Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 115


__ADS_3

"Biasanya juga mereka malu maluin" ujar Jihan membuat Dwi berfikir.


"Kalian saling kenal" tanya Dwi.


"Gak gue gak kenal dia siapa lo" ujar Jihan.


"Mana gue tau siapa lo" ujar kariawannya.


"Mas tanya serius" ujar Dwi.


"Kamu gak lihat di depan ada tulisan gede banget AYASTA COUPLE "ujar Jihan membuat Dwi manggut manggut.


"Satu naungan sama AYASTA GROUP" tanya Dwi.


"Hm AYASTA GROUP itu meliputi FEJI Cafe Ayasta Couple JA Boutique sama JFA Resort" ujar Jihan.


"Oh gitu, tajir juga kamu ya" ujar Diw.


"Ya elah baru tau nikahin orang tajir" ucap Jihan.


"Sombong " ucap Dwi.


"Biarin sombong asal usaha sendiri" ucap Jihan.


"Yaya nyonya Dwi Putra yang paling top i love you" ujar Dwi mencium pipi Jihan di depan kriawannya membuat Jihan tersenyum ya walau sangat tipis.


"tau tadi gak perlu bayar" ujar Dwi.


"Kenapa ini bisnis harus bayar dong" ujar Jihan.


"Ya discon atau apalah" ucap Dwi.


"Jadi gak iklas nih" tanya Jihan menatap lurus.


"Hehe bercanda beb, iklas kok bahkan kalau kamu mau mas bakal borong semua yang ada di sini" ujar Dwi.


"Mulai narsis nih orang" ujar Jihan.


"Nih kalau mau uangnya balik udah di rekening aku" ucap Jihan.


"Ya udah buaat kamu aja ini kan bisnis, buat jajan namti mas transfer" ucap Dwi.


"Terus gunanya nih kartu buat apa kalau terus keluarin uang" ucap Jihan.


"Buat jaga jaga" ujar Dwi.


"Serah deh, oh ya ada orang cafe ke sini gak" ucap Jihan.


"Gak kenapa Bos" tanya salah kariawan yang sedari tadi menonton perdebatan ke dua bosnya.


"Gak cuma tanya aja siapa tau ada yang nyariin gue gitu" ucap Jihan.


"Gak bos" ucapnya.


"Ya udah kembali kerja jangan ngerumpi mulu" ucap Jihan.


"Siap" ujar Kariawannya.


"Itu cafe kamu ya kesana yuk" ujar Dwi menunjuk sebuah cafe bernam FeJi Cafe setelah keluar dari toko tersebut


"Kenapa ke sana kan masih banyak tempat yang lebih baik" ujar Jihan.


"Mau coba aja menunya, siapa tau juga dapat diskon lagian bukannya seneng bangga kenalin cafe sama suami mlah gak mau aneh kamu" ujar Dwi menggandeng tangan Jihan karena melihat Jihan kesulitan jalan.


"Serah deh ,perhitungan juga kamu" ucap Jihan.


"Kali aja bisa ngirit" ucap Dwi.


"Kayaknya menuju pelit nih" ujar Jihan.


Dwi hanya tersenyum sembari memyebrangi jalan dan masuk ke cafe. Saat Jihan tiba di sana semua kariawan terlihat menundukkan kepalanya lain dengan Nisa yang sedaang asik bermain ponsel.


"Mau duduk di mana" tanya Jihan.


"Di ruang yang cuma ada kita" ujar Dwi.


"Oke bentar" ucap Jihan mendekati Nisa tanpa Nisa sadari.


"Nis ada ruang VVIP kosong" tanya Jihan membuat Nisa tersentak.


"Eh Jihan ada Ji satu kosong gue siapin dulu" ujar Nisa.


"Gak perlu gue sendiri aja" ujar Jihan dingin.


"Mas ayuk" ujar Jihnan yang diikuti Dwi dan Nisa yang merasa bersalah hanya terdiam.


"Bagus juga kamu pilih tempat," ucap Dwi.


"Mau makan apa" tanya Jihan.


"Makan makanan yang kamu masak sendiri" ujar Dwi.


"Percumah dong punya kariawan" ucap Jihan


"Hehe lagian dapurnya terbuka kali" ujar Dwi.

__ADS_1


"Tapikan ada koki" ucap Jihan.


"Tapi maunya kamu yang masak" ucap Dwi membuat Jihan kesal namun menuruti ucapan Dwi.


