
"Setuju" ucap Ani tertawa bersama Jihan
"wanita sungguh unik" ucap Kevin di angguku semua orang.
Setelah itu Ani bergandengan berjalan menjauhi meja Jihan. Ani memilih duduk di kursi yang berhadapan satu sama lain membuat Jihan tersenyum.
"Nis meneger lo masuk" tanya Jihan saat Nisa melewatimya.
"Masuk bos ada di ruangannya mau saya panggilkan" tanya Nisa sopan.
flashback
"Si Jihan kenapa dingin banget gitu" ujar Nisa menatap kepergian Jihan dan Dwi.
"Ya iya lah dingin orang jam kerja kamu main hp" ucap Riko meneger di cafe itu.
"Eh pak Riko" ucap Nisa menundukkan kepalanya.
"Kamu tau Jihan itu profesional banget dia bakal menyesuaikan diri dengan tepat saat di jam kerja bakal tegas tapi setelah jam.kerja berakhir dia akan balik lagi" ucap Riko.
"Pantesan beda" ucap Nisa.
"Sekarang kembali bekerja" ujar Riko.
"Eh iya pak" ucap Nisa
Riko meninggalkan Nisa yang sedang berfikir. Nisa mulai memahami dengn mengingat semua kejadian saat dengn Jihan ternyata benar kalau Jihan sngat profesional.
flash back off.
"Gak perlu biar saya yang kesana" ucap Jihan.
"Baik kalau tidak ada perlu lagi saya permisi" ucap Nisa di angguki Jihan.
"Kenapa Ay ada masalah kenapa cari manager" tanya Fero
"Gak ada si Ta, cuma mau tanya perkembangan mereka" ucap Jihan di angguki Fero.
"Kemana" tanya Dwi saat Jihan menatapnya.
"Hehe mau ketemu manager dulu bentar aja oke oke oke" ucap Jihan mebgedipkan matanya karena melihat wajah Dwi yang kesal.
Saat berjalan ke ruangan Riko Jihan melewati segerombolan anak sekolahan yang terluhat tengil. Mereka duduk tidak jauh dari tempat Dwi dkk membuat Dwi dkk mendengar dengan jelas saat mereka menggoda Jihan.
"Kakak kakak" ujar salah satu di antaranya membuat Jihan melihat ke arah mereka.
"Kalian panggil saya" tanya Jihan.
"Iya, kak boleh minta foto gak foto kita berdua" ucapnya.
"Buat apa" tanya Jihan.
"Buat di taruh di buku nikah" ucapnya di sambut gelak tawa sahabatnya sedangkan Jihan hanya tersenyum.
"Mau gombalin kakak ya" ujar Jihan.
"Hehe, kakak kakak tau gak kenapa satu tiga empat lima gak ada angka duanya" tanya nya.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Karena kakak gak ada duanya" ucapnya.
"Aduh" ucap Jihan menepuk dahinya.
"Satu lagi kak" ucapnya.
"Masih ada lagi bisa terbang kakak" ucap Jihan.
"Kak tau gak kenapa semut itu pedes gak ada manis manisnya" tanya anak yang terlihat paling tengil.
"Gak tau kenapa" tanya Jihan.
"Karena manisnya udah di wajah kakak" ucapnya di sambut tawa gembira.
"Aduh kalian ini pinter banget gombal ya, sekarang giliran kakak ya" ucap Jihan tersenyum.
"Kalian tau gak perbedaan kalian sama kakak" tanya Jihan.
"Gak" ucapnya kompak.
"Kalau kalian pelajar guru yang punya kalau kakak kakak manis tapi ada suami yang punya, udahnya bye makasih hiburannya" ucap Jihan membuat Dwi dkk tertawa.
__ADS_1
"Patah hati gue guys udah nikah" ujarnya.
"Apalagi gue hancur sehancur hancurnya" ucap temannya.
"Kalau gue gak biasa aja, soalnya gue di hantam kenyataan yang sangat kuat hua" ucapnya menangis.
