Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Bener


__ADS_3

"Ji lo kan sering bareng sama kak Dwi ya" ucap Nisa.


"Ya terus" ujar Jihan santai.


"Gimana kalau cinta tumbuh di hati lo" ucap Nisa.


"Ya biarin emangnya kenapa, selama gak ada yang tersakiti" ujar Jihan.


"Yah elah lo, lo gak amnesia kan kalau dia udah beristri beristri" ucap Nisa penuh penekanan.


"Lo apa apaan si Nis, lagian ya laki laki yang udah beristri seharusnya jaga jarak dengan wanita lain dia harus bisa jaga hati istrinya" ucap Jihan agak keras membuat Dwi tersenyum.


"*Na si Jihan lagi perang sama Dwi ya" bisik Mona.


"Gak tau juga Mom, tapi kayaknya Jihan nyindir deh" ucap Hana.


"Iya dari tadi ucapannya nyebelin" ujar Mona.


"Udahlah biarin aja" ucap Hana*.


"Kalian kenapa bisik bisik" tanya Nisa.


"Lagian kalian asik ngomong berdua ya kita ikutan lah" ceplos Mona.


"Huuuu dasar" ucap Nisa.


Jihan hanya diam mendengar pertengkaran teman temannya, tiba tiba seorang cowok duduk di samping Jihan membuat Jihan tersentak. Jihan melihat cowok tersebut sekejap kemudian kembali fokus.


"Cowok paling pupuler dan ganteng gini di anggurin" ucapnya.


"Gak penting" ucap Jihan.


"Hahaha, si Jordan di anggurin guys" teriak temannya yang ikut bergabung.


"Diem lo, selama ini gak ada yang pernah kacangin gue cuma lo Ji" ucap Jodan.


Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya acuh membuat Jordan si siswa paling populer dan paling ganteng karena turunan Indonesia dan Jerman membuatnya di kejar banyak cewek.


"Ji share location" ucap Jordan.


"Kita di tempat yang sama kenapa" tanya Jihan bingung.


"Shareloc tempat dimana hati kamu berada" ucap Jordan menggoda.


"Huuuuuu dasar, gak ada jaln udah ke tutup" ucap Jihan santai.


"Kalau daftar dulu boleh gak" tanyanya lagi.


"Kouta udah habis" ucap Jihan.


"Hahaha seorang Jordan di tolak guys" teriak temannya.


"Baru kali ini gue di tolak, Ji berdiri" ucap Jordan.


"Kenapa" tanya Jihan bingung.


"Berdiri aja, atau butuh bantuan" ucap Jordan mengulurkan tangan.


"Gak perlu" ucap Jihan berdiri tegas.


"Kenapa kalian" tanya Dwi aneh.


"Begini pak, bapak jadi saksi ya" ucap Jordan percaya diri.


Dwi menatap Jihan dan Jordan aneh namun Jihan juga membalasnya dengan penuh kebingungan. Tiba tiba Jordan berlutut di di hadapan Jihan membuat tersentak dan mundur beberapa saat.


"Ngapa lo" ucap Jihan.


"Ji you are merrie me" tanya Jordan.


"Are you sure" ucap Jihan menutup mulutnya.


"Ya, kamu yang pertama dan terakhir Ji" ucap Jordan so so sweet.


"Jawab jawab jawab jawab" sorak semua temannya.


"Ya, gue gue" ucap Jihan terbata.


"Ya lo terima gue kan" ucap Jordan percaya diri.


"Salah gue gak bakal kena prank lo" ucap Jihan tersenyum sadis.


"Songong banget tuh bocah"


"Iya gak tau apa, kalau banyak yang kejar dia sampai nangis nangis aja gak di respon "

__ADS_1


"Iya dia paling beruntung tau"


"Iya kalau gue gak pake mikir langsung terima aja"


Bisik bisik teman teman Jihan dari kelas lain membuat Jihan tersenyum semanis mungkin. Sedangkan Dwi yang sedari tadi sangat tegang dengan apa jawaban Jihan bernafas lega bahkan Dwi tergelai lemas dan duduk di lantai.