Saat keluar dari ruangaan VVIP ternyata Jovan datang bersama sahabat sahabatnya membuat Jihan menghampiri Abangnya dan mencium tangannya.


"Kenapa kesel banget gitu" tanya Jovan.


"Kenapa lagi" ujar Jihan lesu membuat Jovan melihat oramg di belakang adiknya dan tersenyum.


"Wi sini" ujar Jovan.


"Kenapa" tanya Dwi


"Lo apain adek gue" tanya Jovan.


"Gue suruh masak kenapa" tanya Dwi.


"Wah wah kamu jadi ipar pengertian banget, sekalian masakin buat kita Ji" ujar Jovan tersenyum.


"Abang" rengek Jihan membuat semua orang tertawa.


"Biar gue bantu" ujar Fero yang baru datang langsung melepaskan jasnya dan memakai celemek.


"Cepet laper nih kita duduk di situ biar lebih deket oke" ujar Jovan


"Oke, nih bawa" ujar Jihan memberikan tas jingjingnya kepada Dwi.


Jihan mencempol rambutnya tinggi membuat leher jenjangnya terlihat jelas. Dwi terus menatapnya bergantian dengan Fero yang bersiap untuk memasak.


"Bos butuh bantuan" ujar Desi kariawan yang paling Jihan percaya di cafe itu dia juga seorang cef.


"Boleh, bantu liat aja " ujar Jihan membuat Desi mengerutkan dahinya.


"Kenapa bingung sekarang gue jadi kariawan" ujar Jihan.


"Kalian mau makan apa" tanya Jihan sedikit mengeraskan suaranya.


"Steak dua spageti dua sama capucino empat" ujar Jovan.


Jihan mengangguk lalu mulai memasak bersama Fero dia menikmati masa memasak karena itu memang hobinya. Jihan juga yang menyiapkan minuman untuk ke empat tamu durjananya.


"Silahkan" ujar Jihan sangat ramah.


"Terima kasih, mba nanti minta nomor telfonnya ya" ujar Randy di sambut senyuman Jihan membuat semua orang tertawa kecuali Dwi yang kesal.


"Ay gimana kita hidangkan dua jenis makanan jadi satu aja biar mereka jadi penilainya" ujar Fero.


"Siap" ujar Jihan.


Jihan dengan cekatan membuat makanan dengan skill memasak yang tak kalah hebat dari Desi. Sesekali Jihan dan Fero membuat atraksi membuat semua pengunjung sangat menikmatinya.


Beberapa kariawan melihat mereka kagum. Setelah selesai dengan dapur Jihan dan Fero ikut bergabung duduk dan makan bersama. Jihan duduk di samping Dwi dengan segelas jus di depannya.


"Honey" ujar Dwi mengulurkan tangannya menyuapi Jihan.


Jihan langsung memakannya membuat Dwi tersenyum sedngkan Fero hanya menahan perasaanya terhadap Jihan.


"Ji kamu pincang kenapa" tanya Jovan.


"Terkilir" ucap Jihan singkat


"Mau di betulin lagi" ujar Randy.


"No no no, gak mau udah di benerin mas Dwi tadi" ucap Jihan.


"Mas Dwi guys" ledek Raka.


"Terus mau panggil siapa mba Dwi gitu gak oantes lah dasar jomblo" ucap Jihan.


"Ngatain gue lagi lo kalau belum di nikahin juga pasti masih jomblo lo kan jomblo akut" ucap Raka.


"Yang penting sekarang gak" ucap Jihan menjulurkan lidahnya.


"Ledekin nih" ucap Randy.


"Udah udah sesama jomblo diem mending makan terus cari duit lagi" ujr Jovan.


"Pantesan santun" ucap Raka yang tau kalau di sana ada target Jovan.


"Ji selama pernikahan kalian gue belum pernah liat lo perhatian sama Dwi" pertanyaan yang selama ini menghiasi kepala Randy akhirnya terucap.


"Setiap oramg berbeda dalam memberikan perhatian" ucap Dwi.


"Di belain guys" ucap Raka.


"Ya iyalah istri gue yang lo omongin" ucap Dwi.


"Huhuhu gue di marahin suaminya" ujar Randy membuat Dwi berdecak kesal.


Jihan hanya tersenyum lalu menarik piring yang di depan Dwi lalu menyantapnya tanoa mempeedulikan Diw yang sedang bete.


"Ji inget suami lo" ujar Raka.


