Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 141


__ADS_3

Saat sampai di lantai atas Jihan berjalan ke arah sekertaris Dwi yang terlihat senyum senyum menyambutnya.


"Ngapain senyum senyum" ucap Jihan.


"Maaf Bos, dia anak baru" ujar sekertaris Dwi.


"Tau dan sengaja samperin dia dulu Tuan Putra ada" tanya Jihan sembari senyum mengembang


"Ada tapi sedang meeting" ujarnya.


"Dimana di dalam, masih lama gak" tanya Jihan.


"Gak di ruang meeting, gak tau bos soalnya udah dari setelah jam istirahat" ucap sekertaris Dwi.


"Oh ya udah saya tunggu di dalam tapi gak perlu bilang kalau saya datang" ujar Jihan.


"Siap bos," ujarnya tersenyum


Jihan langsung masuk ke dalam dan di sambut dengan bau maskulin milik Dwi. Jihan duduk di kursi kebesaran milik Dwi dan memutar mutarnya. Jihan menatap jendela yang menghadap langsung ke sebuah taman kota.


Tak lama seseorang masuk dengan suara yang sangat familiar di telinga Jihan. Dwi masuk dengan sang asisten di sampingnya dengan terus membahas hasil meeting tadi membuat Jihan membalikkan kursinya dan menatapnya.


Dwi terlihat sangat emosi dan tidak puas dengan hasil meeting kali ini membuat Rey berfikir keras. Jihan melepaskan highthell nya lalu berjalan perlahan ke arah Dwi, Rey yang melihatnya mengerjap erjapkan matanya.


"Kamu kenapa saya serius" ujar Dwi marah.


"Bos istri bos pulang ya" ujar Rey membuat Dwi bingung.


"Kenapa tanya gitu, mungkin dia lagi bersenang senang di sana " ujar Dwi membuat Jihan manggut manggut sedangkan Rey punya ide licik.


"Bos kalau dia bersenang senang kenapa bos manyun" ucap Rey.


"Kamu mau kerja kan kenapa malah ngeledek saya" ucap Dwi.


"Saya hanya ingin bos berbagi rasa" ucap Rey.


"Entahlah Rey" ujar Dwi.


"Dari kemari. bos tuh kerjaannya marah marah mulu" ujar Rey.


"Karen kalian salah" ucap Dwi.


"Kita yang salah atau bos yang salah" ucap Rey.


"Kamu meremehkan kerja saya" ujar Dwi marah dan hendak memukul Rey membuat Jihan langsung memeluknya dari belakang.


Dwi tersentak karena ada orang lain di ruangan itu dan langsung memeluknya. Amarah Dwi berangsur menurun dia merasakan kenyamanan dalam pelukan itu dia juga menurunkan tangannya. Dia meraba tangn yang memeluknya dan sadar siapa yang berada di belakangnya.


"Selamat bersenang senang bos jangan lupa senyum" ledek Rey langsung berlari pergi.


Setelah Rey pergi Jihan langsung melepaskan pelukannya itu dengan cepat. Dwi berbalik dengan sangat cepat dan menatap mata Jihan dalam mta yang sangat dia rindukan.


"Kenapa liatnya gitu" ujar Jihan salah tingkah.


"Kenapa pulang gak bilang bilang" ucap Dwi sembari menuntun Jihan ke sofa.


"Udah bilang kalau gak pulang besok ya lusa la ini di antara ke duanya kan" ucap Jihan sembari mengikuti langkah Dwi.


"Iya iya, duduk" ujar Dwi di angguki Jihan.


"Kenapa di situ" tanya Dwi menatap Jihan mmbuat Jihan bingung


"Bukannya tadi di suruh duduk" ucap Jihan.


"Ya tapi di sini" ujqr Dwi menepuk pahanya.


"Oh, maaf saya terlalu berat" ujar Jihan meledek malah membuat Dwi gemas.


"Dasar kamu makan banyak ya baru sehari pergi langsung berat" ujar Dwi.


"Iya yang berat rinduku padamu" ujar Jihan dengan gelak tawa.


Dwi tau kalau Jihan hanya bercanda tapi dia sangat menyukainya Dia langsung menarik Jihan lebih mendekat Jihan masih dalam tawanya sampai Dwi menempelkan bi**rnya di bi**r Jihan yang sangat dia rindukan.


