit Jihan janji akan kasih kabar kemenangan Jihan di nilai akhir nanti" ucap Jihan tersenyum dengan mata berkaca kaca.
"Iya Abang tunggu janji kamu" ucap Jovan.
Jihan tersenyum dengan Jovan yang mengacak acak rambutnya. Jihan melanjutkan sarapannya lalu bersiap untuk berangkat sekolah. Sebelum berangkat Jihan mencium tangan dan memeluk Jovan erat.
"Bang Jihan berangkat ya, Abang hati hati di jalan" ucap Jihan melepaskan pelukannya.
"Iya kamu hati hati, kamu sama Dwi kan" tanya Jovan.
"Gak mau males, motornya gak enak buat duduk" cibir Jihan.
"Yakin" tanya Dwi dari belakang dengan motor berbeda.
"Kamu ganti motor" tanya Jihan mengerutkan dahinya sembari melihat ke arah motor Dwi.
"Bukannya kamu sendiri yang suruh gue buat ganti motor" tanya Dwi.
"Iya si, tapi masa iya dalam sehari bisa ganti motor terus kapan datangnya nih motor" ucap Jihan lirih.
"Datang tadi pagi, yuk berangkat" ucap Dwi.
"Oke, Bang Jihan berangkat ya" ucap Jihan.
"Iya hati hati" ucap Jovan.
"Mama sama Papa mana Bang, dari pagi gak kelihatan" tanya Jihan.
"Iya Mama sama Papa nganter orang tua Dwi ke kota mungkin pulang lusa" ucap Jovan.
"Kok gak bilang" ucap Jihan dengan ekspresi aneh.
"Iya, katanya biar kamu gak ikut kan kamu mau ujian kalau orang tua Dwi katanya udah pamit sama kamu kemarin" ucap Jovan.
"Iya si, ya udahlah Jihan berangkat Abang nanti taruh kuncinya di deket vas bunga aja" ucap Jihan.
"Oke" ucap Jovan.
Jihan dan Dwi pergi ke sekolah bersama walaupun banyak pasang mata yang melihatnya Jihan berusaha untuk bersikap biasa saja karena memang menurutnya tidak salah dengan berangkat berdua dengan Dwi.
"Kenapa semua liatin gue gitu gak pernah liat orang naik motor apa" ujar Jihan memajukan bibirnya sembari turun dari motor saat sampai di palkiran.
"Iya, bagi uang lupa gak bawa uang tadi" ucap Jihan mengulurkan tangannya.
"Emang kamu kalau minta uang sama Mama gitu ya, benerin dulu kata katanya baru aku kasih" ucap Dwi tersenyum.
"Huh, males banget kalau gak butuh gak minta gue" cibirnya.
"Oke oke gue pasti bisa mas Dwi Jihan minta uang saku boleh gak" ucap Jihan lembut.
"Iya sayang" ucap Dwi tersenyum sembari memberikan dompetnya kepada Jihan.
"Kok dompet si, minta uang bukan dompet" ucap Jihan malas.
"Uangnya ada di situ kamu ambil sendiri" ucap Dwi.
Jihan manggut manggut mengerti lalu membuka dompet Dwi ragu ragu dengan perlahan seketika matanya membulat karena ternyata uang yang ada di dalamnya begitu banyak berjejer.
"Ini beneran uang semua, gak ada yang kecil mas" tanya Jihan menggelngkan kepalanya.
"Iya ambil aja yang kamu mau, cuma bawa segitu nanti kalau kurang Mas ambil lagi nanti" ucap Dwi.
"Ya kali kurang, Jihan ambil yang ini ya makasih" ucap Jihan mengambil satu lembar uang lima puluh ribu.
"Cukup segitu, ambil lagi kalau kurang " ucap Dwi.
"Gak ini udah lebih dari cukup" ucap Jihan menolak.
"Oke nih buat kamu" ucap Dwi memberikan lima lembar uang pada Jihan.
