Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 194


__ADS_3

Justine tidak terima karena Falen memukul Jenifer dia langsung mendorong Falen sampai terjatuh.


"Liat kan dia gak bisa kendalikan diri" ujar Klara.


"Dia yang mendahului kenapa malah marah marah ke anak saya sekarang kalian pulanglah dengan Uncle" ujar Jihan.


"Mom masalah Jeje belum selesai" ujar Jenifer penuh amarah.


"Hei kalau sifat pemarah itu jangan di ikutin mom tau kalian perpaduan mommy dan Daddy kita sama sama pemarah sama sama egois tapi gak gini paham lagian kalau dia tidak mengizinkan kalian memiliki Daddy kalian mommy kalian tetep masih punya Daddy walau tidak di sampingnya paham" ujar Jihan.


"Ya Mom" ujar Jenifer dan Justine pergi.


"Sekarang masih mau tanya kenapa gak boleh pulang sama Daddy" ujar Jihan yang berjalan di belakang anak anaknya.


"Ya Mom, bukan hanya mental tapi fisik juga" ujar Jenifer.


"Oke tunggu mom pulang nanti akan banyak yang mommy bicarakan" ujar Jihan.


"Mom gak boleh mabuk" ujar Justine.


"Oke" ujar Jihan.


"Obat terlarang" ujar Jenifer.


"Oke lagian obat itu mahal" ujar Jihan.


"Mom ponsel" ujar Jenifer.


"Nih, mah pah Bang jagain mereka ini sebabnya Jihan gak pernah pulang mereka belum siap tapi karena keadaan perusahaan ini Jihan harus membawa mereka pulang" ujar Jihan pada ke dua orang tua dan Abangnya.


"Ya sayang selesaikan urusanmu" ujar Mama Anggun.


"Oke mah" ujar Jihan.


Setelah anak anaknya dan ke dua orang tuanya pergi Jihan kembali ke dalam cafe itu dan ternyata Dwi sedang bertemgkar hebat dengan Klara sedangkan anggota keluarga yang lain hanya diam tak melerai.


"Kalian brisik tau, pergi sana tuan Putra jangan lupa kamu yang telah merusak hatinya maka jangan pernah berharap cintanya akan di berikan lagi paham dan lagi kunci mobil " ujar Jihan mengambil kunci mobilnya di saku jas Dwi.


"Tapi Ji" ujar Dwi.


"Kamu bahkan tidak bisa membelanya, setidaknya kamu bisa menjadi pelindung sekarang keputusan mereka sudah bulat maka jangan pernah paksa mereka memanggilmu Daddy lagi" ujar Jihan tegas.


"Ji" ujar Dwi menahan Jihan.


"Jangan memintaku untuk membujuk mereka, bujuk sendiri itupun kalau bisa" ujar Jihan.


"Kakak ipar jalan yuk" ujar Putri.


"Pekerjaan saya sangat banyak harus selesai sebelum saya kembali lagi ke sana" ujar Jihan tanpa menatap Putri.


"Ini permintaan dedek bayi Aunty" ujar Feri.


"Dia bakal tau kok kalau Auntynya lagi gila gak bisa nurutin kemauannya" ucap Jihan.


"Sorry mom" ujar Feri.


"Ay, nanti ke rumah gue ya semua uang hasil kerja selama lo tinggal ada sama gue " ujar Fero.


"Bukankah gue gak kerja" ujar Jihan.


"Bilangnya si gak kerja tapi kalau perusahaan lagi ada masalah dalam semalam selesai padahal gue gak ngapa ngapain itu lo kan jarak jauh" ujar Fero.


"Se genius itukah Aunty" ucap Feri.


"Tidak daddymu hanya terlalu memuji" ucap Jihan.


"Maaf bos semua sudah selesai apa selanjutnya" ujar Riko.


"Kalian semua pulanglah, nanti waktu makan malam datanglah ke tempat yang sudah saya katakan tadi kalian semua boleh membawa siapapun termasuk keluarga atau pacar" ucap Jihan.


"Siap bos" ujar Riko pergi.


"Kalian lanjutkan pertengkaran di rumah gue mau tutup, sebelum yang gue tutup usia kalian" ujar Jihan dengan mata elangnya.