"Yaya inget kalau gak inget gue gebet lo kak" ujar Jihan membuat Raka tersedak.

__ADS_1


"Maksud lo" tanya Raka.


"Maksud gue mau buat kalian berantem" ucap Jihan.


"Gak mempan" ujar Dwi.


"Gak mempan tapi panas" ucap Jihan.


"Haha dari tadi si Dwi kalah mulu sama istri" ujar Randy tertawa.


"Beb gue di aniyaya" ucap Dwi memelas pada Jihan.


"Gak ada yang aniyaya lo nyet" ucap Jovan.


"Tuh hati gue di mutilasi" ujar Dwi mendramalisir keadaan.


Jihan bukannya perhatian Jihan justru tertawa keras melihat wajah Dwi. Melihat itu Dwi makin kesal namun tak di sangka Jihan justru mencium pipi Dwi di depan Abangnya.


"Udah udah makan" ucap Jihan belum sadar dengan kelakuannya begitupun Dwi yang masih senyum senyum mengelus elus pipinya.


"Kak kita salah orang gak si" tanya Fero yang terkejut dengan tingkah Jihan.


"Entahlah tapi itu bagus, kamu lapang dada ya maaf gak bisa bantu kamu" ucap Jovan.


"Kalian kenapa malah gitu liatin Jihan" tanya Jihan.


"Gak gak ya kan guys" ucap Raka.


"Ya kita pura pura gak liat aja" ujar Randy.


"Ke na pa" ujar Jihan lirih kemudian menutup wajahnya dengan ke dua tangannya karena malu.


"Hahaha malu sendiri" ucap Fero sembari tertawa keras.


Semua orang ikut tertawa tapi mereka tau kalau itu tawa yang tulus Fero lakukan. Mungkin Fero sudah mulai mengubur perasaanya ya walau butuh waktu lebih lama untuk move on daripada waktu untuk mencintai seseorang.


"Bos" ujar seseorang membuat Jihan membuka tangannya.


"Ani" ujar Jihan


"Hai bos" ucap Ani gugup.


"Kenapa gugup gitu, kayak liat hantu aja" ujar Jihan.


"Lebih dari sekedar hantu bos tapi malaikat" ucap Ani membuat Jihan bingung namun saat melihat laii laki yang berjalan ke arahnya di belakang Sekertarisnya dia tersenyum.


"Oh itu, Kevin" ucap Jihan membuat Kevin juga gugup.


"E hai Bos" ujar Kevin.


"Gue baik, tapi kayaknya lo yang gak baik kapan pulang" tanya Jihan galak.


"Baru sampai bos" ucap Kevin asisten ke dua Jihan yang Jihan kirim ke desa untuk mengawasi pembangunan di sana karena hanya Fero dan Jihan yang mempunyai dua asisten.


"Kenapa gak kasih kabar" tanya Jihan


"Maaf bos gak sempet" ucap Kevin menunduk.


"Berhenti panggil gue bos dong, kalian berdua" ucap Jihan mengintimidasi


"Maaf mba saya tau gak boleh ada hubungan sesama kariawan selain klien" ucap Ani.


"Kata siapa, perasaan gue bilang kalian boleh menjalin hubungan spesial dengan teman sekantor asal satu gak boleh bawa masalah pribadi ke tempt kerja dua gak boleh menikung sesama kawan dan ke tiga profesional dalam bekerja" ucap Jihan.


"Kita dapat restu" ucap Kevin bar bar.


"Ternyata kak Kevin lu bar bar" ucap Jihan.


"Maaf Mba" ucap Kevin.


"Ya udah kalain ke sini mau makan kan makan waktunya tinggal sedikit, mau gabung" tanya Jihan.


"Gak mba kita di meja lain aja" ucap Ani.


"Ya udah lagian kalau kalian mau juga gak muat si" ucap Jihan.


"Lo gak berubah mba suka ngeselin" ujar Kevin.


"Suka suka hati dong" ucap Jihan.


"Untung cantik la kalau manis gue kasih sama semut" ucap Kevin.


"Tuh cewek lo ngambek" ucap Jihan melirik Ani.


"Gak kok mba gue baik baik aja cuma hati gue sakit, mba kalau bisa jangan deket deket sama dia"" ujar Ani.


"Gak kok tenang aja selama di luar kantor kalau di kantor gue pemenangnya" ucap Jihan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa bahagia...


eh maksudnya jangan lupa dukungannya ya...


__ADS_2