
"Jangan marah, pelukan dan ciumanmu tadi cukup untuk hadiah itu hadiah terindah apa lagi kamu mengingatku sebagai Hiro" ucap Dwi ikut duduk dengan Jihan.
Jihan hanya menarik nafasnya panjang dan bermain game yang ada di ponselnya. Sedangkan Dwi sudah di tarik Putri dkk untuk merayakan ulang tahunnya.
"Hai guys" ucap Jihan saat melakukan panggilan vidio dengan sahabat sahabatnya.
"Kenapa lesu gitu Ji" tanya Hana.
"Lagi bad mood kali" ucap Mona.
"Bukan tapi perpindahan mood dengan sangat cepat" ucap Gabby.
"Terserah kalian" ucap Jihan.
"Lo di mana Ji rame amat" ucap Nisa.
"Di rumah mertua, lagi ada acara" ucap Jihan.
"Kenapa lo santai kayak di pantai gitu" ucap Sonia.
"Terus gue harus apa" ucap Jihan malas.
"Mabar guys" ucap Jihan.
"Oke kuy" ucap Sonia Gabbya dan Jane.
"Gue gak ikut gak bisa soalnya" ucap Mona di iyakan Hana dan Nisa.
"Terserah" ucap Jihan.
Jihan berlalu ke tempat game yang ada di rumah Dwi. Jihan duduk dan bersiap untuk bermain di susul Fero yang juga ikut bermain game.
"Wah Fero ikut" ucap Hana.
"Persaingan yang ketat" ucap Gaby
"Ready guys" ucap Jihan memulai permainan.
Jihan dan Fero tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di rumah itu mereka fokus main game online. Mereka memakai earphone dan kacamata dan bermain dengan sangat seru.
Kebiasaan Jihan dkk saat bermain game adalah dengan kacamata anti radiasi untuk menjaga pancaran sinar layar game
"Kita di anggurin guys" ucap Nisa.
"Ya udah kita nonton aja" ucap Hana.
"Jadi komentator aja yuk" ucap Mona.
Semua orang sibuk dengan acara masing masing. Dwi bahkan mencari cari Jihan yang sedang bermain game di ruang tengah. Dwi menatap Jihan yang sangat lihai memainkannya. Ada senyuman kecil di sana saat melihat Jihan tertawa lepas.
"Ta kacamata kita ketuker gak si" ujar Jihan.
"Gak tau kayaknya iya, rasnya gak nyaman" ucap Fero.
"Nih" ucap Jihan memberikan kacamatanya untuk bertukar.
"Udah Honey mau makan" tanys Dwi.
"Gak laper" ucap Jihan dingin.
"Ini udah satu jam sejak kita sampai dan kamu belum makan apa apa dari tadi siang" ujar Dwi.
"Udah tadi di sana" ucap Jihan.
""Bukan nasi" ucap Dwi.
"Sama aja makan" ucap Jihan.
Namun tak lama Jihan bangun dari tempatnya dan mengambil beberapa cemilan yang ada di kulkas. Dia tidak peduli dengan mertua dan anggota kelurga lainnya menatapnya aneh.
"Katanya gak laper makanan lo borong semua Ay" ujar Fero.
"Pantes gak boleh panggil Ay" ujar Dwi mencibik.
"Honey boleh gabung" ucap Dwi.
"Guys udah gue keluar selamat berjuang" ucap Jihan mengakhiri bermainnya kemudian pergi ke taman depan rumah dan duduk di ayunan menghindari Dwi.
"Wi kenapa Jihan" ucap Mama Sri.
"Marah mah " ucap Dwi
"Ya udah temenin sana, sama sekalian bawain makan dia belum makan ya kan" ucap mama.
"Hm iya mah" ucap Dwi.
Dwi pergi menghampiri Jihan dengan sepiring makanan dan kue ulang tahunnya. Jihan hanya nelihat sebentar lalu kembali melihat ke arah lain.
"Masih marah Honey" tanya Dwi.
"Menurutmu" ucap Jihan tanpa melihat.
__ADS_1
"Maaf Ji, makan yuk" ucap Dwi.
"Gak" ujar Jihan.
