Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kevin


__ADS_3

"Lepasin" ucap Jihan.


"Mau kemana" ucap Dwi.


"Gak enak posisinya" ucap Jihan.


"Iya tapi romantis" ucap Dwi.


"Iya udahlah duduk capek gue, besok harus pergi lagi" ucap Jihan lesu.


"Kemana" tanya Dwi duduk begitupun Jihan.


"Kerja" ucap Jihan.


"Kerja apa" tanya Dwi.


"Ya kerja, tenang aja halal dan baik gak perlu khawatir" ucap Jihan


"Iya tapi jangan capek capek" ucap Dwi.


"Iya iya" ujar Jihan.


"Kenapa gak tanya besok gue kan masih ujian" ucap Jihan penasaran


"Karena itu bukan pertanyaan, karena kamu sudah menceritakannya sedikit walau gak runtut" ucap Dwi.


"Gue nyerocos ya tadi" ucap Jihan.


"Sedikit" ucap Dwi.


"Biasaan nih" ujar Jihan.


"Berapa kali kamu mabuk kayak tadi" tanya Dwi melepaskan Jihan untuk duduk.


"Bilang aja udah tau karena gak mungkin sahabat sahabat gue diem aja" ucap Jihan.


"Mas mau denger langsung dari kamu" ucap Dwi.


"Dua" ucap Jihan.


"Pertama kapan dan karena apa" tanya Dwi.


"Bukan urusan lo tau masa lalu gue" ucap Jihan melenggang pergi.


"Ji" panggil Dwi.


"Apa lagi" ucap Jihan membalikkan badannya.


"Gue boleh tidur di kamar gak" tanya Dwi membuat Jihan mengerutkan dahinya.


"Emang siapa yang ngelarang lagian sok suci lo" ucap Jihan pergi.


"Gue takut gak bisa nahan Ji" ujar Dwi menyusul Jihan.


"Itu tergantung hati karena yang sayang gak bakal merusak" ucap Jihan.


"Tapi gue gak yakin Ji, kan udah ada hak gue di tubuh lo" ucap Dwi.


"Diem gue mau tidur" ucap Jihan menutup tubuhnya dengan selimut memunggungi Dwi.


"Dasar di ajak enak gak mau, ya udah selamat tidur moga mimpi indah" ucap Dwi mencium kepala Jihan


"Mimpi doang yabg indah, realitanya aduh hancur" gerutu Jihan.


Dwi yang masih mendengar Jihan hanya tersenyum lalu memeluk Jihan dari belakang membuat Jihan mengeliat untuk membebaskan diri namun Dwi semakin erat memeluknya. Namun tak berselang lama Dwi dan Jihan terlelap dalam mimpi masing masing.


(Sekedar info guys mereka lagi di apartemen Dwi ya yang letaknya bersebrangan dengan apartemen milik Jihan. Biar kalian gak bingung di cerita berikutnya. Selamat membaca)


Jihan terbangun dari tidurnya saat mentari mulai meninggi. Jihan merasakan ada sesuatu di atas perutnya kemudian Jihan membuka matanya dan melihat ternyata tangan Dwi yang memeluknya dengan posisi masih sama seperti tadi malam tanpa sadar sebuah lengkungan di bibir Jihan.


"Baru jam tiga biasaan nih kalau jam segini bangun "ujar Jihan melihat ponselnya.


"Berat juga nih tangan" ucap Jihan mengangkat tangan Dwi dari tubuhnya kemudian bangun dan membereskan apartemen Dwi mulai dari menyapu mengepel dan mencuci pakaian Dwi dan dirinya setelah semua beres Jihan pun bersiap untuk mandi.


Jihan berendam di bathtub beberapa menit untuk merilexkan badannya yang terasa sangt kaku. Setelah puas merendam tubuhnya Jihan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. Jihan bingung karena tidak ada pakaian wanita di sana Jihan lalu menghubungi seseorang untuk membawa pakaian untuknya.


"Udah bangun Ji" tanya Dwi.


"Belum" ucap Jihan singkat.


"Oh, kenapa pakai itu mau goda iman" tanya Dwi menghampiri Jihan.