"Ih ngeri" ledek papa Seno.

__ADS_1


"Ya sudah yuk pulang, maaf ya sayang" ujar mama Ani memeluk Jihan erat namun tak di balas Jihan.


Jihan melihat semua orang pergi dan mengantar semua orang ke luar cafe. Saat di luar Dwi menatap Jihan sedangkan Jihan hanya diam tangan Dwi terus di gandeng Falen yang cemburu karena Jihan di perlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Daddynya sedangkan Mommynya tidak.


Dwi berjalan mendekati Jihan dan berdiri tepat di depan Jihan dengan tangan yang terus di tarik Falen. Jihan hanya menatap wajah Dwi tanpa expresi dan tanpa bicara Dwi langsung mencium bibir Jihan namun Jihan hanya diam.


"Saya akan memperjuangkan pernikahan ini, tidak akan membiarkan siapapun merebut posisiku" ujar Dwi memundurkan wajahnya.


Jihan langsung pergi dari tempat itu hatinya bercampur aduk dia berlari ke arah perusahaan dan mengambil mobilnya. Dia pergi ke butiknya dan melihat perkembangannya sebenarnya satu satunya orang yang tau keberadaan Jihan mana adalah orang oramg butik karena Jihan selalu memberikan design terbarunya.


"Hai guys" ujar Jihan saat berada di butiknya.


"Bu Jihan" ujar semua kariawan lama memeluk Jihan.


"Akhirnya bisa ketemu bu bos lagi" ujar seorang kariawan Jihan.


"Ya gimana butik" tanya Jihan berjalan ke ruang kerja utamanya namun sekarang hanya untuk menyimpan baju baju yang baru datang.


"Bu bos ini semua laporan bulanan selama ini dan semua sisanya sudah saya kirim ke nomor rekeing yang selalu anda kirimkan itu" ucapnya.


"Oke" ujar Jihn membaca laporan bulanan di butik itu sembari meminta semua kariawan untuk menutup butik dan memintanya makan malam bersama di tempat yang sudah dia pesan.


"Oke saya pergi" ujar Jihan pergi menggunakan mobilnya ke sebuah supermarket dia membeli beberapa cemilan untuk anak anaknya. namun dia tidak langsung pulang melainkan pergi ke rumah Fero yang ternyata dia memberikan alamat rumah barunya.


Di sebuah perumahan elit namun seketika Jihan tertegun saat keluar dari mobil ternyata rumah baru Fero dan Putri tepat berhadapan dengan rumah yang Dwi bangun dulu dan yang membuatnya lebih kaget dia juga melihat sosok Dwi ada di sana.


"Kakak ipar" ujar Putri membuyarkan lamunan Jihan.


"Hei" ujar Jihan mendekati Putri dengan setenteng plastik di tangannya.


"Aunty" ujar Feri memeluk Jihan.


"Aunty" ujar Fero mengikuti tingkah Feri.


"Dasar" ujar Jihan menonyor kepala Fero.


"Hehe" ucap Fero tersenyum lalu meminta Jihan untuk duduk.


"Feri ini buat kamu maaf kalau kamu gak suka" ujar Jihan memberikan hadiah berupa sepatu limited edition yang baru launching.


"Kenapa Aunty gak beli mobil mobilan atau sejenisnya harganya lumayan gak sayang apa uangnya buat beli ginian" ujar Feri sebenarnya itu adalah sepatu incarannya.


"Nih Dad, aslinya bagus kan" ujar Feri.


"Sebenarnya itu sepatu incaran dia sejak baru di design" ujar Fero.


"Dimana kamu mendapatkannya" ujar Fero.


"He itukan di design gue kolaborasi sama salah satu perancang sepatu terkenal di negara ini dan dengan mudah Aunty membelinya" ucap Jihan.


"Ya deh, bentar gue ambil uangnya dulu, kamu duduklah dulu oh ya mau minum apa" ujar Fero pergi.


"Terserah apapun" ujar Jihan langsung duduk di ruang tamu dengan memainkan ponselnya sembari menunggu Fero.


