Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 197


__ADS_3

"Bagaimana terserah Klara dong" ujar Dwi mencium Jihan.


"Bagaimanapun kamu pernah menjadi orang tuanya" ujar Jihan membuat Dwi menghujani Jihan dengan kecupan.


"Aku serius" ujar Jihan.


"Aku juga serius" ujar Dwi mendorong Jihan ke ranjang.


"Apa yang kamu lakukan" tanya Jihan gugup.


"Kenapa gugup gitu, kita pernah melakukannya " ujar Dwi.


"Kan lagi bahas hal serius" ujar Jihan.


"Oke, menurutmu gimana apa harus terus mempertahankannya tapi kamu menderita saya lebih peduli dengan kamu dan anak anak kita jangan paksa saya untuk meninggalkan kalian lagi" ujar Dwi yang menatap Jihan dengan badan di samping Jihan namun bibirnya yang terus mencuri kesempatan.


"Bukan gitu tapi Fallen dia tidak bersalah" ujar Jihan


"Lalu bagaimana dengan JeJu kita apa mereka juga bersalah tidak mereka tidak tau urusan kita masalah kita sekarang saya hanya ingin memperjuangkan kalian memberikan kalian apa yang harusnya saya berikam sedari dulu" ujar Dwi mendapat hadiah kecupan manis Jihan.


"Kamu yang memulainya" ujar Dwi mulai beraksi.


"Apaan si" ujar Jihan tertawa saat Dwi menyesap lehernya.


"Jangan menghalangiku" ujar Dwi makin brutal.


"Jangan" ujar Jihan saat tangan Dwi mulai bermain di perut rata Jihan.


"Kenapa" tanya Dwi penasaran.


"Gak" ujar Jihan mendorong Dwi kuat membuat Dwi langsung menjauh.


"Udah malam istirahatlah" ujar Jihan merapikan pakaiannya yang sempat tersingkap.


"Ji" panggil Dwi.


"Maaf sebelum kamu benar benar selesai maka aku tidak akan berbuat lebih" ujar Jihan berjalan menjauh namun saat membuka pintu ternyata terkunci membuat Jihan menatap Dwi.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Kamu" ujar Jihan.


"Apaan kekunci sendiri kali" ujar Dwi duduk santai di tepi ranjang.


"Oke, kalau itu kemauanmu" ujar Jihan berjalan ke arah Dwi dan mendorongnya membuat tubuh Dwi jatuh dan tubuhnya menindih Dwi.


"Dimana" tanya Jihan.


"Apa" ujar Dwi tersenyum.


"Kunci" ujar Jihan.


"Di saku celana" ucap Dwi tersenyum tanpa dosa.


"Dasar, udah gak bawa ponsel lagi" ujar Jihan bangun dan berdiri.


Jihan berfikir berdiri di depan pintu tak lama Dwi memeluknya dari belakang. Dan membisikkan kata kata yang membuat Jihan bahagia dia langsung membalikkan badannya dan menatap mata Dwi dengan hangat.


"Serius" tanya Jihan.


"Ya belum pernah seserius ini" ujar Dwi.


"Jadi maksudmu waktu nikahin Jihan juga gak serius" tanya Jihan.


"Serius tapi gak serius serius banget kamu aja gak menganggap pernikahan itu" ujar Dwi memeluk pinggang Jihan.


"Satu aja Ji, please" ujar Dwi memohon.


"Tapi" ujar Jihan ragu.


"Selama ini ku menahan hasrat buat kamu Ji, bahkan di depan mata ada yang sah sah aja saya melakukannya tapi di hati mata dan pikuran cuma ada kamu" ujar Dwi.


"Jadi kamu mengakui keberadaannya" ujar Jihan.


"Kenapa jadi serba salah si" ujar Dwi manyun.


"hahaha mulai sekarang akan membuatmu melupakan keberadaannya " ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


Dwi mencium mesra Jihan tau lah apa yang terjadi selanjutnya aku skip ya takut ada anak di bawah umur yang baca hehe....

__ADS_1


Pagi datang Jihan mengerjapkan matanya beberapa kali dan merasa ada sesuatu di perutnya dia melihat ternyata tangan Dwi masih memeluknya. Jihan tersenyum lalu menatap wajah suami yang dia rindukan itu.


"Apa yang gue lakuin semalam" ujarnya dalam hati sembari senyum senyum mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam.