"Jangan mesum deh, gue pakai gini karena gak ada pakaian di sini lagian udah punya istri lemari isinya pakaian sendiri aja" ucap Jihan.


"Kamu bilang apa" tanya Dwi.

__ADS_1


"Bilang apa gak ada" ucap Jihan.


"Yakin " tanya Dwi memastikan.


"Yakin " ucap Jihan.


"Ya udah nanti kita belanja baju ya" ucap Dwi.


"Gue sibuk" ucap Jihan.


"Gak apa apa, kan belanja gak harus ke mall di ponsel juga bisa" ucap Dwi.


Saat Jihan hendak menjawab tiba tiba seseorang datang membuat Jihan menghentikan pembicaraan dengan Dwi. Jihan lalu berlari keluar namun dengan cepat di tarik tangannya oleh Dwi.


"Mau kemana" tanya Dwi.


"Buka pintu lah" ucap jihan santai.


"Dengan pakaian itu, gak gak boleh" ucap Dwi


"Hehe lupa ya udah buka gih" ucap Jihan.


Dwi pergi untuk membuka pintu sedangkan Jihan menunggu sembari membereskan tempat tidur.


"Cari siapa" tanya Dwi saat melihat seseorang yang tidak dia kenal di depan pintu.


"Maaf tuan, saya di suruh Nona Jihan untuk mengantarkan ini apa benar Nona Jihan ada di sini maaf mengganggu" ucapnya.


"Iya, sini berikan saja sama saya" ucap Dwi.


"Baik tuan ini terima kasih permisi" ucapnya memberikan paper bag kemudian pergi.


"Nih" ucap Dwi memberikan paper bag tersebut.


"Thanks" ucap Jihan.


"Itu apa si" tanya Dwi.


"Baju" ucap Jihan.


"Oh, ya udah mas mandi dulu ya" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan.


"Kenapa emangnya, ada yang gak ke sentuh ya maaf belum hafal tempat" ujar Jihan.


"Bukan gitu seharusnya gak usah kan bisa panggil orang buat bersihin apartemen" ucap Dwi lembut.


"Udah biasa soalnya, lagian kalau masih bisa sendiri kenapa harus panggil orang si" ucap Jihan.


"Terserah deh, tapi mas gak mau kamu capek" ucap Dwi.


"Tenang ja udah biasa kok" ucap Jihan mendorong Dwi ke kamar mandi.


Setelah kepergian Dwi ke kamar mandi Jihan lalu mengganti pakaiannya dan bersiap untuk membuat sarapan.Jihan pergi ke dapur Dwi dan melihat bahan makanan yang bisa dia olah kemudian dia memilih untuk membuatkan sandwich dan kopi. dan menghangatkan beberapa lauk sosa tadi malam.


"Buat apa Nih" tanya Dwi saat baru saja sampai di dapur.


"Sandwich, yuk sarapan" ucap Jihan.


"Oke kayaknya enak nih" ucap Dwi.


"Semoga aja, maaf gue gak tau lo suka apa kopi atau teh kalau pagi gue bikin kopi aja soalnya cuma ada itu dan beberapa minuman" ucap Jihan menekan kalimat terakhirnya.


"Iya maaf, nanti aku buang" ucap Dwi menunduk.


Jihan tidak mengindahkan perkataan Dwi hanya fokus pada makanannya . Jihan selesai lebih dulu lalu membersihkan piring kotor lalu membereskan meja makan dan meninggalkan Dwi sendiri di meja makan. Dwi tau kalau Jihan sedang marah padanya.


"Mas gue duluan" ucap Jihan.


"Kemana jam segini" tanya Dwi melihat jam baru menunjuk pukul setengah tujuh.


"Mau siap siap ke kampus lama gak masuk" ucap Jihan.


"Dengan pakaian seperti itu" tanya Dwi menatap Jihan dari ujung kaki sampai ujung rambut karena Jihan hanya memakai kaos dan hotpant.


"Ya gak lah, ganti nanti ke apartemen dulu" ucap Jihan.


"Apartemen, jauh biar Mas anter" ucap Dwi.