Jihan hanya tersenyum mendengar celoteh anak sekolahan itu. Dia kemudian pergi ke ruangan Riko tak lama dia keluar bersama Riko dengan terus berbicara sangat serius. Sebenarnya tidak ada yang serius hanya saja Jihan penasaran dengan tingkah ke tiga temannya di sana.
"Oke makasih ya oh ya besok gajian" ucap Jihan.
"Gajihan bos" tanya Desi.
"Telinga lo tajem banget denger gajian " ledek Riko.
"Yup, tapi gak janji saya datang ke sini saya kalau bukan saya dia wanita yang lagi ngedate itu" ucap Jihan menunjuk Ani membuat Ani mengangguk.
"Oke bos" ucap Desi.
"Oh ya buat makanan sama minuman mereka biarin aja jangan bayar mereka saudara saya" ucap Jihan.
"Siap" ujar Kasir.
Setelah itu Jihan kembali ke dapur untuk membut desert dia membuat es cream dengan berbagai toping dan membawanya ke meja dimana Jovan dkk berada.
"Wah enak tuh cuma satu Ji" tanya Randy
"Mau tapi bayar ya" ucap Jihan tersenyum
"Gak jadi liat senyum kamu udah manis" ucap Randy.
"Mas kamu kenapa manyun gitu" tanya Jihan.
"Gak" ucap Dwi dingin.
"Kenapa gak di habisin tuh makanan" tanya Jihan.
"Gak selera" ucap Dwi.
"Yakin gak selera atau gak enak, emang si itu pertama kalinya Jihan bikin spageti kalau buat mereka si Ata yang buat udah biasa buat dia jadi pasti enak" ucap Jihan.
"Kamu bikin khusus gitu" tanya Dwi.
"Ya bisa di bilang gitu si ata gak mau bikinin kamu gitu sama bukannya tadi kan kamu sendiri yang bilang mau makan tapi makanan yang Jihan masak sendiri ya Jihan masak se bisa Jihan" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Enak kok enak, cuma mas cemburu tadi kamu di gombalin sama mereka" ucap Dwi.
"Kamu cemburu gue di gombalin bocil hahaha" ujar Jihan dengan tawa yang pecah.
"Ya mau gimana lagi, kamu kan juga baru lulus SMA" ucap Dwi.
"Oke oke, udah lagian gue gak masukin hati gombalan mereka cuma buat senam wajah aja ketawa" ucap Jihan
"Posesif banget" ucap Jihan.
"Kamu adalah milikku dan akan selalu begitu, terus kamu serius gak kegoda rayuan mereka" tanya Dwi menatapnya manja sembari mengelus rambut Jihan.
"Iya lah serius, tapi kenapa jadi panas gini ya" ucap Jihan .
"Panas pala lo dingin gila" ucap Randy.
"Seharusnya yang panas Dwi kalah sama daun muda" ucap Raka.
"Bukan panas tuh tapi salah tingkah di tatap suami" ledek Jovan
"Abang kalau ngomong suka bener" ujar Jihan membuat Dwi memeluknya.
Jihan membalas pelukannya dengan menanggung malu karena menjadi pusat perhatian. Jihan berusaha tersenyum tapi apa boleh buat Dwi justru lebih erat memeluknya.
"Udah malu di liatin orang" ucap Jihan membuat Dwi melepasnya dengan pelan.
"Beb suapin" ujar Dwi.
"Sejak kapan yang manja itu cowoknya" cibir Jihan.
"Sejak saat ini" ujar Dwi.
"Eh Ji gimana perkembangan di kampung" tanya Jovan.
"Belum tau Bang Kevin baru pulang, paling nanti Jihan cek sendiri ke sana" ucap Jihan.
"Kalau kamu kesana gimana sama mas" tanya Dwi.
__ADS_1
"Kamu punya banyak pilihan" ucap Jihan.
"Tapi lagi banyak banget kerjaan" ujar Dwi memelas.
"Ya udah sini aja lagian Jihan paling ke sana paling lama satu minggu" ucap Jihan.
"Gak bisa jauh" ujar Dwi.
"Jauh gak lah gue ada di sini itupun kalau ada di situ" ujar Jihan menunjuk dada Dwi.