"Gak perlu uang yang kemanarin aja masih, tapi lupa bawa makannya minta lagi" ucap Jihan.
"Iya ini buat kamu lagi" ucap Dwi.
"Kalau kamu maksa oke, terima kasih" ucap Jihan.
Jihan lalu pergi setelah menerima uang dari Dwi dengan bahagia. Dwi tersenyum lalu berjalan di belakang Jihan seolah mereka tidak ada ikatan memang itu permintaan Jihan. Dwi masuk ke ruang guru sedangkan Jihan pergi ke kelasnya untuk belajar karena tidak ingin membuat perjuangannya sia sia.
"Hai Ji" sapa Hana.
"Hai Na, tumben pagi banget lo gak bisa tidur pasti" ledek Jihan.
__ADS_1
"Tau aja lo" ucap Hana malu.
"Kenapa ayok cerita, atau jangan jangan kamu jadian sama kak Dani ya" tebak Jihan.
"Gak lah Ji, lagian kamu kan tau kak Dani tuh ganteng gak mungkin dia pilih gue banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih dari gue" ucap Hana lesu.
"Emang kenapa perjuangin lah jangan kaya gue dia pergi baru mewek" ucap Jihan.
"Itu mah dasar lo nya aja yang cengeng" ledek Mona yang baru saja datang.
"Lo gak tau si gimana rasanya, tapi aneh tau gak gue cuma merasa sedih tapi gak sakit sedih dia harus pindah karena gue" ucap Jihan.
"Itu karena lo gak bener bener cinta sama dia cuma kagum dan sayang sebagai teman" ucap Nisa.
"Nis baru dateng loh tumben, eh Abang lo berangkat sekarang gak si" tanya Jihan.
"Kenapa emangnya " tanya Nisa.
"Gak Abang gue berangkat hari ini kan males banget baru dua hari dateng udah pergi lagi" ucap Jihan.
"Tumben Abang lo berangkat cepet" tanya Mona.
"Iya kak Randi kan di rumah katanya sekalian ngenter kak Randi, soalnya kak Randi gak bawa kendaraan kan kemarin ke sininya sama Abang" ucap Jihan.
"Kak Randi masih di rumah lo Ji" tanya Mona.
"Iya nginep di rumah tadi malem, nanti udah mau pergi lagi" ucap Jihan.
"Oh, kalau kak Dani gimana Ji" tanya Hana.
"Kak Dani gak liat gue, kayaknya si tadi pas gue berangkat masih tidur" ucap Jihan.
"Oh, bisa main ke rumah lo nih" ledek Mona.
"Lo apaan si Mon" ucap Hana.
"Kalian dari tadi ngomongin kak Randi emang udah pada kenal" tanya Nisa.
"Kenal lah, tadi malem kan kita ke rumah Jihan" ucap Mona.
"Oh, nyesel gue gak ikut ke situ kayaknya seru" ucap Nisa.
"Iya makanya lo jangan tinggiin ego doang" ucap Hana.
"Ya kan malu, Na" ucap Nisa.
"Eh tadi malem hampir gue buka tau tuh kotak, Abang lo lupa kasih suratnya" ucap Jihan.
"Iya, tapi kamu udah liat apa isinya gak" tanya Hana.
"Gak lah, langsung gue kasih ke orangnya, walaupun penasaran apa isinya tapi gak di buka buka tuh kotak" ucap Jihan.
"Emang sampai jam berapa kak Dwi di rumah lo Ji, terus lama gak dia di desa ini" tanya Nisa.
"Gak tau, yang gue denger si sampai ada pengganti guru bahasa di sekolah kita" ucap Jihan.
"Bakal lama dong, tapi kan Abang lo udah berangkat terus dia tidur dimana dong" tanya Nisa.
"Tetep di rumah Jihan lah, kan masih ada orang tua sama kak Dani" ucap Mona.
"Kenap lo tanya se detile itu lo takut ya kalau nanti Jihan suka sama kak Dwi" tanya Hana..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote dan komennya ya...
Like gratis....
__ADS_1