Dwi mulai melu**t bibir ranum Jihan dengan sangt lembut. Jihan memejamkan matanya entah apa yang sedang dia rasakan saat ini apa nenar dia masih belum bisa menerima Dwi tapi jujur saja dia juga merindukan perlakuan Dwi seperti ini.

__ADS_1


"Ganggu guys" ujar Jovan yang masuk dengan tiba tiba ke ruangan Dwi bersama Randy Refan dan Simon dan Fero anak anak sultan.


"Kamu si" ujar Jihan mendorong Dwi dengan wajah merah karena malu.


Sedangkan Dwi hanya tersenyum tanpa dosa. Dwi mempersilahkan semua orang untuk duduk sedngkan Jihan malah menyembunyikan wajahnya di punggung Dwi.


"Masih belum puas Ji, kita bisa pergi dulu" ujar Randy.


"Kalian kenapa gak ketuk pintu dulu" ujar Dwi.


"Mana kita tau Jihan pulang" ucap Jovan.


"Cepet banget pulangnya dek, udah kelar" ujar Jovan.


"Ngomongin masalah banyak banget masalah Bang, makanya Jihan pulang mau minta saran dari kalian langsung tapi nanti aja di rumah" ujar Jihan keluar dari persembunyiannya dan menatap Jovan.


"Hello disini ada orang " ujar Refan teman seperjuangan Dwi yang baru datang dari luar negeri.


"Iya kita gak di anggap ada" ujar Simon.


"Kamu gak penasaran sama mereka Ay" tanya Fero.


"Gak" ucap Jihan enteng membuat Refan dan Simon menatapnya karena selama ini tidak ada wanita yang berpaling darinya.


"Mereka temen temen mas" ujar Dwi memperkenalkan Simon dan Refan yang sudah mengulurkan tangannya.


Jihan menatap Jovan, Jovan mengangguk namun meminta Jihan untuk izin dengan suaminya. Jihan menatap Dwi dan di angguki Dwi dengan senyuman.


"Jihan" ujar Jihan menyambut tangan Refan dan Simon.


"Mainan baru lo Tra" tanya Simon.


"Bukan malaikat gue" ujar Dwi.


"Malaikat" ucap Simon menatao Refan.


"Maaf kalian lanjutkan saya permisi sebentar" ujar Jihan saat ada panggilan masuk ke ponselnya.


Jihan berjalan ke arah jendela dan mendapati telfon dari Cika. Jihan membulatkan matanya karena ternyata Cika mengatakan bahwa jebakan tikus yang baru di pasang sudah rusak begitupun dengan ladang milik Jihan Pribadi.


Jihan berjalan ke arah meja kerja Dwi lalu membuka laptopnya. Dia mengecek kamer tersembunyi yang sudah dia pasang di gubung itu. Jihan melihat ada orang yang sengaja merusaknya dia melihat dengan sangat teliti karena orang tersebut berada cukup jauh.


"Mas pinjem komputernya ya" ujar Jihan.


"Oke pake aja" ujar Dwi membuat Simon dan Refan saling pandang karena selama mengenal Dwi mereka tidak pernah melihat Dwi memperbolehkan seseorang memakai barang barangnya.


Jihan mulai berkutik di pojok ruangan itu dengan semua komputer yang menyala Jihan bahkan sampai memakai kaca mata anti radiasi pertanda dia tidak bisa di ganggu. Jihan bahkan memanggil Rey untuk membantunya dan tak lama mereka menemukan titik terang membuat Jiha dan Rey tersenyum.


"Oke ketemu bisa kita urus sekarang" ujar Jihan.


"Iya bos, ternyata orang yang sama tapi bagaimana dia tau desa itu" tanya Rey.


"Seperti biasa akan selalu ada penghianat di antara kita" ucap Jihan.


"Anda curiga dengan saya" tanya Rey.


"Apa curiga harus bilang, eh btw makasih ya udah bantu tolomg bantu Kevin selesaikan ini" ujar Jihan.


"Siap bos" ujar Rey memberi hormat.