"Gue serius Ji" ucap Jordan kekeh.


"Iya gue juga serius, gue gak bakal kena prank lo" ucap Jihan serius.


"Emang bener ya kata anak anak lain lo susah ya deketin sekalipun cowok paling populer di sekolah ini" ucap Jordan percaya diri.


"Oh jadi lo mau tunjukkin ke semua orang kalau lo gak bakal pernah di tolak gitu" ucap Jihan sinis.


"Hehe, lo tau aja emang gue pernah serius sama seseorang" ucap Jordan.


"Lo emang gak pernah berubah, lo gak pernah hargai orang yang tulus ke lo semua lo hargai dengan uang" ucap Jihan.


"Yaya baby, emang gak salah gue pilih lo" ucap Jordan.


"Kalian bisa diem gak si, seharusnya kalian selesaikan ini di tempat lain ini jam pelajaran tau gak saya harap besok kaian sudah siap ujian dan menyelesaikan masalah kalian" teriak Dwi terlihat sisi lain dari Dwi dengan kemarahannya.


"So sexi" ucap Nisa.


Jihan tersentak dengan ucapan Dwi yang tinggi, karena selama ini Dwi selalu lembut padanya membuat Jihan menatapnya dengan mata memanas di susul dengan tatapan tajam Dwi membuat air mata Jihan lolos begitu saja.


"Ji udah yuk duduk malu sama yang lain" ucap Mona yang melihat Jihan meneteskan air matanya.


Jihan menuruti dengan pandangan kosong lalu duduk. Dwi menatapnya dan merasa bersalah karena membuat Jihan meneteskan air matanya.Tiba tiba ponsel Jihan bergetar berkali kali membuat Jihan mengangkat telfonnya tanpa meminta izin dari Dwi.


"Hallo" ucap Jihan.


"................" ucap seseorang di sebrang.


"Iya saya adiknya, ada apa ya" tanya Jihan.


".........."


"Maaf bisa di ulangi di sini terlalu ramai" ucap Jihan.


"............"


"Sebentar ya pak"


"Ya pak silahkan bicara" ucap Jihan.


"..........."


"What" ujar Jihan membulatkan matanya.


"............"


Tiba tiba Jihan menjatuhkan ponsel nya tanpa sadar di susul dengan derai air mata yang sangat deras Jihan langsung berlari secepat mungkin pergi dari kelas. Hana yang penasaran dengan apa yang ada di ponsel Jihan membuatnya mengangkat ponsel Jihan yang masih dalam sambungan.


"......."


"Ya pak, ada apa ya" ucap Hana.


"........"


"Dimana pak, share location ya" ucap Hana.


Setelah mendapatkan lokasinya Hana menyusul Jihan dengn berlari sangat cepat membuat Mona Nisa dan Dwi penasaran. Nisa langsung menghubungi Hana seketika Nisa ikut membulatkan matanya dan membisikkan sesuatu kepada Mona membuat Mona bingung.


"Pak Dwi bisa bicara sebentar" ucap Mona.


"Kenapa lo bilang sama pak Dwi" tanya Nisa penuh tanda tanya.


"Udah berisik lo" ucap Mona.


"Gimana bisa" tanya Mona lagi.


"Ya silahkan" ucap Dwi.


"Gini kak, saya memintamaaf atas nama Jihan yang udah ngebentak Kaka" ucap Mona tercekat.


"Seharusnya Jihan langsung bukan kamu" ucap Dwi.


"Dengerin dulu ngapa, Jihan pergi tuh karena kak Dani kenapa si gak ngertiin dia dan baru kakak yang berani ngebentak Jihan selama ini seharusnya Kakak sekaraang yang ada di samping dia dia butuh karena cuma kakak yang bisa di percaya udah salah gak tanggung jawab lagi" ucap Mona penuh penekanan.


"Kenapa lo marah sama gue" ucap Dwi santai.