"Berat" ucap Jihan menggeser tangan Dwi namun bukannya tergeser justru menarik Jihan ke dalam pelukannya dan makin erat.


"Lepasin udah siang mau mandi" ucap Jihan.


"Mandi bareng" ucap Dwi


"nanti lama" ucap Jihan membuat Dwi membuka matanya lebar.


Dwi tersenyum menatap Jihan membuat Jihan melu dan menyembunyikan wajah di dada bidang Dwi.


"kenapa" tanya Dwi


"Malu jangan liatin gitu" ucap Jihan bersembunyi.


Dwi langsumg mendorommng Jihan menjauh membuat Jihan kaget dan langsung bangun. Jihan diam seribu bahasa namaun Dwi justru langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi untuk mandi bersama.


"Makasih kamu mau menerima pria gila ini kembali menjadi suamimu" ucap Dwi dalam guyuran sower.


"Kamu kenapa ngomong gitu si" ujar Jihan menatap lekat wajah Dwi.


"Gak papa makasih aja" ujar Dwi mencium kening Jihan lama.


"Kamu ada masalah" ucap Jihan.


"Gak" ujar Dwi singkat lalu kembli mencium Jihan.


"Katakan" ujar Jihan yang peka.


"Tidak ada aku hanya butuh dukunganmu" ucap Dwi menatap Jihan membuat Jihan berfikir.


"Mas, aku istrimu apapun yang terjadi kamu harus mengatakannya padaku" ucap Jihan


Dwi hanya diam menatap wajah istrinya itu. Jihan langsung mengakungkan tangannya ke leher Dwi dan mencium bibir Dwi dan ********** membuat Dwi membalas apa yang Jihan lakukan dan mengulang kejadian semalam.


Skip lagi hehe.....


Setelah selesai mandi Jihan langsung memakai kimono mamdinya sedangkan Dwi hanya memakai handuk sepinggang dengan rambut basah dan perut sispax membuatnya terlihat sangat ****.


Jihan merapikan kasur dan membereskan pakaiannya. Sedangkan Dwi menatapnya sembari mengeringkan rambutnya.


"Kayaknya ada tapi di kamar kamu" ucap Dwi.


"Ya sudah aku akan mengambilkannya tunggu" ucap Jihan pergi dengan membawa baju kotor ke kamarnya.


Dia berjalan dengan sangat cepat agar tidak ada yang melihatnya namun sebenarnya semua anggota keluarganya bahkan anak anaknya sudah ada di meja makan dan melihat tingkah Jihan itu semua hanya saling pandang dan tersenyum.


"Loh anak anak mana" ujar Jihan mencari keberadaan anak anaknya.


Jihan langsung berganti pakaian dan memilih pakaian Dwi laku kembali membawanya ke kamar tamu. Saat membuka kamar tamu Jihan melihat Dwi sedang menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong membuat Jihan langsung menaruh baju Dwi di atas kasir dan memeluk Dwi dari belakang.


"Mas apa ada masalah yang gak boleh Jihan bantu" ujar Jihan.


"Gak sayang, hanya masalah di kantor mas bisa mengatasinya" ujar Dwi membalikkan badannya.


"Tapi sejak aku bangun tadi di matamu ada kegelisahan, apa ini berkaitan dengan perceraian kamu dengan klara" tanya Jihan membuat Dwi diam.


"Ternyata benar bukan Jihan mau membuatmu tertekan untuk mengambil keputusan dan menceraikan klara tapi tidak ada wanita yang mau di madu mas baik aku ataupun klara kamu harus memilih salah satu dari kita" ujar Jihan menahan air mata.


"Kamu bicara apa bagaimanapun aku akan tetap memilihmu" ucap Dwi merangkuo wajah Jihan..


Dwi menatap dalam ke mata Jihan dan berusaha menjelaskan apa yang dia rasakan lalu dia mekumat bibir Jihan dengan sangat lembut dan lama membuat Jihan menutup matanya.


"Sudah siang pakailah pakaianmu" ujar Jihan melenggang pergi.


"Tetaplah di sini bersamaku" ujar Dwi membuat Jihan berhenti.


"Aku ingin melihatmu terus sebelum bekerja" ujar Dwi membuat Jihan membalikkan badannya.


