Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Cemburu


__ADS_3

Andi hanya menggeleng kemudian memberikan sebotol minuman kepada Jihan, namun karena Jihan bukan peminum hebat baru beberapa gelas Jihan sudah mulai merancau membuat ke dua sahabatnya pusing.


"Ji udah lo udah mabuk berat tau" ucap Sonia dan Jeni.


"Kata siapa gue gak mabuk kali, biarin gue terbang" ucap Jihan.


"Ngomong aja udah ngelantur" ujar Andi.


"Gimana nih" tanya Andi.


"Lo hubungi Abangnya aja" ucap Jeni.


"Kalau gue hubungi dia bisa abis gue" ucap Andi.


"Dia udah over tau came on pikirin dia dan suruh Bang Jovan dateng berdua jangan sendiri biar ada yang jaga kita gak kena pukul" ucap sonia.


"Oke" ucap Andi lalu menghubungi Jovan.


Tak berselang lama Jovan dan Dwi datang membuat semua sahabatnya dan juga Andi menciut tanpa mau menatap Jovan yang penuh amarah.


"Bang kalau mau marah nanti aja, tolongin Jihan dulu" ucap Sonia.


"Kalian gak kapok apa" tanya Jovan penuh amarah.


"Jihan yang panggil kita tau, marah marah tanpa bukti tuh orang gila" ucap Jeni lantang membuat Jovan semakin emosi namun di tahan Dwi.


"Lo mau mati" ucap Jovan.


"Lo laki bukan si, tolongin tuh adek lo pikirin dia asal lo tau dia tuh lagi stres tau kalau lo mau dengerin dia sebentar aja gak bakal gini kejadiannya" ucap Andi melindungi Jeni.


"Bang lo bakal berterima kasih sama kita nanti" ucap Sonia.


"Hei lo orang yang udah buat hidup gue terbalik, lo yang udah buat gue gila jangan setengah setengah dong hancurin gue sekalian biar gue gak sakit bisa langsung mati" rancau Jihan menepuk pipi Dwi sembari sempoyongan membuat Dwi menahannya.


"Ji sadar Ji" ucap Dwi.


"Gue akui lo ganteng manis juga, lo juga baik tapi gue harap lo jangan baik baik sama gue walaupun gue suka saat lo baik ke gue lo buat gue melayang dengan candaan garing lo tapi lo gak seharusnya hancurin hidup gue kayak gini kalau lo mau lo bunuh gue aja lo udah rusak tatanan masa depan gue dengan kebaikan lo bayar itu kan" ujar Jihan.


"Maafin gue Ji, sekarang kita pulang" ucap Dwi.


"Lo mau bawa gue kemana, ke rumah atau dunia lain gue pilih dunia lain deh bersama kesakitan yang abadi lo udah buat dia menangis dan bahkan lo buat dia nikah sama orang lain lo jahat lo jahat" rancau Jihan sembari menangis dan memukul mukul dada bidang Dwi.


Dwi lalu menggendong Jihan menuju mobil yang dia bawa bersama Jovan Jihan yang terus saja berceloteh entah apa karena Jihan akan terus berceloteh mengungkapkan semua isi hati dia saat mabuk berat. Karena itulah ke dua sahabatnya memanggil Jovan cepat agar Jovan tau apa yang sedang Jihan rasakan.


"Lo tau kenapa gue benci sama lo, gue gak benci sama lo tapi gue benci pekerjaan lo gue benci seorang pengusaha mereka selalu sibuk sendiri tanpa memikirkan keluarganya mereka asik kerja tanpa kenal waktu mereka bahkan tidak tau perkembangan anak anak mereka" ucap Jihan sembari menepuk nepuk dadanya.


"Udah Ji jangan sakiti diri kamu, gue janji bakal luangin banyak waktu buat keluarga kecil kita nanti" ucap Dwi memeluk Jihan.


"Udah lah Wi jangan dengerin dia, dia merancau gak jelas tau" ucao Jovan.


"Bukannya orang mabuk orang paling jujur ya" ujar Dwi.


"Udahlah, mau bawa kemana nih gak mungkin bawa ke rumah gue gak mau Jihan kena marah ke hotel aja ya" ucap Jovan.


"Gak bawa ke apartemen gue aja" ucap Dwi.


"Oke" ujar Jovan melajukan mobilnya menuju apartemen Dwi yang kebetulan tidak terlalu jauh.


Dwi lalu menggendong Jihan dan membawanya ke apartemennya melalui lif sepanjang lobi Dwi menjadi pusat perhatian karena Dwi tidak pernah sembarangan membawa seorang wanita apa lagi menggendong wanita yang sedang mabuk.

__ADS_1


"Hei lo kenapa bawa gue kesini, seharusnya lo bawa gue ke tempat sunyi biarin gue sendiri kayak mereka yang selalu biarin gue sendirian bahkan saat mereka tau kalau gue takut sendiri hiks... hiks.. hiks.... Mereka buat gue hampir gila bahkan mereka tidak mempercayai gue saat gue berbuat baik ataupun sesuatu yang membuat mereka bangga mereka malah marahin gue hiks... hiks ... hiks.... mereka selalu saja bandingin gue sama Abang padahal semua yang di capai Abang bantuan dari gue gue yang kerja dia yang di puji bahkan mereka gak percaya kemampuan gue pas bisa sekolah cepat hiks... hiks... hiks... saat baru semester pertama sekolah nyuruh mereka tanda tangan buat sekolah cepat namun mereka menolak namun diam diam gue melakukannya sampai gue lulus hanya dalam waktu satu tahun tapi mereka gak percaya mereka justru mengirimku ke sebuah desa dan mengambil semua aset yang udah di kasih ke gue bahkan aset yang gue peroleh dari hasil kerja gue sendiri bahkan mereka memaksa gue buat kerja buat bayar sekolah hiks... hiks... hiks..." ujar Jihan bercerita dengan sesegukan.