"Sedikit" ucap Dwi sabar
"Gak" jawab Jihan
"Ji dari tadi mas ngomong fokus ke ponsel mulu" ucap Dwi.
"Kan udah di jawab" ucap Jihan santai.
Dwi meletakkan piring yang dia bawa kemudian merebut ponsel Jihan membuat Jihan menatapnya. Saat itu juga Dwi menarik tengkuk Jihan dan melu**t bibir Jihan ganas sampai Jihan kewalahan.
"Ini hukuman" bisik Dwi sela sela pekerjaannya.
Jihan memukul mukul dada Dwi karena sudah kehabisan nafas. Dwi melepaskan tautannya dengan nafas tersengal sengal.
"Maaf Honey, terbawa marah apakah itu sakit" ucap Dwi penuh penyesalan.
"Apa itu cukup untuk hadiah " uhar Jihan tersengal sengal.
"Maksudnya" tanya Dwi.
"Mungkin kalau kamu bilang ini hari ulang tahumu akan ku turuti semua kemauanmu, maaf tidak memperhatikan hal itu" ucap Jihan.
"Sayang tidak perlu meminta maaf, pelukan dan ciuman yang kamu berikan itu lebih dari cukup" ucap Dwi
"Tapi aku tidak memeluk dan mencium selain jadi korban" ucap Jihan membuat Dwi kecewa.
Dwi bangun dari duduknya hendak pergi namun dengan cepat Jihan memeluknya dari belakang membuat Dwi tersentak.
Dwi memutar badannya walaupun Jihan melarang. Dwi menatap mata Jihan hangat dan membiarkan Jihan mengutarakan apa yang dari tadi dia pendam. Dwi hanya bisa tersenyum lembut Jihan mencium sekilas bibir Dwi dan lari.
"Honey makan dulu" teriak Dwi saat Jihan berlari ke kamar Dwi.
"Belum baikan sayang" tanya mama.
"Biarin mah biar rasain di tolak" ucap papa.
"Papa jahat" ucap Dwi.
"Biarin, bawa tuh makanan ke kamar bair dia makan" ucap Papa.
"Iya pah" ucap Dwi santai berjalan ke kamarnya.
Saat sampai di kamar Dwi menyapu ruangan dengan mtanya dan meletakkan makanannya di meja. Dwi mencari keberadaan Jihan namun tidak dia temukan sampai dia melihat pintu kamar mandi terbuka.
"Honey" ujar Dwi menatap Jihan aneh.
"Mas kenapa" tanya Jihan yang melihat Dwi tersengir sengir.
"Mau melanjutkan yang tadi" ujar Dwi duduk di samping Jihan.
"Gak ada kelanjutan udah tamat" ucap Jihan menenteng sepatunya dan menaruhnya di dekat pintu kamar Dwi.
Dwi memeluknya dari belakang dengan erat, Jihan hanya tersenyum tipis karena sudah mulai menerima pernikahannya. Dwi mengendus dan menyesap leher Jihan membuat Jihan geli.
"Mas jangan dong malu" ucap Jihan.
"Mas buat di sini boleh" ujar Dwi menunjuk gunung kembar Jihan.
"Gak" ucap Jihan.
"Terus di mana Honey, di leher gak boleh di situ gak boleh" ucap Dwi.
"Honey boleh minta sesuatu" ucap Dwi.
"Apa" tanya Jihan
"Hak itu, mas mau lagi itupun kalau kamu izinkan" ucap Dwi.
Jihan berfikir kembali, tapi saat Dwi melepaskan pelukannya dan terlihat kecewa ada perasaan bersalah. Dengan langkah berat Jihan mendekati Dwi dan memeluknya.
"Gak boleh ya" ucap Dwi tersenyum.
Jihan menatap mata Dwi lalu mendekatkan wajahnya Jihan memulai permainan walau dengan hati bergemuruh hebat karena gerogi.
Jihan mencium bibir lembut Dwi di balas senyuman kecil Dwi. Jihan menutup matanya dan mulai menyesap b**ir Dwi, Dwi hanya membiarkan apa yang Jihan lakukan. Jihan bermain makin liar membuat Dwi terbuai dan membalas perlakuan Jihan dengan ganas.