"Lo masih nanya, lo tau Kak Dani kecelakaan dan lo tau kak Dani tuh orang terdekat Jihan setelah Abang dan orang tuanya lo tau betapa sakitnya melihat orang yang kita sayang sakit paham gak si lo" ucap Mona teriak membuat semua orang berbisik bisik.


"Mon, udah kenapa lo ngomongnya gitu sama Kak Dwi gak sopan tau" ucap Nisa melerai.

__ADS_1


"Dia emang pantes di bentak dia pantes di omelin, gak tau apa perjuangan Jihan buat tetep di sini walaupun sering kena bully laki laki gak punya hati lo" ucap Mona penuh amarah.


"Udah udah, maaf maaf" ucap Nisa tak enak hati.


Nisa mengajak Mona untuk duduk dan di turuti oleh Mona. Dwi langsung membubarkan pelajarannya dan pergi berlari untuk menyusul Jihan.


"Kakak" ucap Jihan saat masuk ke ruang inap Dani.


"Hai Ji, cepet banget sampai nya" ucap Dani tersenyum.


"Lagi gini aja lo masih bisa senyum, ngapa gak pergi aja si lo dari dunia ini bikin jantung gue mau copot tau" omel Jihan.


"Tega lo Ji, lagi gini lo omelin" ucap Dani.


"Lagian siapa suruh lo jatuh gini" ucap Jihan memeluk Dani sembari menangis.


"Udah udah, gue gak apa apa tenang aja terus kemana suami lo gak ikut" tanya Dani.


"Suami, eh lupa gue kak" ucap Jihan.


"Lo suami aja lupa gimana si lo" ucap Dani.


"Gue di sini Kak" ucap Dwi yang baru saja datang.


Jihan Hana dan Dani melihat ke arah pintu, Dani tersenyum sedangkan Nisa yang bareng Dwi bingung dengan kenyataan yang ada. Nisa menghampiri Hana meminta penjelasan sedangkan Jihan hanya acuh terhadap Dwi membuatnya semakin merasa bersalah.


"Kalian kenapa cepet banget sampainya" tanya Jihan sinis.


"Gak inget apa kalau tas lo sama ponsel lo buang gitu aja" cibir Mona.


"Kakak gimana bisa kayak gini, Ji maafin mas udah bentak kamu tadi" ucap Dwi memelas.


"Gue gak apa apa tenang aja, lo bentak Jihan hebat lo gue aja gak berani bentak dia tadi" ucap Dani.


"Udah banyak yang marahin gue dari tadi" ucap Dwi duduk di sofa samping Jihan.


"Lo gak apa apa " tanya Dwi.


"Menurut lo" ucap Jihan.


"Jihan yang bener lo" ujar Dani.


"Iya kak, maafin Jihan oh ya kenapa kamu kesini bukannya kelas belum selesai sama maaf tadi gak ijin dulu" ucap Jihan.


"Ya gak apa apa, udah mas bubarin tadi kelasnya pas mas di marahin sama temen kamu" ucap Dwi.


"Siapa" tanya Jihan.


"Siapa lagi, temen lo coba" ujar Dwi memelas.


"Hahahaha Mona, Mon good girl" ujar Jihan membuat Mona bangga.


"Seneng banget kamu Mas kena marah di tempat umum" ujar Dwi.


"Seneng lah, jadi kamu merasakan apa yang baru saja aku rasakan" ucap Jihan santai.


"Iya Mas minta maaf, kamu udah makan belum" tanya Dwi.


"Belum nanti aja" ucap Jihan.


"Ji lo hutang penjelasan sama gue" ucap Nisa.


"Maaf Nis" ucap Jihan.


"Iya sekarang apa bener sama semua ini" tanya Nisa.


"Bener seperti yang lo lihat gue istri dari orang yang selama ini lo kejar mas Dwi maaf" ucap Jihan menunduk.


Nisa menatap Jihan aneh membuat Dwi memeluk Jihan karena takut sesuatu terjadi. Sedangkan Hana Mona dan Dani hanya menonton.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungsnnya ya readers....

__ADS_1


__ADS_2