"Lo seharusnya tinggalin gue di jalan jangan urusin gue percumah hidup gue udah hancur gue gak punya harapan untuk hidup lagi "celoteh Jihan penuh amarah.


"Udahlah Ji jangan ngomong gitu kita lewati ini bersama" ucap Dwi.


"Gue harap lo gak berubah saat semua terungkap" ucap Jihan lalu menyender di pundak Dwi.


Dwi memperhatikan apa yang Jihan ceritakan sembari menggenggam tangan Jihan erat membuat Jihan merasa nyaman. Jihan lalu mulai menyandarkan kepalanya di dada bidang Dwi dan mulai tertidur.


"Seberat itukah hidup lo Ji, dan kenapa lo selalu bilang kalau gue bakal pergi setelah mengetahui semuanya apa sesuatu yang kamu sembunyikan begitu besar sampai kamu takut gue gak bisa menghadapinya" ujar Dwi sembari membaringkan Jihan di tempat tidur.


"Cari tau semua tentang Nyonya Jihan dari dia kecil sampai dewasa" ujar Dwi menghubungi anak buahnya.


Karena waktu yang masih sore Dwi memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di apartemennya. Karena saat teman teman Jihan menghubunginya Dwi dan Jovan semua sedang makan siang.Dwi melanjutkan pekerjaannya di sofa dekat tempat tidur Jihan.


"Au kepala gue sakit banget" ucap Jihan.


"Udah bangun" ujar Dwi cuek.


"Hm, jam berapa sekarang" tanya Jihan.


"Jam sepuluh malam kenapa" tanya Dwi.


"Lama juga gue tidur" ucap Jihan.


"Iya sampai sampai tuh ada telfon berkali kali gak denger" ujar Dwi sinis.


"Dari tadi cara ngomongnya gitu amat biasa aja kali, lagian siapa yang telfon berkali kali mana ponsel gue" ujar Jihan.


"Nih di meja, jangan suruh Mas buat anter ke situ" ucap Dwi.


"Pantes gaya ngomongnya aneh" ujar Jihan saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Tadi dia kirim pesan tapi udah Mas buka" ucap Dwi.


"Ngomong apa" tanya Jihan.


"Baca aja sendiri" ucap Dwi cuek.


"Ay lo dimana di rumah gak ada di telfon gak di angkat ada masalah penting nih Ay, nanti telfon balik ya" petikan pesan dari seseorang


"Halo Ta, kenapa" ujar Jihan saat menelfon Fero yang tadi menghubunginya.


"Lo dimana Ay, kita vidio call aja ya" jawabnya dari sebrang.


Jihan lalu melakukan vidio call masih dengan posisi menyender pada Dwi membuat Fero atau yang akrab di panggil Ata oleh Jihan mengerutkan dahinya penasaran siapa yang sedang bersama Jihan namun dia tidak mampu untuk bertanya.


"*Hai kenapa" tanya Jihan.


"Itu kamu dimana"


"Di apartemen" ucap Jihan.


"Sama siapa"


"Sama orang lah, lagian emang pernah gue bawa orang sembarangan"


"Hehe gak si, sukurlah kalau lo baik baik aja"

__ADS_1


"Hm, kenapa lo telfon gue berkali kali"


"Gini perusahaan yang kita ajak kerja sama minta buat ketemu langsung sama pemilik perusahaan lo bisa bantu kan"


"Perusahaan mana, yang kalau kasih syarat aneh aneh ya"


"Iya tapi sekarang udah di pegang sama anaknya, tadinya mau gue sendiri yang hendle tapi tau lo ada di situ gue serahin semua sama lo deh"


"Lo gila gue harus ujian besok gila lo"


"Udah buat itu gue urus, yang penting lo urus orang itu besok sama Andra ya"


"Oke suruh dia datang ke apartemen pagi, sekalian gue mau kuliah dulu"


"Oke lah, siap itu ya udah dulu ya cuma itu yang mau gue omongin sama lo see you again"


"Ya bye see you*"


"Siapa" tanya Dwi cuek.


"Temen lah, ya kali pacar" ucap Jihan.


"Ya siapa tau" ucap Dwi.


"Cemburu Say" ujar Jihan.


"Gak" ucap Dwi.


"Laper nih, ada makanan gak" ujar Jihan.


"Gak ada, beli aja" ucap Dwi tanpa melihat Jihan.


"Gak asik" ucap Jihan lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan menghentak hentakkan kakinya sedangkan Dwi masih dengan laptopnya. Namun beberapa saat kemudian Jihan kembali lagi dan menghubungi seseorang kemudian pergi lagi membuat Dwi menggelengkan kepalanya.


"Lucu juga kalau di cuekin" ucap Dwi terkikik.


Tak berselang lama ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen Dwi membuatnya bangun dan pergi untuk membuka pintu.


"Siapa sih" ujar Dwi.


.


.


.


.


.


.


.


Hai hai hai guys.... readers yang terhormat tercinta terima kasih dukungannya ya shay...


Terus dukung jangan bosan ya readers...


Happy readers....

__ADS_1


__ADS_2