"Soo sweet, love you" ujar Dwi.
"Hahaha dia baper" ujar Jihan pergi membuat Dwi melongo sedangkan yang lain tertawa.
"Di PHP in dia" ucap Jovan.
"Beby" teriak seseorang yang sangat familiar di telinga Dwi membuat Dwi menatap ke arah pintu masuk begitupun Jihan yang ikut menatapnya.
Seketika wajah Jihan berubah dia melihat ke arah suaminya yang terlihat panik lalu beralih melihat wanita yang baru datang dengan senang hati. Jihan duduk di depan mini bar yang ada di sana dan hanya melihat kedua sejoli itu.
Dwi terlihat panik dengan wajah pucat saat wanita itu mulai berjalan ke arahnya dengan lenggak lenggok. Klara wanita yang sedang di urus Julio melarikan diri saat Julio mengurus urusan Jihan yang lainnya.
"Bos" ujar Ani menghampiri Jihan.
"Kenapa" tanya Jihan santai.
"Em itu" ucap Ani.
"Udah, hubungi Julio dan suruh dia kemari" ujar Jihan di angguki Ani.
"Saya akan mengurusnya bos" ucap Kevin yang turut menghampiri Jihan.
"Gak perlu ini uruasan Julio" ucap Jihan.
"Oh ya bos, mengenai proyek di desa sudah lima puluh persen siap bagaimana apa bos mau mengunjunginya" ujar Kevin mengalihkan konsentrasi Jihan.
"Ya segera saya akan melihatnya sendiri" ujar Jihan masih dengan tatapan kosong.
Tak lama seorang yang Jihan tunggu datang. Julio datang dengan tergesa gesa di sambut tatapan elang Jihan membuat Julio menciut kemudian mengalihkan pandangannya ke targetnya.
"Maaf Bos" satu ucapan Julio membuat Jihan tak bergeming.
Julio melangkahkan kaki dengan cepat namun sebuah senjata di todongkan ke arah Jihan oleh Klara membuat banyaak pengunjung takut seketika Julio berhenti.
"Maaf semua saya selaku penanggung jawab cafe ini saya mohon kalian membubarkan diri dengan tertib dan untuk semua makan atau minuman yang sudah kalian pesan tidak perlu kalian bayar terima kasih" ujar Jihan sopan membuat semua orang keluar dengan teratur.
"Tutup semua tirai, dan pintu" ujar Riko.
"Siap bos" ujar semua kariawan.
"Kalian takut ya" ujar Klara.
"Kenapa mesti takut" ucap Nisa.
"Kalau kalian ada yang berani mendekat akan gue tembak Jihan" ujar Klara mulai mencoba mencumbu Dwi di depan semua orang walau Dwi terus menolaknya.
"Sayang kenapa nolak si apa karena dia" ujar Klara menunjuk Jihan dengan senjatanya.
"Guys masuk" ucap Klara tiba tiba membuat banyak orang serba berpakaian hitam datang dan membuat perisai mengelilingi Klara sembari mengacungkan senjatanya.
Klara menurunkan senjatanya lalu memaksa Dwi untuk berciuman di depan semua orang namun Dwi menolaknya keras. Klara yang merasa kesal semakin menjadi dengan terus menggoda Dwi bahkan sesekali dia mencium pipi Dwi dan memeluknya.
Jihan hanya menatapnya kemudian melepaskan sepatu yamg dia pakai dia bahkan lupa kalai kakinya sakit. Dia menatap Julio lalu berlari ke arah Julio dan melompat tepat di belakang Klara yang asik menggoda Dwi dengan bantuan Julio.
"Turunkan senjata kalian atau dia mati" ujar Jihan membuat Klara membulatkan matanya pasalnya saat dia berbalik Jihan membawa senjata dan mengarahkannya langsung di kepalanya.
"Serang" ujar Klara.
"Vin bawa Ani pergi" ucap Jihan.
Kevin mengangguk kemudian membawa Ani dan kariawan Jihan ke tempat yang lebih aman. Sedangkan di sana semua orang sudah mengeluarkan senjatanya.
Dor... Dor.... Dor.....
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys....
.