
"Terlalu nyaman ya" ujar Simon.
"Kamu wanita paling unik bisa luluhin si Dwi bahkan bisa duduk di pangkuannya Klara aja gak bisa" ujar Refan.
"Kak Randy, kamu kan juga punya restauran ya gimana kalau kita berdua kerja sama " ujar Jihan.
"Ganti topik guys" ujar Simon.
"Boleh dalam bentuk apa nih" tanya Randy.
"Gini dari desa banyak banget sayuran gimana kalau kita gunakan sayuran dari sana soalnya kalau di FeJi gak bakalan abis sampai panen berikutnya taukan FeJi baru bangun" ujar Jihan.
"Oke deh, nanti gue cek bahannya bagus apa gak kualitasnya" ucap Randy.
"Jihan bawa beberapa sampel si, tapi kebanyakan sayuran hijau" ujar Jihan.
"Bagus dong di sini kan susah cari sayur bagus" ucap Randy.
"Di mobil Jihan kak" ujar Jihan.
"Mobil, mobil yang kamu bawa supercar itu" tanya Jovan tak percaya.
"Hm, isinya penuh dengan sayuran" ujar Jihan.
"Itu supercar loh Ji, limited edition lagi" ujar Jovan.
"Ya emangnya kenapa, kemarin aja bawa anak anak satu desa keliling kampung" ucap Jihan.
"Gak takut kotor Ay" tanya Fero.
"Kotor, bisa di cuci atau ganti baru tapi senyuman mereka gak bisa terganti" ujar Jihan tersenyum.
"Sungguh unik" ucap Simon.
"Dari tadi nih kalian kayak akrab banget, sebenarnya dia siapa si" tanya Refan.
"Iya apa kita sepadan dengannya, dia kayak gak canggung gitu bicara gini kadang lo kadang kamu gimana si beda derajat ya" ujar Simon.
"Sayangnya gak, gue rakyat jelata dia mungut gue di jalan" ujar Jihan membuat Dwi Jovan dan Randy melongo sedangkan Fero tersenyum karena tau isi otak Jihamn.
"Wi ini alasan lo gak mau di sentuh sembarang wanita demi dia" tanya Simon.
"Emangnya kenapa" tanya Dwi.
"Oke gue akuin dia cantik body oke, tapi masih banyak yang lebih berkelas" ujar Refan.
"Yaya emang lo tau kalau gue rakyat jelata kalau gue gak bilang gak kan, jadi setidaknya gue gak pernah malu maluin dia" ujar Jihan.
"Lo yakin sama dia kalau dia manfaatin lo doang gimana" ucap Simon.
"Gak papa, semua yang gue punya gue persembahkan buat dia" ujar Dwi menatap Jihan penuh senyuman.
"Kamu kasih dia apa sampai dia berjuang mati matian lulus cepat nahan nafsu" ujar Simon.
"Gue kasih apa ya" uhar Jihan menatap Dwi dengan tatapan menggoda.
"Tatapan maut" ucap Randy.
"Kamu buka selakangan ya Dwi langsung luluh" ucap Simon membuat Jihan membulatkan matanya.
"Haruskah aku beri itu ke kamu sebelum waktunya" ucap Jihan.
"Kamu bahkan tidak mencintai ku" ucap Dwi sembari menyentil hidung Jihan membuat Simon dan Refan melongo.
"Baru saja dia bilang kalau dia di tolak" ucap Simon di angguki Refan
Jihan tersenyum puas karena baik Refn ataupun Simon tidak bisa berkata kata lagi. Jihan berjalan ke arah pintu ruangan Dwi berniat untuk mencari Rey namun tiba tiba pintu terbuka membuat Jihan terbentur.
"Au siapa si gak ketuk pintu dulu" ujar Jihan sembari memegang dahinya dengan mata tertutup
__ADS_1
Dwi membulatkan matanya dan langsung berlari ke arah Jihan. Saat sampai di depan Jihan Dwi menarik tangan Jihan pelan kemudian melihat bekas merah di sana. sedangkan yang lainnya tertawa.
"Papa si" ujar Dwi ternyata yang msuk adalah papa Seno.
"Maaf nak" ujar papa tertawa.