"Anter pakai apa, pakai helikopter" ujar Jihan tersenyum.


"Boleh kalau kamu mau" ucap Dwi.


"Lompat aja sampai ngapain pakai helikopter, lagian nih apartemen gue tuh " ucap Jihan menunjuk gedung mewah di sebrang apartemen Dwi.

__ADS_1


"Oh, ya udah nih kalau kamu pulang dulu" ucap Dwi memberikan sebuah card untuk membuka pintu apartemennya.


"Oke tapi kayaknya pulang telat deh gue banyak kerja hari ini" ucap Jihan.


"Iya, tapi jangan lupa makan" ujar Dwi.


"Oke, see you" ucap Jihan pergi.


Dwi tersenyum melihat kepergian Jihan lalu bersiap untuk pergi bekerja. Jihan pergi ke apartemennya namun saat sampai di depan apartemennya ada seseorang yang jihan kenal sedang menunggunya. Jihan lalu bergegas menghampiri orang tersebut.


"Hai udah lama" tanya Jihan.


"Hai bos lama gak ketemu, baru sampai juga kok" ucap Kevin asisten dan orang kepercayaan AYASTA GROUP.


"Iya lama ya gak ketemu, oh ya gimana buat hari ini" tanya Jihan sembari mempersilahkan duduk Kevin.


"Buat hari ini banyak acara, sama banyak berkas yang harus di tandatangani jadi harus ke kantor bu bos" ucap Kevin.


"Oh gitu, ya udah kamu urus dulu kita selesaikan sehari ini kamu udah sarapan hari ini banyak kerjaan" ucap Jihan.


"Baru minum kopi bu bos, tapi gak apa udah biasa" ucap Kevin.


"Oh gitu, gue ke dapur dulu ambil minum ya kamu persiapkan berkas yang harus gue pelajari nanti" ucap Jihan.


"Oke bu bos" ucap Kevin tersenyum.


Jihan pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuk Kevin, kebiasaan Jihan saat Kevin datang. Hanya butuh beberapa menit Jihan selesai menghidangkan sarapan sandwich untuk Kevin dan segelas kopi.


"Tuh makan dulu, gue siap siap dulu" ucap Jihan melenggang pergi untuk bersiap.


"Enak" ucap Kevin lirih sembari meneteskan air matanya.


"Kamu nangis" tanya Jihan.


"Terharu gue, udah lama gak makan seenak ini kangen masakan lo" ucap Kevin menghapus air matanya.


"Hahaha bilang aja kangen makanan gratis" ledek Jihan.


"Tau aja" ucap Kevin tersenyum.


"Haha, ya udah habisin tuh mana yang harus gue pelajari nih" tanya Jihan.


"Tuh yang gue tumpuk" ucap Kevin menunjuk setumpuk berkas.


"Gak kurang banyak tuh mau selesai kapan" tanya Jihan.


"Sok lo, sebanyak itu juga satu jam selesai" ucap Kevin.


"Iya iya, kalau udah kita berangkat" ucap Jihan.


"Boleh gue bawa sisanya gak" tanya kevin.


"Boleh bawa aja, tuh tempat bekel di situ" ucap Jihan.


Kevin lalu tersenyum dan bersemangat untuk bekerja karena sudah membawa bekal. Kevin adalah orang yang kurang mampu dan dia menjadi tulang punggung keluarga jadi dia harus berhemat belum lagi untuk membiayai kuliahnya. Namun Jihan tak pernah menyinggung keadaan Kevin Jihan mempertahankan Kevin menjadi asistennya krena kerja keras Kevin kejujuran dan kesetiaan Kevin yang sangat besar.


"Yuk berangkat" ucap Kevin.


"Di kasih makan baru semangat" ledek Jihan.


"Karena makan adalah energi terkuat" ucap Kevin.


"Yaya sip deh, yuk berangkat" ucap Jihan.


Jihan dan Kevin pergi dari apartemen dengan setumpuk berkas dan sebuah ipad di tangan Kevin sedangkan Jihan membawa sebuah laptop.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya....


Salam manis Author...

__ADS_1


__ADS_2