"Udah "tanya Dwi saat melihat Jihan membereskan semua komputernya.


"Udah" ujar Jihan.


"Kok cepet Ji" tanya Randy.


"Lagi butuh kerja cepet, lagian kita bagi tugas jadi langsung ketemu lagian ini tuh baru awal belum selesai" ujar Jihan.


"Serah lo deh" ujar Randy.


"Mas pinjem kak Rey nya buat bantuin Kevin Jihan males" ujar Jihan sembari menutup laptopnya dan memakai hight hellnya.


"Hm" ucap Dwi.


Jihan berjalan ke arah Dwi lagi dan duduk di sana. Dwi tersenyum dan menggenggam tangan Jihan namun Jihan justru menatapnya dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Lepasin" ujar Jihan


"Gak mau" ucap Dwi.


"Jihan maksa" ujar Jihan


"Iya iya galak banget" ujar Dwi mencolek dagu Jihan membuat Jihan sangat marah.


"Iz udah di bilang jangan sentuh " ucap Jihan jengkel.


"Maaf sengaja" ucap Dwi justru gemas melihat Jihan jengkel. Jihan berdiri hendak peegi namun Dwi malah menariknya sampai Jihan terjatuh di pangkuannya.


"Lepasin" ucap Jihan.


"Kamu gak kangen sana mas" ujar Dwi mengeratkan pelukannya di pinggang Jihan.


"Lo dengan mudahnya nyentuh dia tanpa berfikir" ujar Simon.


"Iya dan baru gue liat lo di tolak mentah mentah" timpal Refan sembari tertawa.


"Masa dia gitu bukannya banyak wanita di sekelilingnya" ujar Jihan.


"Banyak tapi gak ada yang bisa menyentuhnya" ujar Simon.


"Klara" ucap Jihan penasaran.


"Klara dia boneka lo Tra" tanya Refan.


"Iya yang itu dia yang bisa kontak fisik sama Dwi tapi gak segampang itu banyak drama dulu " ucap Refan.


"Drama" ujar Jihan.


"Hem harus ada perjanjian dulu biar dia untung" ujar Refan.


"Pantes aja keluarganya sampai bohongin proyek gue kamu biang keroknya" ujar Jihan.


"Yang penting untung" ujar Dwi.


"Kamu untung saya rugi, lagian kalau gak pakai perjanjian kan kamu juga untung bisa sentuh dia sepuasnya tanpa beban secara ada hubungan spesial antara kalian gak mikirin orang yang berjuang mati matian buat bangun usaha kamu lagi dikala semua uang kamu abisin buat kesenangan kamu sendiri bahkan kamu tidak berfikir untuk pulang sekedar untuk melihat hasil kerja saya atau memberi bonus pad saya maah kalau pulang jahatnya minta ampun liat orang dari fisik gak nyadar apa kalau kamu babak belur kamu juga gak bakalan ganteng lagi kalau lahir di kelurga miskin juga gak baka seganteng ini" ujar Jihan tanpa jeda.


Dwi hanya menikmati ocehan Jihan yang tanpa jeda sedanfkan yang lainnya tertawa karena baru kali ini mereka melihat Dwi di marahin dan di cerewetin perempuan selain ibunya.


"Udah" ujar Dwi.


"Udah, capek" ucap Jihan.


"Tapi saya suka kamu yang cerewet" ucap Dwi.


"Ta di mobil gue ada bingkisan buat Abang ganteng adek manis kangen" ucap Jihan.


"Oh oke nanti gue ambil" ucap Fero.


"Kamu beliin dia bingkisan dan apa tadi Abang ganteng adek manis" ujar Randy.


"Gue cuma ucapin kata kata anak ganteng di desa" ucap Jihan.


"Gak perlu cemburu kakak ipar, itu Vino ponakan gue" ucap Fero.


"Oh si Vino" ujar Jovan.


"Lo kira siapa Bang, emang ada yang panggil Jihan adek manis kecuali lo sama mas Dwi" ucap Jihan.


"Iya tau, kamu gak kasian sama dia duduk di situ" ujar Jovan.


"Eh lupa" ujar Jihan bangkit di biarkan saja oleh Dwi.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya guys...

__ADS_1


Love Author....


__ADS_2