"Jihan hanya mengangguk lalu berjalan ke arah papa Seno dan mencium tangannya.
Papa Seno melihat luka atas ulahnya itu sembari meminta maaf taak lupa dengan tawa. Jihan hanya manyun tapi papa Seno justru memeluknya membuat Jihan nyaman.
"kalau sama Dwi aja gak gitu" ujar Dwi cemberut.
"Karena papa spesial" ledek papa Seno.
"Iya iya" ujar Dwi merengut sedangkan Jihan tersenyum sembari berjalan ke arah Dwi dan menyenggolnya. Dwi hanya menatap Jihan sedangkan Jihn tersenyum tanpa dosa.
"Papa gak di suruh duduk" ujar Papa.
"Gak ada tempat" ujar Dwi manyun.
"Kamu gak ada ahlak" ujar Papa.
"Papi" ujar Simon
"Kamu kok di sini" ujar tuan Jors ayah Simon
"Kan udah bilang Simon mau ke tempat temen" ucap Simon.
"Mana papi tau kalau anak tuan Seno tuh temen kamu setau saya dulu pimpinannya wanita" ujar Tuan Jors.
"Maksud tuan dia" tanya Dwi.
"Iya, lama tidak berjumpa nona" ucap tuan Jors.
Jihan hanya tersenyum membungkukkan badanya memberi hormat.
"Boleh saya tau apa kalian kakak adik" tanya tuan Jors.
"Kamu tunangannya" tanyanya.
"Bisa di bilang begitu tuan" ujar Jihan sopan.
"Wah selamat ya, kapan kalian nikah semoga kalian bahagia sampai maut yang memisahkan" ujar tuan Jors
"Aamiin semoga doa tuan di kabulkan, dan terima kasih doanya " ujar Jihan dan Dwi.
"Wi urusin kepala dia dulu takutnya dia amnesia" ucap Pao seno meledek.
"Kalau Jihan amnesia papa orang yang pertama kali Jihan lupain" ujar Jihan.
"Kok papa, Dwi aja kamu cari yang lain" ujar Papa membuat Dwi merengut.
"Kalau yang lain pasti gak bakal se indah perjalanan ini" ujar Jihan.
"Kamu kalau ngomong sama papa sama Mama tuh gak ada habisnya" ujar Dwi menarik Jihan duduk di kursi kerjanya.
Dwi mengmbil kompres dan mengompres kening Jihan yang memerah. Dia sangat telaten sedangkan Jihan jengah dia terus saja membuat Dwi menahan tawanya.
"Kamu pulang gak bawa oleh oleh" tanya Dwi sembari mengompres Jihan.
"Bawa tuh sayuran banyak" ujar Jihan tersenyum.
"Buat" ucap Dwi penasaran.
"Buat di masak lah, masa iya buat bikin karpet" ucap Jihan.
"Kamu" ujar Dwi menyentil hidung Jihan gemas.
"Kenapa si suka benget nyentil hidung Jihan" ujar Jihan.
__ADS_1
"Gak papa seneng aja kenapa mau marah" tanya Dwi.
"Marah juga percumah akan terus di ulang" ucap Jihan.
"Hehe kamu istirahat gih di kamar kamu pasti capek banget" Ujar Dwi.
"Dari tadi kek" ucap Jihan.
"Terlalu rindu" ucap Dwi sembari membereskan kotak obat itu.
Jihan berjalan ke arah kamar di dalam ruangan Dwi terlebih dahulu. Sedangkan Dwi menyusul setelah mengambil tas dan ponsel Jihan yang berada di meja kerjanya. Saat masuk ke dalam kamar itu Jihan melepaskan highthell nya dan duduk di tepi kasur.
"Istirahatlah" ucap Dwi yang baru masuk ke ruangan itu.
"Hm" ujar Jihan dingin.
"Kenapa tadi hangat sekarang dingin" tanya Dwi serius mendekati Jihan duduk di tepi ranjang.
"Tadi banyak orang saya tidak akan berlaku kasar atau dingin di hadapan mereka terlebih dua sahabatmu itu, dan disini hanya ada kita berdua dan kita tau perasaan masing masing jadi kenapa di buat buat" ujar Jihan santai cenderung dingin.