Tak lama Putri datang dengan minuman dan cemilan untuk Jihan sedangkan Fero datang dengan sebuah tas berisi buku rekening beserta ATMnya.


"Ini semua Ta" tanya Jihan.


"Iya dan semua laporan uang masuk ada di berkas itu cek aja sendiri" ucap Fero.


"Banyak banget yang masuk tiap bulannya" ujar Jihan.


"Ya lah, lo gak semiskin itu lagian ini rekening baru yang gue buat pas lo pergi" ujar Fero.


"Oh oke makasih" ujar Jihan sembari melihat lihat semua berkas yang Fero berikan.


"Ta kenapa bisa dalam satu malam saham terjun bebas gitu ya" ujar Jihan bertanya.


"Mencurigai seseorang" ujar Dwi yang ikut duduk ternyata yang Jihan lihat memang Dwi di luar tadi.


"Ya, eh ngapain di sini" tanya Jihan.


"Ngapain lagi ke rumah Putri kalau gak minta makan" ujar Dwi memberikan kode pada Jihan dia ingin makan masakan Jihan.


"Ta Put mau ikut gak makan bareng anak anak Feji sama Ayasta Boutique" ujar Jihan.

__ADS_1


"Gak males" ujar Putri.


"Lo Ta, eh bentar kesayangan telfon kalau gak di jawab bisa meletus" ujar Jihan tersenyum


"Oke" ujar Fero langsung membuka laptopnya untuk bekerja.


"......."


"Lagi di rumah Feri kenapa mau titip salam" ujar Jihan.


"........."


"Jadi beneran wah salah sasaran kamu dan itu di tentang keras" ujar Jihan tersenyum membuat Dwi penasaran.


"........"


"Dia ada di sini, maksudnya gak sengaja ketemu gitu gak ada jiat buat ketemu juga oh ya nanti gak bisa makan malem bareng ada janji sama kariawan dan mkan di luar" ujar Jihan.


"......"


"Oke, see you love you sayang" ujar Jihan mengakhiri telfonnya.


"Feri salam dari kakak manismu" ujar Jihan menaruh ponselnya.


"Kakak manis, kak Jeni" ujar Feri.


"Wah ada nama panggilan baru, ya dia bilang kenapa kamu harus terlahir menjadi adiknya" ujar Jihan.


"Jadi yang telfon Jeje" tanya Dwi .


"Ya emang siapa lagi, katanya dia suka sama kamu sejak pertama melihatmu" ujar Jihan.


"Feri juga Aunty, kalau bukan kakak pasti udah Feri deketin lebih" ujar Feri.


"Dasar, pesona kita menurun Ta" ujar Jihan tersenyum.


"Bener bener" ujar Fero yang tidak lagi bisa menahan tawanya.


"Aunty boleh minta nomor ponsel Kak Jeni" ujar Feri.


"Dia gak boleh sembarangan kasih nomor lagian dia masih harus serius mengejar impiannya" ujar Jihan


"Kita saudara Aunty" ujar Feri memohon.


"Ya tapi kamu akan mengganggu konsentrasinya oke" ujar Jihan.


"Oke Aunty, kalau nomor Justine" ujar Feri.


"No no, daddynya aja gak punya nomor ponsel ke dua anaknya" ucap Jihan.


"Aunty cantik deh" ujar Feri.


"Emang cantik dari dulu, lagian di ponselnya hanya ada nomor Mommy dan Abangnya" ujar Jihan.


"Kalau ada masalah mendesak gimana Ay" tanya Fero.


"Sampai mereka masuk perguruan tinggi baru boleh menyimpan banyak nomor keluarga" ujar Jihan.


"Masih sangat lama" ujar Feri.


"Tidak sepertinya dua tau tiga tahun lagi mereka masuk perguruan tinggi otak mereka sangat tajam jadi Aunty tidak ingin membuat konsentrasi mereka pecah" ujar Jihan.


"Tapi Aunty bukannya kamu bilang kalau mereka harus bermain" ujar Feri.


"Ya makanya gak boleh banyak nomor di ponselnya karena waktu yang harusnya buat main nanti malah buat main ponsel" ujar Jihan


"Oh oke" ujar Feri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukunganny ya guys.....


__ADS_2