Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 120


__ADS_3

Dwi hanya tersenyum melihat wajah Jihan yang sangat berantakan karena terlalu banyak menangis dan ada beberapa noda darah. Dwi lalu mendekatkan wajahnya dan seketika mencium bibir Jihan membuat Jihan tersentak.


"Itu contohnya" ucap Dwi.


"Kenapa harus di tempat umum, banyak orang lalu lalang kan malu" ucap Jihan


"Kenapa mesti malu Abang kamu udah tutupin kita" ucap Dwi menunjuk Jovan yang berdiri tepat di samping Jihan dan Dwi dengan badan membelakangi mereka.


"Bang" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Jovan.


"Maaf" ucap Jihan


"Kenapa minta maaf" tanya Jovan.


"Gak" ucap Jihan.


"Sekarang ganti baju kamu kita ke ruangan Bang Ridwan aja" ucap Dwi.


"Tapi" ujar Jihan.


"Udah di sana ada baju saya kamu bisa memakainya" ucap Dwi.


"Hm" ucap Jihan.


Dwi menarik tangan Jihan karena Jihan terlihat sangat berat meninggalkan ruang operasi itu. Jovan menganggukkan kepalanya pada Jihan tanda dia yang akan menjaga Julio.


Jihan dan Dwi berjalan ke ruangan Ridwan sesampainya di sana Dwi membawa Jihan ke sebuah kamar tempat Ridwan beristirahat. Dwi memberikan kemeja overzize kepada Jihan membuat Jihan mengerutkan dahinya.


"Kenapa itu jelas punya saya, dulu saya pernah obesitas karena stess memikirkan kamu mencari kamu yang hilang bagai di telan bumi saya hanya rebahan dan makan apapun yang ada di dekat saya berharap bisa melupakan kamu tapi ternyata tidak, tapi untung Jovan datang dan memberi semangat untuk saya agar kembali seperti sedia kala" ucap Dwi membuat Jihan simpati.


"Maaf, tapi bisakah kamu keluar saya akan mengganti pakaian" ucap Jihan.


"Saya tidak akan pergi bukankah saya sudah melihat semuanya lagian saya tidak akan meminta tubuhmu sekarang" ucap Dwi membuat Jihan jengah.


Jihan menarik nafasnya panjang dia langsung membuka bajunya mengganti pakaian di depan Dwi tanpa memperdulikannya. Setelah selesai Dwi langsung memeluk Jihan dari belakang.


"Jangan pernah tinggalkan saya lagi, walau saya tau ada laki laki lain di luar yang kamu cintai tapi saya harap kamu juga bisa mencintai saya sama seperti saya mencintai kamu" ucap Dwi membuat Jihan tidak jadi melepaskan pelukan Dwi.


"Maaf saya akan mencuci wajah dulu" ucap Jihan menghindar.


"Hm" ucap Dwi namun dia justru menyesap leher Jihan membuat Jihan mengeliat.


"Bisa saya minta satu ciuman saja" ujar Dwi setelah membuat beberapa tanda.


"Satu terus ini apa" ujar Jihan.


"Hehe saya minta di sini tapi kamu harus membalasnya" ucap Dwi menunjuk bibir Jihan.


"Tapi" ujar Jihan namun wajah Dwi memelas.


"Oke tapi saya tidak janji bisa mengimbangimu" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Mari kita coba" ucap Dwi.


Dwi mendekatkan wajahnya sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. Jihan memejamkan matanya saat daging kenyal Dwi sudah menempel di bibirnya.


Jihan membalas perlakuan Dwi membuat Dwi tersenyum. Jihan terlihat sangat santai dan menikmati tanpa canggung sedikitpun. Bahkan sesekali Jihan yang menunjukkan ke agresifannya.


"Emm nafas gue abis" ucap Jihan melepaskan tautannya.


Dwi hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut Jihan gemas bahkan Dwi menghujani Jihan dengan ciuman membuat Jihan mendelik.


"Makasih ya" ucap Dwi.


"Sekarang saya boleh mencuci muka" tanya Jihan.


"Boleh" ucap Dwi


Jihan lalu membersihkan wajahnya di watafel dekat pintu masuk. Saat selesai dan akan mengeringkan wajahnya Dwi mengambil tisu dan mengeringkan wajah Jihan pelan Jihan hanya diam dan membiarkan Dwi melakukan apapun terhadapnya.