Jihan menatap Dwi sedangkan Dwi hanya tersenyum kepada Jihan. Jihan mengangguk lalu duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya sedangkan Dwi mengganti pakaiannya.


"Sayang" ujar Dwi memeluk Jihan dari belakang.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Gak papa mau peluk" ucap Dwi sembari mengendus endus leher Jihan membut Jihan menutup mata karena geli sampai Dwi menyesap leher Jihan.

__ADS_1


"Kok malah di gigit si" ujar Jihan mengusap bekas gigitan Dwi di lehernya.


"Sakit" tanya Dwi.


"Gak, ya sakitlah" ucap Jihan.


"Maaf maaf" ucap Dwi membalikkan badan Jihanndan memeluknya erat di balas pelukan Jihan yang tak kalah erat.


Tak lama mereka langsung berjalan ke arah meja makan dan makaan bersama anggota keluarga yang lain. Semua anggota keluarga hanya diam saat melihat Dwi menggenggam tangan Jihan mesra.


"Mommy" ujar Justine.


"Ya Boy" jawab Jihan.


"Bolehkah hari ini Abang ikut Daddy bukan Mommy" tanya Justine.


"Tanyakan pada Daddymu tapi klau Daddy gak mengizinkan jangan memaksanya" ucap Jihan.


"Daddy bolehkan Justine ikut Daddy" tanya Justine.


"Tentu kenapa tidak makanlah kita langsung berangkat" ucap Dwi bahagia karena akhirmya Justine memanggilnya Daddy dengan nada lembutnya.


"Jeje ikut Abang" ujar Jenifer.


"Gak boleh ini khusus laki laki" ucap Justine.


"Daddy" ujar Jenifer memohon namun Dwi hanya mengangkat ke dua bahunya.


"Kamu ikut nenek ke butik mommy kamu ada koleksi yang baru di buat" ucap Mama Anggun.


"Oke" ujar Jenifer kecewa.


"Mommy tidak bisakah kamu bujuk Daddy dan Abang" ujar Jenifer.


"Sayang Daddy dan Abangmu punya sifat yang sama keputusan yang dia ambil tidak bisa di ganggu walaupun Mommy yang memintanya lagian keputusan mereka selalu yang terbaik" ujar Jihan.


"Kenapa si cewek selalu di kesampingkan" ujar Jenifer.


"Sekarang coba kamu terima keputusan Abang, dan lihat apa yang akan terjadi nanti jika keputusan Abang tidak baik kamu boleh meluapkan emosimu bisa bang" tanya Jihan.


"Ya pukul Abang juga boleh" ujar Justine.


"Oke awas ya kalau Ahang menghindar nanti" ujar Jenifer


"Gak akan" ucap Justine tersenyum.


"Nah gitu senyum Bang kan ganteng" ledek Jihan.


Semua orang langsung kembali sarapan pagi dan bersiap pergi ke rutinitas masing masing. Jihan mengantar Dwi dan Justine pergi bersama Jenifer.


"Kamu gak mau salam sama Abang" ujar Justine.


"Yaya" ujar Jenifer langsung menyalami Justine bergantian dengan Dwi.


"Yang iklas dong kamu akan lihat keputusan yang kita buat itu yang terbaik buat kamu sama Mommy oke" ujar Dwi duduk memsejajarkan tinggi dengan Jenifer lalu mencium kening Jenifer membuat Jenifer memeluknya.


"Hati hati ya Bang kalau ada apa apa langsung kabarin mommy" ucap Jihan saat Justine menyalaminya.


"Ya mom" ucap Justine.


"Mas berangkat ya" ujar Dwi.


"Ya hati hati" ujar Jihan menyalami Dwi membuat Dwi mencium kening Jihan namun tak cukup di sana Dwi menarik tengkuk Jihan dan ********** sebentar.


"Cie... Cie..." ledek Jovan dan ke dua anaknya.


"Bye" ujar Dwi di angguki Jihan.


Setelah kepergian Justine dan Dwi Jihan langsung bersiap untuk pergi ke kantornya. Setelah siap Jihan langsung berpamitan untuk pergi kepada mama dan anaknya itu.


"Mommy berangkat ya" ujar Jihan.


"Ya mom bye see you" ujar Jenifer membuat Jihan tersenyum dan mencium kening Jenifer langsung pergi.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya ya guys.....


__ADS_2