"Apa kontak fisik tadi tidak merubah perasaanmu" tanya Dwi.
Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya. Dwi merasa sangat geram karena Jihan selalu bisa membiusnya walaupun dia tau Jihan tak mencintainya tapi semua perlakuan ini terasa menyakitkan.
"Bolehkah saya marah" ujar Dwi menahan emosinya.
"Boleh tapi jangan sampai orang luar tau" uhar Jihan menyalakan mode kedap suara.
"Kamu tau, saya benar benar merasa sangat bodoh di hadapan kamu hanya kamu yang mampu buat sayaa gila" ujar Dwi dengan nada tinggi
"Kamu tau saat kamu memeluk saya dari belakang apa yang saya harapkan saya harap kamu benar benar melakukannya dengan tulus dan penuh cinta ternyata sekali lagi saya terberdaya dengan kecantikanmu" ucap Dwi melanjutkan sembari mencengkram erat wajah Jihan sampai Jihn berdiri karena cengkraman kuat itu namun Jihan hanya menerima.
"Ini konsekuensinya Jihan kamu harus memerima semua ini" ujar Jihan dalam hati.
"Kalaupun saya tidak bisa mengubah hati kerasmu maka tidak ada yang bisa memilikinya" ujar Dwi melepaskan cengkramannya beralih mengelus rambut Jihan yang perlahan mulai menariknya sampai Jihan mendongak.
"Kamu cantik tapi tidak dengan perilakumu dengan suamimu, kamu manis tapi kamu terlalu kejam" ujar Dwi menarik rambut Jihan saat Jihan mendongak dengan rakus Dwi melu**t bibir Jihan sampai memerah.
Jihan hanya meringis kesakitan akibat ulah Dwi yang emosinya sudah tidak bisa di kendalikan. Jihan tau cara membela diri tapi dia tidak melakukannya karena bagaimanapun dia memang salah. Karen Jihan yang terus diam membuat Dwi frustasi dan melepaskan tangannya dan tertuduk di lantai sembari menangis.
Jihan merasa dia sangat jahat, Jihan mulai merapikan rambutnya dan menatap Dwi yang sudah tidak karuan itu. Jihan mengambil ponselmya dan menghubungi Jovan agar membuat semua orang sibuk termasuk papa Seno dan kolega lainnya.
"Maaf karena sudah terlalu jahat" ujar Jihan.
"Tapi bukankah perlakuanmu tadi berlebihan" ujar Jihan sembri duduk di tepi ranjang lurus di depan tempat duduk Dwi saat ini
"Berlebihan lalu bagaimana dengan perlakuanmu pada saya" ujar Dwi marah.
"Kenapa kamu tidak sadar juga kenapa gue pulang lebih awal padahal masalah belum selesai, kenapa gue kerja sampai malam padahal bisa tidur nyenyak karena gue habisin waktu lebih lama di sana kenapa pulang langsung ke sini dan kenapa memelukmu dari belakang padahal hanya ada Rey, sedangkan Rey tau semua tentang hubungan kita" ujar Jihan dalam diam.
Andai Jihan bisa mengatakan itu saat ini mungkin situasi akan membaik. Tapi entahlah Jihan tidak punya keberanian untuk.mengakui kebenarannya.
"Saya akan meminta hak saya sekarang" ujar Dwi menatap Jihan seperti harimau kelaparan.
"Tapi saya belum bersih kamu masih harus menunggu dua minggu lagi" ujar Jihan membuat Dwi makin frustasi.
"Argh" ujar Dwi mengacak rambutnya.
"That's all i can say, i'm really sorry for my aging treatment" ujar Jihan sembari menunduk membuat Dwi menatapnya.
"Apa saya bisa percaya dengan ucapanmu kali ini" tanya Dwi Jihan hanya mengangguk.
Dwi berjalan ke arah Jihan membuat Jihan panik dan memundurkan badannya sampai naik ke ranjang dan Dwi mengikutinya. Jihan terus mundur sampai badannya teepojokkan Dwi hanya tersenyum mengerikan sedangkan Jihan ketakutan
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya ya guys...