"Apa saya boleh kel,uar dengan baju ini" tanya Jihan.


"Apa ada baju lain yang lebih tertutup" tanya Dwi.


"Gak si" ujar Jihan.


"Ya udah pakai aja nanti saya suruh orang buat ambil baju" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan hendak membuka pintu akan keluar tapi di tahan Dwi.


"Kenapa lagi" tanya Jihan.


"Kamu membuatku candu" ucap Dwi langsung ******* bibir Jihan ganas setelah itu Dwi melepaskannya dengan senyuman merekah.

__ADS_1


"Maaf tapi saya tidak bisa menahannya" ucap Dwi menunduk.


"Oke gak papa tapi kasih gue oksigen dong" ucap Jihan.


"Kamu gak marah" tanya Dwi.


"Mau marah si tapi gimana lagi udah terlanjur" ucap Jihan.


"Mau lagi" ucap Dwi.


"Gak mau capek" ucap Jihan.


"Mau itu" ucap Dwi menunjuk dua gundukan Jihan


"gak gak, gue gak yakin kamu bisa menahannya" ucap Jihan.


"Masih lama Ji" tanya Dwi.


"Masih lah satu minggu juga belum" ucap Jihan.


"Berapa lama lagi" tanya Dwi


"Dua bulan" ucap Jihan.


"Lama bener" ucap Dwi


"Emang, kalau mau gak ada puasanya jangan sampai jadi anak" ucap Jihan berlalu pergi membuat Dwi melongo.


"Kalau gak di jadiin anak kapan punya penerus" cibir Dwi.


"Bang gimana" tanya Jihan pada Jovan saat sudah sampai di depan ruang operasi.


"Belum selesai Ji" ucap Jovan.


"Tuhan selamatkan dia" ucap Jihan menatap pintu ruang operasi.


Tak lama lampu operasi padam membuat Jihan lebih was was. Tak lama Ridwan keluar dari ruang operasi dengan wajah datar.


"Dok gimana" tanya Jihan antusias.


"Operasinya berjalan lancar, kita berharap aja ada keajaiban" ucap Ridwan membuat Jihan berkaca kaca membuat Ridwan tak kuasa menatapnya dia langsung pergi begitu saja.


Setelah kepergian Ridwan Jihan merasa kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Di terduduk di lantai di depan ruang operasi sampai Dwi datang dan memeluknya.


"Mas" ucap Jihan menatap Dwi.


"Kamu tau Ji sakit hati gue saat lo lebih memilih dia seolah jantung gue berhenti berdetak lo tega Ji, padahal dengan segala kekuatan gue jaga cinta gue cuma buat lo" ujar Dwi dalam hati.


"Hallo Rik" ucap Jihan menghubungi meneger di cafenya.


"......."


"Kirim rekaman CCTV luar ke saya sekarang" ucap Jihan tegas.


"......"


"Bang boleh lihat timah panas yang berhasil di ambil" ucap Jihan saat Ridwan kembali ke luar.


"Buat apa" tanya Ridwan.


"Mau liat aja" ucap Jihan.


Ridwan hanya mengangguk lalu merogoh sakunya kemudian memberikan apa yang Jihan mau. Jihan tersenyum kemudian membawa benda itu bersamanya.


"Kenapa senyum" tanya Dwi bingung.


"Ternyata rencana dia bukan untuk membunuh tapi melumpuhkan, bakal gue bales dia seribu kali lipat" ucap Jihan dengn seringai menakutkan.


"Ji please jangan terlibat lagi" ucap Dwi.


"Karena lo gue terlibat" ucap Jihan.


"Biar saya saja yang menyelesaikan" ucap Dwi karena takut Jihan nekad.


"Kenapa apa yang akan kamu lakukan, saya akan menyelesaikannya sendiri jangan ikut campur kalau tidak ingin kecewa" ucap Jihan.


"Saya akan melakukan apapun asal kamu tidak terlibat sesuatu yang membahayakan nyawa kamu" ucap Dwi.


"Gak perlu" ucap Jihan.


"Udahlah Wi terserah dia aja, kita lihat Julio dulu" ucap Jovan.