"Maukah kamu yang memimpin" bisik Dwi.
"Maaf " hanya kata itu yang terucap.
Dwi tersenyum lalu menggendong Jihan ke tempat tidur dan membaringkannya perlahan. Dwi memulai permainan namun kali ini Jihan membalas semua perlakuan Dwi.
Permainan panas tanpa paksaan dan berbalas membuat Dwi semakin bersemangat. Sampai Jihan mengalaminya berkalikali sampai akhirnya Dwi sampai puncaknya.
"Makasih sayang" ucap Dwi mencium kening mata pipi dan bibir Jihan di balas anggukan Jihan.
"Jihan mandi dulu" ucap Jihan bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Oke mas bentar lagi" ucap Dwi masih terkapar.
"Capek mas" ujar Jihan.
"Lumayan, tapi mau lagi" ujar Dwi.
Jihan hanya menggeleng kemudian pergi ke mar mandi belum juga Jihan tutup penuh pintunya Dwi sudah menerobos masuk ikut ke kamar mandi.
"Mas" ucap Jihan kaget.
"Hehe bareng ya" ujar Dwi.
"Malu lah" ucap Jihan.
"Kenapa mesti malu mas udah liat setiap jengkal tubuhmu" ucap Dwi.
"Dengan terpaksa Jihan mandi bersama karena Dwi sudah menariknya ke dalam pelukannya.
(Taulah ya saat mandi bersama apa yang bakal terjadi).
Setelah satu jam akhirnya selesai Jihan mengeringkan rambutnya dan memakai pakaian yang ada di lemari Dwi. lebih tepatnya pakaian pakaian yang di siapkan mertuanya.
"Sayang makan yuk" ucap Dwi
"Iya yuk" ucap Jihan
"Di sini atau di bawah aja" tanya Dwi.
"Terserah" ucap Jihan.
"Di bawah aja ya sekalian makan malam bareng" ucap Dwi di angguki Jihan.
Dwi menggenggam tangan Jihan lalu membawanya ke ruang makan. Saat melewati ruang tengah tatapan demi tatapan terarah kepada mereka berdua Jihan hanya bisa bersembunyi di balik Dwi.
"Woi kakak ipar" ujar Putri.
"Ya adik ipar" ucap Jihan.
"Siapa suruh lo panggil gue adik ipar gue ogah jadi adek lo" ucap Putri.
"Lo duluan panggil gue kakak, emang gue mau jadi kakak lo" ucap Jihan lalu duduk di kursi dekat Putri.
"Wah wah, kak istri lo bener bener ya" ucap Putri.
"To the point" ucap Jihan.
"Kasih gue uang" ucap Putri.
"Kenapa, lo gak punya uang suami lo kan kerja putra mahkota lagi terus apa papa bangkrut secepat ini" ucap Jihan.
"Gila lo suami gue punya banyak uang papao juga gak bangkrut" ujar Putri.
"Papa gak bakalan bangkrut, orang menantu menantu papa tajir semua" saut papa".
"Lo makan semua cemilan gue, udah buat kita kelaperan tungguin makan malam lagi" ujar Putri.
"Cemilan masih banyak kali, gue cuma ambil sebagian" ucap Jihan.
"Ya tapi sebagian besar" ujar Putri.
"Beli lagi aja, minta uang sama kakak lo lah sayang duit gue" ucap Jihan.
"Yang makan lo" ucap Putri.
"Iya tapi gue gak di kasih uang sama kakak lo" ucap Jihan.
"Kalian bisa damai" ujar Dwi yang sedari tadi mendengarkan.
"Gak" ujar Putri dan Jihan bersama sembari tos.
"Kalian yakin kalian musuh" ujar Dwi aneh.
"Ya lah" ucap Jihan
"Wi kamu gak kasih istri uang" ujar papa.
"Gak pah, gak pernah sejak kembali dari desa" ucap Jihan.
"Parah lo wi" ujar mama.
"Ya gak kasih uang tapi kasih kartu platinum" ucap Dwi.
"What " ucap semua orang.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya readers....
salam manis Author....