"Huh keras kepala" ucap Dwi menarik nafasnya panjang lalu berjalan ke arah pojok hanya untuk menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat panas.


"Dok, Dok" panggil Jihan saat Ridwan lewat.

__ADS_1


"Kenapa" tanya Ridwan.


"Bawa Julio ke ruang VVIP ya Dok, terus saya mau perketat keamanan buat dia bisa dok" ucap Jihan.


"Bisa saya akan mengurusnya" ucap Ridwan.


"Makasih dok" ucap Jihan tersenyum sumringah.


"Iya, gitu dong senyum kan cantik" ucap Ridwan mengelus kepala Jihan.


Jihan hanya tersenyum dia langsung kembali ke tempat Dwi dan Jovan yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Jihan hanya bisa tersenyum kikuk karena tatapan ke dua pria itu sangat menakutkan.


"Bang Jihan pamit pergi dulu ya" ucap Jihan.


"Kenapa izin Abang ada suami kamu di sini" ucap Jovan menunjuk Dwi yang sedang memyandarkan badannya di tembok.


"Iya nih mau izin" ucap Jihan mendekati Dwi.


"Sa sa saya mau pergi sebentar di izinkan tidak di izinkan tetap saya akan pergi" ucap Jihan membuat Dwi manyun.


"Yang bener dong Ji" ujar Jovan meledek kemudian dia pergi begitu saja.


Karena di lantai tersebut adalah lantai VVIP jadi tidak ada orang di sana, kalaupun ada hanya staf rumah sakit. Sebenarnya Jovan yang menyuruh semua orang tidak mengganggu lantai tersebut.


"Apa begitu cara meminta izin" ucap Dwi.


"Terserah saya dong" ucap Jihan.


"Kenapa kamu suka beradu argumen dengan saya" ucap Dwi.


"Karena saya membenci kamu" ucap Jihan jujur.


"Tapi saya mencintai kamu" ucap Dwi.


"Saya tidak peduli" ucap Jihan.


"Kemarilah" ucap Dwi.


"Saya buru buru" ucap Jihan.


Dwi langsung menarik Jihan ke dalam pelukannya membuat Jihan tidak bisa apa apa hanya diam karena gerakan Dwi terlalu cepat.


"Kenapa gak protes" ucap Dwi membuat Jihan salah tingkah.


Dwi tidak menunggu jawaban Jihan dia langsung saja ******* bibir Jihan dengan lembut. Jihan hanya bisa menerima tanpa protes.


"Manis" ucap Dwi mengakhiri tautannya sembari mengelap bibirnya dengan ibu jarinya.


"Kamu mau kemana saya antar ya" ucap Dwi.


"Tidak perlu saya bisa pergi sendiri" ucap Jihan namun masih dalam pelukan Dwi.


"Saya tidak suka kamu memakai baju itu pergi dengan orang lain"ucap Dwi mengeratkan pelukannya membuat Jihan dan Dwi tidak ada celah.


"Bukannya kamu yang memberikan baju ini" ucap Jihan.


"Ya tapi saya tidak suka saat kamu memakai baju itu di depan laki laki lain" ucap Dwi.


"Saya akan pergi sendiri, saya tidak pergi dengan laki laki lain" ucap Jihan memberontak dari pelukan Dwi.


"Saya akan memastikannya" ucap Dwi membuat Jihan makin memberontak.


"Jangan gerak gerak junior gue bangun" ucap Dwi membuat Jihan langsung berhenti seketika.


Dwi tersenyum, dia menatap mata Jihan hangat di balas tatapan dari Jihan. Seolah terkena sihir Jihan mendekatkan wajahnya ke wajah Dwi membuat Dwi berbinar dan berharap sesuatu terjadi di antara mereka.


Cup....


Sebuah kecupan hangat dari Jihan mendarat di bibir Dwi membuat Dwi sangat bahagia dan kaget walau sekilas tapi terasa sangat membahagiakan untuk Dwi.


"Eh, apa sekarang saya boleh pergi" ucap Jihan gugup dengan wajah merah.


"Tentu" ucap Dwi melepaskan pelukannya membuat Jihan pergi dengan cepat.


"Manis" ucap Dwi mengejar Jihan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys... kalau gak nyambung baca aja jangan di sambung2in oke....🤭.


__ADS_2